
"Kalian semua akan menjadi teman bermainku" gumam Lin Feng, lalu mengeluarkan pedang Dewa Asura dari cincin penyimpanannya.
Setelah itu, Lin Feng melesat kearah salah seorang pria yang berada di hadapannya, lalu setelah tiba didepan pria tersebut, Lin Feng langsung memenggal kepalanya dengan gerakan yang sangat cepat, bahkan gerakannya sampai tidak bisa dilihat oleh teman-teman pria tersebut.
"Satu selesai, siapa selanjutnya?"
"Kaulah yang akan mati selanjutnya!"
Dua orang pria menyerang secara bersamaan dari arah kiri dan kanan Lin Feng, keduanya mengayunkan pedangnya dan bersiap untuk menebas tubuh Lin Feng, namun sebelum senjata mereka mendarat, Lin Feng telah lebih dulu menghilang dari pandangan.
Pada saat yang bersamaan, kepala kedua pria yang hendak menyerang Lin Feng itu tiba-tiba saja terpenggal, dan lebih parahnya lagi, tubuh mereka juga terpotong menjadi beberapa bagian, dan lagi-lagi, tidak seorangpun yang bisa melihat kapan Lin Feng menyerang mereka.
"Hati-hati, dia bisa saja menyerang dari belakang kalian!" ucap pemimpin kelompok memperingati.
"Benar, kau sebaiknya berhati-hati" sahut Lin Feng yang telah muncul di belakangnya.
Pemimpin kelompok tersebut benar-benar kaget mendengar suara Lin Feng dari arah belakangnya, namun saat ia hendak memastikan keberadaan Lin Feng, sebuah tebasan yang sangat cepat telah lebih dulu mengenai lehernya dan berhasil memenggal kepalanya.
"Bukankah kau ingin mengambil cincin ku? Sekarang ambillah jika kau bisa" ucap Lin Feng, lalu menebas tubuh pria itu hingga memotong tubuh pria itu menjadi bagian-bagian kecil.
"I-ini tidak mungkin, ketua adalah kultivator ranah Supreme Emperor, bagaimana dia bisa membunuhnya begitu saja?"
"La-lari, selamatkan diri kalian!"
"Iblis, dia adalah iblis!"
Anggota kelompok yang masih tersisa kemudian mencoba untuk melarikan diri dari sana, tapi Lin Feng tidak pernah membiarkan orang-orang yang telah berani menyinggungnya hidup begitu saja, kecuali jika dia sedang berbaik hati untuk memaafkan orang itu.
"Teknik pedang hampa, tebasan kematian!"
Tujuh energi pedang berwarna merah kehitaman tercipta dari tebasan yang dilakukan oleh Lin Feng, ketujuh energi pedang tersebut melesat dengan kecepatan tinggi ke berbagai arah dan memotong apapun yang dilaluinya, termasuk orang-orang yang tengah melarikan diri itu.
Pada akhirnya, tidak satupun dari orang-orang itu yang berhasil selamat dari kematian, dan mereka semua mati dengan keadaan yang mengenaskan, bahkan air sungai yang semula jernih dan sangat bersih, telah berubah menjadi merah karena darah orang-orang itu.
"Sayang sekali, padahal aku masih ingin bermain-main dengan kalian," ucap Lin Feng sembari menyimpan kembali pedang Dewa Asura, lalu setelah itu, ia melesat terbang meninggalkan tempat tersebut.
***
Istana Bintang, dimensi ketujuh.
"Yang mulia, tahanan bernama Huo itu telah melarikan diri!" ucap Shen Long.
"Apa? Bagaimana bisa?"
"Maafkan hamba yang mulia, ini semua terjadi karena kelalaian hamba" jawab Shen Long.
"Sudahlah, jangan pikirkan itu dulu, lebih baik kalian cari dia sekarang juga!"
"Baik yang mulia!"
Semenjak dipenjara di istana bintang, Dewa Huo tidak melakukan apapun selain bermeditasi untuk mengembalikan kekuatannya, walaupun sebelumnya ia terlihat pasrah saat dipenjara oleh Xiao Lang, tapi bukan berarti ia akan diam saja dan tinggal di penjara itu untuk selamanya.
Saat berada di dalam penjara, Dewa Huo sempat berencana untuk menyerang istana bintang, namun dengan kekuatannya kala itu, mustahil ia bisa menang melawan bawahan Dewa Bintang yang sangat banyak. Kalaupun ia berhasil mengalahkan mereka, ia tetap akan kalah jika bertarung dengan Dewa Bintang.
