Night King: The Asura

Night King: The Asura
Ch-262. Keputusan Luo Ning.


Suasana kamar yang seharusnya tenang malah menjadi sangat canggung, bahkan rasa canggung itu sampai membuat Jia Zhen tidak bisa memejamkan matanya, sementara adiknya, ia malah bisa tidur dengan sangat nyenyak.


Jia Zhen menghela napas panjang, menoleh wanita yang tengah terlelap seraya memeluk lengannya, sehingga membuat Jia Zhen tidak bisa bergerak sedikitpun, kalau tidak, adiknya itu pasti akan bangun.


Meski wanita disampingnya itu adalah adiknya sendiri, namun tetap saja meninggalkan perasaan canggung dan gugup yang tidak tertahankan, yang bahkan membuatnya tidak bisa memejamkan mata sedikitpun.


"Dia bisa tidur dengan nyenyak, sedangkan aku? Aku malah tidak bisa tidur karenanya!" gumam Jia Zhen dengan suara yang sangat pelan.


Ketika memandangi wajah adiknya yang tengah terlelap, Jia Zhen kembali teringat percakapannya dengan Dewa Asura sebelumnya, dalam percakapan tersebut, Dewa Asura mengatakan jika Zhen Jia adalah pelengkap dirinya.


"Pelengkap diriku? Apa maksud perkataannya itu?"


"Hah" Jia Zhen menghela napas panjang, "Apapun maksudnya, yang jelas dia adalah adikku, tidak akan aku biarkan siapapun menyakitinya!"


Walaupun bicara dalam hatinya, namun apa yang ia katakan seolah terdengar oleh Zhen Jia, dan ketulusan dari kata-katanya juga bisa dirasakan oleh adiknya itu. Buktinya, Zhen Jia nampak tersenyum dalam tidurnya, bahkan ia semakin mengeratkan pelukannya.


***


"Ning'er, mau jalan-jalan?"


"Kemana?"


"Aku ingin menikmati lautan bintang" jawab Lin Feng.


Luo Ning mengangguk kemudian berdiri dari tempat duduknya, "Apa Gege merindukan mereka?"


Satu hal yang Luo Ning ketahui adalah, jika suaminya itu ingin menyaksikan keindahan langit malam yang dihiasi bintang-bintang, artinya dia sedang merindukan seseorang.


Dan karena sekarang mereka semua ada disisinya, artinya hanya mereka yang bisa membuat Lin Feng ingin menatap langit malam, mereka yang tidak lain adalah keluarganya, keluarga yang sudah sangat lama ia rindukan.


"Dari dulu, aku selalu memikirkan satu hal yang sama" ucap Luo Ning ketika mereka memasuki area taman.


"Apa?"


"Apakah mereka akan menerima ku?"


Lin Feng tersenyum kemudian merangkul pinggang istrinya, "Dengarkan aku, mereka tidak mungkin tidak menerimamu, karena semua kriteria yang mereka harapkan ada pada dirimu."


"Benarkah? Lalu..."


Lin Feng menempelkan jari telunjuknya di bibirnya sebagai isyarat agar istrinya itu diam, kemudian ia mengarahkan telunjuknya ke bangku panjang di tengah taman.


Karena penasaran, Luo Ning kemudian mengikuti arah yang ditunjuk oleh suaminya itu, "Mereka..." Luo Ning memfokuskan pandangannya untuk mengetahui siapa dua sosok yang tengah duduk di bangku taman.


"Du Fang Ren dan Zhu Ling" sahut Lin Feng.


"Apa yang mereka lakukan di taman malam-malam begini?"


"Tidak bisa, aku harus ke sana dan menginterogasi mereka!"


Lin Feng menghela napasnya, kemudian meraih tangan Luo Ning agar istrinya itu tidak mengganggu mereka berdua, "Kenapa Gege menghentikan aku?"


"Jangan ganggu mereka" jawab Lin Feng.


"Tapi aku ingin tahu!"


"Bukankah sudah jelas kalau mereka itu... sudahlah, sebaiknya kita ke taman belakang saja!"


"Tapi..."


"Ning'er, biarkan mereka menikmati kebersamaannya, dan sebagai raja yang baik, aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan kebahagiaan mereka!"


Taman belakang istana.


"Itu siapa?" tanya Luo Ning setelah melihat dua orang yang tengah duduk di bangku taman belakang istana.


