
Sejak mendapatkan firasat buruk satu hari yang lalu, Lin Feng tidak pernah bisa tenang sedikitpun, segala cara telah ia lakukan untuk menenangkan dirinya, namun semua usahanya benar-benar tidak membuahkan hasil apapun.
Lin Feng sebenarnya ingin kembali ke dimensi pertama untuk bertemu dengan keluarganya, karena setiap kali dirinya merasa tidak tenang, hanya merekalah yang paling bisa diandalkan untuk menenangkan dirinya.
Apalagi saat dia bersama Lin Hua dan khususnya Luo Ning, karena hanya mereka berdua lah yang benar-benar bisa membuatnya tenang, kalaupun keduanya tidak juga berhasil, masih ada tiga anaknya yang selalu membawa ketenangan untuknya.
Tapi kali ini, dia tidak mungkin membuang-buang waktunya hanya untuk kembali, jadi dia memutuskan untuk mencari cara agar dirinya bisa tenang kembali, dan ya! Cara yang ia pilih adalah dengan bermeditasi.
Melakukan meditasi tentunya tidak hanya untuk meningkatkan kekuatan, tapi juga sering dilakukan untuk mendapatkan ketenangan, misalnya seperti Lin Feng saat ini.
Dalam meditasi-nya, Lin Feng berharap agar dirinya bisa melihat gambaran masa lalunya, dimana dia masih bersama ayah, ibu dan juga kakaknya, namun, apa yang dia harapkan nyatanya tidak sesuai dengan kenyataan.
"Sudah sekian tahun berlalu, kenapa baru sekarang kau muncul lagi di hadapanku?" tanya Lin Feng.
"Aku tidak akan muncul jika tidak ada hal yang mendesak" jawab pria yang berdiri di hadapan Lin Feng, dia tidak lain adalah Dewa Asura sebelum Lin Feng.
"Maksudmu?"
"Hah" Dewa Asura menghela napas berat, "Kau tentu sudah merasakannya, bukan?"
"Jadi ini, alasan kenapa aku tidak pernah bisa tenang sejak mendapatkan firasat buruk itu?"
Dewa Asura mengangguk, "Lin Feng, kau harus berjuang sekali lagi untuk mempertahankan alam semesta, tapi musuh kali ini..." Dewa Asura nampak ragu untuk melanjutkan ucapannya.
"Tidak masalah, sudah menjadi tugasku untuk menjaga alam semesta ini" sahut Lin Feng, ia sepertinya sudah mengerti kenapa Dewa Asura ragu untuk melanjutkan ucapannya.
"Kau yakin?"
"Sebenarnya tidak, tapi mau bagaimana lagi? Aku akan berusaha melakukan yang terbaik, kalaupun aku gagal, masih ada mereka yang akan melanjutkan perjuanganku" jawab Lin Feng.
"Andai saja aku bisa membantumu..."
"Sudahlah, kekuatan yang kau berikan kepadaku sudah lebih dari cukup, jadi aku tidak membutuhkan bantuan apapun lagi darimu."
"Lin Feng, aku harap kau siap..."
"Aku selalu siap, bahkan aku sudah siap jauh sebelum Dewi Nuwa membawa jiwaku ke sini."
"Kau tahu, sudah sering kali aku melakukan hal gila hanya karena ingin menyusul keluargaku, tapi selalu saja gagal, dan kali ini pun..."
"Berhentilah bersikap tegar seolah hatimu terbuat dari bebatuan gunung."
Lin Feng tersenyum mendengar perkataan Dewa Asura, "Aku benci mengakui ini, tapi kau termasuk orang yang sangat memahami diriku."
Lin Feng, siapa yang tidak kenal namanya, gelarnya yang begitu luar biasa akan membuat orang-orang bergidik saat bertemu dengannya, dia adalah Dewa Kematian, pembunuh berdarah dingin, dan manusia yang kekejamannya melebihi iblis.
Namun, dibalik ketenaran dan kengerian yang ia tanamkan dalam diri semua orang, tersimpan sesuatu yang sangat rapuh jauh di dalam dadanya, namun yang mengetahui hal ini hanya orang-orang tertentu saja, salah satunya adalah Dewa Asura.
"Lin Feng..."
"Dimana dia?"
