
Sementara itu.
"Sial! Kenapa bocah itu bisa memiliki kekuatan aneh itu? Kenapa dia bisa memiliki satu-satunya kekuatan yang bisa menyakitiku!?"
Xin Yi melampiaskan kemarahannya dengan menghancurkan apapun yang ada di sekitarnya, bahkan istana yang ia bangun kini telah hancur menjadi debu. Dan alasan kemarahannya itu hanya ada satu, yaitu kekuatan milik Jia Zhen.
Kekuatan milik Jia Zhen adalah satu-satunya kekuatan yang bisa menyakiti Xin Yi, dan kekuatan itu adalah kekuatan yang sama dengan kekuatan yang dulu melukainya sewaktu kecil, dan kekuatan itu jugalah yang paling ditakuti olehnya.
Setelah ribuan tahun berlalu, Xin Yi sempat berpikir jika kekuatan misterius itu sudah hilang untuk selamanya, karena dalam perjalanannya menyusuri semesta, ia tidak pernah melihat atau bertemu dengan kekuatan itu lagi.
Namun, rasa takut dan trauma yang sudah lama menghilang itu, justru muncul kembali setelah pertempurannya melawan Jia Zhen, bahkan ia tidak menyangka jika putra bungsu Lin Feng memiliki kekuatan yang bisa merenggut nyawanya.
"Ini tidak bisa dibiarkan! Bagaimanapun juga, aku harus menemukan cara untuk membunuh bocah sialan itu!"
Sebelumnya, Xin Yi sempat berpikir jika ancaman terbesarnya adalah Lin Feng yang memiliki kekuatan adiknya, namun setelah bertemu dengan Jia Zhen, ia akhirnya sadar jika ancaman sesungguhnya adalah anak itu.
"Beast Surgawi, ya! Aku harus mendapatkan hewan sialan itu secepat mungkin, karena dengan darahnya, kekuatanku akan sempurna!"
"Dan aku yakin, kekuatan sialan itu tidak akan bisa lagi menyakitiku!"
Xin Yi kemudian menghela napas panjang untuk menjernihkan pikirannya, lalu ia menjentikkan jari tangannya dan seketika itu juga, istana megah yang telah ia hancurkan, langsung kembali seperti semula lagi.
Setelah membangun lagi istana yang ia hancurkan, Xin Yi kemudian membuka portal dimensi didepannya, lalu dari dalam portal tersebut keluar ratusan monster yang memiliki kekuatan setara kultivator ranah Supreme God puncak.
Sama halnya dengan Xin Yi, ratusan monster itu juga memiliki banyak kekuatan darah dalam diri mereka, hanya saja, kekuatan darah yang mereka miliki tidak sekuat dan sesempurna kekuatan darah Xin Yi.
Meski begitu, kekuatan yang mereka peroleh dari berbagai macam darah tersebut, juga tidak bisa dianggap enteng atau dipandang dengan sebelah mata, karena kekuatan mereka sudah cukup untuk membuat satu dimensi menjadi kacau.
"Pergilah ke dimensi pertama dan bawa Beast Surgawi ke hadapanku! Bunuh siapapun yang berani menghalangi kalian dan bila perlu, hancurkan dimensi itu!"
Raut wajah Xin Yi sangat serius saat memberikan perintah pada prajuritnya itu, ia tidak ingin bermain-main lagi dan menunda rencananya, karena ancaman terbesar yang selama ini ia anggap menghilang, ternyata sudah muncul lagi.
"Baik, yang mulia!"
Setelah memberikan perintah, Xin Yi kemudian membuka portal dimensi yang langsung terhubung dengan dimensi pertama, dan tidak lama setelah portal terbuka, ratusan monster itupun bergegas masuk ke dalamnya.
"Lin Feng, tidak akan lama lagi, semua keluargamu akan segera menyusul-mu di neraka sana!"
***
Kaburnya Xin Yi dari pertempuran menyisakan tanda tanya besar dalam benak Jia Zhen, ia benar-benar penasaran dan ingin mengetahui alasan kepergian musuh ayahnya itu, apalagi kepergiannya sangat mendadak.
Jika Xin Yi memiliki urusan lain, setidaknya dia tidak akan mengurungkan niatnya untuk membunuh mereka, kalaupun tidak berhasil membunuh mereka semua, Xin Yi pasti akan berusaha agar dapat merenggut nyawa salah seorang dari mereka.
