Night King: The Asura

Night King: The Asura
Ch-255. Pertemuan tak terduga


Semua orang nampak tengah termenung memikirkan cara untuk kembali ke dimensi pertama, karena tidak mungkin bagi mereka untuk tinggal selamanya di sana, apalagi masih ada masalah besar yang belum diselesaikan.


Namun, sekeras apapun mereka berpikir, tetap tidak berhasil menemukan cara untuk kembali, karena tidak seorangpun dari mereka memiliki energi Dewa ditubuhnya.


Jika hanya antar daratan mungkin akan sangat mudah bagi mereka, namun tempat tujuan mereka bukanlah daratan di dimensi tersebut, melainkan daratan di dimensi yang sangat jauh, dan hal itu membutuhkan energi Dewa.


"Ini benar-benar merepotkan!" ujar Lang Diyu.


"Tenanglah, jangan ganggu konsentrasi Tuan Muda!" sahut Huise.


Diantara mereka semua, hanya Lin Feng dan Jia Zhen saja yang masih tenang seperti biasa, namun berbeda dengan sang ayah yang hanya duduk dengan tenang, Jia Zhen justru menggunakan waktunya untuk bermeditasi.


Tapi, bukan berarti ia tidak memikirkan cara untuk kembali, hanya saja, ia lebih suka mencari solusi masalahnya saat sedang bermeditasi, karena selain bisa mencari jalan keluarnya bersama Zhen Jia, ia juga bisa mengembalikan tenaganya.


"Kau yakin belum mau bertemu dengan ayah?"


Zhen Jia mengangguk, ia memang ingin bertemu Lin Feng namun saat ini, ia masih belum memiliki keberanian untuk menemui ayahnya itu.


"Hah" Jia Zhen menghela napas panjang, "Ya sudah, kalau begitu, aku akan menjelaskan semuanya pada ayah saat kau benar-benar siap."


"Terima kasih, kakak."


"Lalu, apa kau punya solusi untuk masalah ini?" tanya Jia Zhen.


Zhen Jia diam sejenak sembari memikirkan solusi untuk masalah yang tengah menimpa mereka, setelah diam selama beberapa saat, ia tiba-tiba teringat dengan sesuatu.


"Kak, aku ingat kalau sebenarnya aku juga mendapatkan anugerah dari yang mulia Dewi Nuwa."


"Anugerah?"


Zhen Jia mengangguk, kemudian menjelaskan jika dirinya juga mendapatkan anugerah berupa energi Dewa pemberian Dewi Nuwa.


Meski yang menerima anugerah itu sebenarnya adalah Jia Zhen, namun karena mereka di satu tubuh, secara tidak langsung, anugerah itu juga didapatkan oleh Zhen Jia.


"Itu artinya..."


"Benar kak, energi Dewa yang aku dapatkan tidak menghilang seperti kalian semua!" ujar Jia Zhen.


"Tapi, bagaimana cara menggunakannya?"


"Aku akan menggunakan pedang ayah sebagai wadah."


"Tidak! Aku tidak akan mengizinkanmu melakukan hal itu, bagaimana jika jiwamu terluka?"


"Kak, hanya ini satu-satunya cara yang bisa kita lakukan, atau kita semua akan terjebak di dimensi ini selamanya."


Jia Zhen terdiam, ia tentu tidak ingin terjebak di dimensi ini untuk selamanya, tapi disisi lain, ia juga tidak ingin terjadi sesuatu pada adiknya, apalagi menggunakan pedang sebagai wadah, tentu akan sangat beresiko untuk jiwanya.


"Kak, percayalah padaku" ucap Zhen Jia.


"Tapi..."


"Pikirkan ibu, aku yakin ibu sangat membutuhkan ayah sekarang."


Jia Zhen menghela napas panjang, sebenarnya sangat berat baginya untuk memberikan izin pada adiknya itu, namun apa yang ia katakan memang ada benarnya, karena ibu mereka pasti sangat membutuhkan ayah mereka.


***


"Ayah, aku punya cara untuk kembali" ucap Jia Zhen yang baru saja menyelesaikan meditasi-nya.


Lin Feng dan yang lainnya menoleh pada Jia Zhen, mereka sepertinya sudah tidak sabar menunggu Jia Zhen melanjutkan ucapannya, karena bagaimanapun juga, mereka semua ingin mengetahui cara seperti apa yang akan Jia Zhen lakukan.


