
Setelah melewati lorong dimensi ruang dan waktu, Jia Zhen akhirnya sampai ditempat Xin Yi berada, namun yang menunggunya di sana bukan hanya Xin Yi saja, tapi juga ratusan ribu monster.
Meski begitu, Jia Zhen tidak merasa gentar sedikitpun, ia juga masih bisa bersikap tenang seperti biasanya, bahkan di raut wajahnya sama sekali tidak terlihat yang namanya rasa takut.
"Selamat datang, dewa kehampaan" sapa Xin Yi.
"Kau menyiapkan semua ini hanya untuk menghadapi remaja 13 tahun?"
"Hahahaha" Xin Yi tertawa lantang, kemudian berkata, "apa yang ada dalam dirimu jauh melebihi usiamu."
Jia Zhen mengangkat sudut bibirnya, lalu melesat terbang mendekati mereka dan pada saat yang bersamaan, pasukan monster itu langsung bersiap untuk menyerang, tapi dihentikan oleh Xin Yi.
"Biarkan dia beristirahat sejenak."
"Aku hargai itu, tapi aku tidak membutuhkannya, mungkin hanya memerlukan sedikit pemanasan" sahut Jia Zhen.
Nada bicaranya yang begitu tenang membuat Xin Yi merasa jengkel, ia merasa seperti Jia Zhen sedang meremehkan dan merendahkan dirinya, padahal, Jia Zhen tidak bermaksud demikian.
"Jadi, apakah kita harus memulainya sekarang?"
"Sejujurnya, aku masih ingin berbincang-bincang denganmu, tapi karena kau sepertinya sangat tergesa-gesa, maka aku akan mengabulkan keinginanmu itu."
Jia Zhen menggeleng pelan, "jangan salah paham, aku hanya lebih senang saat bicara empat mata saja."
Para monster itu menatap tajam kearah Jia Zhen, karena ucapannya barusan bisa diartikan sebagai hinaan, lebih tepatnya, Jia Zhen baru saja mengatakan jika ia bisa mengalahkan mereka dengan mudah.
"Seharusnya kau bisa menjaga ucapan-mu itu, lihatlah, mereka sangat marah padamu" ucap Xin Yi.
Jia Zhen mengerutkan dahi, lalu berkata, "kenapa harus marah? Bukankah kenyataannya memang seperti itu?"
"Hahahaha!"
Suara tawa yang begitu lantang kembali terdengar dari mulut Xin Yi, tapi sesaat kemudian, raut wajahnya tiba-tiba saja berubah serius, bahkan tatapan matanya menyiratkan kebencian yang besar.
"Bunuh dia!"
"Groaarrr!"
Seketika itu juga, ratusan ribu monster yang ada di sana langsung bergerak maju dan menyerang Jia Zhen, namun putra dewa kematian itu masih belum melakukan apapun dan tetap diam ditempatnya.
"Tuan, apa kau bisa menghadapi mereka sendirian?" tanya serigala putih yang berada dalam diri Jia Zhen.
"Akan kucoba" jawab Jia Zhen, lalu mengeluarkan pedang dewa Asura dari cincin penyimpanannya.
"Baiklah, jika tuan butuh bantuan, katakan saja padaku.
Dengan sebilah pedang di tangannya, Jia Zhen kemudian melesat maju mendekati ratusan ribu prajurit monster itu, pada saat yang bersamaan, ia juga melapisi pedangnya dengan kekuatan petir surgawi.
"Tujuh tebasan kematian!"
Tujuh energi pedang tercipta ketika Jia Zhen menebaskan pedangnya, lalu ketujuh energi pedang itu kemudian melesat kearah pasukan monster di depannya.
Slash.
Slash.
Dhuaaar!
Puluhan monster langsung meregang nyawa karena tubuhnya terpotong, ledakan energi yang tercipta, juga ikut menambah jumlah korban jiwa dalam pasukan tersebut.
Setelah melancarkan serangan pertama, Jia Zhen kemudian menghilang dari pandangan, sesaat kemudian, Jia Zhen telah muncul lagi ditengah lautan pasukan dan mulai membantai mereka.
Walaupun basis kultivasi-nya kalah jauh dari mereka semua, namun kekuatan yang ia miliki jelas mampu menandingi kekuatan para monster itu, bahkan setiap tebasan-nya selalu berhasil merenggut nyawa musuhnya.
Disisi lain.
"Sudah kuduga, kekuatannya itu benar-benar sangat mengerikan" gumam Xin Yi.
Alasan Xin Yi menyiapkan ratusan ribu monster itu, hanyalah untuk melihat seberapa besar kekuatan Jia Zhen, walaupun ia mengetahui basis kultivasi-nya, namun kekuatannya masih belum bisa ditebak.
