Night King: The Asura

Night King: The Asura
Ch-261. Misteri Dewa Kehampaan


"Ada apa Zhen'er?" tanya Lin Feng setelah mengizinkan putranya itu masuk ke kamarnya.


Jia Zhen menghela napasnya, mengumpulkan semua keberanian dalam dirinya untuk menyampaikan apa yang tengah membebani pikirannya, setelah benar-benar yakin, barulah ia membuka suara.


"Ayah, ibu, boleh aku minta sesuatu?"


Lin Feng mengerutkan dahinya, walaupun ada ketenangan di wajah putranya itu, namun ia dapat merasakan jika Jia Zhen sedang gugup, dan hal itu membuat Lin Feng semakin penasaran dengan apa yang akan diminta oleh putranya itu.


"Katakan, apa yang kau inginkan dari ayah dan ibu?"


Jia Zhen kembali menghela napas panjang, "Boleh aku bertemu dengan Dewa Asura?"


"Kenapa kau ingin menemuinya?"


"Karena Xin Yi, ayah."


"Apa maksudmu, Zhen'er?"


Jia Zhen mengatakan dirinya memiliki keyakinan bahwa kekuatannya dan Zhen Jia adalah kekuatan yang bisa mengalahkan Xin Yi, karena pada pertarungan sebelumnya, ia bisa melihat rasa takut dalam mata Xin Yi.


Penyebab rasa takut yang ia lihat di mata Xin Yi memang belum diketahui dengan pasti, namun ia sangat yakin jika kekuatannya dan Zhen Jia lah yang menjadi alasannya. Pasalnya, rasa takut itu muncul setelah Xin Yi melihat kekuatan mereka berdua.


"Dan dari pengamatan-ku, kekuatan Asura juga memiliki reaksi yang sama saat aku melepaskan kekuatanku" ucap Zhen Jia menyelesaikan penjelasannya.


"Baiklah, ayah akan mempertemukan dirimu dengan Asura, tapi tidak di sini" sahut Lin Feng.


Jia Zhen mengangguk, kemudian mendekati ayah dan ibunya, lalu meraih tangan mereka berdua dan membawa keduanya menghilang dari sana. Sesaat kemudian, mereka telah muncul di kedalaman hutan, tepatnya di kediaman mereka yang Lin Feng bangun di sana.


"Luar biasa, kecepatan mu sudah melebihi kecepatan ayah" ucap Lin Feng.


"Semua ini berkat guru" sahut Jia Zhen.


Lin Feng mengangguk, kemudian menoleh pada istrinya, "Ning'er, bantu aku."


Setelah itu, Lin Feng dan Luo Ning melakukan penyatuan jiwa dan raga, sehingga wujud mereka berubah menjadi wujud Dewa Asura yang sempurna.


"Mendekat-lah."


Jia Zhen mengangguk, kemudian mendekati ayah dan ibunya yang telah menyatu menjadi satu raga dan satu jiwa dalam wujud Dewa Asura.


Dewa Asura kemudian menyentuh dahi Jia Zhen dengan ujung telunjuknya, dan seketika itu juga, kesadarannya di bawa menuju ke suatu tempat yang tidak ia ketahui.


"Dimana ini?" tanya Jia Zhen.


"Ini di dalam diriku" jawab Dewa Asura, "Sekarang, aku akan menjelaskan semuanya padamu" lanjutnya.


Dewa Asura kemudian menceritakan kisah hidupnya, mulai dari awal mula pertemuannya dengan Xin Yi, mereka yang akhirnya memutuskan untuk menjadi saudara, sampai pertarungan yang hampir saja merenggut nyawanya.


Setelah mendengarkan cerita Dewa Asura atau Xin Yun, Jia Zhen dapat mengambil kesimpulan bahwa sebenarnya, dewa Asura tidak takut dengan kekuatan miliknya, melainkan hanya karena trauma yang ia alami waktu itu.


Ketika peristiwa yang hampir merenggut nyawa Xin Yi itu terjadi, mereka masih sangat muda, bahkan masih lebih muda dari Jia Zhen saat ini, jadi sangat wajar jika peristiwa itu menimbulkan perasaan yang sulit untuk dihilangkan.


"Lalu bagaimana dengan saudaramu itu?"


"Kakak berbeda denganku, kekuatanmu memang bisa menyakitinya, bahkan bisa merenggut nyawanya."


"Tapi, ada satu kekuatan yang bisa membuatnya tidak terkalahkan, dan kekuatan itu ada diantara kalian."


Jia Zhen diam sejenak memikirkan kekuatan yang dimaksud oleh Dewa Asura, "Apa kekuatan itu adalah kekuatan mata ungu?"