Tapi, jangankan membunuh salah seorang dari mereka, Xin Yi bahkan langsung kabut begitu saja tanpa memberikan penjelasan apapun, seolah ada sesuatu yang membuatnya takut hingga melarikan diri tanpa menghabisi musuhnya.
"Tuan Muda, apa yang Anda pikirkan?" tanya Huise.
"Aku sedang memikirkan pria sebelumnya" jawab Jia Zhen.
Huise mengerutkan dahi, "Apa pria yang kita hadapi waktu itu?"
Jia Zhen mengangguk, kemudian meluapkan apa yang tengah ia pikirkan kepada Huise, lalu ia juga menjelaskan tentang beberapa kemungkinan yang mungkin saja menjadi alasan bagi Xin Yi untuk meninggalkan pertarungan.
"Aku juga sempat memikirkan hal ini, karena kepergian pria itu benar-benar tidak masuk akal" sahut Huise.
"Jika dia ingin melarikan diri, kenapa dia tidak melakukannya sejak awal pertarungan? Dan kenapa pula dia mencari kita jika ujung-ujungnya malah kabur?"
"Entahlah paman, karena pertanyaan itu jugalah yang tengah aku cari jawabannya" sahut Jia Zhen.
"Jangan-jangan..." Huise menggantung ucapannya, karena tidak begitu yakin dengan asumsinya saat ini.
"Jangan-jangan apa, paman?"
"Tuan Muda, aku sendiri tidak begitu yakin dengan apa yang aku pikirkan saat ini, tapi jika aku tidak salah, pria itu melarikan diri setelah melihat kekuatan Tuan Muda" jawab Huise.
Jia Zhen diam sejenak sembari memikirkan kejadian saat itu dan memang benar, ia juga masih ingat jika Xin Yi melarikan diri setelah dia melepaskan kekuatannya, namun masih belum ada bukti kuat untuk membuktikan hal tersebut.
"Satu-satunya cara adalah dengan menemukan ayah sesegera mungkin, karena aku yakin, ayah memiliki banyak informasi mengenai pria itu."
Huise mengangguk setuju, "Aku juga sependapat dengan Tuan Muda!"
Jia Zhen kemudian berdiri dari tempat duduknya, "Kalau begitu, mari kita lanjutkan perjalanan!"
"Baik, Tuan Muda!"
Dengan kata lain, mereka juga sudah semakin dekat dengan Lin Feng, karena keberadaan kekuatan yang Jia Zhen rasakan waktu itu adalah kekuatan Lin Feng, yaitu kekuatan petir merah atau petir surgawi.
***
Sebuah portal dimensi terbuka di daratan nan luas, dari dalamnya keluar seorang anak laki-laki yang di kawal oleh delapan orang dewasa, dan dua diantaranya adalah perempuan, mereka tidak lain adalah Jia Zhen dan anggota pilar kematian.
"Di sana! Aku merasakan kekuatan petir surgawi berasal dari arah sana!" ujar Jia Zhen menunjuk ke satu arah.
Huise mengangguk pelan, kemudian mengubah wujudnya menjadi serigala bintang, setelah Jia Zhen naik ke punggungnya, Huise kemudian bergerak dengan kecepatan tinggi menuju ke arah yang ditunjuk Jia Zhen, sedangkan yang lainnya, mereka terbang mengikuti langkah Huise.
Dengan kecepatan luar biasa yang dimiliki Huise, hanya butuh waktu kurang dari satu jam untuk bisa sampai ke tempat tujuan. Padahal, jarak dari tempat mereka keluar dari portal dimensi dan tempat itu sangatlah jauh.
Kedatangan Jia Zhen dengan menunggangi seekor serigala dan di kawal oleh tujuh orang, membuat dirinya menjadi pusat perhatian orang-orang yang berkumpul di sana, mereka semua nampak sedang mengamati penampilan Jia Zhen.
"Darimana anak ini berasal?"
"Entahlah, aku sendiri juga tidak tahu, karena wajahnya terlihat sangat asing."
Sementara itu, Jia Zhen nampak menghela napas berat, ia juga terlihat sedikit kecewa karena apa yang ia harapkan ternyata tidak sesuai dengan kenyataannya.
