
Istana bintang, dimensi ketujuh.
Xie Ling duduk termenung menatap keluar jendela kamarnya, walaupun sudah menguatkan hati untuk meninggalkan keluarganya, namun nyatanya, ia masih saja merasa sedih karena jauh dari mereka semua.
"Ling'er, boleh ibu masuk?"
Xie Ling menghela napas panjang, kemudian menghapus jejak air mata di pipinya, kemudian menghampiri pintu dan membukanya, dan tidak lupa, ia juga memasang senyuman untuk menyembunyikan kesedihannya.
"Ibu, kakak" sapa Xie Ling pada istri dan juga putri Xiao Lang.
Kedatangannya di istana bintang tidak hanya disambut dengan baik oleh semua orang, tapi juga disambut dengan baik oleh Luo Li dan anaknya, bahkan Luo Li meminta Xie Ling untuk memanggilnya dengan sebutan ibu.
Selain Luo Li, kehadiran Xie Ling juga disambut dengan hangat oleh Xiao Lien dan Xiao Ling Yun, bahkan kedua putri Dewa Bintang itu sudah menganggap Xie Ling sebagai adik mereka sendiri, dan mereka sangat menyayanginya.
"Ling'er, kenapa kau mengurung diri di kamar? Apakah ada yang mengganggumu?" tanya Xiao Lien.
"Kalau ada yang mengganggumu, katakan saja pada kami berdua, tidak peduli siapapun dia, kami pasti akan memberinya hukuman!" imbuh Xiao Ling Yun.
Xie Ling tersenyum senang mendengar perkataan kakaknya itu, bahkan ia dapat merasakan betapa mereka sangat menyayanginya, meski begitu, kasih sayang mereka semua tentu tidak bisa disamakan dengan kasih sayang keluarganya.
"Kakak, aku tidak apa-apa" jawab Xie Ling.
"Benarkah?"
Xie Ling mengangguk, "Aku hanya sedikit lelah saja setelah latihan bersama paman" ucapnya.
"Ling'er, apa kau merindukan keluargamu?"
Sebagai seorang ibu, Luo Li tentu dapat merasakan apa yang tengah Xie Ling rasakan, dan walaupun senyumannya itu berhasil menipu semua orang, namun tidak dengan Luo Li, karena dia dapat melihat semuanya dengan jelas.
Luo Li menghampiri Xie Ling, kemudian memeluknya dengan erat, "Jika kau mau, ibu bisa membawamu ke sana."
"Tidak, Bu. Aku tidak akan kembali sebelum latihan ku selesai" sahut Xie Ling.
"Kalau begitu, berhentilah menangis, karena semua orang yang ada di sini adalah keluargamu juga."
Xie Ling mengangguk dan membalas pelukan Luo Li, walaupun wanita yang tengah ia peluk itu bukanlah ibunya, namun hangatnya pelukan Luo Li mampu memberikan rasa nyaman padanya.
"Ling'er, bagaimana kalau kau ikut bersama kami."
"Kemana?"
"Ikut saja, nanti kau akan tahu sendiri" jawab Xiao Lien.
"Tapi..."
"Tenang saja, ayah pasti bisa memakluminya" ujar Xiao Ling Yun.
"Pergilah, ibu akan menjelaskan semuanya pada pamanmu nanti."
"Terima kasih, ibu" ucap Xie Ling, kemudian mengikut kedua saudari angkatnya itu.
Benua Bintang.
Demi untuk menghilangkan kesedihan yang Xie Ling rasakan, Xiao Ling Yun dan Xiao Lien memutuskan untuk membawanya mengunjungi beberapa tempat yang menyajikan pemandangan indah di Benua Bintang.
Benar saja, dengan mereka mengunjungi beberapa tempat itu, tidak hanya berhasil membuat Xie Ling melupakan kesedihannya, tapi juga berhasil mengembalikan keceriaannya yang sempat hilang.
"Kakak, kemana tujuan kita selanjutnya?" tanya Xie Ling.
"Sebenarnya masih banyak tempat yang ingin kami tunjukkan padamu, tapi sebelum itu, kita harus mengisi perut terlebih dahulu" jawab Ling Yun.
Tidak lama berselang, mereka bertiga akhirnya sampai di salah satu kota di wilayah Utara Benua Bintang. Setelah memasuki kota tersebut, mereka berdua langsung membawa Xie Ling menuju ke salah satu restoran yang ada di sana.
