Night King: The Asura

Night King: The Asura
Ch-161. Kepergian Xie Long.


Malam harinya.


"Apa kalian yakin tidak mau kembali ke istana?" tanya Lin Feng.


Si kembar dan Jia Zhen menggeleng serempak, "Kami tidak mau ke istana ayah, kami ingin disini!"


"Hah" Lin Feng menghela napas panjang, "Baiklah, kita akan bermalam disini, kalian siapkan semuanya, ayah akan menyiapkan makanan" ucap Lin Feng, kemudian meninggalkan anak dan istrinya di tempat tersebut.


"Ibu, ceritakan tentang ayah" ucap Xie Long setelah Lin Feng pergi.


"Apa yang ingin kau dengar?"


"Semuanya, aku ingin mengetahui semua hal tentang ayah, termasuk seberapa besar kekuatan yang ayah miliki saat ini" jawab Xie Long.


Meski sudah sering mendengar kisah perjalanan ayahnya, baik itu dari ibu, kakek, nenek ataupun ayahnya secara langsung, namun Xie Long sepertinya tidak pernah puas untuk mendengar kisah perjalanan ayahnya itu.


Selain itu, Xie Long selalu berusaha menemukan rahasia kekuatan luar biasa yang dimiliki oleh ayahnya, karena menurutnya, kekuatan luar biasa yang ayahnya miliki pastilah memiliki suatu rahasia di dalamnya, dan itulah yang ingin ia ungkap.


Akan tetapi, setelah mendengar berbagai macam kisah perjalanan ayahnya berulang kali, bahkan sering kali ia dengar, ia masih belum juga menemukan adanya rahasia tertentu yang berhubungan dengan kekuatan luar biasa milik ayahnya itu.


"Ibu, apa ayah memiliki rahasia?" tanya Xie Long setelah Luo Ning selesai bercerita.


Luo Ning menggelengkan kepalanya, "Ayahmu adalah orang yang sangat terbuka, dia tidak pernah menyembunyikan apapun dari ibu."


"Itu tidak mungkin, maksudku, mustahil ayah tidak memiliki rahasia dibalik kekuatannya yang luar biasa" sahut Xie Long.


Luo Ning menanggapi perkataan Xie Long dengan senyuman, ia akhirnya paham kenapa Xie Long meminta dirinya menceritakan tentang perjalanan Lin Feng.


"Long'er, menurutmu seberapa hebat ayahmu yang sekarang?"


"Sangat hebat sampai ayah tidak memiliki tandingan di dunia ini" jawab Xie Long.


"Hanya itu saja yang kau ketahui?"


"Maksud ibu?"


"Nak, kau tidak perlu mengetahui kehebatan dan kekuatan ayahmu yang sekarang, karena yang harus kau ketahui adalah proses yang ia jalani hingga menjadi kuat seperti sekarang."


"Sudah tidak terhitung berapa kali ayahmu menghadapi rintangan sulit dan hampir merenggut nyawanya, dan sudah tidak terhitung berapa banyak latihan keras yang ia jalani selama ini."


"Hal inilah yang harus kau ketahui, setiap proses dan setiap usaha yang ayahmu lakukanlah yang membuatnya bisa memiliki kekuatan seperti sekarang ini" jelas Luo Ning.


Xie Long terdiam memikirkan setiap penjelasan yang disampaikan oleh ibunya dan sekarang, ia akhirnya mengerti kenapa ayahnya bisa memiliki kekuatan yang luar biasa didalam dirinya, semua itu tidak lain karena usaha dan kerja keras yang telah ia lakukan selama bertahun-tahun.


"Hah" Xie Long menghela napas panjang, "Sepertinya aku tidak akan pernah bisa seperti ayah" ucapnya pelan.


"Kau memang tidak akan pernah bisa menjadi seperti dirinya, karena kami berharap agar kau dan adik-adikmu bisa melebihi kami" sahut Luo Ning.


"Long'er, apa kau tahu jika ayahmu memiliki kekuatan yang lebih besar lagi?"


"Maksud ibu?"


"Keluarga, itulah kekuatan terbesar yang dimiliki oleh ayahmu."


"Ayahmu, dia sangat menyayangi keluarganya, bahkan sanggup mengorbankan nyawa demi keluarga, dia juga pernah meneteskan air mata darah karena keluarga, dan inilah kekuatan sesungguhnya yang dimiliki ayahmu."


"Keluarga, ya?" gumam Xie Long sembari menoleh kearah adik-adiknya yang telah tertidur karena kelelahan.


