Night King: The Asura

Night King: The Asura
Ch-36. Mati!


Suara tebasan terdengar begitu nyaring dan berhasil menghentikan tawa seluruh prajurit, mereka semua bertanya-tanya mengenai suara tebasan yang baru saja mereka dengar, pasalnya, tidak seorangpun dari mereka yang melihat siapa yang telah menebas pedangnya dan siapa pula yang ditebas.


Hingga beberapa saat kemudian, jawaban dari pertanyaan mereka itu terjawab ketika melihat tubuh sang kaisar terbelah menjadi dua, begitu juga dengan kuda yang ditungganginya, mereka yang masih tidak mengetahui apa yang terjadi, hanya bisa tercengang dan tidak percaya pada apa yang tengah mereka lihat saat ini.


"Mati!"


Slash!


Suara tebasan kembali terdengar dengan sangat jelas, dan kali ini, puluhan prajurit di barisan terdepan yang menjadi korbannya, selain itu, keadaan mereka tidak jauh beda dengan keadaan kaisar Huang, hanya saja, tubuh para prajurit itu tidak terbelah, melainkan terpotong menjadi dua bagian.


"A-apa yang terjadi?"


Para prajurit yang lain masih bingung dengan kejadian itu, karena tidak seorangpun dari mereka yang melihat siapa yang melakukan hal itu. Kemudian, beberapa prajurit mengarahkan pandangannya ke tempat Lin Feng berdiri, dan barulah mereka sadar jika Lin Feng lah yang melakukan hal itu.


"Bunuh dia!" ujar sang jendral.


Para prajurit terlihat sangat marah, mereka kemudian menarik pedang yang tersaring di pinggangnya, namun saat mereka hendak menyerang, pria yang sebelumnya berdiri didepan mereka mendadak menghilang dari pandangan, bersamaan dengan itu, kejadian yang sama kembali terulang.


Dengan amarah yang telah mencapai ubun-ubun, Lin Feng mulai membantai pasukan kekaisaran Huang yang ada disekitarnya, ia tidak peduli lagi dengan maksud dan tujuan mereka menyerang kota kekaisaran Song, karena yang ada dalam benaknya sekarang hanyalah membantai mereka semua.


Di istana kekaisaran.


Salah seorang prajurit melaporkan kejadian yang menimpa kota pada sang kaisar, dalam keadaan cemas dan khawatir, kaisar memerintahkan seluruh pasukannya untuk bersiap menghadapi peperangan. Selain itu, ia juga meminta sang jendral membawa pasukan penjaga untuk menyelamatkan para penduduk kota.


Setelah semua pasukan bersiap, kaisar Song langsung memimpin mereka menuju ke gerbang kota, namun setibanya di sana, mereka justru disambut oleh pemandangan yang sangat mengerikan, bahkan, tidak sedikit prajurit yang langsung muntah karena tidak tahan melihat pemandangan mengerikan itu.


Di hadapan mereka sekarang, terdapat sebuah lautan darah dengan ribuan potongan tubuh manusia, dan di tengah-tengah lautan darah itu, berdiri seorang pemuda yang masih menggenggam pedang hitam di tangan kanannya, dia adalah Lin Feng yang baru saja menyelesaikan pembantaian terhadap pasukan kekaisaran Huang.


"Lin Feng, apa dia yang melakukan semua ini?"


Tanda tanya besar muncul di benak kaisar Song, meskipun ia tidak melihat apa yang telah terjadi, namun apa yang ia saksikan dengan matanya itu sudah menjadi bukti bahwa pelaku pembantaian itu adalah Lin Feng, namun yang menjadi pertanyaannya adalah, bagaimana mungkin satu orang bisa membantai satu pasukan kekaisaran?


Setelah mengumpulkan semua keberanian dalam dirinya, kaisar Song kemudian menghampiri Lin Feng, namun ia tidak berani menginjakkan kakinya di lautan darah itu, "Lin Feng, a-apa yang terjadi?" tanya kaisar Song.


"Kau bisa melihatnya sendiri, aku baru saja membantai sekumpulan manusia sampah ini."


Ucapan serta nada suara Lin Feng yang dingin berhasil membuat kaisar Song bergidik ngeri untuk yang kesekian kalinya, dan lagi-lagi, ia melihat sosok Lin Feng seperti melihat sosok Dewa Kematian, bahkan ia merasa seperti sosok Dewa Kematian itu tengah tersenyum padanya.


