Night King: The Asura

Night King: The Asura
Ch-242. Pengorbanan seorang adik


Huise dan yang lainnya akhirnya bisa menghela napas lega setelah Jia Zhen membuka matanya, namun rasa khawatir itu masih belum hilang sepenuhnya, karena sekarang, keadaan Jia Zhen terlihat sangat lemah.


"Biar aku saja" ucap Zhu Ling, kemudian menggunakan pahanya sebagai bantal untuk Jia Zhen, lalu menyalurkan energi kehidupan padanya.


Kasih sayang yang ditunjukkan oleh Zhu Ling tak ubah sayangnya seorang ibu kepada anaknya sendiri, meski ia tahu jika Jia Zhen adalah putra Tuannya, namun dalam hatinya, Zhu Ling sudah menganggapnya sebagai anak sendiri.


Sama halnya dengan kedua kakaknya, Zhu Ling juga ikut membantu saat Luo Ning melahirkan Jia Zhen, namun yang membedakannya adalah, Zhu Ling langsung tertarik pada Jia Zhen saat dia dilahirkan.


Ketertarikan itu semakin membesar seiring dengan pertumbuhan Jia Zhen, bahkan sering kali Zhu Ling berandai-andai jika Jia Zhen adalah anaknya, namun lagi-lagi, ia sadar jika Jia Zhen adalah anak Tuannya dan itulah kenyataannya.


Tanpa di sadari, Zhu Ling menitikkan air mata saat melihat Jia Zhen yang tengah terbaring lemah, air matanya menetes hingga mengenai dahi Jia Zhen, membuatnya tersadar dan membuka mata.


"Maafkan aku, Tuan Muda" ucap Zhu Ling, kemudian menghapus tetesan air matanya di dahi Jia Zhen.


Jia Zhen tersenyum, kemudian membelai lembut pipi Zhu Ling, "Ibu" ucapnya pelan.


Zhu Ling tersentak kaget mendengar perkataan Jia Zhen, ada rasa haru dan bahagia yang menggebu-gebu dalam dadanya ketika Jia Zhen memanggilnya dengan sebutan "ibu", sehingga air matanya kembali menetes dengan deras.


Sedangkan yang lainnya, mereka turut merasakan kebahagiaan yang kini menyelimuti Zhu Ling, bahkan Lang Diyu yang biasanya keras, ikut menitikkan air matanya, namun ia langsung membuang muka agar tidak dilihat oleh yang lain.


"Ini aneh, entah mimpi apa aku semalam" ucap Heilong.


"Memangnya kenapa?" tanya Yin Ouyang.


"Kakak, tidakkah kau lihat kalau kakak ketiga sedang menangis?"


Perkataan Heilong sontak membuat yang lainnya mengarahkan pandangan mereka pada Lang Diyu, dan benar saja, di pipinya masih ada jejak air mata.


"Apa!?"


"Bukan apa-apa!" ujar Du Fang Ren.


Heilong menghampiri Lang Diyu, kemudian merangkul pundaknya, "Kakak ketiga, akui saja kalau kau menangis."


Lang Diyu menyingkirkan tangan Heilong dari pundaknya, "Apa maksudmu, bocah!?"


"Bocah?" Heilong mengernyitkan dahi, "Kakak, aku ini sudah dewasa, kenapa menyebutku bocah? Dan seharusnya, kakak-lah..."


"Diam kau, bocah!"


"Aku bukan bocah!"


"Lalu kau mau apa, bocah sialan!"


Jia Zhen terkekeh pelan melihat tingkah kedua pamannya itu, suara tawanya yang terdengar seperti ditahan, berhasil menghentikan Lang Diyu dan Heilong yang hampir saja berkelahi.


"Maafkan kami, Tuan Muda!" ucap keduanya.


"Tidak apa paman, aku senang karena kalian selalu berusaha menghiburku" sahut Jia Zhen.


"Hari sudah mulai gelap, sebaiknya kita istirahat disini saja, setidaknya sampai kondisi Tuan Muda membaik!"


***


Dimensi pertama.


"Kakak"


Xie Ling yang biasanya selalu mengurung diri di kamar ibunya, sekarang malah keluar menemui kakaknya di halaman istana, kemunculannya ini sempat membuat Xie Long kaget, karena tidak biasanya adiknya itu meninggalkan ibu mereka.


"Ling'er, kalau kau di sini, lalu siapa yang menjaga ibu?"


"Ada nenek di sana" jawab Xie Ling, kemudian duduk di samping kakaknya itu.


