
"Ka-kau..." gadis itu tidak bisa melanjutkan ucapannya, rasa takut yang menyelimuti tubuhnya membuat ia tidak mampu untuk berkata-kata lagi.
"A-aku minta maaf dan aku menyerah" lanjutnya.
Xie Ling tersenyum, kemudian menghilang dari pandangan mereka, tidak lama kemudian, ia muncul lagi ditempat ia berdiri sebelumnya, "Tetua, silahkan mulai pertandingannya."
"Bukankah kau sudah memulainya?" tanya Lin Feng.
"Yang tadi itu hanya pembukaan saja" jawab Xie Ling.
"Baiklah, pertandingannya dimulai" ucap Lin Feng menuruti keinginan putrinya itu.
Sesaat setelah Lin Feng menyelesaikan ucapannya, Xie Ling kembali menghilang dari pandangan, detik berikutnya, ia kembali muncul di hadapan keempat kultivator muda yang masih ada di arena, dan tanpa banyak basa-basi, Xie Ling langsung menghajar mereka.
Wushh!
Dhuaarrr!
Serangan Xie Ling berhasil mendarat di tubuh salah satu pemuda yang membuatnya terlempar jauh hingga menabrak dinding formasi, tidak hanya itu saja, serangan itu juga berhasil membuat pemuda tersebut memuntahkan darah yang cukup banyak.
"Si-sial, kekuatan bocah ini sungguh luar biasa" gumam pemuda tersebut, kemudian beranjak keluar dari arena pertarungan.
"Kau mau kemana?" tanya Lin Feng.
"Tetua, aku menyerah" jawab pemuda tersebut, lalu memberi hormat pada Lin Feng sebelum keluar dari arena pertarungan.
Sementara itu.
Tidak lama setelah pemuda sebelumnya menyatakan untuk menyerah, satu lagi kultivator muda memutuskan untuk tidak melanjutkan pertarungan, keputusannya itu ia ambil setelah dirinya merasakan betapa kerasnya pukulan Xie Ling, bahkan salah satu giginya sampai terlepas hanya karena satu pukulan saja.
"Tinggal kalian berdua, apa kalian yakin mau melawanku sampai akhir?" tanya Xie Ling yang sengaja memprovokasi musuhnya.
"A-aku menyerah" jawab gadis terakhir, kemudian keluar dari arena pertarungan.
"Pilihan yang bagus, bagaimana denganmu?"
"Cihh, aku tidak rela diremehkan oleh gadis kecil sepertimu!" ujar pemuda tersebut, lalu mengeluarkan senjatanya dari cincin penyimpanannya.
Namun, saat pemuda itu hendak bergerak maju dan menyerang, Xie Ling yang semula berada di hadapannya tiba-tiba saja telah muncul di hadapannya, bersamaan dengan ujung pedangnya yang berada tepat didepan leher pemuda tersebut.
"Mau lanjut?"
"A-aku menyerah"
Dengan sangat terpaksa, pemuda itu menyatakan untuk tidak melanjutkan pertarungan lagi, karena saat ia menatap mata Xie Ling, ia merasakan adanya sesuatu yang tidak bisa dijelaskan, bahkan ia yakin dirinya akan mengalami hal buruk jika masih melanjutkan pertarungan tersebut.
"Pemenangnya adalah Ziling" ucap Lin Feng.
Para penonton bersorak menyambut kemenangan yang berhasil diraih oleh Xie Ling, mereka juga tidak menyangka jika Xie Ling mampu memaksa lima kultivator muda untuk menyerah tanpa usaha yang keras, bahkan pertarungan barusan lebih mirip seperti ajang untuk menunjukkan betapa hebatnya seorang Xie Ling.
Setelah pemuda itu turun dari arena pertarungan, Jin Feng Huang mendadak muncul ditengah-tengah arena, dan kemunculannya ini menimbulkan banyak tanda tanya dibenak semua orang, karena selama ini, mereka tidak pernah melihat Jin Feng Huang naik ke atas arena ditengah-tengah acara seperti sekarang ini.
"Sebagai pemimpin dari sekte Phoenix Emas, aku merasa bangga karena memiliki murid baru yang begitu luar biasa, dan aku yakin, keberadaan kalian akan membuat sekte kita semakin berjaya" ucapnya.
"Zilong, Ziling, aku punya penawaran untuk kalian berdua" ucapnya mengarahkan pandangan pada si kembar.
