Night King: The Asura

Night King: The Asura
Ch-240. Kunjungan Lao Tzu


Dimensi pertama.


Kondisi Luo Ning tidak kunjung membaik bahkan belum menunjukkan tanda-tanda akan sadarkan diri, meski Dewi Nuwa sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membantunya, namun hasilnya tetap sama saja.


Meski kondisinya tidak kunjung pulih, namun semua anggota keluarga Asura sudah dapat bernapas dengan lega, karena energi kehidupan milik Luo Ning yang hampir lenyap, akhirnya kembali membesar secara perlahan.


Jika mengingat perkataan Jia Zhen sebelumnya, maka bisa disimpulkan bahwa Lin Feng memang belum meninggal, dan kondisinya saat ini mungkin sudah semakin membaik, karena hal serupa juga terjadi pada Luo Ning.


"Yang mulia, bagaimana keadaan ibu?" tanya Xie Ling setelah Dewi Nuwa keluar dari kamar ibunya.


"Kondisinya belum membaik, namun energi kehidupannya semakin membesar" jawab Dewi Nuwa.


"Terima kasih, yang mulia."


"Tidak perlu berterimakasih, karena memang sudah sepantasnya aku membantu kedua orang tuamu."


"Ya sudah, aku akan kembali ke Alam Nirvana Agung dan jika terjadi sesuatu yang buruk, aku akan segera datang untuk membantu!" lanjutnya, kemudian meninggalkan Dunia Bawah.


Setelah Dewi Nuwa pergi, Xie Ling kemudian masuk ke dalam kamar ibunya, "Ibu, cepatlah sadar, aku merindukan pelukan ibu" ucapnya.


Di halaman istana.


Para prajurit yang sedang berjaga dikejutkan dengan seorang pria yang tiba-tiba muncul di halaman istana, karena kemunculannya yang sangat tiba-tiba, para prajurit itu berpikir jika pria itu adalah musuh yang akan menyerang.


Terlebih lagi, Huise dan yang lainnya sedang tidak ada di kerajaan, sehingga mustahil ada orang lain yang bisa datang ke Dunia Bawah, kecuali jika orang itu adalah bagian dari keluarga Asura yang bebas datang kapan saja ke sana.


"Siapa kau!?" tanya salah seorang prajurit.


Pria itu menoleh kemudian tersenyum ramah, "Aku datang untuk menjemput murid-ku" jawabnya.


Para prajurit mengerutkan dahi, "Murid? Memangnya kau ini siapa? Dan kenapa kau bisa datang ke kerajaan ini?"


Pertanyaan prajurit tersebut membuat pria yang tidak lain adalah Lao Tzu keheranan, pasalnya, mustahil prajurit dunia bawah tidak mengenali dirinya, padahal dialah yang telah mengajari mereka sebelum peperangan besar.


Tapi kemudian, Lao Tzu mengerti kenapa para prajurit itu tidak mengenalinya, karena mereka bukanlah prajurit utama kerajaan Dunia Bawah, dengan kata lain, mereka adalah prajurit penjaga bukan prajurit yang biasa berperang bersama Lin Feng.


"Namaku Lao Tzu."


Para prajurit itu tersentak, kemudian bergegas menghampiri Lao Tzu dan berlutut untuk meminta maaf darinya, "Maafkan kami, guru! Kami benar-benar tidak mengenali guru" ucap para prajurit tersebut.


"Jika kalian tidak mengenaliku, kenapa kalian memanggilku guru?"


Prajurit tersebut kemudian menjelaskan jika mereka semua dilatih oleh prajurit khusus kerajaan Dunia Bawah, dan secara tidak langsung mereka telah di ajari oleh murid Lao Tzu. Dengan kata lain, Lao Tzu adalah guru besar mereka semua.


"Ternyata begitu, ya sudah, aku mau masuk, apakah boleh?"


"Tentu saja, guru!"


Setelah diizinkan, Lao Tzu kemudian masuk ke istana, namun ia tidak menemukan siapapun, baik Lin Feng ataupun yang lainnya, bahkan suasana di istana yang besar itu terasa sangat sepi dan sunyi.


"Paman, kapan paman datang?" sapa Xie Long yang baru saja keluar dari kamar ibunya.


"Baru saja" jawab Lao Tzu, "Long'er, dimana ayahmu dan yang lainnya?"


Xie Long mendesah pelan dan raut wajahnya berubah, hal itu sontak membuat Lao Tzu menjadi penasaran, namun ia masih tetap diam dan menunggu sampai Xie Long menceritakan semuanya.


"Maaf karena tidak memberitahukan masalah ini pada paman" jawab Xie Long.


"Masalah?"