Oleh sebab itu, Dewa Huo memutuskan untuk menuruti keinginan Dewa Bintang, karena menurutnya, akan lebih baik jika dirinya masuk ke penjara selama beberapa waktu, karena saat di dalam penjara itu nanti, dia bisa fokus mengembalikan kekuatannya yang telah terkuras.
Setelah kekuatannya kembali, Dewa Huo benar-benar melancarkan aksinya, ia bahkan berhasil mengelabui Shen Long dan melarikan diri dari penjara istana bintang, dan sebagai seorang Dewa yang kekuatannya setara dengan para penguasa, tentu tidak sulit baginya untuk terbebas dari tempat tersebut.
Istana Bintang.
"Ayah, apa yang terjadi?"
"Dewa Huo telah melarikan diri dari penjara" jawab Xiao Lang.
"Apa? Kenapa dia bisa melarikan diri, ayah? Bukankah paman Shen Long selalu menjaganya?"
"Entahlah, ayah sendiri juga tidak tahu bagaimana dia bisa melarikan diri dari penjara."
"Lien'er dimana adikmu?"
"Dia sedang bersama ibu, apa ayah ingin menemuinya?"
Xiao Lang menggelengkan kepalanya, "Putriku, ayah ingin pergi mencari Dewa Huo, bantu ayah menyampaikan hal ini kepada adik dan ibumu."
"Baik, ayah."
Wushh!
Sebuah tombak melayang dengan kecepatan tinggi dan berhenti tepat didepan Xiao Lang, tombak itu adalah Dragon Spear yang telah menemaninya melewati berbagai macam pertarungan selama ini, bahkan Dragon Spear sudah menjadi bagian dari dirinya.
"Dragon Spear, sepertinya kita akan bertarung bersama lagi" ucap Xiao Lang, kemudian meraih tombak emas tersebut, lalu menghilang dari hadapan Xiao Lien.
***
Kota kekaisaran Song, dimensi ke-lima.
Tujuh hari yang dijanjikan oleh Hong Jun telah berlalu dan pedang yang Lin Feng inginkan benar-benar telah ia selesaikan dengan sempurna, bahkan, Hong Jun menganggap bahwa pedang itu adalah pedang paling sempurna yang pernah ia buat.
"Hahaha, aku sangat yakin, pedang ini pasti lebih bagus dan lebih sempurna daripada pedang pemuda sombong itu!" ucap Hong Jun sembari memandangi pedang berwarna hitam didepannya itu.
Dari bentuknya, pedang tersebut benar-benar sama dengan pedang Dewa Asura milik Lin Feng, namun dari segi ukuran, pedang itu sedikit lebih besar dari ukuran pedang Dewa Asura, begitupun dengan panjangnya yang melebihi panjang pedang Dewa Asura.
"Kalian, bawa pedang ini ke depan, aku yakin pemuda sombong itu akan datang sebentar lagi!"
"Baik, Tuan!"
Butuh empat orang pria berbadan kekar untuk mengangkat pedang tersebut, padahal ukurannya tidak terlalu besar, namun berat yang dimiliki oleh pedang tersebut justru berkali-kali lipat melebihi ukurannya, dan tentunya, kekuatan dari pedang itu juga melebihi ukurannya sendiri.
"Kebetulan sekali, aku baru saja sampai di sini dan pedangku ternyata sudah selesai" ucap Lin Feng yang baru saja sampai di tempat Hong Jun.
"Hahaha, bagus karena kau sudah datang, lihatlah hasil kerja kerasku, aku yakin kau tidak akan kecewa" sahut Hong Jun.
"Biar kucoba" Lin Feng meraih gagang pedang tersebut dan mengangkatnya dengan santai, seakan-akan pedang itu tidaklah berat sama sekali.
"Bentuk dan ukurannya benar-benar sesuai dengan keinginanku, hanya saja, pedang ini terasa jauh lebih ringan" ucap Lin Feng.
"Apa kau baru saja mencela hasil kerja kerasku?" sebagai seorang ahli pandai besi, Hong Jun telah membuat banyak senjata dan belum pernah menerima kritikan sama sekali, jadi sangat wajar jika dirinya kesal mendengar ucapan Lin Feng.
"Jangan salah paham, aku menyukai pedang yang kau buat ini" jawab Lin Feng, lalu mengeluarkan dua peti kayu yang cukup besar dari cincin penyimpanannya, "Ini dua ribu keping koin platinum yang aku janjikan padamu."
"Cihh, kenapa kau tidak jujur saja kalau pedang ini jauh lebih baik dari pedangmu?"
"Hahaha, kau terlalu percaya diri, Tuan Hong, pedang ini sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan pedangku dalam segi apapun."