Night King: The Asura

Night King: The Asura
Ch-74. Mengambil pedang


Sementara itu.


Lin Feng, Zhen Shao dan keempat temannya kini telah berada di halaman belakang istana, meskipun awalnya sempat kesulitan saat hendak memasuki istana, namun akhirnya mereka diberikan izin setelah Zhen Shao menjelaskan tentang kejadian yang terjadi kemarin.


Akan tetapi, setibanya di halaman belakang istana, mereka tidak bisa langsung melihat pedang tersebut, karena selain mereka berenam, ada juga orang lain yang ingin mencoba mencabut pedang tersebut dan jumlahnya tidaklah sedikit, sehingga mereka harus menunggu giliran.


"Lin Feng, apa kau benar-benar yakin jika pedang itu adalah pedangmu?" tanya Zhen Shao dengan suara pelan, karena takut ucapannya didengar oleh orang lain.


"Kau akan tahu setelah melihat aku mencabutnya nanti" jawab Lin Feng.


Setelah menunggu selama hampir satu jam, akhirnya tiba giliran mereka untuk mencoba mencabut pedang tersebut, namun saat mereka hendak mendekati pedang itu, mereka malah di hadang oleh prajurit yang dihajar oleh Lin Feng kemarin.


"Yang mulia, ini dia pemuda yang kemarin aku ceritakan" ucap prajurit tersebut.


"Oh, jadi kau yang ingin menyerang istanaku ini?"


Lin Feng mengerutkan alisnya ketika mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh penguasa kota, namun setelah melihat senyuman licik yang terukir di bibir prajurit itu, ia akhirnya mengerti apa yang telah terjadi sehingga penguasa kota menanyakan hal itu padanya.


"Yang mulia, maaf jika hamba lancang, tapi teman hamba ini tidak pernah mengatakan hal itu" sahut Zhen Shao.


"Itu benar, yang mulia! Kami berlima siap menjadi saksinya" ujar Zhang Kai dan yang lainnya.


"Kalian berlima adalah teman pemuda ini, jadi aku tidak bisa percaya pada ucapan kalian begitu saja" sahut penguasa kota.


"Yang mulia, sebagai permohonan maaf, hamba siap memberikan kulit harimau emas tanpa bayaran sepeserpun."


"Hahaha, aku terima permohonan mu itu, tapi dengan syarat, pemuda ini harus bisa mencabut pedang itu, jika tidak, maka dia akan mendapatkan hukuman yang setimpal" ucap penguasa kota.


"Kau benar-benar manusia tamak! Sudah diberi hati tapi masih meminta jantung!"


"Benar! Aku memang sangat tamak, lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang?"


"Lihat dan tunggu saja" jawab Lin Feng, kemudian melewati mereka dan menghampiri pedang hitam yang masih menancap di tanah.


Pada saat yang bersamaan, pedang hitam yang menancap di tanah itu mendadak bergetar, dan getaran yang berasal dari pedang hitam tersebut berhasil membuat seluruh tempat itu berguncang hebat, bahkan getaran itu sampai membuat dinding istana kota menjadi retak.


Fenomena aneh tersebut sontak membuat orang-orang yang ada di sana berlarian untuk menyelamatkan diri mereka, bahkan sebagian dari mereka menganggap jika guncangan itu adalah pertanda dari murkanya seorang Dewa.


"A-apa yang terjadi? Darimana asalnya guncangan ini?"


"Yang mulia, lihat itu!"


Ditengah-tengah guncangan dahsyat yang melanda tempat tersebut, Lin Feng terlihat masih meneruskan langkah kakinya mendekati pedang hitam yang tidak lain adalah pedang Dewa Asura miliknya, bahkan guncangan itu seperti tidak memberikan pengaruh apapun padanya.


Setelah berada di dekat pedang Dewa Asura, Lin Feng kemudian mengulurkan tangannya lalu meraih gagang pedangnya itu, lalu dengan santai, ia mencabut pedang itu dari tanah, seolah-olah pedang itu tidak berat sama sekali dan bersamaan dengan itu, guncangan yang terjadi langsung terhenti saat itu juga.


"Pedang Dewa Asura, apa kau merindukanku?" tanya Lin Feng.


"Ternyata Lin Feng tidak berbohong pada kita" ucap Zhen Shao yang akhirnya percaya bahwa setelah melihat Lin Feng mencabut pedang itu dengan santainya.


