Night King: The Asura

Night King: The Asura
Ch-153. Obrolan yang panjang


Disisi lain.


Xie Long juga telah menyelesaikan pertarungannya, meski dengan usaha yang lebih keras daripada pamannya, tapi pada akhirnya, Xie Long tetap berhasil membunuh kedua ular yang berhadapan dengan dirinya.


"Long'er, apa kau baik-baik saja?" tanya Lin Tian.


Xie Long mengangguk, "Paman sendiri bagaimana?"


"Paman juga baik-baik saja!"


Setelah mengambil kristal jiwa milik ular berkepala tiga dan semua bawahannya, mereka berdua kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke danau yang ada di tengah-tengah hutan tersebut.


Setibanya di pinggir danau, Lin Tian langsung meminta Xie Long untuk bermeditasi dan menyerap semua kristal jiwa yang mereka dapatkan, dan tidak lupa, Lin Tian juga meminta Xie Long untuk menyerap energi yang berasal dari dalam danau.


"Ingatlah, jangan hiraukan apapun dan fokuslah pada meditasi mu, jangan biarkan sesuatu sekecil apapun mengganggu dirimu" ucap Lin Tian.


"Baik, paman!" ujar Xie Long kemudian duduk di pinggir danau tersebut, lalu setelah itu, Xie Long mengeluarkan semua kristal jiwa yang telah mereka kumpulkan dan mulai menyerap energi yang terkandung didalamnya.


Disaat yang sama, Lin Tian juga menciptakan formasi pelindung di sekitar Xie Long, agar tidak ada yang mengganggunya selama bermeditasi, formasi tersebut juga berguna untuk melindungi Xie Long dari serangan yang tidak disangka-sangka.


"Aku rasa formasi ini sudah cukup" gumam Lin Tian, kemudian ia menciptakan perisai untuk melindungi dirinya, lalu setelah itu, ia melompat masuk ke dalam danau.


Beberapa tahun yang lalu, Lin Feng pernah menceritakan tentang danau tersebut kepada Lin Tian, dalam ceritanya, Lin Feng menyampaikan bahwa di dalam danau tersebut masih terdapat sisa-sisa kekuatan naga es, dan kemungkinan besar masih ada mutiara naga yang tersisa di sana.


Oleh karena itu, Lin Tian memutuskan untuk masuk ke dalam danau demi mencari sisa-sisa kekuatan tersebut, dan jika apa yang Lin Feng sampaikan padanya memang benar, maka kekuatan itu pastilah akan sangat berguna untuk kedua keponakannya, begitu juga dengan anaknya, Lin Chen.


Apalagi kalau dia berhasil menemukan mutiara naga di dalam sana, pastilah akan sangat membantu pelatihan kedua keponakannya, karena ia yakin, di dalam tubuh mereka mengalir kekuatan darah naga seperti Lin Feng, dan dengan adanya mutiara itu, maka kekuatan darah naga dalam tubuh mereka pasti akan bangkit.


***


Sementara itu.


Lin Feng yang telah kembali menemui muridnya di dimensi kesembilan, juga tengah melakukan perjalanan menyusuri alam manusia dimensi kesembilan. Selain itu, Lin Feng sekarang sudah mulai bisa bernapas dengan lega, karena ia juga telah merasakan keberadaan reinkarnasi para penguasa.


Dengan kata lain, Lin Feng hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menemui dan melatih mereka semua agar bisa kembali menduduki takhtanya sebagai penguasa dimensi.


"Guru, kemana tujuan kita selanjutnya?" tanya Wu Nan.


"Untuk saat ini, kita hanya perlu menyusuri daratan ini saja, setelah kau mengetahui semuanya, guru akan membawamu ke dimensi yang lain" jawab Lin Feng.


"Dimensi lain? Memangnya apa yang akan kita lakukan di sana, guru?"


"Kau akan tahu jika waktunya sudah tiba" jawab Lin Feng.


"Hah" Wu Nan menghela napas panjang, "Kenapa guru selalu menjawab pertanyaan ku dengan kalimat itu? Apa memang tidak ingin aku mengetahui rencana guru?"


