Night King: The Asura

Night King: The Asura
Ch-37. Meninggalkan kekaisaran Song


Dunia Dewa.


Shen Liu Yang tersenyum sembari menggelengkan kepalanya setelah mengetahui penyebab kemurkaan Lin Feng, dan ia masih tidak menyangka jika sosok seperti Lin Feng ternyata masih memiliki sisi berbeda dalam dirinya, padahal ia sempat berpikir bahwa Lin Feng tidak memiliki perasaan sama sekali.


"Apa kalian percaya jika orang gila itu ternyata memiliki perasaan?"


Para Dewa menggelengkan kepalanya bersamaan, karena mereka semua juga tidak menyangka jika Lin Feng memiliki sisi yang baik dalam dirinya. Apalagi ketika mereka mengetahui alasan kemurkaannya hanyalah karena kematian beberapa anak kecil yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan dirinya.


"Yang mulia, hamba rasa Lin Feng ini tidaklah seburuk yang kita pikirkan, nyatanya dia sangat terpukul hanya karena kematian anak-anak itu."


"Selain itu, dia sepertinya sangat menyesal karena tidak berhasil menyelamatkan mereka."


"Kalian benar, sepertinya masih banyak rahasia yang tidak kita ketahui mengenai Lin Feng, misalnya seperti sekarang ini" sahut Shen Liu Yang.


"Tapi, masalah ini masih belum selesai, karena guru kaisar Huang tengah dalam perjalanan menuju ke kekaisaran Song, dan aku yakin pertarungan akan terjadi lagi."


"Sudahlah, jangan pikirkan hal itu lagi, dan ingatlah, jangan pernah mencampuri urusan Lin Feng, jika tidak, orang gila itu akan memporak-porandakan Dunia Dewa ini."


"Baik, yang mulia!" jawab para Dewa serempak.


***


Istana kekaisaran Song.


Suasana di aula pertemuan terasa sangat sunyi, padahal para petinggi istana dan yang lainnya tengah berada di aula tersebut, namun suasana di tempat itu lebih mirip dengan suasana di tempat yang tidak memiliki penghuni sama sekali, dan penyebab dari kesunyian itu hanya ada satu, yaitu kehadiran Lin Feng.


Pada awalnya, para petinggi istana tengah membicarakan mengenai penyerangan yang dilakukan oleh kekaisaran Huang, dan mereka berencana untuk melakukan serangan balasan, namun kaisar Song langsung menjelaskan jika serangan balasan tidak diperlukan lagi, karena kaisar serta seluruh pasukan negara Huang telah dibantai habis oleh Lin Feng.


Lalu, kaisar Song juga menceritakan bagaimana kejamnya Lin Feng membantai kaisar Huang dan seluruh pasukannya. Pada awalnya, para petinggi sempat tidak percaya, namun setelah mendengar kesaksian dari para prajurit yang menyaksikannya, para petinggi akhirnya percaya pada cerita tersebut.


Pada saat yang bersamaan, Lin Feng masuk ke aula pertemuan tanpa mengucapkan sepatah katapun, dan sejak saat itu, aula pertemuan menjadi sangat sunyi, karena semua orang yang ada di sana takut menyinggung Lin Feng, terlebih lagi setelah mendengar pembantaian yang ia lakukan terhadap kaisar Huang dan pasukannya.


"Ada apa? Kenapa kalian semua malah diam?" tanya Lin Feng memecah keheningan di aula pertemuan.


Lin Feng menatap semua orang di aula itu secara bergantian, dan tidak seorangpun yang tidak menundukkan kepala saat ditatap oleh Lin Feng, "Apa kehadiranku tidak diterima di sini?"


"Ti-tidak, bu-bukan seperti itu, Tuan Muda" salah seorang petinggi buru-buru menjawab, karena takut Lin Feng salah paham.


"Lalu?"


"Ka-kami... kami hanya sedang memikirkan penyerangan yang baru saja terjadi, ya... itulah yang membuat kami diam."


"Benarkah?"


"Te-tentu saja, Tuan Muda. Se-selain itu, ka-kami juga tengah memikirkan cara untuk berterima kasih pada Tuan Muda, karena bagaimanapun juga, Tuan Muda telah menyelamatkan kota kekaisaran."