Jia Zhen kemudian mengeluarkan pedang Dewa Asura dari dalam cincin penyimpanannya, "Aku akan menggunakan pedang ini" ucapnya.


"Sebelum itu, aku ingin meminta bantuan ayah untuk mengalirkan energi kedalam pedang ini" jawab Lin Feng.


Lin Feng mengangguk paham, kemudian mengalirkan energinya kedalam pedang Dewa Asura, pada saat yang bersamaan, Zhen Jia keluar dari dalam tubuh kakaknya dan langsung masuk ke dalam pedang hitam tersebut.


"Gumpalan energi itu... kenapa terasa seperti sebuah jiwa?"


Meskipun yang lainnya tidak menyadari dan tidak bisa melihat Zhen Jia, namun Lin Feng dapat merasakan bahkan melihatnya dengan jelas, tapi ia lebih memilih untuk diam, karena sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk bertanya pada anaknya.


"Ini... tidak salah lagi, gumpalan energi itu adalah sebuah jiwa, tapi milik siapa?"


"Aku harus memeriksanya!"


Kemudian, Lin Feng melepaskan kekuatan jiwanya seraya terus mengalirkan energinya kedalam pedang Dewa Asura. Lalu, ia mengarahkan kekuatan jiwanya itu ke dalam pedang hitam tersebut.


"Siapa kau?" tanya Lin Feng.


Zhen Jia tersentak kaget ketika menyadari ayahnya kini berada di belakangnya, dan karena terlalu gugup, ia sampai tidak berani menghadap Lin Feng.


"Jawab pertanyaan-ku!" ujar Lin Feng dengan suara tegas.


Rasa gugup dan takut semakin menyelimuti diri Zhen Jia, bahkan tubuhnya nampak gemetar karena rasa gugup yang sangat luar biasa, meski begitu, ia tetap memberanikan diri untuk menghadap Lin Feng.


Lin Feng tersentak kaget melihat seorang anak perempuan yang kini menghadapnya, apalagi saat melihat wajah anak itu yang sangat mirip dengan Jia Zhen, dan anehnya lagi, jantung Lin Feng berdetak semakin cepat saat bertatapan dengan matanya.


Perlahan namun pasti, Lin Feng mulai mendekati anak itu, kemudian menyentuh pipinya dengan lembut. Ada perasaan hangat saat telapak tangannya menyentuh pipi gadis kecil itu, bahkan ia merasa seperti ada ikatan khusus antara dirinya dan anak itu.


"Nak, siapa kau sebenarnya? Kenapa kau bisa ada di dalam tubuh Jia Zhen" tanya Lin Feng dengan suara lembut.


"A-ayah..."


Deg.


Detak jantung Lin Feng semakin cepat ketika mendengar anak itu memanggilnya dengan sebutan ayah, ia sebenarnya tidak mengerti kenapa anak itu memanggilnya demikian, namun ada perasaan aneh yang muncul dalam dadanya saat melihat tatapan anak itu.


Perasaan yang sulit untuk diartikan dengan kata-kata, perasaan yang selama ini ia rasakan ketika mendengar anak-anaknya memanggilnya dengan kata tersebut, perasaan yang hanya ia rasakan kala bersama dengan ketiga anaknya.


"Siapa namamu?"


"Zhen Jia."


Dahi Lin Feng nampak berkerut ketika mendengar nama anak tersebut, "Siapa yang memberikan nama itu?"


"Kakak yang memberikannya padaku" jawab Zhen Jia.


"Kakak?"


Zhen Jia mengangguk pelan, kemudian menjelaskan jika Jia Zhen lah yang memberikan nama itu padanya.


"Baiklah, aku akan menemui-mu lagi nanti" sahut Lin Feng, kemudian menghilang dari pandangan Zhen Jia.


***


Setelah selesai mengumpulkan energi di dalam pedang Asura, Jia Zhen kemudian mengacungkan pedang itu ke langit. Tidak lama berselang, di udara muncul sebuah portal dimensi yang cukup besar.


"Cepatlah masuk, aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi!" ujar Jia Zhen.


Huise dan yang lainnya mengangguk, kemudian mereka melesat masuk ke dalam portal dimensi tersebut, sementara Lin Feng, ia masih berada disisi Jia Zhen.


"Setelah ini, ayah ingin bicara denganmu" ucap Lin Feng, kemudian menggenggam tangan Jia Zhen dan langsung melesat terbang masuk ke portal dimensi tersebut.