
Beberapa hari kemudian.
Pengampunan yang diberikan oleh Tuan Yang nyatanya tidak membuat Hong Qin merasa jera, bahkan ia masih berniat untuk menuntut balas pada Tuan Yang, terutama pada Xie Long yang telah melukai anaknya dengan sangat parah.
Dari dua ratus orang lebih yang pergi bersama Hong Qin waktu itu, hanya ada dua orang saja yang selamat, yaitu Hong Qin sendiri dan juga anaknya Xi Ao Tian. Namun, keadaan keduanya jauh dari kata baik-baik saja, khususnya Ao Tian.
Pil khusus yang ia makan untuk meningkatkan kekuatannya, malah menjadi senjata makan tuan untuk Xi Ao Tian, karena dampak dari menelan pil itu membuat aliran energi di dalam tubuhnya menjadi kacau.
Akibatnya, Xi Ao Tian kini tidak akan pernah bisa berkultivasi lagi, karena selain aliran energinya yang kacau, kultivasi-nya juga telah hancur saat terkena pukulan telak yang dilakukan oleh Xie Long.
"Ao Tian, kau tenang saja, ayah pasti akan membalaskan dendam ini" gumam Hong Qin.
Keadaan Hong Qin sendiri juga jauh dari kata baik-baik saja, karena luka yang ia alami dari pertarungannya melawan Tuan Yang juga sangat parah, hanya saja, butuh waktu yang sangat lama baginya untuk menyembuhkan luka tersebut.
"Patriark, semua persiapan sudah selesai" ucap salah seorang anggota keluarga.
Hong Qin mengangguk pelan, "Bagus! Malam ini kita akan bergerak, dan pastikan tidak ada yang mengetahui masalah ini."
"Baik, patriark!" jawab pria itu, kemudian meninggalkan kamar Ao Tian.
Ditempat lain.
Xie Long yang sebelumnya sempat pingsan, sekarang telah sadarkan diri dan kondisinya juga baik-baik saja, dan saat ini, dia dan Huanran tengah berada di rumah Tuan Yang.
"Apa kalian yakin mau pergi sekarang?"
Xie Long mengangguk, "Kami memang harus pergi sekarang, Tuan Yang. Tapi kami akan kembali lagi saat acara pelelangan dimulai" ucapnya.
"Baiklah, aku tidak akan menahan kalian lagi, tapi jika kalian kembali ke sini, jangan lupa untuk mampir di rumahku."
"Tentu saja dan kami tidak akan melupakan bantuan yang sudah Tuan berikan" sahut Xie Long.
Setelah berpamitan, Xie Long dan Huanran kemudian pergi meninggalkan rumah Tuan Yang, namun mereka tidak langsung meninggalkan kota Padang Pasir, karena masih ada hal lain yang harus Xie Long selesaikan terlebih dahulu.
"Kau yakin dengan keputusanmu ini?" tanya Huanran setelah mereka berada sangat jauh dari rumah Tuan Yang.
"Xiao Hua, untuk menyingkirkan sebatang pohon, menebangnya saja tidaklah cukup, karena selama akarnya masih ada, pohon itu pasti akan tumbuh lagi."
Huanran mengangguk paham, "Baiklah, kalau begitu aku akan membantumu."
"Kau yakin?"
"Aku sudah sangat yakin sejak aku menempatkan dirimu dalam hatiku."
Xie Long tersenyum dibalik penutup wajahnya, "Baiklah, kalau begitu, malam ini kita akan menyingkirkan akar pengganggu itu."
Pada pertarungan sebelumnya, Xie Long memang tidak sempat melenyapkan Xi Ao Tian ataupun ayahnya, karena pada saat itu, ia pingsan setelah aura membunuhnya ditekan oleh Huise.
Ketika sadar dari pingsannya selama dua hari, hal pertama yang Xie Long tanyakan adalah keluarga Xi, karena ia berharap Tuan Yang berhasil melenyapkan mereka semua, terutama Hong Qin dan Ao Tian yang merupakan sumber masalah ini.
Oleh karena itu, Xie Long tidak berencana untuk melepaskan mereka berdua, setidaknya, mereka berdua harus merasakan bagaimana akibatnya jika berurusan dengan dirinya.
Bukan ingin menyombongkan diri, hanya ingin memberi peringatan agar orang-orang berpikir dua kali sebelum berurusan dengan dirinya, dan kalaupun masih ada, akibatnya hanyalah kematian.
***
Malam harinya.
Suasana kota Padang Pasir terasa semakin sunyi seiring dengan malam yang semakin larut, orang-orang yang sibuk melakukan aktivitas disiang hari, sekarang sudah terlelap dalam tidurnya masing-masing.
Kesunyian itu perlahan berubah mencekam dikala angin malam berhembus pelan, menerbangkan debu-debu yang bertebaran di mana-mana. Bulan purnama yang bersinar terang di langit, menambah perasaan yang kian mencekam itu.
Dibalik gelapnya malam, dua sosok bayangan tengah bergerak dalam diam dari satu atap bangunan ke atap bangunan yang lain, mereka adalah Xie Long dan Huanran yang kini menuju ke kediaman keluarga Xi.
