
Taman belakang istana.
"Apa yang sedang Gege pikirkan?" Luo Ning merebahkan kepalanya di bahu Lin Feng seraya mengelus lengan kiri suaminya yang hanya tersisa sebagian.
"Putra kita, Jia Zhen."
"Zhen'er memang berbeda, dia bahkan sudah melakukan hal yang besar diusianya yang masih kecil" sahut Luo Ning.
Jia Zhen memang berbeda dengan kedua kakaknya, dia adalah sosok yang begitu luar biasa di mata Lin Feng ataupun Luo Ning. Tapi, bukan berarti mereka tidak peduli pada si kembar, hanya saja, Jia Zhen memiliki sesuatu yang berbeda dari kedua kakaknya itu.
"Ning'er."
"Hmm?"
"Bagaimana pendapatmu jika kita punya anak lagi?"
Lin Feng teringat dengan anak kecil yang ia temui sebelumnya, meski baru pertama kali bertemu dengannya, namun Lin Feng merasa yakin jika anak itu adalah anak mereka berdua.
"Tidak masalah, tapi kita harus meminta pendapat mereka bertiga."
"Maksudmu?"
"Mereka sudah besar, bahkan si kembar sudah dewasa, dan di usia mereka sekarang ini, apa mereka mau menerima kehadiran bayi ditengah-tengah kita?"
"Bayi?" Lin Feng mengerutkan dahi mendengar perkataan istrinya, dan ia yakin, istrinya itu sudah salah paham dengan apa yang ingin ia sampaikan.
"Ning'er, jawab dengan jujur, apa yang ada dalam pikiranmu saat aku mengatakan itu tadi?"
"Tentu saja punya anak lagi" jawab Luo Ning.
"Hahahaha!" Lin Feng tertawa lepas karena jawaban Luo Ning, dan hal itu berhasil membuat sang istri kebingungan.
"Ning'er, yang aku maksud bukan punya anak lagi, dan menurutku, kehadiran mereka sudah cukup untuk melengkapi keluarga kita."
"Lalu?"
Lin Feng menghela napas panjang untuk menangkan dirinya, lalu menjelaskan apa yang ia temui sebelumnya, ia juga mengatakan jika dirinya sangat yakin jika anak perempuan yang ia temui waktu itu adalah anak mereka.
"Ini..."
"Aku juga bingung, tapi ada baiknya jika kita menanyakan hal ini pada Zhen'er" sahut Lin Feng.
Luo Ning mengangguk setuju, kemudian memanggil putra bungsu mereka untuk datang ke taman belakang istana, Luo Ning juga berpesan agar Jia Zhen tidak mengajak kedua kakaknya, karena mereka ingin memastikan hal itu terlebih dahulu.
"Ayah, ibu" sapa Jia Zhen setelah tiba di taman belakang istana.
Lin Feng melambaikan tangannya agar putra bungsunya itu duduk di sebelahnya, kemudian ia menanyakan perihal mengenai keberadaan sebuah jiwa yang ada di dalam diri Jia Zhen.
Jia Zhen kaget mendengar pernyataan ayahnya, ia juga tidak menyangka jika ayahnya itu mengetahui tentang keberadaan Zhen Jia, padahal, seharusnya tidak ada yang bisa melihat Zhen Jia selain dirinya.
"Zhen'er?"
"Ayah benar, di dalam diriku memang ada satu jiwa lagi dan dia adalah adikku" jawab Jia Zhen.
Jawaban Jia Zhen sukses membuat ayah dan ibunya tercengang, karena tidak pernah menyangka jika Jia Zhen dilahirkan dengan dua jiwa, padahal selama ini, mereka tidak pernah merasakan keanehan apapun di tubuhnya.
"Lalu kenapa kau tidak memberitakannya pada ayah dan ibu?" tanya Luo Ning.
"Maaf, Bu. Aku juga baru mengetahui tentang Zhen Jia saat dalam perjalan mencari ayah."
"Apa ibu bisa bertemu dengannya?"
"Tapi aku ingin menemuinya, bagaimanapun juga, dia adalah putriku dan dia berhak mengetahui siapa ibunya!"
"Kau tenang saja, aku akan menemukan jalan keluar untuk masalah ini dan aku janji, kita pasti bisa bertemu dengannya" sahut Lin Feng.
