Night King: The Asura

Night King: The Asura
Ch-210. Xie Long cemburu?


Kediaman keluarga Xi.


Pertemuannya dengan Huanran saat di kota membuat Tuan Muda keluarga Xi menjadi tidak tenang, bayangan kecantikan Huanran masih tergambar jelas di matanya dan tersimpan dengan baik dalam ingatannya.


Namun, ia tentu tidak bisa mendekati gadis cantik itu begitu saja, karena dua pengawalnya bukanlah orang biasa, dari kekuatan yang mereka tunjukkan sebelumnya, sudah jelas jika kedua pengawal itu adalah kultivator tingkat tinggi.


Jika dia mendekati Huanran dengan cara yang sama seperti sebelumnya, sudah pasti kedua pengawal itu akan menghentikannya, dan bukan tidak mungkin jika dirinya akan berakhir seperti tiga temannya sebelumnya.


"Sial! Kenapa aku tidak bisa melupakan gadis itu?"


"Siapa yang tidak bisa kau lupakan, anakku?"


Xi Ao Tian tersentak saat mendengar suara seseorang dari belakangnya, ia kemudian menoleh dan menemukan keberadaan ayahnya yang sudah berada di sana. Ao Tian tertunduk malu saat mengingat pertanyaan ayahnya barusan.


"Apa putra ayah sudah menemukan pujaan hatinya?" Xi Hong Qin melontarkan pertanyaan kedua.


Ao Tian mengangguk pelan, ia tidak berani menyembunyikan apapun dari ayahnya itu, kalaupun bisa ia sembunyikan, ayahnya pasti akan langsung mengetahuinya, oleh karena itu, ia lebih memilih untuk jujur daripada harus berbohong dan akhirnya akan ketahuan juga.


"Benarkah? Nona dari keluarga mana yang berhasil merebut hati putraku ini?"


"Aku tidak tahu ayah, karena aku lupa menanyakan namanya saat kami bertemu" jawab Ao Tian.


Hong Qin mengerutkan alisnya, kemudian tertawa sembari menepuk pelan pundak anaknya itu, "Berjuanglah, jika kau butuh bantuan ayah, jangan segan-segan untuk mengatakannya" ucapnya.


Ao Tian mengangguk paham, sebenarnya ia bisa saja menceritakan kejadian sebelumnya pada ayahnya itu, namun menurutnya, masalah itu bukanlah masalah besar, sehingga ia tidak perlu melibatkan ayahnya.


Lagipula, ayahnya memiliki urusan yang jauh lebih penting, apalagi posisinya di keluarga Xi ini adalah sebagai seorang kepala keluarga, yang sudah pasti banyak urusan penting yang harus ia selesaikan.


"Yasudah, kalau begitu ayah pergi dulu, masih ada urusan penting yang harus ayah lakukan."


"Ingatlah nak, teruslah maju walaupun memiliki saingan yang berat, dan jangan pernah mundur sebelum mereka menjalin hubungan pernikahan."


"Baik, ayah!"


Perkataan ayahnya membuat Ao Tian menjadi semakin bersemangat untuk mendapatkan Huanran, karena sekarang, ia sudah memiliki pendukung yang sangat besar di belakangnya, dan pastinya, ia tidak akan mengecewakan ayahnya sendiri.


***


Sementara itu.


"Kau kenapa?" tanya Huanran yang merasa aneh dengan perubahan sikap Xie Long.


"Bukan apa-apa!" ujarnya, masih dengan suara yang terdengar acuh.


Huanran mengerutkan alisnya, "Oh, apa kau masih memikirkan perkataan Tuan Muda itu?"


Xie Long mendesah pelan, kemudian menoleh pada Huanran, "Aku tidak ingin kau mendekati pria lain!"


Huanran mengangkat sebelah alisnya, walaupun tidak menunjukkan ekspresi apapun, namun dalam hatinya, ia sangat senang mendengar perkataan Xie Long barusan, dan ia yakin, Xie Long memang memiliki perasaan yang sama sepertinya.


Hanya saja, Huanran tidak ingin terlalu berharap, dan kalaupun yang ia pikirkan memang benar adanya, ia akan tetap menunggu dengan sabar sampai pria pujaan hatinya itu mengungkapkan perasaannya dengan sendirinya.


"Apa hak mu melarang ku?"


"Karena kau..." Xie Long menggantung ucapannya, kemudian menghela napas panjang untuk menenangkan pikirannya, "Maaf, aku sudah keterlaluan."


