
Setibanya di sekte Phoenix Emas, mereka berdua sedikit kesulitan saat hendak memasuki sekte, karena mereka tidak memiliki lencana sekte sebagai tanda pengenal, sehingga mereka tidak diizinkan masuk.
Akan tetapi, setelah Jia Zhen menunjukkan lencana keluarga Lin serta menjelaskan siapa dirinya, mereka berdua pun akhirnya diizinkan masuk oleh penjaga gerbang sekte, bahkan diantar sampai menemui Liu Changhai.
"Hormat, kakek guru" sapa Jia Zhen dan Zhen Jia bersamaan.
Liu Changhai tersenyum menatap kedua anak muridnya itu, "selamat datang, cucuku!" Ucapnya, kemudian menghampiri mereka berdua, "dimana ayah dan ibu kalian?"
"Ayah dan ibu masih sibuk, jadi belum ada waktu untuk menemui kakek guru" jawab Zhen Jia.
"Yasudah, mari masuk."
"Kakek, tujuan kami datang ke sini ingin menanyakan sesuatu, tapi kami ingin bertemu dengan pemimpin serta seluruh tetua sekte."
Raut wajah Liu Changhai berubah ketika mendengar perkataan Jia Zhen, walaupun dia masih remaja, namun Liu Changhai dapat merasakan penekanan dalam ucapannya, yang menandakan jika ada masalah serius yang tengah mereka hadapi.
"Baiklah, mari ikut kakek" ucapnya, kemudian membawa mereka berdua menemui pemimpin serta seluruh tetua sekte.
Kedatangan mereka tentunya disambut dengan sangat baik oleh Jin Feng Huang dan para tetua sekte, mereka bahkan sangat senang dengan kedatangan Jia Zhen dan adiknya, karena mereka berpikir, keduanya ingin menjadi murid sekte.
Keramahan mereka semua membuat Jia Zhen sedikit ragu untuk menyampaikan maksud tujuannya, namun ia segera menepis perasaan ragu tersebut, karena bagaimanapun juga, ia harus mengetahui jawaban yang sebenarnya.
"Maaf jika pertanyaan-ku tidak sopan dan mungkin akan menyinggung pemimpin dan para tetua sekalian, tapi aku harus meluruskan masalah ini."
Meski ada amarah yang masih ditahannya, namun Jia Zhen masih bisa menenangkan dirinya dan berbicara dengan sopan pada mereka semua, karena tujuannya ke sana bukanlah untuk menimbulkan masalah.
"Meluruskan masalah?"
"Zhen'er, apa maksudmu?"
Jia Zhen tidak langsung menjawab, kemudian menunjukkan lencana yang ia temukan sebelumnya, "apa ini lencana sekte Phoenix Emas?"
"Benar, itu adalah lencana sekte, tapi dimana kau mendapatkannya?"
Jawaban Jin Feng Huang membuat amarah Jia Zhen memuncak, bahkan ingin sekali rasanya ia melampiaskan amarahnya saat itu juga, tapi lagi-lagi, ia berusaha untuk tetap tenang dan menahan amarahnya itu.
Setelah itu, Jia Zhen mengeluarkan beberapa mayat kultivator yang ia bunuh sebelumnya, "apa mereka murid sekte ini?"
Jin Feng Huang dan para tetua nampak sangat terkejut melihat beberapa mayat tersebut, karena mayat yang ditunjukkan oleh Jia Zhen adalah mayat murid sekte Phoenix Emas.
"Jia Zhen, apa kau yang membunuh mereka!?"
"Jawab dulu pertanyaan-ku!"
Kali ini, Jia Zhen benar-benar sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi, walaupun mereka semua belum mengatakan apapun, namun ekspresi yang mereka tunjukkan sudah menjawab pertanyaannya.
"Benar! Mereka adalah murid sekte, tapi kenapa kau membunuh mereka?"
"Jia Zhen, kami sangat menghormati ayahmu, tapi kenapa sikapmu malah seperti ini!?"
"Sikapmu sungguh keterlaluan! Bagaimanapun juga, kami akan menuntut keadilan pada ayahmu!"
Tanpa mendengar alasan atau penjelasan Jia Zhen terlebih dahulu, mereka semua langsung menuduh Jia Zhen sebagai pembunuh, bahkan mereka tidak segan-segan melontarkan ucapan yang tidak enak didengar oleh telinga.
Sementara itu, tetua Liu Changhai justru masih diam ditempatnya, meski tidak menyangka jika Jia Zhen tega membunuh murid sekte, namun ia menyadari jika ada sesuatu yang tidak beres dalam masalah tersebut.
"Zhen'er, apakah kakek boleh mengetahui alasannya?"
"Tetua Liu, alasan apalagi yang ingin kau dengar darinya!? Bocah ini sudah jelas-jelas ingin menyinggung kita semua!"
