Night King: The Asura

Night King: The Asura
Ch-185. Wanita bercadar


Xie Long tentunya mengerti maksud perkataan sosok dalam dirinya itu, namun yang Xie Long tidak mengerti adalah, kenapa sosok itu malah memperingatkan dirinya? Bukankah akan lebih baik jika dia diam saja dan mengambil kesempatan baik itu?


Tapi apapun itu, Xie Long tentunya tidak bisa mengabaikan peringatan itu begitu saja, walaupun ia ingin segera meningkatkan kekuatannya, tapi bukan berarti ia bisa mengabaikan keselamatan dirinya, apalagi sosok itu sudah sangat baik padanya.


"Terima kasih" ucap Xie Long.


"Untuk apa?"


"Karena sudah mau memperingati diriku."


"Abaikan saja, aku melakukan itu hanya karena ingin melihat perjuanganmu, lagipula, aku penasaran apakah kau bisa menyelesaikan ujian dari burung sialan itu atau tidak."


"Boleh aku menanyakan sesuatu?"


"Apa!?"


"Apa kekuatanmu sebanding dengan burung itu?"


"Hahahaha! Pertanyaan bodoh macam apa itu? Tentu saja tidak sebanding, dan perlu kau ketahui, kekuatanku tidak ada bandingannya!"


"Bagaimana dengan paman Huise?"


"Aku akui dia memang hebat, tapi masih bukan tandingan ku, dan burung sialan itu juga bukan tandingannya!"


Xie Long memang sudah mengetahui jika kekuatan Asura adalah kekuatan yang sangat luar biasa, tapi seberapa besar kekuatan itu sebenarnya, ia sendiri masih belum menemukan jawabannya.


"Satu lagi."


"Apalagi yang mau kau tanyakan!?"


"Bagaimana dengan ayah?"


Sosok dalam diri Xie Long diam sejenak, ia ragu harus bagaimana menjawab pertanyaan putra Lin Feng itu.


Dirinya memanglah perwujudan kekuatan terkuat, tapi jika dibandingkan dengan Lin Feng, ceritanya sudah jelas jauh berbeda, bahkan ia sendiri tidak tahu seberapa besar kekuatan sang Dewa tertinggi itu.


"Kenapa kau diam saja?"


"Cihh, jangan bandingkan aku dengannya!"


"Kenapa?"


"Kau ini bodoh atau bagaimana? Bukankah sudah jelas bahwa ayahmu itu tidak ada tandingannya?"


"Ternyata ayah memang luar biasa" gumam Xie Long.


Karena sudah diperingatkan untuk tidak memaksakan diri, Xie Long pun hanya bisa mengurungkan niatnya untuk bermeditasi, dan karena merasa bosan berada di kamar, ia memutuskan untuk keluar dan jalan-jalan di kota.


"Hormat, Tuan Muda!" sapa para prajurit yang berjaga di istana.


"Paman, boleh aku menanyakan sesuatu?" Xie Long bertanya dengan ramah.


"Tentu saja, Tuan Muda" jawab prajurit tersebut.


"Begini, aku berniat mengajak kakek buyut jalan-jalan di kota, tapi sejak tadi aku tidak melihatnya, apa paman tahu dimana kakek berada?"


"Tuan Muda, yang mulia kaisar sedang pergi ke wilayah Tengah, mengenai urusan yang mulia datang ke sana, hamba juga tidak mengetahuinya."


"Begitu ya? Ya sudah, terima kasih paman" sahut Xie Long, kemudian pergi meninggalkan istana kekaisaran.


Setelah berada di kota, Xie Long mencoba mencari hal-hal menarik yang mungkin saja akan menghilangkan rasa bosannya, namun setelah berkeliling cukup lama, ia masih belum menemukan apapun yang menurutnya menarik.


Hingga akhirnya, Xie Long melihat orang-orang yang tengah berkumpul tidak jauh dari alun-alun kota, dan karena penasaran, iapun menghampiri mereka.


Pria itu menolah kepada Xie Long, ia memperhatikan penampilan Xie Long dari atas sampai bawah, "Ini bukan urusan anak kecil sepertimu!" ujarnya.


Alis Xie Long berkerut ketika mendengar perkataan pria disampingnya itu dan entah kenapa, ingin sekali rasanya dia menendang wajah sombong yang ditunjukkan oleh pria tersebut.


Meski begitu, Xie Long bukanlah orang yang suka menimbulkan masalah, jadi dia lebih memilih untuk diam saja dan mengabaikan pria disampingnya itu. Lagipula, masih banyak orang lain yang bisa ia tanyai.


***


Setelah berdiri di sana untuk waktu yang cukup lama, Xie Long akhirnya mengerti kenapa orang-orang itu berkumpul. Ternyata mereka tengah membahas gerbang menuju ke Daratan Suci yang akan segera terbuka.


