
Esoknya.
Setelah sarapan, Lin Tian dan Xie Long kembali melanjutkan perjalanan mereka menyusuri hutan para monster, kali ini, Lin Tian berniat untuk membawa Xie Long menuju ke danau yang ada di tengah-tengah hutan tersebut.
Menurut cerita yang pernah ia dengar dari Lin Feng, di danau itu terdapat energi alam yang sangat besar, didalamnya juga terdapat banyak sumberdaya tingkat tinggi dan langka, sehingga membuat tempat itu menjadi tempat yang cocok untuk berkultivasi.
Akan tetapi, selain memiliki energi alam yang besar dan sumberdaya yang berlimpah, tempat itu juga merupakan tempat yang sangat berbahaya, karena di sana merupakan tempat berkumpulnya para Beast kuat di hutan para monster.
Pada awalnya, tempat itu merupakan kediaman dari naga Es, namun karena naga itu telah lenyap dan menjadi bagian dari kekuatan Lin Feng, tempat itupun menjadi tempat berkumpulnya para Beast Monster tingkat tinggi di hutan tersebut.
"Long'er, apa yang kau pikirkan?"
"Tidak apa-apa, guru, aku hanya sedang memikirkan ayah" jawab Xie Long.
"Maksudmu?"
"Ayah adalah sosok yang sangat kuat, dan aku yakin semua orang di Benua ini mengetahui siapa dirinya, aku hanya berpikir, apakah aku mampu berdiri di samping ayah suatu hari nanti?"
"Kau tidak cocok untuk berdiri di sampingnya, karena kau dan Xie Ling lebih cocok berdiri didepannya, juga berada di tempat yang lebih tinggi darinya."
Xie Long menggelengkan kepalanya, "Mustahil aku bisa melakukan hal itu" ucapnya.
Lin Tian hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya, "Apa kau mengetahui tentang pedang hitam milik ayahmu?"
"Tentu, pedang itu adalah senjata terkuat yang pernah aku lihat dan aku yakin, pedang ayah juga merupakan senjata terkuat yang pernah ada" jawab Xie Long.
"Lalu, apa kau tahu darimana asalnya?"
Xie Long menggelengkan kepalanya, meski ia mengetahui banyak hal mengenai senjata milik ayahnya itu, dan sudah mendengar banyak cerita mengenai kehebatan pedang hitam tersebut, namun ia tidak mengetahui darimana senjata itu berasal.
"Pedang hitam milik ayahmu itu berasal dari hutan ini, lebih tepatnya dari salah satu dahan pohon yang ada di hutan ini, tapi sayangnya, pohon itu sudah tidak ada lagi" jelas Lin Tian.
"Dahan pohon? Apa paman tidak salah?"
"Tentu saja tidak, karena ayahmu sendirilah yang mengatakan hal itu pada paman, dan tidak mungkin jika ayahmu berbohong" jawab Lin Tian, kemudian menceritakan asal-usul pedang Dewa Asura tersebut.
Saat tengah mengobrol, Lin Tian tiba-tiba saja menghentikan ucapan dan langkah kakinya, kemudian, di depan mereka muncul seekor ular berkepala tiga dengan ukuran tubuh yang sangat besar, tidak lama setelahnya, muncul beberapa ular lain dengan ukuran tubuh yang lebih kecil.
"Manusia, berani sekali kalian menginjakkan kaki di daerah kekuasaan ku!"
Lin Tian tersenyum, kemudian berkata, "Apa kau tidak malu menyebut wilayah ini sebagai wilayah kekuasaan mu?"
"Apa maksudmu, manusia sialan?!"
"Tempat ini berada tidak jauh dari danau, dan seingat ku, danau dan wilayah sekitarnya adalah wilayah kekuasaan naga es" jawab Lin Tian.
"Hahaha, naga es sudah lama mati dan akulah yang membunuhnya, jadi wilayah ini sudah menjadi wilayah kekuasaan ku!" ujar ular berkepala tiga itu.
"Sekali tidak tahu malu tetap saja tidak tahu malu!"
