
Ditempat lain.
"Suamiku, kenapa kau tidak menjelaskan tentang ujian yang akan Jia Zhen lalui?"
Dewa kekosongan tersenyum pada istrinya, kemudian mengatakan bahwa dirinya sengaja tidak menjelaskan ujian yang akan dilalui oleh Jia Zhen dan Zhen Jia, karena hanya dengan melalui ujian itu, barulah mereka akan bersatu.
Bunga lotus jiwa abadi menyimpan banyak misteri di dalamnya, salah satunya adalah ujian yang membutuhkan pengorbanan yang sangat besar, jika mereka sanggup melaluinya, maka mereka akan bersama selamanya.
"Tapi, bagaimana kalau mereka gagal?"
"Aku yakin dia tidak akan gagal."
"Alasannya?"
"Istriku, dulu kita gagal melewati ujian itu karena kebodohan-ku, sehingga kau tidak bisa memiliki raga. Tapi mereka, aku yakin mereka akan berhasil melewati ujian itu."
"Sudahlah, biarkan mereka yang melanjutkan kisah ini, sedangkan kita, yang harus kita lakukan hanyalah menyaksikan kisah mereka berdua."
Setelah menyelesaikan ucapannya, tubuh Dewa Kekosongan mulai berubah menjadi serpihan cahaya, begitupun dengan tubuh istrinya, hingga pada akhirnya, tubuh mereka berdua benar-benar menghilang untuk selamanya.
Sementara itu.
Pada saat bunga lotus jiwa abadi menyatu dengan jiwanya, perasaan kakaknya juga langsung tersampaikan pada dirinya, bahkan ia bisa merasakan ketulusan yang begitu besar dalam perasaan kakaknya itu.
"Kakak, terima kasih" ucap Zhen Jia, kemudian memeluk tubuh kakaknya dengan erat.
"Aku juga ingin berterimakasih, karena kau sudah menyayangiku dengan tulus" sahut Jia Zhen seraya membalas pelukan adiknya.
Sama halnya dengan Zhen Jia, Jia Zhen juga dapat merasakan apa yang sedang dirasakan oleh adiknya itu, dan ia juga bisa merasakan ketulusan yang begitu besar dalam perasaan Zhen Jia.
Namun, Jia Zhen juga merasakan sedikit keanehan dalam dirinya, yaitu kasih sayang yang ia rasakan untuk Zhen Jia tidak lagi seperti rasa sayang seorang kakak pada adik, tapi sudah melebihi itu.
"Tidak! Zhen Jia adalah adikku, tidak seharusnya aku memiliki perasaan seperti ini."
Jia Zhen berusaha untuk menepis perasaan yang kian membesar dalam dadanya itu, namun semakin ia berusaha untuk melupakan perasaan itu, semakin besar pula perasan yang seharusnya tidak pernah ada tersebut.
"Kakak kenapa?"
"Bukan apa-apa, mungkin hanya sedikit lelah" jawab Jia Zhen.
"Yasudah, sebaiknya kakak istirahat sekarang" sahut Zhen Jia, kemudian mendaratkan kecupan di pipi kakaknya itu, lalu pergi meninggalkannya sendirian.
"Perasaan apa ini?"
Tidak hanya Jia Zhen saja, sang adik pun juga merasakan hal yang sama dengannya, bahkan perasaan itu semakin menggebu saat dirinya mendaratkan kecupan lembut di pipi Jia Zhen.
***
Waktu kian bergulir, latihan yang dijanjikan oleh Lin Feng juga telah dimulai sejak keadaan Jia Zhen membaik, meskipun dirinya tidak terluka, namun Zhen Jia tatap memaksa agar dirinya beristirahat dan tidak melakukan apapun.
Selain itu, hubungan keduanya juga semakin dekat, meski diselimuti oleh perasaan tak menentu yang terus menggebu dalam dada, namun keduanya mampu mengendalikan diri dan memilih untuk mengabaikannya.
"Zhen'er, Jia'er, kalian berdua akan latihan bersama ayah dan kalian berdua, latihan bersama ibu."
"Baik, ayah" jawab mereka serempak, kemudian Jia Zhen dan adiknya mengikuti Lin Feng meuju ke tempat latihan yang berbeda.