"Apa kau mau menemuinya?"
Lin Feng mengangguk, "Hanya sekedar untuk menyapa."
"Hah" Dewa Asura kembali menghela napas panjang, "Butuh waktu yang sangat lama untuk sampai di sana, tapi jika kau mau, kau bisa menemukannya dengan cara yang masih sama."
"Terima kasih" ujar Lin Feng.
Setelah menyampaikan mengenai bencana yang akan melanda alam semesta ini lagi, Dewa Asura kemudian menghilang dari pandangan Lin Feng, dan sebelum benar-benar pergi, ia kembali mengingatkan agar Lin Feng berhati-hati.
Meski begitu, Lin Feng juga tidak mau memaksa Dewa Asura untuk menjelaskan semuanya, lagipula, Lin Feng yakin ada alasan khusus yang membuat Dewa Asura tidak mau menjelaskan siapa musuh yang akan dia hadapi kali ini.
***
Waktu kian bergulir, sudah beberapa bulan berlalu sejak portal ke Daratan Suci terbuka, dan selama beberapa bulan itu pula, Huanran selalu berusaha mencari keberadaan Xie Long, namun sayangnya, ia sama sekali tidak menemukan petunjuk apapun.
Setelah Xie Long meninggalkannya di kedalaman hutan beberapa bulan yang lalu, Xie Long seolah lenyap ditelan oleh Daratan Suci. Meski begitu, Huanran tidak pernah menyerah untuk menemukan remaja itu, entah apa alasannya, tapi dia mulai tertarik pada Xie Long.
"Hah" Huanran menghela napas panjang setelah menghentikan langkahnya untuk beristirahat, "Kemana lagi aku harus mencarinya."
"Nona, memangnya siapa yang sedang kau cari?" salah seorang pemuda memberanikan diri untuk bertanya.
"Dia..."
Huanran menghentikan ucapannya, ia bingung bagaimana harus menjelaskan siapa yang sedang ia cari, karena diantara mereka memang tidak ada hubungan yang khusus, jangankan memiliki hubungan, dia saja tidak tahu siapa nama remaja tersebut.
"Dia siapa?"
Huanran menggeleng, "Aku tidak tahu siapa namanya."
Orang-orang yang melakukan perjalanan bersamanya tercengang ketika mendengar perkataan Huanran, "Tidak tahu namanya? Lalu, bagaimana..."
"Entahlah, aku sendiri tidak tahu lagi harus melakukan apa" ujar Huanran.
Groaar!
Suara raungan yang sangat keras disertai terpaan aura kekuatan yang besar membuat muda-mudi itu kaget bukan main, namun, sebelum mereka sempat bereaksi, seekor gorila berbulu merah menyala bagai api dengan ukuran tubuh yang sangat besar telah muncul di depan mereka semua.
"Sial! Kekuatan Beast ini sangat tinggi!"
"Bersiaplah untuk bertarung!"
"Tunggu, Beast ini sepertinya sedang terluka" sahut Huanran setelah mengamati gorila merah tersebut.
Wushh!
Slash!
Saat mereka tengah fokus mengamati gorila merah raksasa tersebut, sesosok bayangan hitam melesat melewati mereka semua, sesaat setelahnya, suara tebasan terdengar dengan jelas di telinga mereka semua.
"Ini..."
Tercengang, hanya itu yang bisa mereka rasakan ketika melihat kepala gorila itu terlepas dari tempatnya.
Sama halnya dengan yang lain, Huanran juga ikut tercengang melihat peristiwa yang baru saja terjadi, namun ia lebih fokus pada sosok bayangan hitam yang kini telah berdiri di atas tubuh gorila tersebut.
"Dia..."
Beberapa bulan tidak bertemu tidak membuat Huanran lupa pada pria itu, ia tentunya masih mengingat dengan jelas tatapan tajam pria itu, karena tatapan itulah yang sudah membuatnya menyukai remaja tiga belas tahun tersebut.
"Tunggu!" ujar Huanran.
Remaja yang tidak lain adalah Xie Long itu, menghentikan langkahnya dan menolah pada Huanran yang kini berada tidak jauh darinya, "Aku kira siapa, ternyata kau lagi..."
"Siapa namamu?"
"Kau akan tahu nanti!" jawab Xie Long.