Tidak lama kemudian, Lin Feng akhirnya kembali menghampiri mereka dengan membawa makanan, "Ayah kembali!" ujarnya.


"Eh? Sejak kapan mereka tertidur?"


"Belum lama, mereka sepertinya sangat kelelahan setelah bermain tadi siang" jawab Luo Ning.


"Sayang sekali, padahal aku sudah membawa banyak makanan" sahut Lin Feng.


"Ayah."


"Hmm?"


"Katakan" sahut Lin Feng.


Xie Long menarik napas panjang kemudian menghembuskan perlahan dari mulutnya, "Ayah, izinkan aku melakukan petualangan sendiri, aku ingin tumbuh menjadi lebih kuat dengan usahaku sendiri" ucapnya.


"Long'er, apa yang kau..." ucapan Luo Ning terhenti saat Lin Feng mengangkat tangannya.


"Kau yakin dengan keputusan ini?"


Xie Long mengangguk, "Aku mohon ayah, izinkan aku pergi."


"Baiklah, ayah izinkan kau pergi, tapi ingatlah, kemanapun kau melangkah, selalu ingat untuk kembali dan jangan lupakan darimana kau berasal."


"Baik, ayah!"


"Tidak! Aku tidak setuju!"


"Gege, Long'er masih sangat kecil dan berpetualang sendirian akan sangat berbahaya baginya."


"Itu sudah menjadi keputusannya dan sebagai orang tua, kita hanya bisa mendukung keputusan anak-anak kita."


"Tapi..."


"Cukup, Ling'er, biarkan dia pergi!"


Setelah itu, Lin Feng membuka gerbang yang terhubung dengan Benua Biru, "Pergilah!"


"Baik, ayah"


Xie Long kemudian menghampiri Luo Ning dan langsung memeluknya dengan erat, setelah cukup lama, ia kemudian menghampiri Lin Feng.


Sebenarnya Xie Long ingin memeluk ayahnya sebelum pergi, namun karena ayahnya tidak menoleh sedikitpun padanya, iapun hanya bisa mengurungkan niatnya itu.


"Ayah, ibu, aku pergi" ucap Xie Long, kemudian masuk ke gerbang dimensi yang telah dibuka oleh Lin Feng.


Air mata Luo Ning sudah membasahi pipinya sejak Xie Long memeluknya dan sekarang, air mata itu semakin deras ketika gerbang dimensi mulai tertutup secara perlahan.


"Gege! Kenapa tidak melarangnya?!"


"Dia sudah besar dan sudah bisa memilih jalannya sendiri" jawab Lin Feng, kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut.


"Ibu, putraku sudah besar sekarang dan jujur saja, aku takut dia melupakanku."


Tanpa disadari, setitik air mata mengalir keluar dari mata Lin Feng, meski ia terlihat sangat tegar dan tidak menghiraukan kepergian anaknya, namun dalam hatinya, kesedihan yang ia rasakan mungkin jauh lebih besar daripada yang dirasakan oleh Luo Ning.


***


Beberapa minggu kemudian.


Di kedalaman hutan yang masih berada di wilayah kekaisaran Feng, seorang anak yang baru saja menginjak usia tiga belas tahun nampak tengah berhadapan dengan Beast tingkat tinggi.


Pertarungan mereka sudah berlangsung cukup lama, namun masih belum terlihat siapa yang akan memenangkan pertarungan tersebut.


"Cihh! Kulit hewan sialan ini sungguh keras."


Anak yang tidak lain adalah Xie Long itu memandangi pedang yang telah hancur di tangannya, padahal pedang itu adalah satu-satunya senjata yang ia miliki, namun sekarang malah hancur karena menahan serangan Beast yang ia hadapi.


"Gunakan kekuatanku, aku jamin kau akan menang dengan mudah" dari dalam diri Xie Long terdengar suara seseorang berbicara padanya.


"Jangan harap!" ujar Xie Long, kemudian menciptakan sebilah pedang dengan energinya.


Groarrr!


Harimau hitam dengan ukuran tubuh yang sangat besar meraung dengan sangat keras, seluruh tubuh harimau tersebut diselimuti oleh aura berwarna merah, warna matanya juga ikut berubah menjadi merah darah, dan kekuatannya bertambah semakin besar.


"Kenapa? Apa yang membuatmu sangat marah padaku? Bukankah seharusnya akulah yang marah karena kau telah menghancurkan satu-satunya senjata yang aku miliki?"


"Diam kau, manusia rendahan!"