Night King: The Asura

Night King: The Asura
Ch-82. Gerbang Neraka Asura


Setelah beristirahat dan berlatih selama beberapa hari didalam hutan tersebut, Lin Feng dan teman-temannya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mereka, dan tujuan mereka yang selanjutnya adalah arah Utara, karena hanya satu wilayah itu saja yang masih belum mereka periksa.


Sama halnya dengan perjalanan mereka sebelumnya, perjalanan kali ini juga tidak berjalan mulus seperti yang mereka inginkan, karena saat mereka keluar dari hutan tersebut, mereka sudah dihadang oleh sekelompok pendekar yang memburu mereka demi mendapatkan hadiah dari penguasa kota Elang Emas.


"Hah" Lin Feng menghela napas panjang, "Lagi-lagi masalah ini, sepertinya aku memang harus bertindak cepat" gumam Lin Feng.


"Lin Feng, apa maksud ucapan mu itu?" tanya Zhen Shao.


"Aku akan membunuh penguasa kota Elang Emas" jawab Lin Feng.


"Bagaimana caranya? Maksudku, kita berada sangat jauh dari kota Elang Emas, jadi mustahil bisa kembali ke sana dalam waktu singkat" ucap Zhen Shao.


"Kau tenang saja, aku akan mengurus semuanya" sahut Lin Feng.


Karena sudah terlanjur menyebar luas ke seluruh penjuru Benua, Lin Feng dan teman-temannya mendapatkan banyak masalah karena ulah penguasa kota Elang Emas.


Meski mereka bisa mengatasi semuanya dengan mudah, namun perjalanan merek selalu tertunda karena kehadiran orang-orang yang ingin membunuh mereka berenam. Oleh sebab itu, Lin Feng tidak ingin diam lagi dan membiarkan masalah ini terus berlanjut.


Jika dulu ia tidak membunuh penguasa kota dengan alasan dia hanyalah manusia biasa, maka sekarang, alasan itu sudah tidak berlaku lagi bagi Lin Feng, justru ia sudah tidak peduli lagi apakah penguasa kota itu hanya manusia biasa atau tidak.


"Setelah kalian selesai mengatasi mereka, tetaplah di sini dan tunggu aku kembali" ucap Lin Feng.


"Memangnya kau mau kemana?" tanya Zhen Shao.


"Menyelesaikan masalah yang seharusnya aku selesaikan sejak dulu" jawab Lin Feng, lalu menghilang dari pandangan Zhen Shao.


Setelah itu, Lin Feng muncul lagi di atas awan, kemudian langsung melesat terbang menuju ke kota Elang Emas, dan dengan kecepatan yang ia miliki saat ini, jarak yang sangat jauh itu pasti bisa ia tempuh hanya dalam hitungan menit saja.


Kota Elang Emas.


"Bagaimana perkembangannya?" tanya penguasa kota pada para bawahannya.


"Saat ini, kabar mengenai mereka berenam sudah menyebar luas, bahkan sudah hampir meliputi seluruh benua Zhanshi, jadi kita hanya perlu menunggu kematian mereka saja, yang mulia."


"Bagus! Dan jangan lupa memerintahkan mereka untuk membawa pedang itu kembali padaku!"


"Baik, yang mulia!"


"Hanya karena pedang kau sampai rela mengorbankan nyawa banyak orang, sepertinya kau benar-benar menginginkan pedangku ini" sahut Lin Feng yang telah muncul di depan pintu masuk istana.


"Ka-kau, kenapa kau bisa muncul di sini?" semua orang nampak terkejut dengan kemunculan Lin Feng.


"Kenapa tidak bertanya apa tujuanku saja?"


"A-apa tujuanmu?" tanya penguasa kota.


"Membunuh kalian semua!" ujar Lin Feng, kemudian menghilang dari pandangan semua orang.


Slash!


Slash!


Sedetik setelah Lin Feng menghilang, suara tebasan terus terdengar di aula singgasana, bersamaan dengan itu, satu-persatu orang yang ada di sana mulai mati dengan keadaan yang mengenaskan, baik itu prajurit ataupun petinggi istana, mereka semua tidak lepas dari kekejaman Lin Feng.