***
Kedatangan mereka bertiga menarik perhatian para pengunjung restoran, khususnya pengunjung laki-laki yang nampaknya mengagumi kecantikan mereka bertiga, bahkan ada yang berusaha untuk mendekati mereka.
"Lihatlah, kecantikan mereka sudah seperti para Dewi saja" ucap salah seorang pengunjung restoran pada temannya.
"Apa tuan muda tidak ingin mendekati mereka?"
"Tentu saja!" ujar salah seorang dari mereka, kemudian menghampiri mereka Xie Ling dan kedua kakak angkatnya.
"Nona, boleh aku bergabung dengan kalian?" tanya pemuda itu dengan sopan.
"Maaf, kami sedang tidak ingin diganggu" jawab Xiao Lien.
"Kalian tenang saja, aku hanya ingin mengobrol bersama kalian dan sama sekali tidak ada niat untuk mengganggu kalian."
Walaupun dirinya sudah ditolak, namun pemuda itu tidak langsung menyerah begitu saja, karena selama ini, ia tidak pernah gagal mendapatkan apapun yang ia inginkan, sekalipun itu dengan menggunakan cara paksa ataupun dengan kekerasan.
"Dengar, suasana hati adikku sudah mulai membaik dan aku harap, kau bisa pergi sebelum kehadiranmu mengubah suasana hatinya lagi."
"Benarkah? Aku sangat pandai mengobati hati yang sedang terluka, katakan saja apa masalahnya, aku pasti akan menyelesaikannya untukmu."
Tidak hanya tidak menghiraukan perkataan dan peringatan yang diberikan oleh Xiao Lien, pemuda itu bahkan duduk dengan santainya di sebelah Xiao Ling Yun seolah sudah mendapatkan izin dari mereka.
Selain itu, sikap yang ia tunjukkan seolah dirinya sangat akrab dan sudah mengenal mereka sejak lama, padahal pemuda itu sama sekali belum mengetahui siapa mereka bertiga sebenarnya.
Karena sudah tidak tahan dengan sikap pemuda itu, Xiao Lien kemudian bangkit dari tempat duduknya dan tanpa basa-basi lagi, ia langsung mencengkeram kepala pemuda itu lalu menghantamkan kepalanya ke meja.
Akibatnya, meja yang hanya terbuat dari kayu itu langsung hancur karena dihantam dengan sangat keras, sedang pemuda itu hanya bisa berteriak kesakitan serta meminta bantuan pada teman-temannya.
"Aku sudah berusaha sabar, tapi sikapmu benar-benar membuatku muak!" ujar Xiao Lien.
"Wanita sialan! Berani sekali kau melukai tuan muda kami!"
"Tidak hanya melukai, tapi aku juga berani membunuhnya" ucap Xiao Lien, kemudian mengeluarkan sebilah pedang dari cincin penyimpanannya.
"No-nona, ma-maafkan aku."
"Sudah terlambat!" ujar Xiao Lien kemudian bersiap untuk memenggal kepala pemuda itu, namun ia malah dihentikan oleh Xie Ling.
"Kakak, aku tidak ingin menimbulkan masalah."
Xiao Lien menghela napas panjang, kemudian menyimpan lagi pedangnya, namun karena masih belum puas, ia menendang pemuda itu hingga tubuhnya terlempar sampai menabrak dinding restoran.
Beberapa pemuda lainnya bergegas menghampiri pemuda yang ditendang Xiao Lien, mereka kemudian mengangkat tubuhnya dan membawanya pergi meninggalkan restoran, tapi bukan berarti mereka akan diam saja.
"Ling'er, aku masih tidak mengerti kenapa kau menghentikan-ku" ucap Xiao Lien.
"Kakak, aku hanya tidak ingin menimbulkan masalah, lagipula, tujuan kita ke sini adalah untuk bersenang-senang."
"Baiklah, aku akan menuruti apapun yang kau inginkan" sahut Xiao Lien.
Selesai makan, mereka bertiga memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, namun setelah sampai di luar gerbang, mereka malah dihadang oleh sekelompok kultivator, diantara mereka juga ada para pemuda yang sebelumnya berada di restoran.
"Bukankah sudah aku peringatkan untuk tidak mengganggu kami lagi?!"
"Kau sudah membuat tuan muda kami terluka parah dan sekarang, kami akan membalas perbuatan kalian!"