Lin Feng lagi-lagi menghela napasnya, keinginannya untuk menyaksikan keindahan langit malam hilang sudah, karena bangku di taman belakang istana juga telah diisi oleh orang lain, dan kedua orang itu adalah Lang Diyu dan Zhu Lien.


"Tadi Zhu Ling dan Fang Ren, sekarang Zhu Lien dan Lang Diyu, mereka benar-benar..."


***


Esoknya.


Suasana di aula singgasana terasa sedikit berbeda dari biasanya, karena sejak Lin Feng dan Luo Ning datang, belum ada satupun dari mereka yang bicara.


Meski kondisi seperti ini sudah biasa, namun ada yang berbeda dari tatapan Luo Ning, dan itulah alasan yang membuat mereka semua diam tanpa berani mengeluarkan suara sedikitpun.


"Zhu Ling, Du Fang Ren, ada yang ingin aku tanyakan pada kalian!"


Lin Feng menghela napas panjang, padahal ia sudah memperingati istrinya untuk tidak ikut campur, tapi peringatan itu malah diabaikan olehnya.


"Ning'er, biar aku saja yang bicara."


"Tapi..."


Lin Feng tersenyum, kemudian berkata, "Aku akan menyelesaikan semuanya."


"Fang Ren, Zhu Ling, apa tanggapan kalian jika aku memiliki rencana untuk menikahkan kalian berdua?"


Keduanya tersentak kaget, walaupun Lin Feng tidak mengatakannya secara langsung, tapi mereka bisa menebak jika Lin Feng dan Luo Ning sudah mengetahui tentang hubungan mereka berdua.


"Kenapa kalian diam saja?" tanya Luo Ning dengan suara tegas.


"Fang Ren, Zhu Ling, aku sudah mengetahuinya, dan menurutku, tidak ada alasan untuk menunda pernikahan, kecuali kalau kalian memang belum siap untuk menikah."


Du Fang Ren nampak menghela napasnya, kemudian berlutut di hadapan Lin Feng dan Luo Ning, "Tuan, aku memang memiliki rencana untuk menikahi Zhu Ling, tapi..."


Perkataan Du Fang Ren terhenti, ekspresi wajahnya menunjukkan adanya sesuatu yang mengganjal di hatinya, namun Lin Feng masih belum menanggapi, karena ia ingin mendengar penjelasan Zhu Ling terlebih dahulu.


"A-aku, setuju" jawab Zhu Ling yang nampak gugup.


"Benarkah, tapi semalam..."


"Bukankah sudah aku katakan untuk memberi sedikit waktu? Dan inilah jawabanku" sahut Zhu Ling.


"Hahaha!" Heilong tiba-tiba saja tertawa lantang, ia mengabaikan tatapan yang lainnya dan langsung menghampiri Du Fang Ren, "Kakak keempat, selamat!"


"Hei bocah! Dimana sopan santun mu?!"


"Apa? Aku hanya memberi ucapan selamat, memangnya itu salah."


"Kau..."


"Lang Diyu!"


"Ya, Tuan!"


"Kau menyukai Zhu Lien?"


"Eh, i-itu..."


Jika sebelumnya Du Fang Ren, maka sekarang justru Lang Diyu lah yang menjadi pusat perhatian, bahkan mereka semua seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.


Bagaimana tidak, Lang Diyu yang selama ini dikenal dingin dan cuek, nyatanya juga memiliki hati yang lembut bahkan bisa jatuh cinta. Padahal, mereka sempat mengira jika Lang Diyu tidak akan pernah menemukan pasangannya.


"Zhu Lien?"


Zhu Lien hanya diam dengan wajah tertunduk, ia benar-benar tidak bisa menghadapi tatapan semua orang yang kini terfokus pada dirinya, karena kalau dirinya mengangkat wajah, maka mereka semua akan melihat rona merah yang muncul di pipinya.


"Baiklah, karena kalian semua sudah setuju, maka kami akan menikahkan kalian besok!" ujar Luo Ning.


Lin Feng menepuk jidat dan menghela napas panjang, ia benar-benar tidak menyangka jika istrinya itu akan menjalankan rencananya, padahal rencana Lin Feng hanyalah ingin memastikan hubungan merek lebih dulu.


"Ini sudah menjadi keputusanku dan tidak boleh ada yang membantah!"


Meski terkesan seperti dipaksa oleh Luo Ning, namun tidak seorangpun dari mereka yang menolak keputusan tersebut, karena bagaimanapun juga, mereka memang sudah memiliki rencana yang sama, hanya waktunya saja yang berbeda.