Sementara itu.
Zhen Jia menangis bahagia mendengar pembicaraan kakaknya dengan kedua orang tua mereka, meski saat ini ia tidak hadir ditengah-tengah mereka, namun apa yang Luo Ning rasakan bisa tersampaikan padanya.
Andaikan saja dirinya memiliki raga, mungkin Zhen Jia sudah berlari menghampiri ibu dan ayahnya, memeluk kedua orangtuanya itu dengan sangat erat kemudian mengatakan jika dirinya sangat merindukan mereka berdua.
***
"Untuk saat ini, aku punya cara yang mungkin bisa mempertemukan kita dengan Zhen Jia" ucap Lin Feng memecah keheningan.
"Benarkah? Bagaimana caranya?" tanya Luo Ning.
Lin Feng tidak menjawab, ia kemudian berdiri dan menggunakan jiwa bayangan untuk menciptakan tiruan dirinya, lalu setelah itu, Lin Feng mengeluarkan kekuatan api emas dan memasukkan kekuatan api tersebut kedalam tiruan dirinya.
Karena perbedaan kekuatan yang sangat besar dan jenis elemen yang berbeda, kekuatan api emas langsung membakar tiruan Lin Feng tersebut, meski begitu, Lin Feng tetap menahan kekuatan api emas agar tidak membakar habis tiruannya itu.
"Zhen Jia, ayah tidak tahu apakah kau bisa mendengar ini atau tidak, tapi kalau kau mendengarnya, ayah rasa kau tahu apa yang harus kau lakukan" ucap Lin Feng.
Tidak lama berselang, gumpalan energi nampak melesat keluar dari dalam tubuh Jia Zhen, kemudian masuk ke dalam tubuh tiruan Lin Feng yang masih dibakar oleh api emas.
Disaat yang bersamaan, Lin Feng melepaskan kekuatannya dan membiarkan api emas melahap habis tubuh tiruannya itu.
Kekuatan api emas semakin membesar dan mulai mengikis tubuh tiruan Lin Feng, yang membuat tubuh itu menyusut secara perlahan hingga tingginya setara dengan Jia Zhen. Selain itu, wujud dari tiruan Lin Feng juga mulai berubah secara perlahan-lahan.
"Ning'er, sekarang giliran mu" ucap Lin Feng.
Luo Ning mengangguk paham, ia tentu mengerti apa yang harus ia lakukan, karena ia juga merasakan kekuatan jiwa yang masuk ke dalam tiruan suaminya itu memiliki satu hal yang sama dengannya, yaitu energi Yin.
"Semoga tidak terjadi apa-apa" gumamnya, kemudian mengalirkan energi Yin kedalam tubuh tiruan Lin Feng yang telah berubah total.
Seiring dengan banyaknya energi Yin yang disalurkan oleh Luo Ning, tubuh yang awalnya hanya kobaran api yang berbentuk manusia, perlahan mulai berubah menjadi manusia seutuhnya, hingga akhirnya, tubuh itu benar-benar terbentuk dengan sempurna.
Lin Feng melepaskan jubahnya kemudian menyelimuti tubuh Zhen Jia yang tidak ditutupi sehelai benangpun, sementara Luo Ning mendekapnya dengan erat, memberikan kehangatan yang belum pernah dirasakan oleh Zhen Jia sebelumnya.
Sedangkan Jia Zhen, ia terlihat penasaran dan ingin mengetahui apa yang terjadi, karena sejak tadi, pandangannya terhalangi oleh ibunya.
"Zhen'er, tutup matamu" ucap Luo Ning.
"Kenapa..."
"Jangan membantah dan tutup saja matamu!"
Jia Zhen menghela napas panjang, meski ia tidak tahu alasan kenapa ibunya memintanya menutup mata, namun ia tetap menuruti perintah ibunya itu, karena kalau tidak, akan ada resiko yang harus ia terima karena membantah.
Setelah Jia Zhen menutup matanya, Luo Ning kemudian mengeluarkan beberapa helai pakaian dari cincin penyimpanannya, lalu memilih salah satu yang menurutnya sangat cocok dengan Zhen Jia.
"Ibu, sampai kapan aku harus menutup mata?"
"Sampai ibu menyuruhmu membukanya!"
"Ibu..."
"Sebentar lagi!"