
"Lin Feng, apa kau sudah yakin dengan keputusanmu ini?" tanya Zhen Shao.
Lin Feng mengangguk pelan, "Aku sangat yakin, lagipula sudah tidak ada alasan lagi bagiku untuk tinggal terlalu lama di sini."
Karena sekarang Lin Feng sudah mendapatkan pedangnya, iapun memutuskan untuk pergi meninggalkan kota Elang Emas, tapi keputusannya ini bukan semata-mata untuk menghindari masalah dengan penguasa kota, melainkan untuk mencari cara agar dapat kembali ke dimensi asalnya.
"Lalu, kemana tujuanmu setelah ini?" tanya Liu Qi.
"Aku sendiri tidak tahu harus kemana, tapi yang jelas aku akan menyusuri setiap bagian di benua ini" jawab Lin Feng.
"Kalau begitu izinkan kami ikut bersamamu" sahut Zhang Kai.
"Perjalananku tidak akan semudah yang kalian bayangkan, saat ini saja aku sudah menyinggung penguasa kota dan kedepannya nanti, pasti ada masalah lain yang akan datang menghampiriku."
"Tidak masalah, kami sudah siap menanggung segala resikonya!"
"Selain itu, kami memiliki sesuatu yang sangat kau butuhkan dalam perjalanan ini."
"Benarkah? Apa itu?"
"Kuda!"
"Apa kalian bercanda? Aku bisa..." sebenarnya Lin Feng ingin mengatakan jika dirinya bisa terbang dengan bebas di udara, namun ia menghentikan ucapannya setelah mengingat dia yang sekarang tidak sama seperti yang dulu.
"Baiklah, aku akan membawa kalian, tapi jangan salahkan aku jika sesuatu yang buruk menimpa kalian" ucap Lin Feng.
Dikarenakan dirinya yang sekarang sudah tidak memiliki kekuatan lagi, Lin Feng hanya bisa setuju untuk membawa mereka bersamanya, lagipula ia memang membutuhkan seekor kuda untuk melakukan perjalanannya, dan tidak mungkin jika dirinya menyusuri daratan ini dengan berjalan kaki.
Setelah mempersiapkan semua kebutuhan selama perjalanan, mereka kemudian memacu kudanya meninggalkan kota Elang Emas. Ketika meninggalkan kota, semuanya berjalan baik-baik saja, namun keadaan langsung berubah setelah mereka berada cukup jauh dari kota Elang Emas.
"Bukankah aku sudah memberikan peringatan sebelumnya?"
"Memangnya siapa dirimu sampai berani mengancam seorang penguasa kota?!"
"Siapa aku? Kalian semua akan segera mengetahuinya!"
Lin Feng melompat dari kudanya dan langsung berlari dengan kecepatan tinggi menuju kearah para prajurit yang menghadang mereka, meskipun kecepatannya sekarang sangat jauh berbeda dari sebelumnya, namun bagi para prajurit itu, pergerakan Lin Feng yang sekarang sudah sangat cepat.
Setelah berada dalam jarak yang cukup dekat, Lin Feng kemudian menebaskan pedangnya kearah prajurit yang ada didepannya, dan seketika itu juga, tubuh prajurit tersebut langsung terpotong menjadi dua. Tidak puas hanya dengan membunuh satu prajurit, Lin Feng kemudian melanjutkan aksinya dengan membunuh semua prajurit yang ada di sana.
"Syukurlah, aku benar-benar senang karena pedangku tidak kehilangan kekuatannya" ucap Lin Feng dalam hatinya.
Sebenarnya Lin Feng sempat khawatir jika pedangnya itu juga kehilangan kekuatan seperti dirinya, dan jika hal itu benar-benar terjadi, maka pedangnya itu tidak akan bisa ia gunakan saat bertarung, karena pedangnya hanyalah sebilah pedang yang terbuat dari kayu.
Tapi, setelah berhasil memotong tubuh prajurit itu hanya dengan satu tebasan, rasa khawatir yang sempat melanda dirinya pun ikut menghilang, karena kekuatan pedang Dewa Asura ternyata masih sama seperti sebelumnya, dan yang menghilang hanyalah kekuatan petir surga saja.
Para prajurit yang tersisa dibuat bergidik ngeri ketika melihat Lin Feng membantai teman-temannya, bahkan mereka tidak pernah menyangka jika pemuda yang masih berumur 21 tahun itu ternyata adalah orang yang sangat kejam, dan tidak akan segan-segan untuk membunuh tanpa mempertimbangkan tindakannya terlebih dahulu.