Huanran tersenyum dibalik cadar transparan yang ia kenakan, "Zilong, hatiku sudah menjadi milikmu dan tidak ada pria lain yang bisa merebutnya darimu" ucapnya dalam hati.


Sementara itu, Xiao Xue yang sejak tadi hanya menjadi mendengar setia, malah semakin tidak mengerti dengan dua remaja didepannya itu. Padahal, sudah jelas mereka saling menyukai tapi sikap mereka malah seperti tidak menyadari hal itu sama sekali.


"Entah kenapa sikap mereka malah membuatku semakin kesal!" ucapnya dalam hati.


***


Meski belum pernah melihat Beast itu secara langsung dan baru pertama kali mendengarnya dari Xin Yi, namun Lin Feng yakin ia bisa membedakan Beast itu dengan Beast lain, lagipula tidak ada yang bisa disembunyikan dari matanya.


Namun sayangnya, perjuangannya selama beberapa bulan ini tidak membuahkan hasil sama sekali, jangankan menemukan Beast Surgawi itu, bahkan jejak dan tanda-tanda keberadaannya tidak berhasil ia temukan di dimensi manapun.


"Hah" Lin Feng menghela napas panjang untuk membuang beban pikiran yang membuatnya merasa lelah, "Sebaiknya aku kembali, aku butuh pelukan hangat Ning'er untuk menjernihkan pikiran" gumamnya.


"Selain itu, aku juga merindukan mereka bertiga" lanjutnya, kemudian membuka gerbang dimensi menuju ke dimensi pertama dan setelah gerbang terbuka, Lin Feng langsung melesat masuk ke dalamnya.


"Kira-kira, sudah sejauh mana peningkatan mereka?"


Selama beberapa bulan ini, Lin Feng hanya fokus menemukan keberadaan Beast Surgawi, bahkan ia tidak pernah lagi memantau perkembangan anak-anaknya dengan kemampuan khusus yang ia miliki, begitupun dengan Wu Nan yang masih berada di dimensi kesembilan.


Lin Feng berpikir sejenak, dalam hatinya ada keinginan yang besar untuk memantau anak-anaknya, namun setelah dipikirkan lagi, iapun mengurungkan niatnya itu, karena tidak lama lagi, dia akan segera sampai di dimensi pertama.


Istana kekaisaran Luo.


Luo Ning yang tengah mengajari Jia Zhen mengenai kultivasi, mendadak menghentikan ucapannya ketika merasakan aura keberadaan Lin Feng, dan benar saja, tidak lama berselang, sebuah gerbang dimensi terbuka tidak jauh darinya.


Luo Ning berdiri dan bergegas menghampiri Lin Feng yang baru saja keluar dari gerbang dimensi, kemudian ia melompat kedalam pelukan suaminya untuk melepaskan kerinduan yang selama ini ia pendam.


"Gege, aku merindukanmu."


"Aku juga, Ning'er" sahut Lin Feng.


"Ayah!"


Teriakan Jia Zhen membuat Lin Feng melepaskan pelukannya, meski sebenarnya masih ingin berlama-lama memeluk Luo Ning, namun ia tidak mungkin mengabaikan putra bungsunya itu, lagipula masih banyak waktu untuk melepaskan kerinduan.


"Zhen'er" sahut Lin Feng, kemudian memeluk putra bungsunya itu, "Bagaimana kabarmu?"


"Ayah, aku tidak kemana-mana, jadi aku sudah pasti baik-baik saja, yang seharusnya bertanya itu aku. Bagaimana keadaan ayah?"


Lin Feng tersenyum senang mendengar perkataan putranya, seketika itu juga, rasa lelah karena beban pikiran yang menumpuk langsung menghilang, "Ayah baik-baik saja."


"Dimana kakakmu?"


"Kak Long atau kak Ling?"


"Kak Ling" jawab Lin Feng.


"Kak Ling belum kembali."


Dahi Lin Feng berkerut, "Memangnya dia kemana?"


"Menemui kak Long di Daratan Suci."


"Bocah! Jangan bicara sembarangan!" ujar Xie Ling yang baru saja tiba bersama Xiao Xie, meski begitu, ada sedikit rasa gugup dalam dirinya, apalagi tatapan ayah dan ibunya kini tertuju padanya.


"Ayah, kapan ayah kembali?"


"Ayah baru saja datang, kau sendiri dari mana?"


Xie Ling tidak langsung menjawab, ia bergegas menghampiri ayahnya dan memeluknya dengan erat, seraya berharap ayahnya melupakan pertanyaannya barusan.


"Ayah, aku sangat merindukan ayah."


"Ayah juga sangat merindukan kalian" sahut Lin Feng.