Night King: The Asura

Night King: The Asura
Ch-211. Kecupan pertama


"Ling'er, ajak adikmu bermain ditempat lain" ucap Luo Ning menghentikan perbincangan Lin Feng dengan kedua anaknya.


"Ibu, aku tidak ingin bermain."


"Dan aku tidak mau bermain dengan anak manja ini, lagipula aku sudah terlalu besar untuk bermain dengan anak-anak!"


"Kakak! Aku tidak manja!"


Luo Ning menghela napas panjang, "Ling'er, Zhen'er, ayah kalian pasti lelah, jadi biarkan dia istirahat sejenak."


"Baik, Bu" jawab keduanya, kemudian berpamitan dan pergi meninggalkan tempat tersebut, begitupun dengan Xiao Xie yang ditugaskan menjaga keduanya.


Setelah kedua anaknya menghilang di kejauhan, Luo Ning kemudian mengajak Lin Feng ke kamar mereka, karena ia tahu jika suaminya itu sedang merasa lelah dan sangat membutuhkan istirahat.


Selain itu, Luo Ning juga merasakan adanya beban yang menumpuk dalam benak suaminya, hal itu bisa ia lihat dengan jelas hanya dengan menatap wajah suaminya itu. Dan ia yakin, masalah itu adalah masalah yang besar.


Luo Ning menutup dan mengunci pintu kamar mereka, namun sebelum ia sempat beranjak dari sana, Lin Feng sudah berada di belakangnya dan mendekap tubuhnya dengan erat.


"Gege."


"Aku lelah, benar-benar sangat lelah sampai membuatku tidak bisa berpikir dengan jernih" jelas Lin Feng.


"Aku selalu siap menjadi tempat istirahat terbaik untuk Gege" sahut Luo Ning, kemudian memutar tubuhnya saat dekapan Lin Feng tidak terlalu erat lagi.


"Terima kasih."


Lin Feng menatap lekat wajah istrinya yang menurutnya semakin cantik, walaupun sudah memiliki tiga orang anak, namun wajahnya masih tetap muda seperti seorang gadis berumur dua puluh lima tahun.


"Ada apa?"


Lin Feng menggeleng pelan, "Aku hanya mengagumi kecantikan istriku ini."


Luo Ning terkekeh pelan mendengar kata-kata suaminya, "Gege, apa di umur kita yang sekarang ini masih cocok untuk bermesraan seperti dulu?"


"Kenapa tidak?" jawab Lin Feng, kemudian mendaratkan kecupan manis di bibir Luo Ning. Lalu setelah itu, Lin Feng menggendong istrinya ketempat tidur.


***


"Gege"


"Hmm?"


"Ada masalah apa?"


Setelah aktivitas panas dan melelahkan itu berakhir, Luo Ning akhirnya mengajukan pertanyaan yang sejak tadi mengganjal di hatinya, namun terpaksa ia tunda karena suaminya itu membutuhkan kehangatan darinya.


Lin Feng menghela napas panjang, kemudian menceritakan masalah yang tengah membebani pikirannya, namun ia tidak mengatakan hal-hal yang bisa membuat Luo Ning khawatir, misalnya seperti kekuatan Xin Yi yang mungkin saja bukan tandingan baginya.


"Apa Gege membutuhkan bantuan?"


"Ning'er, aku menceritakan semua ini bukan karena menginginkan bantuan darimu, melainkan hanya ingin melepaskan beban ini untuk sejenak" jawab Lin Feng.


"Kenapa kau tidak boleh membantu?"


"Istriku, bukannya tidak boleh, tapi jika kita berdua pergi, siapa yang akan menjaga anak-anak?"


Luo Ning tiba-tiba saja mendaratkan kecupan di pipi suaminya, kemudian memeluknya dengan erat, "Maafkan aku, karena sampai sekarang, aku masih belum bisa berbuat banyak untuk membantu Gege."


"Sudahlah, seharusnya aku yang minta maaf karena membiarkanmu menjaga anak-anak sendirian."


Setelah lelah yang mereka rasakan menghilang, Lin Feng kemudian beranjak dari tempat tidur dan langsung menuju ke kamar mandi. Meski masih ingin berlama-lama di dalam kamar bersama istrinya itu, namun ia sadar jika bukan hanya dirinya saja yang membutuhkan Luo Ning.


***


Daratan Suci.


Matahari sudah terbenam, menyebabkan seluruh daratan diselimuti oleh kegelapan, disaat semua orang mulai kembali ke rumah mereka masing-masing untuk beristirahat, Xie Long justru masih duduk melamun di atas atap penginapan yang ia sewa.


Tatapan matanya tertuju ke arah gelapnya langit malam yang dihiasi oleh jutaan bintang, sementara pikirannya melayang jauh memikirkan setiap ujian yang akan ia hadapi demi mendapatkan warisan peninggalan kakeknya.