"Hahahaha, bagus! Sangat bagus! Aku benar-benar tidak menyangka jika kau ternyata bisa mencabut pedang ini. Sekarang, serahkan pedang itu padaku."


Lin Feng kemudian mengarahkan pandangannya pada penguasa kota Elang Emas, "Kau mau pedang ini? Datang dan ambil sendiri!"


"Baik, yang mulia!"


"Prajurit! Tangkap pria itu dan ambil pedang ditangannya!"


"Baik!" jawab seluruh prajurit yang ada di sana kemudian mereka semua maju dan langsung menyerang Lin Feng bersama-sama.


"Meski kekuatanku belum kembali, tapi kalian semua masih bukan tandingan ku!" ujar Lin Feng.


Pada awalnya, Lin Feng sempat berpikir jika kekuatannya akan segera kembali setelah menemukan pedangnya, karena bagaimanapun juga, pedang kesayangannya itu juga menyimpan kekuatannya, jadi mungkin saja alasan kekuatannya menghilang adalah karena pedangnya itu.


Akan tetapi, apa yang ia pikirkan dan harapkan ternyata sangat jauh dari kenyataannya, karena setelah ia berhasil menemukan pedangnya, kekuatannya masih belum kembali juga. Meski begitu, ia tetap merasa senang karena bisa bertemu lagi dengan pedang kesayangannya tersebut.


"Apa yang kalian lakukan? Cepat habisi pemuda sialan itu!" ujar penguasa kota.


Puluhan prajurit istana yang menyerang Lin Feng sudah berusaha keras untuk mendaratkan serangan ditubuhnya, tapi mereka benar-benar tidak menyangka jika mendaratkan serangan di tubuh Lin Feng, justru jauh lebih sulit daripada memanah hewan buruan yang sedang berlarian di hutan.


Sementara para prajurit itu nampak mulai kewalahan menghadapi Lin Feng, orang-orang yang menyaksikan pertarungan mereka justru tak henti-hentinya dibuat kagum, karena mereka tidak pernah menyangka jika pemuda yang baru saja mencabut pedang hitam itu ternyata adalah pendekar yang hebat.


Sepuluh menit kemudian.


Puluhan prajurit yang sebelumnya maju menyerang Lin Feng sekarang semuanya telah tergeletak di tanah, ada yang tidak sadarkan diri dan ada juga yang meringis kesakitan, namun tidak seorangpun dari mereka yang meregang nyawa, karena Lin Feng tidak ingin membunuh mereka.


"Penguasa kota, aku sudah berbaik hati dengan tidak membunuh mereka semua, dan aku harap kau jangan mengusikku lagi, atau akan ada nyawa yang harus dikorbankan" ucap Lin Feng.


"Apa kau mengancam ku?!"


"Terserah kau menganggap ucapan ku sebagai apa, tapi jika kau masih menggangguku, maka bersiaplah untuk menerima resikonya" jawab Lin Feng, kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut.


***


Disisi lain.


Setelah mendapatkan tiga peninggalan yang sangat luar biasa, Dewa Huo kemudian meminta roh penjaga tempat itu untuk membantunya menyembuhkan luka ditubuhnya, dan dengan kemampuan roh tersebut, luka yang dialami oleh Dewa Huo berhasil disembuhkan dengan sangat mudah.


"Penguasa, bantuan apa lagi yang bisa hamba lakukan?" tanya roh tersebut.


"Bantu aku menyerap kekuatan mutiara inti kegelapan ini" jawab Dewa Huo.


"Baik, penguasa."


"Tunggu sebentar, bukankah sebelumnya kau bilang ada seratus ribu prajurit? Lalu, dimana mereka sekarang?"


"Patung-patung yang ada di sini adalah prajurit itu, mereka akan bangun dari tidurnya saat penguasa memanggil mereka."


"Baiklah, sekarang bantu aku menyerap kekuatan mutiara itu."


"Baik penguasa" jawab roh tersebut, kemudian ia membantu Dewa Huo menyerap mutiara inti kegelapan yang ditinggalkan oleh penguasa pertama.


(Pasti bakalan ada yang nanya kenapa cuma dua chapter 😁😁, tenang aja, author lagi sibuk hari ini, jadi cuma bisa dua chapter aja, besok author usahakan update tiga chapter. Tapi, jumlah like-nya juga harus banyak ya... hehehe)