Dewa Asura mengangguk, kemudian menjelaskan jika kekuatan mata ungu adalah kekuatan yang sangat berbahaya, apalagi jika kekuatan itu berada ditangan orang yang salah seperti Xin Yi.


"Jia Zhen, kakakmu mungkin mewarisi kekuatanku, tapi kekuatannya akan sia-sia jika Xin Yi mendapatkan kekuatan mata ungu milik Huanran."


"Bukankah kakak juga memiliki kekuatan yang sama?"


"Itu benar, tapi kekuatan kakakmu belum sempurna dan tidak akan pernah sempurna."


"Alasannya?"


Dewa Asura menghela napas panjang, kemudian menjelaskan jika ingin memiliki kekuatan mata ungu yang sempurna, orang itu harus mendapatkan semua jiwa Beast Surgawi.


"Menurutmu, apa kakakmu mau melakukan semua itu?"


"Jangankan kakak, aku saja tidak rela mengorbankan kak Huanran hanya demi mendapatkan kekuatan" jawab Jia Zhen.


"Tapi tidak dengan kakakku, dia rela melakukan apapun demi mendapatkan kekuatan yang lebih besar, termasuk melenyapkan Huanran."


"Jia Zhen, semuanya bergantung padamu."


"Bagaimana mungkin aku yang bukan siapa-siapa ini memiliki kekuatan sebesar itu" sahut Jia Zhen.


Dewa Asura tersenyum, kemudian tubuhnya perlahan menghilang dari hadapan Jia Zhen, "Aku tidak menyangka akan mendengar kata-kata seperti itu dari seorang Dewa yang luar biasa sepertimu."


"Dan seharusnya, akulah yang lebih pantas untuk menundukkan kepala padamu, yang mulia."


"Apa maksudmu?"


"Lin Jia Zhen, ingatlah siapa dirimu yang sebenarnya, dan adikmu itu, dia adalah sosok yang selalu menjadi pelengkap dirimu" jawab Dewa Asura sebelum benar-benar menghilang.


***


Pertemuannya dengan Dewa Asura meninggalkan sebuah misteri besar yang berhasil membuat Jia Zhen menguras isi otaknya, bahkan sejak pertemuan itu berakhir, ia tidak henti-hentinya memikirkan perkataan Dewa Asura.


"Zhen'er, kau sedang memikirkan apa?" tanya Luo Ning.


Jia Zhen menghela napasnya, kemudian mengarahkan pandangannya pada ayah dan juga ibunya, "Ayah, ibu, siapa aku sebenarnya?"


"Pertanyaan macam apa itu? Kau tentu saja anak ayah dan ibu!" ujar Luo Ning.


"Ibu, aku serius!"


"Ibu jauh lebih serius!"


Berbeda dengan Luo Ning yang lebih banyak bicara dan bahkan nampak sedikit kesal dengan pertanyaan anak mereka, Lin Feng justru memilih untuk diam.


Meski tidak mengetahui apa yang terjadi pada Jia Zhen, namun ia dapat menebak jika putranya itu memiliki beban pikiran yang begitu besar.


"Zhen'er, kau adalah putra kami berdua. Dan mengenai siapa dirimu sebenarnya, kaulah yang harus menemukan jawabannya sendiri."


"Aku sudah mencobanya, tapi tetap saja tidak menemukan jawabannya."


"Kau bukannya tidak menemukan jawabannya, tapi memang belum saatnya untuk menemukan jawaban dari misteri tersebut."


"Hah" Jia Zhen menghela napas panjang untuk menenangkan dirinya, "Baiklah, aku akan mencoba mencari jawaban itu."


"Bukan mencoba tapi harus! Kau harus menemukan jawabannya" sahut Lin Feng.


Jia Zhen mengangguk, kemudian berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk kembali ke kamarnya, karena masih ada hal yang harus ia lakukan, yaitu mencari jawaban dari misteri yang ditinggalkan oleh Dewa Asura.


Setibanya di kamar, Jia Zhen langsung merebahkan tubuhnya ditempat tidur, "Zhen Jia! Kenapa kau ada di sini?" Jia Zhen benar-benar kaget saat menemukan adiknya yang tengah baring tepat di sebelahnya.


"Aku ingin tidur bersama kakak."


"Apa!?" Jia Zhen langsung bangkit dan berdiri di samping tempat tidur, "Jia'er, kembali ke kamarmu sekarang juga!"


"Tidak, aku tidak mau!"


"Jia'er..."


"Kalau kakak menolak, akan aku laporkan pada ayah dan ibu!"


"Hah!? Tapikan..."


"Ayah..."


Jia Zhen menghampiri adiknya dan langsung menutup mulutnya agar tidak berteriak, "Baiklah, kau boleh tidur di sini."


"Terima kasih, kakak!" ujar Zhen Jia, kemudian mendaratkan kecupan dipipi kakaknya itu.