"Malam yang sangat sempurna, bukan?" Setelah diam sejak mereka berangkat, Xie Long akhirnya angkat bicara.
"Maksudmu?"
"Lihatlah, bulan purnama yang bersinar terang, angin dingin yang menusuk tulang, benar-benar sempurna untuk melakukan pembunuhan."
"Xiao Hua, memang inilah diriku yang sebenarnya, aku tentu tidak akan diam saja saat ada orang yang begitu berani mengusik dan mengganggu ketenangan-ku, apalagi mengganggu orang yang kucintai" jawab Xie Long.
"Jadi, kau melakukan ini demi..."
"Iya! demi dirimu, Xiao Hua!" ujar Xie Long.
Tidak lama kemudian, mereka berdua akhirnya sampai di wilayah keluarga Xi, mereka menghentikan langkahnya setelah berada cukup dekat dengan gerbang yang menutupi jalan masuk ke sana.
"Xiao Hua, setelah ini kau akan melihat sisi lain dari diriku, dan aku harap, kau bisa menerimanya."
Huanran mengangguk pelan, "Apapun yang akan aku lihat setelah ini, tidak akan merubah kenyataan bahwa aku menyukaimu."
"Senang mendengarnya" sahut Xie Long, kemudian menghilang dari pandangan Huanran.
Detik berikutnya, dua prajurit yang berjaga didepan gerbang tiba-tiba saja tumbang ke tanah, kepala mereka nampak telah terlepas dari tempatnya, begitupun dengan tubuh keduanya yang telah terpotong menjadi beberapa bagian.
Di dalam gerbang, sosok bayangan terus bergerak dengan kecepatan tinggi melewati setiap prajurit yang berjaga, dan saat sosok bayangan itu melewati para prajurit, tubuh mereka langsung terpotong-potong begitu saja tanpa ada yang mengetahui penyebabnya.
Bau darah yang sangat menyengat menyebar kemana-mana, anggota keluarga Xi yang masih terjaga dan menyadari keanehan ini, beranjak keluar dari rumah mereka untuk mencaritahu apa yang sebenarnya terjadi.
Namun, setelah satu atau beberapa langkah keluar dari pintu rumahnya, tubuh mereka juga terpotong secara tiba-tiba, yang membuat bau darah semakin menyengat dan memenuhi seluruh wilayah kediaman keluarga Xi.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku merasakan firasat buruk?" gumam Hong Qin yang masih berada di kamar anaknya.
Semakin lama, firasat buruk yang ia rasakan semakin menjadi-jadi, padahal sebentar lagi ia akan berangkat untuk meminta bantuan, namun firasatnya mengatakan jika dirinya tidak akan pernah bisa meninggalkan kediaman putranya itu.
Wushh!
Slash!
Sosok bayangan hitam melesat dan melintas dengan kecepatan tinggi didepan Hong Qin, bersamaan dengan itu terdengar suara tebasan yang sangat jelas.
Hong Qin yang kaget dan kebingungan, berusaha untuk mencaritahu apa yang terjadi, namun sayangnya ia tidak menemukan apapun di dalam kamar anaknya itu.
"Ti-tidak! Siapa yang melakukan ini!?"
Hong Qin dibuat sangat kaget ketika menoleh pada putranya yang masih berbaring ditempat tidur, dan yang membuatnya kaget adalah, kepala putranya telah terpenggal dan anggota tubuhnya telah terpotong-potong.
"Siapa!?"
"Selamat malam, Tuan Xi!" ujar Xie Long yang muncul dari balik bayangan.
"Kau... arkhhh!"
Tebasan yang sangat cepat dilakukan oleh Xie Long dan berhasil memutuskan satu tangan milik Hong Qin, sehingga membuat pria paruh baya itu berteriak dengan sangat keras.
"Teruslah berteriak sampai suaramu habis, karena setelah ini, kau tidak akan bisa berteriak lagi!"
Slash!
Xie Long yang tidak mau berlama-lama di sana, kemudian memenggal kepala Hong Qin, dan tidak hanya itu saja, Xie Long juga melakukan hal yang sama seperti yang telah ia lakukan pada Ao Tian ataupun anggota keluarga Xi yang lain, yaitu memotong tubuhnya menjadi beberapa bagian.
Perbuatan Xie Long memang sangat kejam, namun apa yang ia lakukan tidaklah sekejam yang dulu dilakukan oleh ayahnya, karena Xie Long tidak membantai para wanita dan juga anak-anak yang tidak memiliki kesalahan apapun padanya.
Dan jika saja yang melakukan pembantaian ini adalah Lin Feng, sudah pasti tidak akan ada lagi nama keluarga Xi untuk kedepannya, karena dia akan membantai semuanya tanpa terkecuali.
*
*
*
(Maaf ya cuma bisa satu chapter, hari ini author agak sibuk, jadi harap dimaklumi ya teman-teman.
Sekian untuk hari ini, see you next chapter, Bai Bai)