Night King: The Asura

Night King: The Asura
Ch-207. Kedatangan Xie Ling


Wushh!


Dhuaaar!


Sebuah serangan melesat dengan kecepatan tinggi kearah Xie Long dan Huanran, meski dapat mereka hindari dengan mudah, namun keduanya tetap terpental akibat dampak ledakan yang tercipta dari serangan tersebut.


Beruntung, serangan itu tidak mengenai mereka secara langsung, jika tidak, keduanya pasti sudah terluka karenanya. Apalagi serangan tersebut dilancarkan oleh para elit sekte Naga Angin, sudah pasti kekuatannya tidak bisa diremehkan.


"Bocah, kalian berdua sudah banyak membunuh teman-teman kami, sekarang saatnya kalian menebus nyawa mereka dengan kematian yang mengenaskan!"


"Benarkah? Tapi, kenapa aku malah tidak yakin jika kalian mampu melakukannya" sahut Xie Long.


"Hahahaha! Aku benar-benar tidak menyangka jika kau masih bisa berlagak sombong, padahal situasinya sudah jelas menunjukkan jika kalian tidak mungkin menang!"


"Selama aku masih bisa melakukan serangan, artinya aku belum kalah!"


Pertarungan panjang itu memang menguras banyak energinya, namun sebelum energi di dalam tubuhnya habis atau tenaganya benar-benar lenyap, maka tidak akan pernah ada kata menyerah terucap dari mulutnya.


Kalaupun sudah tidak memiliki energi lagi, ia akan tetap bertarung dengan sisa-sisa kekuatannya, dan kalaupun dia berhenti melakukan perlawanan, itu artinya, nyawanya sudah berada di genggaman kematian.


"Cihh! Kesombongan mu itu benar-benar membuatku muak!" ujar murid terbaik sekte Naga Angin, "Kalian semua! Bunuh bocah tidak tahu diri ini!"


"Baik, senior!"


Wushh!


Dhuaaar!


Ketika para murid itu hendak bergerak maju, sebuah bola api berwarna perak melesat dari langit dan menghantam mereka semua, yang menyebabkan terjadinya ledakan dahsyat dan berhasil merenggut lebih dari seratus nyawa.


Slash!


Tidak lama berselang, dari langit kembali muncul sebuah energi pedang dengan ukuran yang sangat besar dan lagi-lagi, energi pedang itu berhasil merenggut begitu banyak nyawa murid sekte Naga Angin.


"Api itu... bukankah itu kekuatan api bumi?"


"Benar! Tapi, jika ada api bumi, artinya..." Xie Long menggantung ucapannya, kemudian mengarahkan pandangannya ke langit.


Senyuman indah terukir di bibir Xie Long ketika melihat dua orang yang tengah melayang di balik awan, mereka tidak lain adalah Xie Ling dan Xiao Xie, namun Xie Long nampak kebingungan ketika melihat perubahan wujud Xiao Xie yang malah menjadi seorang laki-laki.


Sementara itu.


"Majulah kalian sampah tidak berguna, aku ingin melihat siapa yang berani menyentuh kakakku!" ujar Xie Ling.


"Xiao Xie!"


"Ya, Nona."


"Bunuh mereka semua!"


"Baik!" ujar Xiao Xie, kemudian melesat turun ke bawah.


Disaat yang bersamaan, Xie Ling juga ikut turun ke bawah, namun ia tidak bertarung seperti Xiao Xie, melainkan menghampiri kakaknya.


Setelah mendarat di tanah, Xie Ling langsung melompat dalam pelukan kakaknya, setelah satu tahun tidak bertemu membuatnya sangat merindukan kakaknya itu.


"Kakak! Bagaimana kabar kakak?" tanya Xie Ling setelah melepaskan pelukannya.


"Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu dan Zhen'er?" jawab Xie Long sembari membelai puncak kepala adiknya.


"Seperti yang kakak lihat sekarang, aku sangat baik, begitupun dengan Zhen'er!"


"Syukurlah, aku senang mendengarnya."


"Kakak, siapa ini?" tanya Xie Ling yang baru menyadari kehadiran Huanran.


"Namaku Huanran, teman kakakmu" sahut Huanran memotong perkataan Xie Long.


"Teman?"


Xie Ling mengarahkan tatapan tajam pada Huanran dan kakaknya secara bergantian, sementara keduanya yang mendapatkan tatapan tajam itu malah membuang muka, seolah menghindari pertanyaan yang mungkin saja akan keluar dari mulut Xie Ling.


