
"Hahaha, mau bicara seolah kau mampu membunuh kami saja, tapi aku suka dengan kesombongan mu itu."
"Benar sekali, aku memang terkenal sombong dan arogan, dan percaya atau tidak, aku pasti akan mengirim kalian ke neraka dengan tanganku sendiri!" sahut Lin Feng.
Keempat penguasa itu mengerutkan alis mereka ketika mendengar ucapan Lin Feng, mereka benar-benar tidak pernah menyangka jika orang yang dimaksud oleh Dewa Huo itu adalah seorang pemuda yang sangat angkuh dan juga sombong.
"Bocah! Sebaiknya kau sadari tempatmu!" ujar Ji Ling.
"Aku sangat menyadari dimana aku berada sekarang, tapi kalian, apakah kalian sudah menyadari dimana kalian berada dan tengah berhadapan dengan siapa?"
"Hahahaha, ini benar-benar sulit dipercaya, seorang bocah ingusan ternyata berani berbicara seperti itu kepada kami para penguasa dimensi" sahut Yang Baihu.
"Bocah ingusan, ya? Sepertinya aku sudah tidak asing lagi dengan ucapan macam ini, tapi apa kalian tahu bagaimana nasib orang-orang yang pernah bicara seperti itu padaku?"
"Aku tidak peduli, karena kau akan segera mati ditangan kami berempat" ujar He Jin.
Hua Xiong menggelengkan kepalanya, "Tidak, tidak, terlalu cepat untuk membunuh bocah ini, lebih baik kita biarkan dia menemani pasukan kita bermain-main terlebih dahulu."
"Kau benar! Biarkan dia merasakan betapa menyakitkannya disiksa oleh ratusan ribu prajurit" sahut Yan Baihu.
Setelah itu, Yan Baihu dan ketiga penguasa lainnya menghilang dari pandangan Lin Feng, kemudian mereka muncul lagi di atas awan untuk menyaksikan jalannya pertarungan antara Lin Feng melawan enam ratus ribu pasukan dari empat dimensi berbeda.
"Kalian ingin aku menemani mereka bermain? Tidak masalah, lagipula aku butuh sedikit pemanasan" gumam Lin Feng, kemudian menghilang dari istana Dewa.
Sesaat kemudian, Lin Feng telah muncul lagi di depan istana Dewa dimensi kesepuluh dengan pedang Dewa Asura di tangan kanannya, sementara di hadapannya, sudah ada enam ratus ribu prajurit gabungan dari empat dimensi berbeda.
Kemudian, Lin Feng melangkah maju mendekati pasukan tersebut, lalu ia mempercepat langkahnya kakinya dan berlari dengan kecepatan tinggi, hingga akhirnya, Lin Feng mendadak menghilang dari pandangan semua prajurit yang ada di sana.
Dalam satu tarikan napas, Lin Feng telah muncul tepat didepan salah seorang prajurit pasukan gabungan tersebut, disaat yang bersamaan, Lin Feng juga langsung menebaskan pedangnya kearah prajurit itu dan berhasil merenggut nyawanya dengan memotong lehernya.
"Majulah, kalian semua akan menjadi pelampiasan dahagaku!" ujar Lin Feng, kemudian melanjutkan serangannya.
Bagaikan memotong ratusan ribu daging cincang, mungkin hanya itulah yang pantas untuk menggambarkan betapa mudahnya Lin Feng membantai pasukan musuh. Dia yang hanya sorang diri melesat dengan kecepatan tinggi ditengah lautan musuh, seolah mereka bukanlah apa-apa baginya.
Hanya dalam hitungan detik saja, sudah tidak terhitung lagi berapa banyak nyawa yang direnggut oleh Lin Feng, sudah tidak terhitung lagi berapa banyak kepala yang berhasil ia penggal, dan sudah tidak terhitung lagi berapa banyak tubuh yang ia potong dengan pedang hitam yang ada di genggaman tangannya.
Wushh!
Wushh!
Dhuaarrr!
Dhuaarrr!
Bagaimana tidak, setiap serangan yang mereka lancarkan itu menggunakan segenap kekuatan yang mereka miliki, dengan harapan, serangan yang mereka lancarkan itu dapat mengenai Lin Feng dan membunuhnya, atau setidaknya melukainya dengan cukup parah.