"Tunggu! Aku tidak bisa menerima ini!" ujar salah seorang tetua, kemudian ikut naik ke atas arena pertarungan, lalu di susul oleh tetua sekte yang lain.
"Pemimpin, Anda tidak bisa merekrut murid saat acara sedang berlangsung!"
"Peraturan tetaplah peraturan, tidak bisa dilanggar begitu saja hanya karena Anda adalah pemimpin sekte ini."
Para orang tua itu mulai berdebat di atas arena pertarungan, mereka benar-benar tidak peduli dengan tatapan para murid sekte yang tertuju pada mereka semua, bahkan, mereka tidak lagi menghiraukan keberadaan Lin Feng yang juga ada di sana.
"Apa kalian tidak suka jika Zilong dan Ziling menjadi murid ku?"
"Tentu saja tidak, karena mereka seharusnya menjadi murid ku!"
"Pemimpin, para tetua, tidak bisakah kalian tidak berdebat di sini?" tetua Liu Changhai mencoba untuk menghentikan tindakan konyol dan kekanak-kanakan yang mereka lakukan.
"Tetua Liu, kau dilarang ikut campur dalam masalah ini!" ujar Jin Feng Huang.
"Tapi..."
"Apa kau ingin menjadikan mereka berdua sebagai murid mu juga?!"
"Hah" tetua Liu Changhai menghela napas panjang, "Baiklah, silahkan dilanjutkan" ucapnya.
Setelah itu, tetua Liu Changhai kembali ke tempat duduknya, namun saat berpapasan dengan Lin Feng, ia memberikan isyarat kepada muridnya itu agar dia menghentikan tindakan konyol yang dilakukan oleh pemimpin serta tetua sekte yang lain.
Wushh!
Lin Feng melepaskan aura kekuatannya dengan sengaja, membuat semua orang yang ada di sekte merasakan penindasan yang sangat luar biasa ditubuhnya, bahkan seluruh bagian sekte ikut bergetar karena terpaan aura tersebut.
"Aku rasa kalian sudah tahu apa yang harus kalian lakukan, jadi kembalilah dan jangan mengacau di sini!" ucap Lin Feng dengan tegas.
Perdebatan antara Jin Feng Huang dan para tetua sekte akhirnya terhenti, lalu mereka semua kembali ke tempat duduknya masing-masing tanpa mengucapkan sepatah katapun, karena tidak seorangpun dari mereka yang ingin melihat kemarahan Lin Feng.
"Baiklah, karena masalah ini sudah selesai, maka pertandingannya akan kita lanjutkan" ucap Lin Feng.
***
Dimensi kedua.
Setelah Wu Nan mendapatkan izin dan berpamitan kepada keluarganya, Lin Feng kemudian membawanya meninggalkan dimensi kedua dan langsung pergi menuju ke dimensi kesembilan, karena dimensi itulah yang akan Wu Nan kuasai nantinya.
"Guru, apa guru yakin aku bisa menjadi seorang penguasa?" tanya Wu Nan yang nampak tidak yakin pada dirinya sendiri.
"Bisa atau tidaknya, itu tergantung pada dirimu sendiri, jika sekarang saja kau sudah meragukan kemampuanmu maka sampai kapanpun, kau tidak akan pernah bisa melangkah maju" jawab Lin Feng.
"Yang guru katakan memang benar, aku harus yakin pada diriku sendiri" ucapnya dalam hati.
"Kau tenang saja, setelah kita tiba di dimensi kesembilan nanti, aku akan membawamu menjelajahi dimensi itu, jadi saat kau menjadi penguasa nantinya, kau sudah mengenali semua tempat yang ada di sana."
"Baik, guru!" jawab Wu Nan.
Setelah melewati lorong dimensi untuk waktu yang cukup lama, mereka berdua akhirnya tiba di dimensi kesembilan, lebih tepatnya di alam para Dewa. Namun, saat tiba di sana, Wu Nan justru terlihat kebingungan saat melihat reruntuhan di depannya.
"Guru, apa yang terjadi di tempat ini?" tanya Wu Nan.
"Beberapa tahun yang lalu, disini pernah terjadi pertarungan antara aku dan penguasa dimensi ketujuh melawan Dewa Huo" jawab Lin Feng.
"Dewa Huo?"
Lin Feng mengangguk, kemudian menjelaskan siapa Dewa Huo kepada muridnya, selain itu, Lin Feng juga menjelaskan tentang peperangan dahsyat yang pernah terjadi di dimensi kesepuluh.