"Lancang! Bunuh kedua manusia tidak tahu diri ini!" ujar ular berkepala tiga.
"Long'er, menghindar sejauh mungkin, biar paman sendiri yang mengatasi ular-ular sombong dan tidak tahu malu ini" ucap Lin Tian, lalu mengeluarkan sebilah pedang dari cincin penyimpanannya.
"Tidak paman, izinkan aku membantu!" ujar Xie Long.
Setelah itu, keduanya melesat dengan kecepatan tinggi kearah ular-ular tersebut, Xie Long langsung berhadapan dengan dua ekor ular sekaligus, sementara Lin Tian, ia berhadapan dengan lima ekor ular bersama dengan pemimpin mereka, yaitu ular berkepala tiga.
Dengan tingkat kultivasinya yang sekarang, tentu tidak sulit bagi Lin Tian untuk menghadapi ular berkepala tiga tersebut, namun ia tidak bisa bertarung dengan bebas karena harus mengawasi Xie Long, bahkan ia lebih sering bertahan daripada melakukan serangan.
"Paman, fokuslah pada pertarungan, tidak perlu mengkhawatirkan aku!" ujar Xie Long yang mengerti akan kekhawatiran pamannya.
Lin Tian tersenyum, "Baiklah, maafkan paman yang masih belum mempercayaimu sepenuhnya" sahut Lin Tian.
Setelah itu, Lin Tian akhirnya bisa bertarung dengan fokus dan tidak terlalu mengkhawatirkan Xie Long lagi, selain itu, ia juga merasa bersalah karena masih belum bisa percaya sepenuhnya kepada keponakannya itu.
"Saatnya untuk serius" gumam Lin Tian, kemudian melompat ke udara.
Disaat yang bersamaan, Lin Tian juga membentuk segel dengan kedua tangannya, lalu di langit muncul lingkaran sihir berwarna biru dengan ukuran yang sangat besar dan memancarkan aura dingin.
"Teknik formasi, hujan tombak beku!"
Kemudian, dari dalam lingkaran sihir tersebut muncul ratusan tombak es yang langsung menghujani para ular tersebut.
Ular berkepala tiga tidak mau kalah, ia juga menyemburkan api dari mulutnya untuk menghadapi serangan Lin Tian, namun kekuatan serangannya masih kalah dari serangan Lin Tian, sehingga ada beberapa tombak es yang mengenai dirinya.
Sementara para bawahannya yang jauh lebih lemah darinya, mereka langsung membeku saat tombak tersebut menancap ditubuhnya, lalu setelah itu, tubuh mereka hancur berkeping-keping akibat hantaman tombak es yang lainnya.
"Sial! Serangan orang ini sangat kuat, jika terus seperti ini, maka aku akan kalah."
Setelah mengetahui kekuatan lawannya jauh lebih besar, ular berkepala tiga itu kemudian melarikan diri dari sana, ia bahkan tidak memperdulikan para bawahannya yang semakin lama semakin berkurang.
"Jangan harap bisa kabur dariku!" ujar Lin Tian, kemudian menciptakan sebilah pedang dari kekuatan es, lalu menghilang dari pandangan.
Sesaat kemudian, Lin Tian telah muncul lagi di hadapan ular berkepala tiga tersebut, lalu dengan gerakan yang sangat cepat, Lin Tian mengayunkan pedangnya dan berhasil memenggal salah satu kepala ular tersebut.
"Bersiaplah untuk mati!"
Lin Tian kemudian melanjutkan serangannya dan berhasil memenggal satu lagi kepala ular tersebut, lalu setelah itu, ia menciptakan satu bongkahan es yang sangat besar kemudian menghantam tubuh ular tersebut.
Dhuaarrr!
Ledakan yang sangat dahsyat terjadi saat bongkahan es raksasa itu menghantam tubuh ular berkepala tiga, yang membuat tubuhnya langsung membeku seketika itu juga, kemudian, Lin Tian melesat dengan kecepatan tinggi dan menghancurkan tubuh beku ular berkepala tiga dengan satu pukulan.