
"Nenek, apa nenek tahu orang seperti apa yang akan menjadi jodohku nanti?"
"Dia pemuda yang hebat, sosok yang akan menjadi legenda hidup dan menjadi penyelamat alam semesta, namanya akan jauh lebih besar daripada nama besar lainnya."
"Benarkah?"
Gadis muda yang baru saja menginjak usia lima belas tahun itu nampak ragu dengan ucapan sang nenek, karena perkataan sang nenek barusan terdengar seperti dia sudah mengetahui siapa jodoh cucunya itu nanti.
"Yakinlah, cucuku. Tapi untuk mendapatkannya, ada banyak rintangan yang akan kau lalui, salah satunya adalah ujian kehidupan dan kematian."
"Maksud, nenek?"
Gadis itu mulai cemas mendengar penjelasan neneknya, bagaimanapun juga, ia tidak mau berjuang sendirian demi menggapai masa depan yang belum pasti.
"Tidak usah khawatir, jodohmu adalah orang yang sangat baik, dia akan melakukan apapun demi melindungi mu."
"Hah" gadis itu menghela napas panjang, "Baiklah, sekarang katakan padaku, seperti apa ciri-cirinya dan dimana dia tinggal?"
"Dia sangat tampan meski wajahnya disembunyikan, tatapannya bagai mata elang yang tengah mengintai mangsa, sikap dinginnya bagai es yang tidak akan pernah cair oleh panasnya sinar matahari..." wanita tua itu menghentikan penjelasannya untuk mengambil napas.
"Kekejamannya bagai iblis yang tidak berperasaan, dan kelembutannya bagai kapas yang tidak akan melukai siapapun yang menyentuhnya" lanjutnya.
"Hanya itu saja?"
"Yang tadi itu hanya ciri-ciri khusus saja."
"Lalu dimana dia tinggal?"
"Dia tinggal ditempat yang sangat jauh dan akan lahir dua ratus tahun lagi."
Mulut gadis itu ternganga lebar mendengar ucapan neneknya, ingin sekali ia tertawa dengan lantang karena menganggap semua itu hanya gurauan, namun niatnya mendadak hilang saat melihat keseriusan di mata sang nenek.
"Tunggu, jangan bilang kalau..."
Wanita lanjut usia itu mengangguk, "Nenek sangat serius, Xiao Hua. Dan satu lagi, jodohmu akan memanggil namamu seperti nenek memanggil namamu."
***
Gadis yang nampak berusia tujuh belas tahun bangkit dari tempat tidurnya, air mata mengalir dengan begitu deras dari sudut matanya, mimpi yang ia alami barusan sudah membuat luka lama dalam dadanya basah lagi.
"Nenek, Xiao Hua merindukan nenek" gumamnya.
Cahaya rembulan yang masuk melalui celah-celah jendela kamar menyentuh tangan Xiao Hua, membuat gadis cantik itu mengangkat kepalanya dan kemudian menghampiri jendela kamarnya.
Setelah menghapus jejak air mata di pipinya, serta membuang segala kesedihannya, Xiao Hua kemudian membuka jendela kamarnya dan seketika itu juga, cahaya yang jauh lebih terang langsung menerpa wajahnya.
"Nenek tenang saja, aku pasti akan menemukan jodoh yang nenek maksud" gumam Xiao Hua.
"Dan kau, siapapun dirimu... aku harap kau adalah orang yang dimaksud oleh nenekku, dan jangan sampai kau membuatku kecewa karena telah mempercayai mendiang nenekku"
Disaat yang sama.
Lin Xie Long kini telah berada di kota, ini adalah kota kedua yang ia kunjungi semenjak menginjakkan kaki di Daratan Suci, dan kota tempat ia berada sekarang adalah kota yang dulunya dikuasai oleh Dewa Petir.
Semenjak Yama dan seluruh kaki tangannya dimusnahkan, setiap kota kerajaan yang ada di Daratan Suci kini telah menjadi kota biasa, namun namanya masih menggunakan nama dewa yang pernah menguasai kota itu sebelumnya.
Misalnya seperti saat ini, Xie Long berada di kota yang dulunya dikuasai oleh Dewa Petir, dan sekarang nama kota tersebut bernama Kota Petir.
"Suasana kota ini sungguh tenang" gumam Xie Long sembari menatap gelapnya langit malam.