"Kak, aku ingin mengatakan sesuatu" ucapnya setelah duduk dan diam cukup lama.


Xie Ling menghela napas panjang, kemudian menjelaskan jika dirinya pernah bertemu dengan kakek mereka di dalam mimpinya, ia juga menjelaskan mengenai warisan yang ditinggalkan oleh Yuan Long untuk dirinya.


Selain itu, Xie Ling sangat yakin jika kakaknya itu juga mendapatkan hal yang sama, meski warisan yang ditinggalkan kakek mereka berbeda, tapi intinya, Xie Ling yakin jika Xie Long juga mendapatkan warisan tersebut.


"Ling'er, sebenarnya apa yang ingin kau sampaikan pada kakak?"


"Kak, kondisi ibu sudah mulai membaik dan menurutku, cukup aku saja yang menjaga ibu."


"Maksudmu?"


"Aku ingin kakak pergi menyelesaikan ujian itu, setidaknya, salah satu dari kita harus mendapatkan warisan kakek, agar kakek tidak kecewa."


Xie Ling sudah memikirkan semuanya dengan baik, dan ia memutuskan untuk tidak menyelesaikan ujian untuk mendapatkan warisan kakeknya, karena yang ia pikirkan sekarang hanyalah ibunya saja.


"Ling'er, aku tidak..."


"Kak, aku mohon, jangan sampai kakek kecewa pada kita."


"Aku mohon, kak. Anggap saja kakak melakukannya demi diriku" lanjutnya.


Xie Long mendesah pelan, ia benar-benar bingung dan tidak tahu harus mengambil keputusan apa, di satu sisi, ia tidak ingin meninggalkan ibunya, apalagi dengan keadaannya yang seperti sekarang.


Tapi disisi lain, Xie Long juga tidak ingin membuat adiknya kecewa. Selain itu, Xie Long yakin jika adiknya sudah memikirkan semua ini sejak lama, karena tidak mungkin ia mau merelakan warisan miliknya begitu saja.


"Kak."


Xie Long menghela napas panjang, "Baiklah, aku akan melakukannya demi dirimu."


Xie Ling tersenyum kemudian memeluk kembarannya itu dengan erat, "Terima kasih, kak."


Meski ada senyuman terukir di wajahnya, namun dalam hatinya, ada rasa sedih yang terpaksa harus ia tahan. Bagaimanapun juga, adiknya sudah berkorban demi dirinya, jadi dia harus mendapatkan warisan itu agar adiknya tidak kecewa.


"Kakak tenang saja, aku pasti akan menjaga ibu dengan baik" ucap Xie Ling.


"Aku percaya padamu, Ling'er."


***


Dua hari kemudian.


Xie Long kini tengah bersiap-siap untuk kembali ke Daratan Suci. Sebenarnya ia masih belum ingin meninggalkan Dunia Bawah, namun karena adiknya selalu mendesaknya, Xie Long pun akhirnya setuju untuk segera berangkat.


Akan tetapi, dalam perjalanannya kali ini, Xie Long hanya berangkat bersama Xiao Xue, sementara Huanran, Xie Long memintanya untuk tetap tinggal di Dunia Bawah, agar kekasihnya itu bisa menjaga ibunya juga menemani adiknya yang pastinya akan sangat kesepian.


"Ling'er, Xiao Hua, jaga ibu dengan baik" ucap Xie Long, kemudian menoleh pada kembaran Xiao Xue, "Dan kau Xiao Xie, tugasmu adalah menjaga mereka!"


"Baik, Tuan Muda!" jawab Xiao Xie.


"Kakak, jaga dirimu baik-baik, dan pastikan kau berhasil melewati semua ujian itu."


"Kau tenang saja, aku pasti akan melewati semua ujiannya!"


"Zilong, apapun yang terjadi, kembalilah dengan selamat."


Xie Long tersenyum kemudian menghampiri Huanran, "Jaga ibu baik-baik."


Setelah berpamitan dengan semuanya, Xie Long kemudian naik ke punggung Xiao Xue. Lalu, Xiao Xue yang telah mengubah wujudnya menjadi Phoenix hitam, langsung membawa Xie Long melesat terbang meninggalkan istana kerajaan Dunia Bawah.


"Tuan, apakah kita akan langsung ke Daratan Suci?" tanya Xiao Xue.


"Iya, sebaiknya kita langsung menuju Daratan Suci!" jawab Xie Long.


"Baik, Tuan!"