Xie Long mengangguk pelan, kemudian menceritakan semua hal yang telah terjadi. Selain itu, Xie Long juga menceritakan mengenai kepergian Jia Zhen bersama anggota pilar kematian untuk menemukan ayahnya.


"Lalu, bagaimana dengan ibumu?" tanya Lao Tzu.


"Keadaan ibu tidak baik-baik saja, paman. Jika paman ingin menemuinya, ibu ada di kamarnya" jawab Xie Long.


Xie Long mengangguk pelan, kemudian membawa Lao Tzu menuju ke kamar ibunya. Setibanya di sana, raut wajah Lao Tzu langsung berubah, kesedihan nampak terukir jelas di wajahnya ketika melihat Luo Ning yang terbujur kaku di tempat tidur.


"Semoga saja ayah kalian segera ditemukan, dan semoga keadaannya baik-baik saja" ucap Lao Tzu pelan.


***


Waktu kian berlalu, perjalanan Jia Zhen dalam mencari keberadaan ayahnya juga terus berlanjut, dan hubungannya dengan Zhen Jia juga semakin dekat.


Namun, Zhen Jia tidak mengizinkannya datang terlalu sering, karena menurut Zhen Jia, tugas untuk menemukan ayah mereka harus diutamakan daripada menemuinya.


Selain itu, Zhen Jia juga mengatakan jika dirinya tidak akan pergi kemana-mana, dan Jia Zhen bisa menemuinya sepanjang waktu. Jadi tidak ada alasan bagi Jia Zhen untuk menunda tugasnya mencari ayah mereka.


"Kak."


"Hmm? Ada apa?"


"Temukan ayah sesegera mungkin, aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada ayah."


Jia Zhen tersenyum, kemudian mengusap puncak kepala adiknya itu dengan lembut, "Kau tenang saja, kakak pasti akan segera menemukan ayah" ucapnya.


"Tapi, apa kau sudah mengenal ayah sebelumnya?"


Zhen Jia mengangguk, kemudian mengatakan jika dirinya sudah sangat mengenal Lin Feng, meskipun dia tidak bisa bertemu dengan Lin Feng atau Luo Ning secara langsung, namun ia bisa melihat mereka dari dalam diri Jia Zhen.


"Saat aku menemukan ayah nanti, aku berjanji akan menceritakan tentang dirimu pada ayah dan juga ibu."


Zhen Jia tertunduk mendengar perkataan kakaknya itu, meski ada keinginan yang sangat besar untuk menemui Lin Feng dan Luo Ning, namun dalam hatinya, ia merasa takut, takut jika keberadaannya tidak akan diterima.


"Kenapa?"


"Apa ayah dan ibu..."


"Dasar bodoh, ayah dan ibu tidak mungkin tidak menerimamu, apalagi setelah mengetahui kau juga terlahir dari rahim ibu, walaupun hanya hidup dalam diriku."


Zhen Jia tersenyum, kemudian berdiri dari tempat duduknya, "Kakak, ikut aku."


"Kemana lagi?"


"Ikut saja!" ujar Zhen Jia kemudian melesat terbang meninggalkan altar, namun saat keluar dari altar tersebut, tubuhnya langsung berubah menjadi gumpalan energi.


Jia Zhen yang penasaran kemudian mengikuti adiknya itu, "Zhen Jia, kita mau kemana?"


"Ikut saja, nanti kakak akan tahu sendiri!"


Tidak lama kemudian, keduanya sampai di sebuah tempat yang dimaksud oleh Zhen Jia, namun di sana tidak ada apapun selain tiga gumpalan energi, dua berukuran sebesar kepala pria dewasa dan satunya lagi berukuran jauh lebih besar dari keduanya.


"Zhen Jia, apa ini?"


"Yang berwarna merah itu adalah kekuatan petir surgawi sedangkan yang berwarna emas itu adalah kekuatan api emas."


"Lalu yang itu?" tanya Jia Zhen.


"Gumpalan energi yang besar itu adalah gabungan dari kedua kekuatan itu."


"Aku sedikit bingung" sahut Jia Zhen.


Zhen Jia kemudian menjelaskan jika sebenarnya, Jia Zhen hanya memiliki satu kekuatan, yaitu kekuatan petir surgawi, sementara kekuatan api emas itu adalah kekuatan miliknya.


Namun, karena Zhen Jia ada di dalam diri Jia Zhen, maka kekuatan api emas miliknya juga bisa digunakan oleh kakaknya itu, dan secara tidak langsung, kekuatan mereka berdua menyatu hingga menjadi satu kekuatan baru yang lebih dahsyat.


"Jadi begitu? Pantas saja dua kekuatan ini bisa bergabung. Padahal, menurut ayah, kedua kekuatan ini sangat sulit untuk digabungkan" gumam Jia Zhen yang akhirnya mengerti dengan penjelasan Zhen Jia.