"Oh Dewa, sepertinya aku benar-benar tidak memiliki umur yang panjang" gumam kaisar Song.


"Kaisar Song, siapa orang-orang ini?" tanya Lin Feng dan berhasil membangunkan kaisar Song dari lamunannya.


"Apa kalian memiliki dendam?" tanya Lin Feng.


Kaisar Song menggelengkan kepalanya, "Aku tidak pernah merasa telah memiliki dendam dengan kaisar Huang, tapi sebelumnya kami memang sempat berseteru" jawab kaisar Song.


"Mereka telah menyerang, apa kau tidak mau membalas? Atau kau ingin aku meratakan kekaisaran Huang dengan tanah?"


Lagi-lagi, perkataan Lin Feng berhasil membuat kaisar Song bergidik ngeri, "A-aku rasa itu tidak perlu dilakukan, lagipula, kaisar negara Huang sudah tewas bersama pasukannya, jadi mereka tidak memiliki kekuatan apapun lagi."


Kaisar Song sebenarnya bukanlah orang yang penakut, sejak berumur 17 tahun, ia sudah berdiri di barisan terdepan dalam medan perang, dan belum ada satupun musuh yang berhasil membuatnya gentar, namun pemuda didepannya itu malah selalu berhasil membuatnya bergidik ngeri.


Tidak hanya itu saja, kaisar Song bahkan selalu merasa seperti tengah diawasi oleh sosok Dewa Kematian, dan ia hanya merasa seperti itu sejak pertama kali bertemu dengan Lin Feng, dan terkadang, ia sampai berpikir bahwa Lin Feng adalah Dewa kematian yang akan merenggut nyawanya.


"Apa kau yakin?"


"Aku sangat yakin, jadi sebaiknya kita lupakan saja masalah ini."


Kaisar Song sebenarnya bisa saja menerima tawaran Lin Feng untuk menghancurkan kekaisaran Huang, tapi dia bukanlah seorang kaisar yang serakah, apalagi negara Huang sudah tidak memiliki seorang pemimpin, dan kalaupun ia ingin menguasai negara tersebut, maka dia akan melakukannya sendiri.


Selain itu, menghancurkan satu kekaisaran tidaklah semudah mengatakannya, mungkin mudah untuk menghancurkannya, tapi tidak mudah untuk menghadapi masalah yang akan datang setelah itu, karena menghancurkan satu kekaisaran artinya membawa masalah bagi kekaisaran lain.


Jika kekaisaran Huang benar-benar hancur dan kabar itu menyebar luas, sudah pasti kekaisaran lain akan memusuhi dan selalu waspada terhadap kekaisaran Song, mungkin ada yang akan menjalin hubungan baik, tapi tidak sedikit juga yang akan menjadi musuh, dan hal itulah yang sangat dihindari oleh kaisar Song.


"Baiklah, kalau begitu aku akan melupakan masalah ini" ucap Lin Feng.


***


Di ujung wilayah barat Daratan Duanxi.


Seorang pria tua yang tengah bermeditasi mendadak membuka matanya, tatapan matanya yang tajam memancarkan niat membunuh yang sangat kuat, dan aura kekuatan yang terpancar dari tubuhnya mampu membuat gua tempatnya bermeditasi bergetar hebat.


"Siapa... siapa yang telah membunuh murid ku?!" pria tua berteriak dengan sangat kencang, hingga suaranya menggema dan terdengar sampai keluar gua.


"Tidak akan aku ampuni, siapapun yang berani membunuh murid ku, hanya akan berakhir dengan kematian!"


Pria tua yang tengah melakukan meditasi secara tertutup itu adalah sosok dibelakang kaisar Huang, dia tidak hanya sekedar guru bagi kaisar Huang, tapi juga merupakan sosok pelindung yang selama ini menjaga kekaisaran Huang dari musuh-musuhnya.


Sama halnya dengan kaisar Huang, pria tua itu tidak hanya menganggap kaisar Huang hanya sebatas muridnya saja, tapi ia sudah menganggap kaisar Huang sama seperti anaknya sendiri. Dan baru saja, ia merasakan aura kehidupan milik muridnya itu menghilang, dan hal itulah yang membuatnya terbangun dari meditasi panjangnya.