Night King: The Asura

Night King: The Asura
Ch-49. Aku tidak sebanding denganmu


Setelah itu, Lin Feng dan Xiao Lang melesat maju dengan kecepatan yang sangat tinggi, namun karena perbedaan ukuran tubuh, Lin Feng sedikit kesulitan untuk mencapai Xiao Lang, sedangkan Xiao Lang, ia justru lebih mudah untuk melancarkan serangan pada Lin Feng.


Wushh!


Xiao Lang yang berada dalam wujud Naga menyemburkan napas api biru kearah Lin Feng, namun serangan itu berhasil ditahan dengan mudah oleh Lin Feng, bahkan ia hanya menciptakan perisai energi biasa untuk menahan semburan api yang mengarah padanya itu.


Pada saat yang bersamaan, Xiao Lang juga mengibaskan ekornya kearah Lin Feng yang masih menahan semburan api biru, tapi serangan kedua itu hanya mengenai udara kosong saja, karena sesaat sebelum ekor naga itu mencapainya, Lin Feng telah lebih dulu menghilang dari sana.


Sesaat kemudian, Lin Feng muncul tepat di hadapan Xiao Lang dan langsung menebas tubuhnya dengan pedang Dewa Asura, namun sayangnya, serangan yang ia lancarkan juga tidak mengenai tubuh Xiao Lang, bahkan serangan itu berhasil ditahan oleh Xiao Lang dengan menggunakan kuku jarinya yang sangat besar.


Akan tetapi, bukan Lin Feng namanya jika tidak memiliki teknik menyerang yang berbeda dari yang lainnya, dan pada saat pedangnya bersentuhan dengan jari naga Xiao Lang, Lin Feng juga langsung melancarkan serangan kedua dan berhasil mendarat dengan tepat di tubuh Xiao Lang.


Hanya saja, serangannya itu tidak berhasil melukai Xiao Lang, karena saat berada dalam wujud Naga, seluruh tubuhnya dilindungi oleh sisik yang sangat keras, belum lagi jika ditambah dengan kemampuan Dragon Armor, sudah tentu ia memiliki pertahanan yang sangat sulit untuk ditembus.


"Kalian para cacing tanah memang memiliki kulit yang keras, tapi pedangku selalu berhasil memotong apapun yang ingin aku potong!" ucap Lin Feng.


"Hahaha, aku juga tidak menyangka jika burung yang baru belajar terbang ternyata sangat pandai berkicau" sahut Xiao Lang.


"Setidaknya aku memiliki sayap untuk terbang bebas, bukannya seperti kalian para cacing tanah berkaki!"


Kali ini, Lin Feng tidak hanya menemukan musuh yang sangat sulit untuk dikalahkan saja, tapi ia juga menemukan musuh yang juga sulit di provikasi, dan setiap kata-kata provokasi yang dilontarkan olehnya, hanya ditanggapi biasa saja oleh Xiao Lang, bahkan terkadang Xiao Lang malah berbalik memprovokasinya.


Meski lawannya kali ini sangat sulit untuk dihadapi, tapi hal itu justru membuat Lin Feng semakin bersemangat, bahkan tekadnya untuk mengalahkan Xiao Lang menjadi semakin besar, atau bisa dikatakan bahwa mengalahkan Xiao Lang adalah salah satu tujuan yang harus ia capai dalam hidupnya.


"Asura, bagaimana jika aku benar-benar mengalahkan mu dalam pertarungan ini?"


"Jangan buat aku tertawa dengan ucapan konyol mu itu, dan apa kau pikir aku mudah untuk dikalahkan?"


"Tidak, justru sangat mudah untuk mengalahkan mu."


"Hahaha, coba kau buktikan ucapan mu itu, Dewa Bintang. Jika tidak, maka akulah yang akan mengalahkan mu!" ujar Lin Feng.


***


Setelah Lin Feng dan Xiao Lang pergi ke suatu tempat untuk melanjutkan pertarungan mereka, sang Maha Dewa kemudian mengajak Huise pergi ke istana bintang dan saat ini, ia tengah menyaksikan jalannya pertarungan antara Lin Feng dan juga Xiao Lang bersama yang lainnya.


"Aku benar-benar tidak menyangka jika pemuda itu memiliki kekuatan yang hampir setara dengan yang mulia" ucap Shen Long.


