Night King: The Asura

Night King: The Asura
Ch-72. Senjata pemberian Dewa


Istana kota Elang Emas.


Enam orang prajurit yang sebelumnya ditugaskan untuk membawa pulang harimau emas, sekarang telah tiba di istana kota dengan tangan kosong dan wajah penuh lebam, bahkan kondisi mereka berenam sampai membuat penguasa kota serta para petinggi tertawa terbahak-bahak.


Tapi kemudian, tawa mereka langsung berubah menjadi amarah setelah keenam prajurit itu menceritakan apa yang menimpa mereka. Selain itu, keenam prajurit tersebut juga mengarang cerita mengenai Lin Feng, mereka mengatakan bahwa Lin Feng akan menyerang istana jika penguasa kota tidak mau memberikan bayaran dua kali lipat.


Padahal, Lin Feng tidak pernah menyebutkan bahwa dirinya akan menyerang istana, dan bayaran dua kali lipat yang ia minta sebenarnya hanya ingin memastikan apakah penguasa kota benar-benar ingin membeli kulit harimau itu, atau hanya ingin merampasnya saja dari tangan Zhen Shao dan teman-temannya.


"Apa kalian mengetahui nama pendekar muda itu?" tanya penguasa kota.


"Sayangnya tidak, yang mulia. Tapi saat ini, dia masih berada di kedai Zhen Shao, dan hamba yakin dia adalah teman Zhen Shao" jawab salah seorang prajurit.


"Baiklah, aku akan mengurus masalah ini nanti, karena masih ada masalah lain yang jauh lebih penting" ucap penguasa kota.


"Yang mulia, masalah ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, jika tidak..."


"Apa kau sudah berani membantah perkataan yang mulia?!"


"Ma-maaf jendral, ha-hamba tidak berani."


"Kalau begitu enyah dari sini sekarang juga!"


"Ba-baik, jendral" ucap keenam prajurit tersebut, kemudian pergi meninggalkan tempat itu.


Setelah keenam prajurit itu pergi, penguasa kota dan para petinggi istana kemudian melanjutkan pembicaraan mereka mengenai senjata misterius yang muncul di halaman bekalang istana.


Dua minggu yang lalu, tepatnya saat malam hari, seluruh penghuni istana yang tengah tertidur lelap mendadak dikagetkan oleh guncangan yang sangat hebat. Pada awalnya, mereka sempat berpikir jika telah terjadi penyerangan, namun setelah diperiksa, keadaan kota masih tenang seperti biasanya.


Penguasa kota yang masih penasaran dengan penyebab guncangan itu, kemudian memerintahkan seluruh prajurit untuk menyusuri setiap sudut istana, dan setelah dilakukan pencarian selama hampir dua jam, beberapa prajurit kemudian melaporkan jika mereka menemukan sesuatu yang aneh di halaman belakang istana.


Setelah diperiksa, sesuatu yang ditemukan oleh para prajurit itu adalah sebuh pedang yang menancap di halaman belakang istana, namun anehnya, tidak seorangpun yang mengetahui siapa pemilik pedang tersebut, bahkan tidak seorangpun dari mereka yang pernah melihat pedang dengan bentuk seperti itu.


Karena tidak ada yang mengetahui siapa dan darimana asal pedang itu, penguasa kota kemudian mencoba untuk mencabutnya dan ingin menjadikan pedang itu sebagai miliknya, namun anehnya, penguasa kota tidak bisa mencabutnya bahkan setelah mengerahkan kekuatan penuh.


Sejak saat itu, penguasa kota menganggap bahwa pedang tersebut adalah sebuah senjata pemberian Dewa, lalu ia mengumumkan siapapun yang bisa mencabut pedang itu, maka dia akan memberikan hadiah yang sangat besar, selain itu, ia juga akan menjadikan orang itu sebagai menantunya.


Namun sayangnya, sampai saat ini belum ada satu orangpun yang berhasil mencabut pedang tersebut, bahkan dua puluh ekor kuda saja sampai kewalahan saat mencoba menarik pedang itu, dan parahnya lagi, pedang tersebut tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya. Padahal, sudah tidak terhitung lagi berapa banyak orang yang mencoba menariknya keluar dari tanah.