"Lari!" Salah seorang prajurit memberikan instruksi kepada yang lainnya untuk pergi dari sana.
"Jangan harap!" ujar Lin Feng.
"Aku sudah memperingati kalian sebelumnya, tapi kalian malah mengabaikannya, sekarang terimalah akibat karena berani menggangguku!"
Dengan kecepatan yang ia miliki saat ini, Lin Feng cukup kesulitan mengejar para prajurit yang berusaha kabur, namun pada akhirnya, ia tetap berhasil membantai mereka semua, "Sial! Bertarung seperti ini ternyata melelahkan juga" gumam Lin Feng.
"Tenang saja, aku hanya kelelahan" jawab Lin Feng.
"Lin Feng, aku tidak bermaksud lancang, tapi menurutku tindakanmu ini sudah terlalu kejam, memangnya kau tidak takut jika Dewa akan menghukum mu?" tanya Liu Qi.
"Dewa? Memangnya siapa Dewa yang kalian maksud?"
"Dewa Asura" jawab Zhen Shao.
Lin Feng tersentak kaget ketika mendengar ucapan Zhen Shao, "Dewa, siapa? Coba ulangi lagi nama Dewa yang tadi kau sebut" Lin Feng mencoba memastikan ucapan Zhen Shao sebelumnya.
"Dewa Asura, memangnya kenapa? Apa kau tidak percaya pada keberadaan Dewa?" tanya Zhen Shao.
"Ini tidak mungkin, bukankah aku berada jauh dari dimensi kultivator, tapi kenapa orang-orang disini bisa mengenal Asura?" gumam Lin Feng.
"Zhen Shao, ceritakan padaku mengenai Dewa Asura yang kau katakan tadi."
"Baiklah, aku akan menceritakan semuanya padamu."
Zhen Shao kemudian menceritakan seperti apa sosok Dewa Kematian Asura kepada Lin Feng, meski ia belum pernah bertemu dengannya secara langsung, namun didalam buku catatan kuno yang ditinggalkan oleh leluhur bangsa manusia, terdapat penjelasan yang sangat rinci mengenai ciri-ciri sosok Dewa Asura.
Selain menjelaskan ciri-ciri Dewa Asura, Zhen Shao juga menjelaskan jika di Benua Zhanshi ini ada lima kuil yang tersebar di seluruh penjuru Benua, dan di setiap kuil terdapat satu benda yang sangat berhubungan dengan Dewa Asura, misalnya seperti pedang atau bahkan patung Dewa Asura itu sendiri.
"Zhen Shao, sekarang aku sudah tahu kemana tujuanku selanjutnya" ucap Lin Feng.
"Kemana?"
"Pergi ke kuil Dewa Asura" jawab Lin Feng.
Meski orang-orang di Benua ini hanya menganggap kuil Dewa Asura hanyalah sebagai kuil biasa, namun tidak bagi Lin Feng, karena menurutnya, ada sesuatu yang tersimpan di masing-masing kuil tersebut, dan ia sangat yakin jika di salah satu kuil itu ada jalan yang bisa membawanya keluar dari dimensi ini.
"Baiklah, kalau begitu kami akan membawamu ke kuil pertama, dan kebetulan sekali jaraknya tidak terlalu jauh dari sini" ucap Guo Fan.
"Terima kasih" sahut Lin Feng, kemudian mereka memacu kudanya menuju ke kuil Dewa Asura yang pertama.
***
Dua hari kemudian.
Setelah menempuh perjalanan selama dua hari dengan menunggangi kuda, mereka akhirnya sampai di kuil pertama yang berada di puncak sebuah bukit yang cukup tinggi. Suasana di kuil terasa sangat sunyi dan juga tenang, karena tidak ada seorangpun yang berada di sana.
"Apa tidak ada yang menjaga kuil ini?"
Zhen Shao menggelengkan kepalanya, "Kuil ini memang tidak memiliki penjaga, karena selain letaknya yang jauh dari pemukiman, tidak ada seorangpun yang berani tinggal di kuil Dewa sendirian."
"Alasannya?"
"Kuil ini memang berada dipuncak bukit, tapi disekelilingnya adalah hutan yang dihuni oleh berbagai jenis hewan buas" jawab Zhen Shao.
"Baiklah, kalian mau masuk atau..."
"Kami di sini saja" ujar Liu Qi.