"Baguslah! Aku senang karena kakak memiliki teman, karena selama ini dia tidak mau berteman dengan siapapun kecuali aku!"


"Tapi, apa kalian yakin jika hubungan kalian ini hanya sebatas teman?"


"Se-sepertinya Xiao Xie membutuhkan bantuan!" ujar Xie Long, kemudian melesat ke arah pertarungan yang sedang terjadi.


Sedangkan Huanran, sebenarnya dia juga ingin menghindar seperti Xie Long, namun langkahnya dihentikan oleh Xie Ling, adik pujaan hatinya itu sepertinya belum puas dengan jawaban yang ia berikan dan hal itu bisa dibuktikan tapi tatapan menyelidik yang ia tunjukkan.


"Kak Hua, apa kakak menyukai kakakku?"


Benar saja! Xie Ling langsung mengajukan pertanyaan yang paling dihindari oleh Huanran, dan mungkin, inilah alasan yang membuat Xie Long lebih memilih untuk membantu Xiao Xie, padahal pemuda itu tidak membutuhkan bantuannya sama sekali.


Huanran salah tingkah, ia benar-benar bingung harus memberikan jawaban seperti apa pada Xie Ling, walaupun sudah jelas mereka saling menyukai, namun diantara mereka masih belum ada hubungan khusus seperti yang Xie Ling pikirkan.


"I-itu..."


"Sudah kuduga, dan aku yakin kakak juga merasakan hal yang sama!" ujar Xie Ling.


"Eh?"


Xie Ling menunjukkan senyuman terbaiknya, kemudian meraih kedua tangan Huanran dan menggenggamnya dengan erat, "Kakak, aku mohon jaga kakakku, dia memang tidak banyak bicara, tapi aku yakin dia menyukai kakak."


"Kenapa kau sangat yakin?"


"Aku dan kakak sudah bersama sejak dalam kandungan, jadi tidak ada yang tidak aku ketahui dari kakakku, begitupun sebaliknya" jawab Xie Ling.


"Jadi kalian kembar? Pantas saja sangat mirip" sahut Huanran.


Sementara Xie Ling dan Huanran sibuk mengobrol, Xie Long dan Xiao Xie sudah berhasil melenyapkan seluruh murid sekte yang tersisa, meski sebelumnya sempat mengalami kesulitan, namun berkat bantuan Xiao Xie, pertarungan itupun selesai lebih cepat dan lebih mudah.


Setelah itu, Xie Long kemudian melesat ke aula pertemuan, karena selain ingin menghindari pertanyaan Xie Ling, masih ada urusan penting yang harus segera ia selesaikan, yaitu urusannya dengan patriark dan para tetua sekte Naga Angin.


"Tuan!" sapa Xiao Xue sembari menundukkan kepala.


Xie Long hanya menanggapinya dengan anggukan kepala, karena sejak memasuki aula pertemuan tersebut, tatapan matanya langsung tertuju pada patriark dan para tetua sekte, yang kini tengah berusaha untuk berdiri.


Pertarungan mereka dengan Xiao Xue membuat keadaan mereka semua jauh dari kata baik-baik saja, dan untungnya, mereka masih bisa bernapas karena Xiao Xue tidak menghadapi mereka dengan serius.


Namun sayangnya, masih bisa bernapas ternyata bukanlah hal yang menguntungkan bagi patriark dan para tetua sekte, justru hal yang paling mereka inginkan saat ini adalah kematian, karena sudah tidak sanggup lagi menahan siksaan yang diberikan oleh Xiao Xue.


"Tu-tuan muda, bunuh saja aku" ucap patriark sekte.


"Membunuhmu adalah hal yang mudah, tapi aku tidak ingin membuat kematian kalian menjadi mudah!" ujar Xie Long.


"Kakak, siapa mereka?" tanya Xie Ling yang baru saja datang bersama Xiao Xie dan Huanran.


"Mereka adalah orang yang selama ini mengusikku dan Huanran" jawab Xie Long.


"Benarkah?"


Ekspresi Xie Ling langsung berubah setelah mendengar perkataan kakaknya, ia kemudian menghampiri patriark dan para tetua sekte, "Apa yang dikatakan kakakku itu benar?" tanya Xie Ling.


"Nona, ka-kami..."


"Xiao Xue, potong tangan dan kaki mereka!" ujar Xie Ling.


"Baik, Nona!"