"Apa rencana kalian mengenai pedang itu?" tanya penguasa kota.


"Yang mulia, pedang ini terlalu aneh dan misterius, jadi sangat sulit memikirkan cara yang tepat untuk mencabut pedang itu dari tanah" jawab salah seorang petinggi istana.


"Bagaimana kalau kita menyebarkan berita ini sekali lagi?"


"Cara itu sudah dilakukan, tapi hasilnya masih sama saja."


"Itu memang benar, tapi yang aku maksud adalah, kita sebarkan berita ini ke beberapa kota terdekat dan mungkin saja, suatu saat nanti kita akan menemukan orang yang bisa mencabutnya."


"Yang dikatakan jendral memang benar, tapi cara ini mungkin saja akan berhasil, dan mengenai mata-mata musuh, kita harus melakukan pemeriksaan ketat terhadap siapa saja yang datang ke kota ini" sahut petinggi istana lainnya.


"Yang mulia, apa keputusan Anda?"


"Baiklah, kalau begitu, besok kalian atur beberapa orang untuk menyebarkan berita ini ke kota-kota terdekat" ucap penguasa kota.


"Baik, yang mulia!"


***


Esoknya.


Berita mengenai senjata pemberian Dewa kembali menyebar ke seluruh penjuru kota, dan berita ini berhasil membuat seisi kota heboh untuk yang kedua kalinya, karena hadiah yang ditawarkan oleh penguasa kota menjadi beberapa kali lipat lebih besar dari sebelumnya.


Karena sudah menyebar ke seluruh penjuru kota, berita ini juga terdengar sampai ke telinga Lin Feng yang masih berada di kedai Zhen Shao, dan karena penasaran, iapun menanyakan tentang senjata pemberian Dewa ini kepada Zhen Shao dan teman-temannya.


Saat mendengar penjelasan mereka berlima mengenai senjata tersebut, entah kenapa Lin Feng merasa jika senjata itu adalah pedang Dewa Asura miliknya, apalagi ciri-ciri yang mereka sebutkan benar-benar sama dengan ciri-ciri pedang miliknya.


"Apa kalian melihat pedang ini secara langsung, atau hanya mendengar dari mulut ke mulut saja?" tanya Lin Feng.


"Kami melihatnya secara langsung, bahkan pernah mencoba untuk menariknya, tapi pedang hitam aneh itu seolah tidak mau beranjak dari tempatnya" jawab Liu Qi.


"Apa pada bilah pedang itu ada ukiran?"


"Kau benar, jika aku tidak salah kata yang terukir pada bilah pedang itu adalah..."


"Asura!" ujar Lin Feng.


"Ya! Itu dia, tapi bagaimana kau bisa mengetahuinya?" tanya Zhang Kai.


Lin Feng berdiri dari tempat duduknya, "Kalian harus membawaku ke sana sekarang juga!"


"Sebaiknya urungkan saja niatmu itu, bahkan dua puluh ekor kuda saja sampai kewalahan saat mencoba mencabutnya, apalagi kau hanya seorang diri."


"Liu Qi benar, kami bukannya ingin meremehkan mu, tapi sebaiknya kau lupakan saja niatmu itu" sahut Zhen Shao.


"Aku tidak ingin mencobanya tapi aku ingin mengambilnya, karena pedang itu adalah pedangku!" ujar Lin Feng.


"Apa?" Zhen Shao dan yang lainnya benar-benar kaget mendengar ucapan Lin Feng.


"Tidak masalah jika kalian tidak percaya, tapi lihatlah setelah kita sampai di sana nanti."


Walaupun sangat sulit bagi mereka berlima untuk percaya pada ucapan Lin Feng, namun mereka tetap setuju untuk membawanya ke istana kota, setidaknya, setelah Lin Feng mencobanya nanti, mereka akan mengetahui apakah pedang itu benar-benar milik Lin Feng atau tidak.


"Baiklah, kalau begitu kami akan membawamu ke sana, tapi ingatlah, jangan sampai kau menimbulkan kekacauan, karena di istana kota ada banyak pendekar yang sangat hebat" ucap Zhen Shao.