"Apa maksudmu, serigala sialan?!"


"Bukan apa-apa, aku hanya berusaha membela Tuanku saja, dan perlu kalian ketahui, Tuanku tidaklah selemah yang kalian bayangkan" jawab Huise.


"Hahaha, tidak selemah yang kami bayangkan, itu artinya, Tuan mu itu adalah orang yang sangat lemah" sahut Shen Long.


Huise tersenyum santai menanggapi perkataan Shen Long, "Hanya karena kau seekor naga, bukan berarti kau bisa memandang rendah yang lain, dan jika aku mau, aku bisa saja meratakan kalian semua dengan tanah!"


Perkataan Huise memang terdengar santai, bahkan ia mengucapkannya tanpa ada ekspresi sombong ataupun angkuh diwajahnya, namun bagi Shen Long dan yang lainnya, perkataan tersebut jelas merupakan suatu penghinaan besar, apalagi Huise dengan santainya mengatakan bahwa dirinya bisa saja meratakan mereka semua dengan tanah.


"Sepertinya ada anjing yang tidak tahu diri di sini, memangnya kau pikir siapa dirimu sampai berani berkata sombong seperti itu di hadapan kami semua?"


"Aku bukan siapa-siapa, dan tentunya aku tidak bisa dibandingkan dengan Dewa Agung bangsa Naga sepertimu" jawab Huise.


Memang benar, Huise memang tidak bisa dibandingkan dengan Shen Long, namun tidak dalam artian lebih rendah darinya. Dengan kata lain, ucapan Huise sebelumnya bukan ditujukan atau dimaksudkan untuk merendahkan dirinya, melainkan untuk merendahkan Shen Long, karena statusnya jelas lebih tinggi darinya.


Bagi bangsa Naga, Shen Long adalah sosok Dewa Agung yang sangat mereka puja dan hormati, dan hal itu sudah tidak diragukan lagi. Namun, status dan kekuasaan Shen Long hanya terpusat pada bangsa Naga saja, kalaupun ada Beast lain yang menghormatinya, mungkin mereka hanya takut dengan sosoknya yang amat luar biasa.


Sedangkan Huise, status dan kekuasaannya tidak terpusat pada satu bangsa Beast saja, yang artinya, baik itu bangsa Naga ataupun bangsa Beast yang lainnya, mereka akan tetap menghormati Huise, bukan karena sosoknya yang luar biasa ataupun kekuatannya yang dahsyat, melainkan karena dirinya adalah penguasa.


Hanya saja, status dan kekuasaan Shen Long sebagai Dewa para Naga diketahui oleh bangsa Beast, jadi sangat wajar jika dirinya jauh lebih disegani dan dihormati oleh mereka. Sedangkan Huise, ia cenderung lebih tertutup dan tidak suka mengumbar kekuasaannya, jika tidak, mungkin lima bangsa Beast Suci yang ada di sana tidak akan berkutik dihadapannya.


"Hahaha, bagus jika kau sadar akan kemampuanmu. Dan akan jauh lebih baik lagi jika kau menghormati ku seperti yang lainnya" sahut Shen Long.


Sementara itu, sang Maha Dewa hanya bisa menggelengkan kepalanya, ia benar-benar tidak menyangka jika Shen Long ternyata memiliki sifat yang angkuh dan juga sombong, padahal selama ini ia tidak pernah menunjukkan hal tersebut pada siapapun.


Meski begitu, sang Maha Dewa lebih memilih untuk diam, karena tidak akan ada gunanya jika dia menjelaskan siapa Huise yang sebenarnya pada mereka, karena jika ia menjelaskan hal tersebut, sudah pasti akan terjadi pertarungan lagi antara Huise dan Shen Long, dan yang pastinya, istana bintang benar-benar akan rata dengan tanah akibat pertarungan mereka nantinya.


"Sudahlah, jangan memperpanjang masalah ini lagi" ucap sang Maha Dewa.


"Maaf yang mulia, tapi serigala tidak tahu diri inilah yang memulainya terlebih dahulu" sahut Shen Long.


"Aku tidak peduli siapa yang memulainya lebih dulu, yang jelas, aku tidak ingin ada pertarungan lagi."


"Baik, yang mulia!" jawab Shen Long dengan patuh.