Dia ingin melarikan diri, namun seluruh tubuhnya gemetaran dan tenaganya mendadak lenyap begitu saja, kedua kakinya terasa sangat lemas sampai tidak sanggup menopang berat badannya lagi, jika saja dia tidak duduk di singgasana, mungkin dia sudah tersungkur dalam lautan darah tersebut.


"Ka-kau, ke-kenapa kau melakukan semua ini?"


"Kau bertanya kenapa? Bukankah kau sendiri yang memintaku untuk melakukan ini?"


Lin Feng yang telah membantai semua orang di aula tersebut, kini telah muncul di hadapan penguasa kota dengan sebilah pedang hitam di tangan kanannya, meski ia baru saja merenggut puluhan nyawa manusia, namun pakaian dan pedangnya tidak sedikitpun tersentuh oleh noda darah.


"Kau sangat menginginkan pedangku, bukan? Kenapa sekarang malah diam saja? Apa kau tidak mau merampasnya dari tanganku?"


"A-aku..."


"Karena ulah mu, perjalananku dipenuhi oleh rintangan dan karena ulah mu juga, banyak nyawa yang harus dikorbankan, sekarang katakan, hukuman apa yang pantas untuk dirimu?"


Penguasa kota tidak mampu berkata-kata lagi, mulutnya terasa kaku, keringat dingin membasahi tubuhnya yang semakin gemetaran karena rasa takut. Ia ingin berlutut dan meminta pengampunan pada Lin Feng, namun ketika melihat sosoknya saat ini, niat untuk melakukan hal itupun musnah begitu saja.


Kalaupun dia benar-benar bisa bersujud, belum tentu Lin Feng akan memaafkan perbuatannya, bahkan penguasa kota sendiri tidak yakin apakah Lin Feng akan mengampuninya, sekalipun dia bersujud sampai kematian datang menjemputnya.


"Hanya karena kau seorang penguasa sebuah kota, kau berbuat seenaknya dan menindas banyak orang, karena ulah mu ini, banyak penduduk yang sengsara dan menjerit dalam penderitaan."


"Kau adalah manusia yang tidak pantas untuk hidup lebih lama di dunia ini!"


Lin Feng mencengkeram wajah penguasa kota dengan tangan kirinya, dan saat ia menarik tangannya, jiwa penguasa kota juga ikut tertarik keluar dari dalam tubuhnya. Lalu setelah itu, Lin Feng memenggal kepala penguasa kota dan memotong tubuhnya menjadi beberapa bagian.


"Akan ku pastikan jiwamu sengsara dalam penyiksaan yang abadi!"


"Gerbang Neraka Asura!"


Seluruh istana bergetar, aura kematian yang sangat dahsyat terpancar dari tubuh Lin Feng dan menyebar ke seluruh penjuru istana, bahkan aura tersebut sampai menyebar ke kota, hingga membuat semua orang yang ada di sana merasakan kengerian yang tiada duanya.


Disaat yang bersamaan, di dalam aula singgasana muncul sebuah gerbang yang sangat besar serta memancarkan aura kematian yang tidak kalah dahsyatnya dari aura Lin Feng, lalu setelah itu, Lin Feng membawa jiwa penguasa kota menghampiri gerbang tersebut, kemudian, ia melempar jiwanya kedalam gerbang yang telah terbuka itu.


"Setelah memasuki gerbang neraka Asura, kau tidak akan pernah bisa keluar dan jiwamu tidak akan bisa reinkarnasi lagi" ucap Lin Feng, kemudian menutup gerbang raksasa itu.


Setelah urusannya di sana selesai, Lin Feng kemudian menghilang dari aula singgasana, lalu gerbang raksasa yang muncul ditengah-tengah aula sebelumnya, juga ikut menghilang bersamaan dengan hilangnya Lin Feng dari aula singgasana tersebut.


Ditempat lain.


"Apa Lin Feng tidak mengatakan dia mau kemana?"


Zhen Shao menggelengkan kepala, "Dia hanya mengatakan jika dirinya ingin menyelesaikan masalah yang seharusnya ia selesaikan sejak dulu."


"Apa maksudnya itu?"


"Entahlah, aku sendiri juga tidak mengetahui maksud ucapannya itu."


"Apa jangan-jangan, dia pergi membunuh penguasa kota?"


"Itu benar, aku telah membunuh penguasa kota Elang Emas" sahut Lin Feng.