
"Kekuatan yang lumayan, tapi ini saja masih belum cukup" ucap Lin Feng, kemudian menyalurkan energinya kedalam pedang ciptaan Jia Zhen.
Pedang energi yang diciptakan oleh Jia Zhen terus membesar seiring dengan banyaknya energi yang disalurkan oleh Lin Feng, bahkan ukuran pedang energi itu telah hampir menyamai ukuran pedang semesta, begitupula dengan kekuatannya.
Setelah merasa cukup, Lin Feng kemudian mengarahkan pandangannya pada Jia Zhen dan memberikan isyarat berupa anggukan kepala. Dan karena sudah mengerti, Jia Zhen membalas anggukan ayahnya dengan isyarat yang sama.
"Terima kasih, ayah!" gumam Jia Zhen, kemudian menurunkan pedangnya.
Disaat yang bersamaan, pedang raksasa itu juga melesat turun ke arah pasukan para monster. Sedangkan Lin Feng, ia nampak masih sibuk membantai para monster di sekitarnya, bahkan ia tidak berniat untuk melarikan diri sedikitpun.
DHUAAAAAR!
Ledakan yang jauh lebih dahsyat terjadi ketika pedang energi yang mengandung kekuatan petir surgawi itu menghantam pasukan musuh, dan berkat bantuan Lin Feng, serangan itupun berhasil merenggut puluhan monster yang ada di sana.
Xie Long dan yang lainnya tentu tidak ingin ketinggalan, dan walaupun serangan mereka tidak memiliki dampak yang cukup besar bagi pasukan musuh, namun mereka berempat tetap saja melancarkan serangan dengan kekuatan penuhnya.
"Sial! Kita sudah salah karena meremehkan mereka!" ujar pemimpin pasukan monster.
"Kesalahan kalian adalah datang dan menyerang dimensi ini!"
Lin Feng mengalirkan energinya ke dalam pedang Dewa Naga, sehingga membuat pedang itu memancarkan cahaya yang cukup terang. Lalu setelah itu, Lin Feng menebaskan pedangnya ke udara.
Energi pedang berbentuk seekor naga berwarna emas tercipta dan langsung melesat ke arah pasukan musuh. Walau hanya berwujud energi, namun kekuatan yang dimiliki naga itu sangatlah luar biasa.
Meski tidak bisa menyemburkan api seperti naga pada umumnya, namun naga yang terbentuk dari energi pedang itu tetap berhasil melenyapkan puluhan pasukan musuh, bahkan ia bisa menghancurkan apapun yang disentuhnya.
"Ini belum selesai!" ujar Lin Feng, kemudian melanjutkan serangannya.
"Jangan lupakan aku!"
"Tujuh tebasan kematian!" ujar Lin Feng dan Xie Long bersamaan.
Empat belas energi pedang melesat dengan kecepatan tinggi menuju ke arah pasukan musuh, kemudian Xie Long menggunakan kemampuan mata ungu untuk mengontrol pergerakan semua energi pedang tersebut.
Disisi lain.
"Jia'er, giliran kita"
"Boleh aku bergabung?" tanya Huanran menghampiri mereka berdua.
Xie Ling dan Zhen Jia mengangguk, kemudian mereka berdua melancarkan serangan secara bersamaan. Seketika itu juga, energi panas dan dingin menyelimuti seluruh medan peperangan, memberikan siksaan yang sangat luar biasa pada musuh.
Setelah keduanya melepaskan serangannya, Huanran menggunakan kemampuannya untuk memperbesar kekuatan serangan mereka, sehingga membuat dampak dari kehancuran serangan gabungan tersebut menjadi semakin besar.
"Ini yang terakhir!"
Jia Zhen kembali melesat ke ketinggian, melepaskan energi Dewa yang ia dapatkan dari Dewi Nuwa, bersamaan dengan itu, ia juga melepaskan kekuatan petir surga yang jauh lebih besar dari sebelumnya.
Langit kembali di selimuti oleh awan mendung, petir berwarna merah keemasan terus bermunculan dan menyambar pasukan musuh.
Ditengah serangan yang terus dilancarkan oleh Lin Feng dan anak-anaknya, pasukan Raja Malam juga terus melakukan pembantaian tanpa menghiraukan serangan-serangan tersebut.