Suasana malam yang begitu sunyi, membuat pikiran Xie Long melayang entah kemana, hingga akhirnya, dalam benaknya muncul ingatan mengenai pertemuannya dengan Huanran, kemudian berlanjut hingga pertemuan terakhir mereka kemarin.
Tanpa disadari, seulas senyuman terukir di bibir Xie Long ketika mengingat kejahilannya saat mengerjai Huanran, apalagi ketika mengingat ekspresi gadis bercadar itu, yang nampak begitu malu dan juga takut pada Xie Long.
"Aneh, kenapa aku malah memikirkan gadis itu?"
"Jika tidak salah... namanya, Huanran, kan?"
"Tidak, aku tidak menyukainya!" bantah Xie Long.
"Jujurlah pada dirimu sendiri!"
"Aku sudah jujur."
"Tidak, kau sedang berbohong!"
"Kau tahu apa?"
"Tentu aku tahu, karena aku sudah ada dalam dirimu sejak kau dilahirkan ke dunia ini!"
Xie Long malah diam dan tidak menyahuti perkataan perwujudan kekuatan Asura dalam dirinya, ia terlalu malas untuk meladeni sosok aneh tersebut, apalagi perasaannya saat ini sedang tidak menentu.
"Huanran, nama yang bagus" gumam Xie Long, kemudian beranjak ke tempat tidurnya.
***
Suatu dimensi yang sangat jauh.
"Ah, aku tidak menyangka jika dia akan datang."
"Tapi tidak apa-apa, aku akan menyambut kedatangannya dengan baik."
Pria paruh baya itu kemudian melambaikan tangan kanannya ke udara, seketika itu juga, tempat tersebut berubah menjadi istana yang sangat besar dan juga megah, bahkan sudah lengkap dengan makanan dan juga minuman yang sangat banyak.
"Sepertinya ini sudah cukup" gumam pria itu.
Tidak lama kemudian, sosok yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba di tempat pria tersebut, dia tidak lain adalah Lin Feng, manusia yang memegang tiga gelar Dewa dan menjadi satu-satunya manusia yang masuk kedalam bagian penjaga semesta.
Pria paruh baya itu mengerutkan alisnya saat melihat Lin Feng muncul di istana yang baru saja ia ciptakan, "Kau... aura kekuatanmu terasa seperti Asura, tapi kenapa wajahmu berbeda?" tanya pria tersebut.
"Asura yang kau kenal sudah tiada, aku adalah penggantinya" jawab Lin Feng.
"Ternyata begitu, pantas saja aku merasa aneh saat merasakan aura kekuatanmu" sahut pria tersebut.
Kini giliran Lin Feng yang mengerutkan alisnya, ia tidak menyangka jika pria itu mampu merasakan aura kekuatannya dalam jarak yang hampir mustahil untuk dijangkau, namun Lin Feng masih bersikap tenang seperti biasa.
"Setelah merasakan aura kekuatanmu dan melihatmu secara langsung, aku yakin kau sudah hidup cukup lama" ucap Lin Feng.
"Jika diibaratkan sebuah cerita, kau itu sama seperti villain kuat yang sengaja bersembunyi sembari menunggu waktu yang tepat untuk muncul."
"Kau ini... bicara apa?" pria itu tentunya tidak paham dengan perkataan Lin Feng, karena kata-kata yang ia gunakan berasal dari kehidupan pertamanya dahulu.
"Lupakan saja."
"Baiklah! Karena kau sudah tiba di sini, bagaimana kalau kita mengobrol agar saling mengenal satu sama lain."
"Hmm? Kau yakin mau mengobrol dan mengenal dengan musuh mu?"
"Hahahaha!" pria itu tertawa lantang mendengar pertanyaan yang dilontarkan Lin Feng, "Jangan salah paham, aku bukannya mau mencari musuh, aku lebih suka menjalin pertemanan."
"Kecuali..." pria itu menggantung ucapannya.
"Kecuali?"
"Kecuali jika ada yang menghalangiku untuk mencapai tujuanku."
"Benarkah? Boleh aku tahu apa tujuanmu itu? Kau jangan salah paham, aku hanya sekedar bertanya, jika tidak mau menjawab juga tidak apa-apa."
"Tentu aku akan menjawabnya, tapi sembari menyantap hidangan yang sudah aku siapkan, bagaimana?"
"Tentu!"