"Jia Zhen, sebaiknya kau jelaskan semuanya atau aku akan melaporkan kejadian ini pada ayahmu!" ujar Jin Feng Huang.
"Hah" Jia Zhen menghela napas panjang untuk menenangkan dirinya, "Jika aku mengatakan bahwa murid kalian ini ingin merampok kami dan..."
Jia Zhen menghentikan ucapannya, ia tidak sanggup mengatakan betapa kurang ajarnya perbuatan murid sekte pada adiknya, dan jika dia tidak memiliki kekuatan, mungkin sesuatu yang buruk sudah terjadi pada Zhen Jia.
"Dan apa!?"
"Itu tidak mungkin! Kami mendidik setiap murid dengan baik dan mustahil mereka memiliki niat jahat seperti yang kau tuduhkan!"
"Sudahlah! Sebaiknya kita laporkan saja mereka pada Lin Feng, agar dia tahu betapa busuknya hati anaknya ini!"
"Cukup!"
Wushh.
Jia Zhen melepaskan aura kekuatan Dewa dari tubuhnya, ia benar-benar sudah muak mendengar ocehan mereka semua yang hanya mementingkan pendapat sendiri.
Padahal, ia sangat berharap jika mereka akan mendapatkan keadilan, tapi nyatanya, mereka malah dituduh dan disalahkan atas tindakan yang tidak mereka lakukan.
"Zhen'er, tenangkan amarahmu" ucap Liu Changhai.
Jia Zhen menoleh pada tetua Liu Changhai, tatapan matanya menunjukkan kekecewaan dan juga amarah yang tengah menyelimuti dirinya.
Tapi kemudian, Jia Zhen menarik kembali aura kekuatan yang telah ia lepaskan, lalu menghela napas panjang untuk menenangkan dirinya.
"Kalian ingin melaporkan kejadian ini pada ayahku? Silahkan saja, tapi aku tidak akan bertanggung jawab atas segala resikonya."
Setelah itu, Jia Zhen menarik tangan adiknya meninggalkan aula pertemuan tersebut, walaupun masih ada amarah yang belum terlampiaskan, namun ia lebih memilih untuk pergi agar masalah itu tidak membesar.
"Tetua Liu, kau mau kemana!?"
"Kalian sudah menyulut api, aku harap kalian siap menerima akibatnya" jawab Liu Changhai.
"Apa maksudmu? Apa kau mendukung kedua anak itu hanya karena mereka akan Lin Feng?"
Liu Changhai menggeleng pelan, "tidakkah kalian melihat kekecewaan di mata Jia Zhen? Dan tidak bisakah kalian menemukan kejujuran dalam ucapan Zhen Jia?"
"Pikirkan baik-baik, apakah mungkin mereka berbohong? Kalaupun benar, apa alasan mereka berbohong?"
"Bukankah sudah jelas jika mereka ingin membuat hubungan kita dan Lin Feng menjadi retak?"
"Hubungan itu sudah retak sejak kalian tidak mau mendengar penjelasan mereka."
Setelah itu, Liu Changhai meninggalkan aula pertemuan sekte, kemudian menyusul Jia Zhen dan adiknya yang telah pergi meninggalkan sekte Phoenix Emas.
Tujuannya hanya ada satu, yaitu meminta maaf pada mereka berdua, kalaupun tidak mendapatkannya, setidaknya ia sudah menyampaikan penyesalannya.
Dirinya sudah dianggap seperti kakek sendiri oleh mereka berdua, namun dirinya malah sempat meragukan ucapan kedua cucunya itu.
Selain itu, Liu Changhai juga sangat menyesal karena tidak bisa melindungi keduanya dari tuduhan para tetua sekte. Padahal, ia mengetahui jika kedua anak Lin Feng itu tidak berbohong.
"Zhen'er, tunggu!"
Jia Zhen dan adiknya menghentikan langkah, namun tidak menolah pada tetua Liu Changhai yang tengah menghampiri mereka berdua.
"Maafkan kakek" ucap Liu Changhai.
"Kakek tidak salah, kenapa harus minta maaf" sahut Jia Zhen.
Liu Changhai menggeleng pelan, "kakek sangat salah karena tidak bisa membela kalian."
"Hah" Jia Zhen menghela napas panjang, "sudahlah, sebaiknya kakek kembali, karena kami ingin melanjutkan perjalanan."
"Kalian mau kemana?"
"Menemui kakek di kota Zuanshi" jawab Zhen Jia.
"Boleh kakek ikut?"
Jia Zhen tidak menjawab dan langsung menarik tangan adiknya untuk melanjutkan perjalanan. Namun, kebisuan Jia Zhen dianggap sebagai persetujuan oleh Liu Changhai.