Berbeda dengan sebelumnya, dimana orang-orang bisa datang ke Daratan Suci dengan bebas, kali ini mereka diharuskan menunggu sampai gerbang ke sana terbuka, jika tidak, sampai kapanpun mereka tidak akan bisa ke sana.


Kejadian ini tentu saja disebabkan oleh Lin Feng, karena dialah yang telah menghancurkan satu-satunya akses jalan menuju ke Daratan Suci, yaitu Negeri Awan.


Tapi, Lin Feng bukanlah orang yang tidak bertanggung jawab atas perbuatannya, karena setelah Negeri Awan hancur, Lin Feng menggunakan kekuatannya untuk menciptakan gerbang dimensi khusus, tentunya setelah ia menjadi Dewa.


Jika sebelumnya, orang-orang yang ingin datang ke Daratan Suci harus memiliki persediaan kristal jiwa yang banyak, kali ini mereka bisa datang tanpa membayar biaya apapun, hanya saja, mereka perlu menunggu selama beberapa waktu.


Selain itu, di daratan suci juga tidak ada lagi hukum ruang dan waktu yang membatasi orang-orang yang ingin datang ke sana, dengan kata lain, siapapun bisa datang ke sana asalkan mempunyai kekuatan untuk menjaga diri masing-masing.


Dan ya! Penyebab hilangnya aturan ruang dan waktu itu, tidak lain dan tidak bukan adalah Lin Feng sendiri. Alasannya, karena Lin Feng ingin para kultivator dapat menjelajahi daratan mana saja dengan bebas.


***


"Daratan Suci, ya? Aku pernah mendengar tentang daratan ini dari ayah, jadi tidak ada salahnya jika aku ke sana" gumam Xie Long, kemudian pergi meninggalkan kerumunan tersebut.


Akan tetapi, langkahnya terhenti setelah menyadari tatapan tajam seseorang yang tertuju padanya, "Aku tidak pernah mengusik siapapun selama berada di sini, lalu kenapa tatapan tajam itu malah kau arahkan padaku?"


"Aku tahu apa yang kau pikirkan sekarang, dan saran ku, sebaiknya kau lupakan saja" jawab salah seorang wanita yang sebelumnya juga berada di kerumunan tersebut.


"Apa hak mu melarang aku pergi ke sana?"


Gadis yang nampaknya berusia tujuh belas tahun itu menggeleng pelan, "Aku memang tidak berhak, tapi hal ini aku lakukan semata-mata untuk mengingatkan dirimu saja."


"Aku tahu apa yang harus aku lakukan, dan aku tahu sampai dimana batasan kekuatanku!" ujar Xie Long, kemudian pergi meninggalkan gadis yang menutup wajahnya dengan cadar tersebut.


Gadis cantik itu nampak kesal karena perkataan Xie Long, padahal dia hanya berniat memperingati dirinya, namun malah sikap dingin seperti itu yang ia dapatkan dari Xie Long.


"Anak ini sungguh kurang ajar, tapi aku semakin penasaran dengannya" gumam wanita cantik itu, kemudian membuntuti Xie Long secara diam-diam.


Xie Long tentunya menyadari jika dirinya sedang dibuntuti, namun ia lebih memilih untuk pura-pura tidak menyadarinya, dan disaat yang bersamaan, Xie Long juga menuju ke suatu tempat yang cukup sepi, karena ia sudah memiliki rencana untuk membongkar tujuan wanita itu.


"Umpan telah dipasang, sekarang hanya perlu menunggu ikannya datang" gumamnya seraya terus melesat dari satu atap bangunan ke atap bangunan yang lainnya.


Tidak berselang lama, Xie Long mendadak melompat ke arah sebelah kanan, tepatnya diantara dua bangunan yang cukup sepi. Sementara wanita yang mengikutinya, juga melakukan hal yang sama, namun ia justru tidak menemukan keberadaan Xie Long di sana.


"Kemana perginya anak itu?"


"Dari awal sudah kukatakan, aku tidak punya masalah denganmu, tapi kenapa kau malah membuntuti ku?"


Gadis itu terkejut ketika mendengar suara Xie Long yang sudah berada di belakangnya, namun saat ia memutar tubuhnya, ia tidak menemukan siapapun di sana, dan anehnya lagi, aura keberadaan Xie Long benar-benar menghilang tanpa jejak.


"Aku tidak memiliki maksud apapun, hanya penasaran saja denganmu" jawab wanita itu.


"Penasaran? Memangnya hal menarik apa yang kau temukan pada remaja berusia tiga belas tahun ini?"


Ekspresi wajah wanita itu kembali menunjukkan hal yang sama, ia benar-benar tidak menyangka jika pria yang ia buntuti ternyata memanglah seorang remaja yang masih berusia tiga belas tahun.


"Hah" wanita itu menghela napas panjang, "Ternyata memang bocah" gumamnya, kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut.