
Pagi yang seharusnya tenang malah menjadi heboh karena kedatangan beberapa kultivator, bahkan Lin Feng yang masih berkultivasi terpaksa harus menyelesaikan meditasi-nya, karena kedatangan mereka mengganggu konsentrasinya.
Saat membuka mata, Lin Feng nampak heran melihat seorang wanita tua yang dibawa oleh orang-orang itu, dia tidak lain adalah nenek Chu Hua, namun yang membuat Lin Feng heran adalah, keadaan wanita tua itu yang nampak tidak baik-baik saja.
"Apa yang kalian lakukan padanya?" tanya Lin Feng.
Orang-orang itu mengarahkan pandangannya pada Lin Feng, mengamati penampilan Lin Feng dari ujung kepala sampai ke ujung kaki, lalu setelah itu, mereka nampak tersenyum remeh padanya.
"Ini bukan urusan orang cacat sepertimu" jawab salah seorang dari mereka.
"Aku tanya sekali lagi, apa yang kalian lakukan pada wanita tua ini?"
"Cihh! Tidak usah ikut campur, kalau tidak kami akan membunuhmu!"
Lin Feng tersenyum mendengar perkataan pria tersebut, karena sudah sangat lama ia tidak mendengar perkataan seperti itu, bahkan niat membunuhnya yang sudah lama tertidur seperti dibangkitkan oleh ucapan tersebut.
"Jujur saja, sudah lama aku tidak mendengar kata itu" sahut Lin Feng seraya mendekati mereka semua.
"Cihh! Bunuh saja pria cacat sialan ini!"
Salah seorang dari mereka kemudian maju mendekati Lin Feng dan langsung menyerangnya, namun setiap serangan yang ia lancarkan selalu berhasil dihindari oleh Lin Feng.
"Apa yang kau lakukan? Cepat bunuh dia!"
Pria yang menyerang Lin Feng mendengus kesal, ia kemudian mencabut pedang yang berada di pinggangnya lalu menyerang Lin Feng lagi, namun saat ia menebaskan pedangnya, Lin Feng yang semula berada di hadapannya tiba-tiba telah muncul disampingnya.
Tidak hanya itu saja, Lin Feng bahkan telah menggenggam pergelangan tangan pra itu dengan sangat erat, dan tidak lama berselang, terdengar suara tulang yang dipatahkan, lalu diikuti oleh teriakan yang sangat keras.
"Aku pinjam pedangmu sebentar" ucap Lin Feng, kemudian menebas leher pria itu.
"Siapa selanjutnya?"
"Kau! Berani sekali kau membunuh anggota kami!"
"Memangnya kenapa? Apakah ada masalah?"
"Bunuh pria sialan itu!"
Lin Feng tersenyum mendengar perkataan pria itu, namun anehnya, senyuman itu malah terlihat sangat mengerikan. Setelahnya, Lin Feng menghilang dari pandangan dan mulai membantai mereka satu-persatu.
Meski Lin Feng kehilangan energi Dewa, namun bukan berarti ia kehilangan kemampuan bertarungnya, ataupun kekejamannya saat membantai musuh-musuhnya, karena kekejaman itu seperti sudah mendarah daging dengan dirinya.
Hanya dalam hitungan detik, Lin Feng sudah berhasil membunuh para kultivator tersebut, namun ia menahan dirinya agar tidak memotong tubuh mereka menjadi puluhan bagian, karena tidak ingin kekejamannya disaksikan oleh nenek Chu Hua.
"Nenek, apa kau baik-baik saja?" tanya Lin Feng.
Wanita tua itu mengangguk, "Terima kasih, sudah membantuku."
Tidak lama berselang, Chu Hua keluar dari dalam rumahnya untuk mencaritahu penyebab dari keributan yang ia dengar sebelumnya, namun saat membuka pintu rumah, ia malah dikejutkan dengan keberadaan banyak mayat di halaman rumahnya.
"A-apa yang terjadi?" tanya Chu Hua yang nampak ketakutan.
Lin Feng kemudian membantu nenek Chu berdiri, lalu memapahnya kembali ke rumah, kondisinya nampak lemah dan ditambah dengan pisiknya yang memang sudah tidak kuat lagi, membuat keadaannya semakin memprihatinkan.
Setelah merebahkan tubuh nenek Chu di tempat tidur, Lin Feng kemudian mengobati nenek Chu dengan menggunakan kekuatan api emas, dan benar saja, hanya dalam hitungan detik, kondisi nenek Chu sudah membaik.
"Terima kasih, Lin Feng" ucap nenek Chu.
Nenek Chu menghela napas panjang, kemudian menjelaskan siapa orang-orang yang membawanya barusan. Dan dari penjelasan nenek Chu, Lin Feng mengetahui jika orang-orang itu adalah suruhan pemimpin desa.
Selain itu, Lin Feng juga mengetahui jika pemimpin desa ingin menjodohkan anaknya dengan Chu Hua, dan menurut Lin Feng, cara yang mereka gunakan untuk mendapatkan Chu Hua adalah cara yang salah.
Namun, Lin Feng tidak bisa ikut campur dalam masalah ini, karena urusan mereka adalah urusan pribadi, lain halnya jika sudah menyangkut nyawa, karena bagaimanapun juga, Lin Feng memiliki hutang nyawa pada Chu Hua dan neneknya.
"Kalian tenang saja, jika mereka datang lagi, aku akan menghadapi merek" ucap Lin Feng.
"Terimakasih, Tuan Lin."
"Sudahlah, sebaiknya nenek beristirahat, aku akan keluar sebentar" sahut Lin Feng, kemudian keluar dari rumah sederhana tersebut.
Baru saja menginjakkan kakinya di luar pintu, Lin Feng sudah merasakan keberadaan beberapa kultivator yang sedang menuju ke sana, dan Lin Feng sangat yakin jika kultivator itu adalah suruhan pemimpin desa.
"Selama mereka tidak menggunakan kekerasan, maka aku akan bersikap lembut."
Tidak lama berselang, para kultivator itupun akhirnya sampai di halaman rumah nenek Chu, mereka semua nampak kaget ketika melihat teman-temannya yang telah menjadi mayat.
"Apa kau tahu siapa yang membunuh mereka?"
Lin Feng mengangguk, "Akulah yang membunuh mereka semua" jawab Lin Feng dengan santainya, bahkan tidak terlihat adanya rasa bersalah sedikitpun di wajahnya.
Para kultivator yang baru sampai itu nampak tidak senang, namun mereka masih bisa menahan dirinya untuk tidak menyerang Lin Feng secara langsung, karena yang harus mereka lakukan sekarang adalah mengetahui identitas Lin Feng.
Sebagai seorang kultivator, mereka tentu mengetahui jika pemuda di depan mereka saat ini bukanlah kultivator biasa, karena cara pemuda itu membunuh teman-teman mereka hanya bisa dilakukan oleh pembunuh profesional.
Dan hal itu dapat dibuktikan dari bekas tebasan di leher mereka yang begitu sempurna, dan bisa dilihat dengan jelas jika tebasan itu hanya dilakukan dalam satu kali, yang artinya, pemuda di depan mereka itu sudah biasa membunuh orang.
"Kenapa kau mengganggu urusan kami?"
"Aku tidak akan mengganggu jika kalian tidak menggunakan kekerasan, nenek Chu sudah tua dan kalian malah memperlakukannya seperti itu, tentu aku tidak akan diam saja!"
"Semua ini tidak ada urusannya denganmu! Mereka punya hutan yang sangat banyak pada pemimpin desa!"
"Hutang? Memangnya berapa banyak hutang yang mereka miliki?"
"Seratus keping koin perunggu!"
Lin Feng menghela napas panjang, kemudian mengeluarkan sebuah kantung kulit dari cincin penyimpanannya, lalu melempar kantung berisi koin tersebut pada mereka.
"Di dalamnya ada seratus keping koin perunggu, dan aku harap, setelah ini kalian tidak mengganggu mereka lagi!"
Mau tidak mau, mereka harus kembali dengan tangan kosong, padahal tujuan mereka datang bukanlah untuk meminta uang, melainkan ingin membawa Chu Hua ke rumah pemimpin desa.
Selain itu, tidak seorangpun dari mereka yang menyangka jika Lin Feng mampu membayar hutang tersebut, dan satu-satunya pilihan mereka sekarang adalah pergi meninggalkan rumah nenek Chu.
"Aku harus menyelidiki masalah ini!"
Setelah itu, Lin Feng menggunakan jiwa bayangan untuk menciptakan tiruan dirinya, lalu memerintahkan bayangannya tersebut untuk menyelidiki masalah nenek Chu dan pemimpin desa.
Karena jika dirinya ingin ikut campur dalam masalah tersebut, maka dia harus mengetahui dimana letak akar permasalahan itu, kalau tidak, Lin Feng mungkin saja salah dalam mengambil tindakan.
Bukan tidak percaya pada Chu Hua ataupun neneknya, terlebih lagi mereka sudah menyelamatkan dirinya, meski begitu, tidak ada salahnya untuk berhati-hati daripada harus terjerumus dalam kelicikan seseorang.