Tidak hanya itu saja, Lin Feng juga akan memberikan latihan fisik untuk mereka berdua, karena kekuatan yang besar haruslah memiliki ketahanan tubuh yang kuat pula, kalau tidak, tubuh mereka tidak akan sanggup menampungnya.
"Sekarang, coba lepaskan kekuatan kalian. Ayah ingin melihat sampai sejauh mana kalian menguasainya."
"Baik ayah!"
Mereka berdua kemudian melepaskan kekuatannya masing-masing. Tubuh Jia Zhen nampak diselimuti oleh kekuatan petir merah keemasan, sedangkan Zhen Jia, tubuhnya diselimuti oleh kekuatan api emas.
"Lagi, lepaskan kekuatan yang lebih besar lagi" ucap Lin Feng.
Wushh!
Kekuatan yang jauh lebih besar terpancar dari tubuh mereka berdua, namun keduanya masih nampak baik-baik saja, yang menandakan bahwa mereka masih sanggup melepaskan kekuatan yang jauh lebih besar lagi.
Disisi lain.
Luo Ning memerintahkan Xie Long untuk bermeditasi dan berusaha menaklukkan kekuatan Asura dalam dirinya, karena sampai saat ini, putra sulungya itu masih belum berhasil menyatu dengan kekuatan Asura.
Berbeda dengan Xie Long, latihan yang diberikan pada Xie Ling justru jauh lebih ringan, karena untuk saat ini, Luo Ning hanya memintanya meningkatkan kultivasi-nya. Pasalnya, kultivasi Xie Ling masih sangat rendah dan masih ketinggalan dari kakaknya.
Alam bawah sadar Xie Long.
Pada awalnya, Xie Long berniat menemui perwujudan kekuatan Asura dalam dirinya, namun saat ia mulai bermediasi, kesadarannya malah ditarik ke suatu tempat yang dulu pernah ia kunjungi, yaitu tempat Phoenix perak berada.
"Kenapa kau membawaku ke sini?" tanya Xie Long.
"Xie Long, aku hanya ingin mengingatkanmu mengenai ujian pertama yang harus segera kau selesaikan" jawab Phoenix perak.
"Aku tahu itu, tapi kau tenang saja, aku akan mencapai ranah Supreme Emperor sebelum umurku mencapai tujuh belas tahun."
Saat ini, Xie Long hampir menginjak usia enam belas tahun dan dengan kata lain, waktu untuk menyelesaikan ujian pertama hanya tersisa satu tahun lagi, sedangkan kultivasi-nya sekarang masih berada di ranah Nirvana.
Artinya, masih ada dua ranah yang harus ia lewati sebelum mencapai ranah Supreme Emperor, meski tidak terlalu banyak, namun untuk melewati dua ranah dalam satu tahun bukanlah sesuatu yang bisa dianggap enteng.
Jika dua ranah ini hanya tingkatan rendah, mungkin Xie Long akan berhasil melewatinya sebelum waktu satu tahun itu selesai, tapi dua ranah ini adalah ranah tingkatan tinggi, dan tentu tidak mudah untuk melewatinya dalam waktu satu tahun.
"Bagaimana kalau kau gagal?"
Xie Long mengangkat sudut bibirnya, "Aku tidak akan gagal, karena kalau aku gagal, terlalu banyak orang yang akan kecewa, terutama ayah dan ibu."
"Mereka tidak mengetahuinya, bagaimana mungkin mereka akan kecewa?"
"Mereka menaruh harapan besar padaku, jadi aku tidak ingin membuat mereka kecewa, sekalipun mereka tidak mengetahui apa yang ingin ku gapai."
Phoenix perak kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Xie Long, menatap kedua matanya dengan tatapan tajam dan diiringi dengan luapan aura kekuatan yang begitu besar.
Setelah itu, Phoenix perak menjauhkan wajahnya, lalu melebarkan dan mengepakkan kedua sayapnya, "Lin Xie Long, aku akan memberikan sedikit bantuan padamu."
"Tidak perlu, aku ingin berhasil dengan caraku sendiri" sahut Xie Long, kemudian meninggalkan tempat tersebut.
"Yuan Long, keturunanmu benar-benar luar biasa" gumam Phoenix perak menatap Xie Long yang telah menjauh darinya.