Pada akhirnya, pasukan monster yang dikirim oleh Xin Yi untuk menyerang dimensi pertama, berhasil dilenyapkan tanpa sempat melakukan perlawanan sedikitpun, dan bisa dikatakan, kedatangan mereka ke dimensi pertama, hanyalah untuk menyerahkan nyawa.
***
"Sial! Aku benar-benar tidak menyangka jika Lin Feng masih hidup!" ujar Xin Yi, ia benar-benar kesal setelah mengetahui musuh terbesarnya ternyata masih hidup.
"Hah" Xin Yi menghela napas panjang, "Mulai sekarang, aku harus bertindak dengan lebih hati-hati." Xin Yi berdiri dari singgasananya, kemudian pergi meninggalkan aula yang sangat luas tersebut.
***
Istana kerajaan Dunia Bawah.
Xie Long dan adik-adiknya hanya bisa diam seraya menundukkan kepala, tidak seorangpun dari mereka yang berani mengangkat wajahnya, karena sekarang, Lin Feng tengah menatap mereka semua dengan tatapan tajam.
"Siapa yang memberi izin pada kalian untuk meninggalkan kerajaan?"
"Jia'er, jelaskan dengan jujur pada ayah."
Zhen Jia melirik ketiga saudaranya yang masih tertunduk, tatapan matanya seolah meminta bantuan pada mereka, namun sayangnya, mereka lebih memilih untuk diam karena takut untuk mengeluarkan suara.
"Hah" Zhen Jia menghela napas panjang, kemudian menatap ayahnya, "Ayah, ini semua adalah salahku, akulah yang merencanakan semua ini."
"Apa? Tidak! Ayah, semua ini adalah rencana-ku!" ujar Xie Long, ia tentu tidak bisa membiarkan adiknya dihukum.
"Tidak ayah, ini semua salahku!"
"Hanya aku yang patut di salahkan dalam hal ini."
Lin Feng mengerutkan dahi mendengar perkataan anak-anaknya, mereka semua yang awalnya diam, sekarang malah sibuk berdebat dan saling menyalahkan diri sendiri.
Meski begitu, Lin Feng benar-benar bangga pada mereka semua, karena keempat anaknya memiliki rasa kepedulian yang sangat tinggi.
"Diam!" ujar Lin Feng dan seketika itu juga, suara riuh perdebatan mereka langsung lenyap.
"Sebagai hukuman karena melanggar perintah ayah, kalian berempat harus siap dilatih oleh ibu dan ayah!"
"Kau juga, Huanran!"
Mereka semua tersentak dan langsung mengangkat wajahnya, namun sayangnya, sebelum mereka sempat mengatakan apapun, Lin Feng sudah melangkah menjauh dari sana.
"Ayah."
Lin Feng menghentikan langkahnya, namun tidak menoleh pada mereka, "Ada apa?"
"Terima kasih!" ujar Zhen Jia yang langsung memeluknya dari belakang, kemudian diikuti oleh ketiga kakaknya.
Seulas senyum terukir dibibir Lin Feng, "Teruslah seperti ini, jadikan persaudaraan kalian sebagai kekuatan yang tak terkalahkan."
"Baik, ayah!"
Setelah mereka melepaskan pelukannya, Lin Feng kemudian melanjutkan langkahnya memasuki istana, meninggalkan keempat anaknya yang masih menatapnya lekat.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?"
"Kembalilah ke kamar kalian untuk beristirahat, persiapkan diri kalian untuk latihan berat yang akan dimulai besok" jawab Xie Long.
"Besok?"
Xie Long mengangguk, walaupun ayah mereka tidak mengatakan kapan latihan itu akan dimulai, tapi menurutnya, semakin cepat maka akan semakin baik pula, karena latihan ini demi kebaikan mereka juga.
"Sudah, kembalilah ke kamar kalian!"
"Baik! jawab mereka bertiga, kemudian masuk ke istana.
Setelah ketiga adiknya pergi, Xie Long kemudian menghampiri Huanran, "Kau juga sebaiknya istirahat, karena ayah akan melatih-mu juga."
"Bagaimana denganmu?"
"Aku masih ingin disini" jawab Xie Long.
"Boleh aku menemanimu?"
Xie Long tersenyum, "Baiklah, tapi sebaiknya kita mengobrol di taman."
Sementara itu.
Berbeda dengan kedua saudaranya yang langsung menuju ke kamar mereka, Jia Zhen justru mengubah arah dan pergi ke kamar ayah dan ibunya.
"Ayah, ibu, boleh aku masuk?"