Meski begitu, Jia Zhen tetap merasa senang, walaupun yang ia temukan hanyalah pedang ayahnya saja, namun hal ini sudah menjadi titik terang baginya untuk menemukan keberadaan ayahnya.
"Paman, tunggu di sini, aku akan mengambil pedang ayah" ucap Jia Zhen, kemudian melompat turun dari punggung Huise.
Setelah itu, Jia Zhen menghampiri pedang Lin Feng tanpa menghiraukan tatapan semua orang yang tertuju padanya, ia bahkan tidak peduli dengan orang-orang yang sedang berusaha mencabut pedang ayahnya itu.
"Permisi Tuan, aku ingin mengambil pedang ayahku" ucap Jia Zhen dengan sopan.
Seketika itu juga, orang-orang yang sedang berusaha mencabut pedang Lin Feng langsung berhenti dan menoleh pada Jia Zhen, mereka mengamati penampilannya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Anak kecil, sebaiknya kau pergi dari sini, kalau tidak, aku akan menghajar-mu!"
Wushh!
Boom!
Huise dan yang lainnya langsung melepaskan aura kekuatan mereka, sehingga menimbulkan tekanan intimidasi yang luar biasa besar, bahkan tempat itu sampai bergetar karena aura yang mereka lepaskan.
"Aku ingin lihat, siapa yang berani menyentuhnya!" ujar Huise yang sudah mengubah wujudnya menjadi manusia.
"Cihh! Tidak perlu basa-basi lagi, biar aku musnahkan mereka semua!" sahut Du Fang Ren yang telah siap melepaskan kekuatan racun yang mematikan.
Semua orang yang ada di sana nampak gemetar ketakutan, rasa takut itu muncul bukan hanya karena tekanan intimidasi yang menindas mereka, tapi juga karena ancaman Du Fang Ren yang terdengar tidak main-main.
"Tarik kembali aura kekuatan kalian" perintah Jia Zhen.
Tanpa menjawab, mereka semua langsung menarik aura kekuatan yang sebelumnya mereka lepaskan, bersamaan dengan itu, tekanan intimidasi yang menindas semua orang juga ikut menghilang.
"Aku benar-benar minta maaf, mereka melakukannya hanya untuk melindungi diriku, jadi aku harap, kalian dapat memakluminya" ucap Jia Zhen dengan suara lantang.
"Tuan-tuan, boleh aku mengambil pedang ayahku itu?"
Orang-orang yang sebelumnya berusaha mencabut pedang Lin Feng yang tertancap di tanah hanya bisa mengangguk, lalu mereka semua menjauh dari pedang tersebut, namun tidak langsung pergi meninggalkan tempat itu.
Setelah mereka semua menjauh, Jia Zhen kemudian mendekati pedang hitam, lalu berjongkok dan menyentuh pedang itu dengan ujung jarinya.
"Ayah, semoga saja pedang ini bisa membawaku ke tempat ayah berada" gumamnya, kemudian melepaskan kekuatannya.
Tubuh Jia Zhen diselimuti oleh kekuatan petir berwarna merah keemasan, disaat yang bersamaan, pedang hitam yang menancap di tanah itu juga mengeluarkan kekuatan petir merah, seolah merespon kekuatan milik Jia Zhen.
Ketika Jia Zhen menggenggam gagang pedang hitam itu, kekuatan petir merah yang keluar dari dalam pedang tersebut menjadi semakin besar, lalu kekuatan petir itu terserap masuk ke dalam tubuh Jia Zhen dan menyatu dengan kekuatannya.
Pada saat yang bersamaan, di telapak tangan Jia Zhen muncul sebuah lambang petir berwarna merah, lambang itu sangat mirip dengan lambang petir yang juga ada di tangan ayahnya.
"Pedang Dewa Asura, izinkan aku memilikimu" ucap Jia Zhen pelan, kemudian menarik pedang hitam tersebut.
Tanpa usaha yang begitu berarti, pedang hitam yang semua menancap di tanah, telah berhasil ditarik oleh Jia Zhen dan kini berada dalam genggamannya.
"Sudah kuduga, Tuan Muda ketiga adalah pewaris pedang itu" ucap Lang Diyu.
"Semoga saja kita bisa segera menemukan Tuan setelah ini."