Namun sungguh disayangkan, karena serangan itu tidak mengenai Lin Feng dan malah mengenai prajurit yang lainnya, dan karena kekuatan yang mereka gunakan saat menyerang sangatlah besar, prajurit yang terkena serangan itupun banyak yang terluka, bahkan tidak sedikit yang langsung meregang nyawa saat itu juga.
"Ini tidak baik, sepertinya pasukan kita sangat kesulitan menghadapinya" ucap He Jin yang mulai khawatir.
"Tenang saja, meskipun dia masih belum terkena serangan, tapi melawan enam ratus ribu prajurit terbaik bukanlah hal yang mudah, kalaupun dia tidak mati di tangan mereka, dia pasti akan mati kelelahan" sahut Yan Baihu.
"Itu benar! Lagipula, mustahil dia bisa membinasakan semua pasukan terbaik yang kita miliki" imbuh Hua Xiong.
"Aku sependapat dengan mereka berdua, dan daripada mengkhawatirkan para prajurit, lebih baik kita nikmati saja tontonan ini" ucap Ji Ling menambahkan.
Walaupun keempat penguasa itu tengah berada di bawah pengaruh Dewa Huo, namun sikap mereka tetap terlihat seperti biasa seolah tidak ada apapun yang terjadi, hal itu dikarenakan Dewa Huo yang meminta mereka untuk bersikap seperti biasa, agar tidak ada yang curiga dan menyadari tentang giok jiwa yang ada di dalam tubuh mereka.
Memang benar, keberadaan giok jiwa di dalam diri mereka benar-benar tidak diketahui oleh Xiao Lang dan Dewi Nuwa, namun tidak dengan Lin Feng, ia bahkan bisa merasakan kekuatan dari giok jiwa yang mengendalikan jiwa para penguasa dimensi tersebut, hanya saja, ia masih belum menemukan cara untuk mengeluarkannya dari tubuh mereka.
***
Ditempat lain.
Shen Yao dan Gong Sun yang diperintahkan untuk menyerang dimensi pertama, kini tidak tiba di dimensi pertama dengan tiga ratus ribu pasukan terbaik yang mereka miliki, dan saat ini, mereka tengah bertempur dengan pasukan dimensi pertama yang dipimpin secara langsung oleh Dewi Nuwa.
Dari segi jumlah prajurit, pasukan Shen Yao dan Gong Sun jauh lebih unggul, karena pasukan dimensi pertama tidak sampai seratus ribu prajurit, namun dari segi kekuatan, pasukan dimensi pertama jelas tidak bisa dipandang hanya dengan sebelah mata, karena pasukan itu adalah pasukan terbaik yang dimiliki oleh dimensi pertama.
Keunggulan pasukan dimensi pertama dalam kekuatan semakin terlihat jelas ketika mereka berhasil menggempur pasukan musuh dengan mudah, walaupun kalah dalam jumlah, namun strategi bertahan serta menyerang yang mereka gunakan sudah cukup untuk membuat musuh kewalahan.
Selain strategi perang yang tersusun dengan rapi, serangan pasukan dimensi pertama juga jauh lebih ganas, bahkan setiap serangan yang dilancarkan oleh para prajuritnya pasti akan berhasil merenggut nyawa prajurit musuh, belum lagi ditambah dengan kekejaman mereka, sudah pasti akan membuat nyali musuhnya sedikit menciut.
"Pasukan macam apa ini? Mereka semua terlihat seperti gerombolan serigala buas yang sedang kelaparan" ucap Shen Yao.
"Jangan hiraukan hal itu, kita harus segera turun tangan atau kita akan kalah dari mereka" ujar Gong Sun.
Disisi lain.
"Yang mulia, mereka sepertinya akan segera turun tangan" ucap Huise.
"Aku tahu itu dan sebaiknya kita juga ikut membantu pasukan raja malam" sahut Dewi Nuwa.
"Luo Ning, kau fokus saja membantu pasukan, biar aku dan Huise saja yang menghadapi dua penguasa itu" lanjutnya.
"Baik, yang mulia" jawab Luo Ning dengan patuh.