Lin Feng mengangkat sudut bibirnya, walaupun mereka tidak menjelaskannya secara langsung, namun Lin Feng mengetahui apa yang sedang mereka pikirkan. Selain itu, ia juga bisa merasakan rasa takut yang sangat besar dalam diri mereka semua, khususnya petinggi istana yang berbicara padanya.


"Kaisar Song, hari ini aku akan pergi meninggalkan kota kekaisaran" ucap Lin Feng.


"Pergi? Kenapa Tuan Lin harus pergi?"


"Jika aku tidak pergi, orang-orang ini mungkin tidak akan pernah bisa bernapas dengan bebas" jawab Lin Feng.


"Tapi..."


"Sudahlah, lagipula masih ada hal lain yang harus aku lakukan" sahut Lin Feng, kemudian menghilang dari pandangan mereka semua.


***


Tidak jauh dari kota kekaisaran Song.


Setelah mengetahui tentang kematian muridnya, guru kaisar Huang langsung melesat terbang menuju ke kekaisaran Song, karena di sanalah terakhir kali energi kehidupan serta aura kekuatan muridnya berada, namun sebelum tiba di kota kekaisaran Song, pria tua itu terpaksa harus menghentikan perjalanannya.


"Siapa kau? Jika tidak ingin mati, sebaiknya menyingkir dari hadapanku!"


"Jika tidak ingin mati, urungkan niatmu untuk menyerang kekaisaran Song!" ucap Lin Feng mengulang perkataan pria tua itu.


"Hahaha, baru kali ini aku mendengar ada seseorang yang begitu berani mengulang kata-kata seorang iblis pedang" sahut pria tua tersebut.


"Iblis pedang? Julukan mu terdengar hebat, tapi apakah kemampuanmu sama seperti julukan mu itu?" tanya Lin Feng.


"Kau akan segera tahu saat aku mencabut nyawamu!" ujar Iblis pedang.


Kemudian, pria tua yang memiliki julukan iblis pedang itu menciptakan segel tangan, setelah segel itu diselesaikan, di belakangnya muncul sebuah lingkaran sihir berwarna hitam yang sangat besar, lalu dari dalam lingkaran sihir tersebut muncul dua bilah pedang yang sangat besar.


"Ada apa? Apa kau menyesal karena telah memprovokasi ku?"


Lin Feng menggelengkan kepalanya, "Aku tidak pernah menyesali perkataan ataupun perbuatan ku, justru kaulah yang harus menyesal karena menolak untuk pergi."


"Hahahaha, aku suka dengan kesombongan mu itu, bagaimana kalau kau menjadi murid ku saja?"


"Hahaha" Lin Feng tertawa mendengar perkataan pria itu, tapi sesaat kemudian, suara tawanya menghilang dan digantikan oleh tatapan tajam yang penuh dengan niat membunuh, "Buktikan bahwa jika pantas untuk menjadi guruku!"


Setelah menyelesaikan ucapannya, Lin Feng mendadak menghilang dari pandangan pria tersebut, sesaat kemudian, Lin Feng telah muncul lagi tepat didepannya, kemudian meraih salah satu pedang milik pria tua tersebut.


"Di dunia ini, hanya ada satu orang yang pantas aku sebut sebagai guru!" ucapnya.


Slash!...


Suara tebasan terdengar dengan jelas dan pada saat yang bersamaan, tangan kanan pria tua itu telah jatuh ke tanah, "Arkhhh! Apa yang..."


Slash!


Belum sempat pria tua itu menyelesaikan ucapannya, suara tebasan kembali terdengar dan kali ini, tangan kirinya lah yang telah dipotong oleh Lin Feng.


Slash!


Slash!


Sebelum pria tua itu sempat bereaksi karena rasa sakit akibat kedua tangannya yang terpotong, Lin Feng telah lebih dulu menebas pedangnya dan memotong tubuh pria itu menjadi beberapa bagian, lalu setelah itu, Lin Feng membakar setiap bagian tubuhnya hingga tidak bersisa sedikitpun.


"Sampai kapan kau akan bersembunyi?"


"Sial! Kenapa dia bisa mengetahui keberadaan ku?"


"Hahaha, hebat juga, aku benar-benar tidak menyangka kau bisa menghancurkan boneka ku dengan begitu mudah."


"Sudah selesai? Jika sudah, majulah! Aku tidak punya banyak waktu."


"Cihh, jangan terlalu sombong, bocah!"