"Dasar murid bodoh! Kau yang sekarang masih belum pantas untuk mengetahui rencana ku."


"Lalu kapan aku bisa dianggap pantas, guru?"


"Saat kau sudah menjadi penguasa dimensi ini" jawab Lin Feng.


"Tidak masalah" sahut Lin Feng.


Kemudian, mereka berdua melesat terbang meninggalkan tempat tersebut untuk melanjutkan misinya, yaitu menumpas seluruh pengikut Dewa Huo. Meski Wu Nan sudah membunuh banyak pengikut, tapi bukan berarti yang lainnya akan diam saja dan tidak melakukan apapun.


Setelah mendengar kabar mengenai kematian Dewa Huo, para pengikutnya bertekad untuk menemukan cara yang bisa membangkitkan jiwa Dewa Huo lagi, hanya saja, mereka tidak tahu jika Dewa Huo sudah tidak mungkin lagi untuk dibangkitkan, jadi usaha mereka tidak akan pernah membuahkan hasil apapun.


Meski begitu, bukan berarti Lin Feng akan membiarkan mereka hidup dengan bebas begitu saja, walaupun mereka tidak akan pernah menemukan cara untuk membangkitkan jiwa Dewa Huo, namun tindakan mereka yang semena-mena tentunya akan semakin merusak dimensi kesembilan.


Terlebih lagi, para pengikut Dewa Huo ini rela melakukan apapun demi membangkitkan sang Dewa pujaan mereka, termasuk dengan mengorbankan banyak nyawa orang-orang yang tidak bersalah, dan parahnya lagi, sikap mereka semakin lama semakin mirip dengan iblis.


"Guru, kita sudah banyak membinasakan pengikut Dewa Huo, tapi kenapa masih saja ada diantara mereka yang berani melakukan hal-hal keji?"


"Yang pasti, mereka tidak akan berhenti sampai mereka bisa membangkitkan Dewa Huo" jawab Lin Feng.


"Apakah hal itu masih mungkin untuk dilakukan?"


Lin Feng menggeleng, "Mustahil mereka bisa melakukannya, karena aku sudah memusnahkan jiwanya."


"Hah" Wu Nan menghela napas panjang, "Semoga saja di masa depan nanti tidak akan muncul orang seperti Dewa Huo lagi."


Meskipun Wu Nan tidak pernah bertemu secara langsung dengan Dewa Huo, atau menyaksikan kehancuran dan kekacauan yang ia ciptakan, namun dari cerita yang Lin Feng sampaikan, Wu Nan sudah bisa menebak berapa mengerikannya sosok Dewa Huo itu.


"Selama waktu masih berputar, di dunia ini akan selalu muncul orang jahat, karena segala sesuatu yang ada di dunia ini, pastilah memiliki pasangannya masing-masing" ucap Lin Feng.


"Ada siang, ada malam, ada langit, ada bumi, ada baik dan sudah pasti ada jahat" lanjutnya.


"Jika di masa depan nanti memang muncul orang yang mewarisi ambisi Dewa Huo, maka kaulah yang harus mencegahnya."


"Baik, guru! Aku akan selalu berjuang demi menjaga kedamaian yang telah guru ciptakan untuk alam semesta ini" sahut Wu Nan.


"Bagus! Itulah yang aku harapkan dari kalian para murid-murid ku."


"Hmm, benar juga, aku masih belum tahu berapa banyak murid guru."


"Untuk saat ini, hanya ada dua orang, murid pertamaku adalah Sun Xiang, dia berada di dimensi pertama, dan yang kedua adalah kau" jawab Lin Feng.


"Kedepannya, akan ada beberapa orang lagi yang akan menjadi murid ku dan mereka semua akan menjadi saudaramu dan Sun Xiang."


"Guru, boleh aku bertemu dengan kakak pertama?"


"Tentu, suatu saat nanti kau pasti akan bertemu dengannya" jawab Lin Feng.


Karena terlalu asyik mengobrol, mereka tidak sadar jika matahari sudah hampir terbenam, bahkan mereka sendiri tidak tahu sudah berapa lama mereka terbang menyusuri daratan.


"Kita istirahat disini" ucap Lin Feng.


"Baik, guru!"