"Hah" Xie Long berulang kali menghela napas panjang, "Aku pasti sudah gila karena tidak pernah berhenti memikirkan warisan itu" gumamnya.


"Apa aku berhenti saja?"


Pada awalnya, Xie Long benar-benar senang ketika mengetahui dirinya mendapatkan warisan dari sang kakek, namun seiring berjalannya waktu, entah kenapa dia malah merasa jika dirinya sangatlah rakus.


Saat ini, ia memikirkan apa yang akan ia lakukan setelah mendapatkan warisan tersebut. Selain itu, ia juga memikirkan apa yang akan ia lakukan setelah dirinya menjadi kuat nanti.


Bagi seorang kultivator, memiliki kekuatan yang besar memanglah sangat penting, namun apa yang akan dilakukan setelah kekuatan yang diinginkan itu berhasil didapatkan?


Menjadi penguasa dimensi, atau alam semesta, mungkin banyak yang menginginkan hal ini, namun Xie Long, ia justru tidak tertarik sama sekali, jangankan menjadi penguasa, menjadi raja saja tidak pernah ada dalam benaknya.


Melindungi keluarga, sebenarnya hal ini tidak bisa dikatakan sebagai tujuan, karena melindungi keluarga adalah suatu kewajiban yang harus dilakukan, baik memiliki kekuatan yang besar ataupun tidak.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Huanran yang muncul secara tiba-tiba.


Kehadiran Huanran serta pertanyaan yang ia lontarkan membuat Xie Long tersadar dari lamunannya, ia kemudian menoleh pada Huanran yang kini duduk di sebelahnya.


"Xiao Hua, apa tujuan hidupmu?"


Huanran diam sejenak memikirkan jawaban dari pertanyaan Xie Long, "Menaklukkan hati pria yang sudah ditakdirkan untukku" jawabnya.


"Hanya itu?"


Huanran mengangguk, "Mungkin terdengar konyol, tapi itulah tujuan hidupku sekarang."


"Lalu, apa yang akan kau lakukan setelah mencapai tujuanmu itu?"


"Yang pastinya, aku ingin menghabiskan sisa hidupku dengannya, membentuk keluarga kecil sendiri dan menyaksikan keturunanku tumbuh hingga ajal menjemput."


"Sederhana sekali" sahut Xie Long.


"Sederhana? Memangnya kau pikir menaklukkan hati laki-laki itu mudah? Apalagi, laki-laki itu tidak peka pada perasaan wanita!"


"Semua itu tentu membutuhkan perjuangan yang besar dan kadang kala, memerlukan pengorbanan yang besar pula."


"Memangnya siapa yang ingin kau taklukkan hatinya?" tanya Xie Long.


"Kau..." Huanran menggantung ucapannya.


"Aku?"


"Ya, kau! Kau itu laki-laki paling menyebalkan yang pernah aku temui!" ujar Huanran, kemudian berdiri dan hendak pergi dari sana, namun Xie Long menahan tangannya.


"Lepaskan aku!"


"Kau yakin ingin aku melepaskan mu?"


"I-itu..."


"Jangan pergi, temani aku menghabiskan waktu malam ini."


Meski masih jengkel pada Xie Long, namun Huanran tidak menolak keinginan pria pujaannya itu, dan meskipun terlihat seperti dipaksa untuk duduk di samping Xie Long, namun ia senang karena Xie Long memintanya untuk menemaninya menghabiskan waktu bersama.


"Xiao Hua."


"Apa?"


"Aku mencintaimu."


Huanran tersentak dan langsung menoleh pada Xie Long, ia sepertinya ingin mengatakan sesuatu pada pria pujaannya itu, namun sayangnya, sebelum kata-kata itu terucap dari mulutnya, Xie Long telah lebih dulu mendaratkan kecupan di bibirnya yang tipis.


"Jangan katakan apapun, aku hanya ingin melewati malam ini bersamamu dengan suasana tenang" ucap Xie Long.


Disaat yang bersamaan, Xiao Xue yang ingin menghampiri Xie Long terpaksa harus mengurungkan niatnya saat menyaksikan Xie Long mengecup bibir Huanran, bahkan ia langsung memalingkan wajahnya agar tidak melihat hal itu lagi.


"Dasar anak muda, tidakkah mereka sadar jika tempat ini adalah sebuah kota yang ramai? Bagaimana jika ada orang lain yang melihat mereka?"


"Tunggu... sial! Aku lupa kalau sudah malam!"


"Selain itu, kenapa juga aku selalu berkata seperti itu? Apa jangan-jangan aku memang sudah tua?"


Xiao Xue sibuk dengan monolognya sendiri, dan saat sibuk berbicara sendiri, dia terlihat seperti seseorang yang memiliki kepribadian ganda dalam dirinya, tapi yang lebih tepatnya adalah, situasi-lah yang membuatnya seperti itu.