"Tapi, kenapa dia tidak menggunakan kekuatan itu? Bukankah akan lebih menguntungkan kalau dia menggunakan kekuatan itu?"
Memang akan sangat menguntungkan jika Jia Zhen menggunakan kekuatan terkuatnya, karena kekuatan itu bisa menghancurkan dan memusnahkan musuhnya dengan mudah.
Akan tetapi, Jia Zhen memiliki alasan sendiri untuk tidak menggunakan kekuatan itu, karena kekuatan utamanya itu akan ia siapkan untuk menghadapi Xin Yi nantinya.
Dhuaaar!
Dhuaaar!
Suara ledakan terus terdengar bersahut-sahutan, suara gemuruh petir juga ikut meramaikan peperangan yang tengah terjadi, seolah menjadi alunan musik yang mengiringi kekacauan itu.
"Tuan, izinkan aku membantu."
"Belum saatnya, lebih baik kau pinjamkan kekuatan api-mu" sahut Jia Zhen.
"Tuan, kekuatan tujuh api suci sudah tertanam dalam diri Tuan, jadi tidak perlu meminjam kekuatanku lagi."
Sejak keluar dari neraka Asura, Jia Zhen memang tidak memeriksa kekuatannya, karena pada saat itu, ada banyak hal yang harus ia lakukan, terutama mempersiapkan pernikahan Xie Long.
Akan tetapi, Jia Zhen benar-benar tidak menyangka jika dirinya memiliki kekuatan tujuh api suci, padahal ia tidak merasa telah menyerap ketujuh kekuatan api tersebut.
"Kalau begitu mari kita coba!" ujar Jia Zhen, lalu melesat terbang ke udara.
Setelah itu, Jia Zhen mengangkat tangan kirinya ke langit, lalu di telapak tangannya muncul bola api berwarna merah, atau yang dinamakan dengan kekuatan api abadi.
Wushh.
Dhuaaar!
Ledakan besar terjadi ketika bola api itu menghantam pasukan monster, meski ledakannya tidak terlalu besar, namun kekuatan api itu lebih dari cukup untuk mengurangi jumlah musuhnya.
Selain itu, kekuatan api abadi juga tidak bisa dipadamkan dengan cara apapun, kecuali jika benda atau target yang ia bakar telah musnah hingga tidak menyisakan apapun lagi.
"Masih belum cukup!" ujar Jia Zhen, lalu menciptakan bola api biru di telapak tangannya.
Sama dengan api emas, kekuatan api biru juga tidak menimbulkan ledakan dahsyat, namun karena mengandung kekuatan dingin, api itu akan membekukan darah dalam tubuh.
"Teknik pedang hampa, pedang semesta!"
Sebilah pedang yang sangat besar muncul di langit, walaupun ukurannya masih kalah jauh dengan ukuran pedang ciptaan Lin Feng, namun kekuatannya tidak bisa diremehkan begitu saja.
Dhuaaar!
Ledakan dahsyat kembali terjadi ketika pedang itu menghantam musuhnya. Dengan melakukan tiga serangan berturut-turut, Jia Zhen telah berhasil melenyapkan ribuan monster.
Meski begitu, jumlah pasukan musuh masih sangat banyak, bahkan jumlah para monster itu masih belum berkurang sampai setengahnya. Padahal, sudah tidak terhitung jumlah monster yang dibantai oleh Jia Zhen.
"Tidak salah lagi, dua kekuatan sebelumnya adalah kekuatan api abadi dan api dingin" gumam Xin Yi yang masih mengawasi jalannya pertarungan.
"Tapi, bagaimana dia bisa memilikinya?"
"Lin Jia Zhen, sepertinya aku sudah meremehkan dirimu."
Setelah itu, Jia Zhen membuka portal dimensi yang sangat besar, lalu dari dalamnya keluar ratusan ribu monster yang kekuatannya lebih kuat dari pasukan sebelumnya.
"Hahahaha! Jia Zhen, bersiaplah untuk menyambut tamu lainnya!" ujar Xin Yi dengan suara lantang.
Peperangan terhenti, Jia Zhen juga memutuskan untuk mengambil jarak dari mereka semua, tapi bukan karena ia takut, melainkan ingin menyusun rencana untuk menghadapi semua pasukan itu.
"Jumlah mereka mungkin sudah mencapai jutaan, tapi aku harus berjuang sampai akhir!"
"Tuan, aku mohon, izinkan aku bertarung disisi-mu."
"Baiklah, aku izinkan" sahut Jia Zhen.
Sebenarnya Jia Zhen belum mau menunjukkan serigala putih, namun karena Xin Yi sudah menambah pasukannya, mau tidak mau, ia juga harus mengeluarkan salah satu kartu andalannya.