
Perjalanan Jia Zhen mencari keberadaan ayahnya sudah berlangsung selama satu bulan, namun sampai saat ini ia masih belum berhasil menemukan jejak keberadaan ayahnya, bahkan aura keberadaannya saja tidak mereka temukan.
Meski begitu, Jia Zhen tidak pernah mengeluh ataupun menyerah untuk mencari Lin Feng, bahkan ia tidak merasa lelah sedikitpun, walaupun mereka sudah melakukan perjalanan antar dimensi yang sangat jauh.
"Tuan Muda, bagaimana kalau kita beristirahat sejenak?"
Jia Zhen menoleh pada Huise, "Apa paman lelah?"
Huise menggeleng pelan, ia tentu tidak merasa lelah, begitupun dengan semua anggota pilar kematian, karena mereka memiliki stamina yang jauh lebih besar daripada Jia Zhen. Namun, yang mereka pikirkan adalah Jia Zhen itu sendiri.
Meski putra bungsu Lin Feng itu tidak menunjukkan rasa lelah sedikitpun, namun mereka semua tentu mengetahui jika Jia Zhen sedang kelelahan, hanya saja, ketenangan yang ada pada dirinya mampu menyembunyikan semua hal yang ia rasakan.
"Kalau paman tidak lelah, kenapa harus istirahat?"
"Tuan Muda, kami semua tahu jika Tuan Muda sangat mengkhawatirkan keadaan Tuan, tapi jangan sampai Tuan Muda melupakan kesehatan diri sendiri."
"Kita sudah melakukan perjalanan selama satu bulan, tapi..."
"Paman, aku tidak lelah" ujar Jia Zhen memotong ucapan Huise.
Huise terdiam, ia tidak bisa membantah atau memberikan alasan lain lagi, karena perkataan Jia Zhen barusan, bisa diartikan sebagai perintah untuknya agar tidak membantah lagi.
"Tu-tuan Muda" panggil Heilong.
Jia Zhen menoleh dan tersenyum, "Ada apa, paman?"
Heilong diam, raut wajahnya menunjukkan rasa gugup yang ia rasakan, ia kemudian menoleh pada yang lainnya, seolah meminta bantuan pada mereka, namun mereka semua malah membuang muka.
"Paman, ada apa?" Jia Zhen mengulang pertanyaannya.
"Tuan Muda, a-aku lapar" jawab Heilong.
Perkataan Heilong membuat Huise dan yang lainnya tercengang, wajah mereka nampak memerah menahan tawa. Bagaimana tidak, alasan yang diberikan oleh Heilong benar-benar sangat konyol.
Tidak hanya mereka, bahkan Jia Zhen pasti mengetahui siapa Heilong sebenarnya. Lalu, alasan yang ia berikan tentu terdengar konyol, karena bagaimana mungkin seorang Dewa bisa merasakan lapar?
Jia Zhen tersenyum seraya menggeleng pelan, ia tentu mengetahui alasan Heilong berkata seperti itu, "Baiklah, kalau begitu kita istirahat sebentar, dan siapkan makanan untuk kita semua."
"Baik, Tuan Muda!"
Setelah itu, Jia Zhen mendekati salah satu pohon yang cukup besar di sana, kemudian ia duduk di bawahnya dan mulai bermeditasi untuk mengembalikan energinya yang telah terkuras.
"Lapar, ya?"
"Kenapa? Apa kalian mau mengejekku!?"
"Hahahaha!" tawa Lang Diyu akhirnya pecah setelah susah payah ia tahan, "Alasanmu benar-benar konyol!"
"Setidaknya aku sudah berusaha dan kalian sudah melihat hasilnya!"
"Kau benar, aku tidak menyangka Tuan Muda mau mendengar alasan konyol-mu itu" sahut Du Fang Ren.
"Sudahlah, sebaiknya siapkan makanan untuk Tuan Muda, dia pasti sudah lapar" ujar Huise.
***
Selesai makan.
Karena sudah hampir gelap, Huise menyarankan agar mereka melanjutkan perjalanan esok harinya, namun lagi-lagi, hal itu ia lakukan semata-mata demi kebaikan Jia Zhen, agar dirinya bisa beristirahat lebih lama lagi.
"Tuan Muda, mohon pertimbangkan saran-ku ini" ucap Huise seraya berlutut.
"Kami mohon, Tuan Muda!" sahut yang lainnya dengan melakukan hal yang sama.
"Apa lagi alasannya sekarang? Apakah diantara kalian ada yang mengantuk?" tanya Jia Zhen dengan maksud bercanda.
Heilong tertawa canggung, "Ma-maaf, Tuan Muda, a-aku memang sedikit mengantuk, mu-mungkin karena terlalu kelelahan" ucapnya.
Lagi dan lagi, alasan konyol yang diberikan Heilong mengharuskan yang lainnya bersusah payah menahan tawa, bahkan mereka membuang muka agar tidak menatap Heilong yang sedang bertingkah konyol.
Ada perasaan haru dan bahagia yang tergambar di wajah Huise dan yang lainnya ketika melihat Jia Zhen tertawa, terharu karena bisa melihat tawa bahagia Jia Zhen lagi, dan bahagia karena mereka mulai bisa mengembalikan keceriaan anak itu.
"Heilong, teruslah bertingkah konyol agar Tuan Muda tertawa!" ujar Lang Diyu pelan, namun nada suaranya terdengar seperti mengancam.
"Hah!? Kenapa harus aku?"
"Karena diantara kita semua, hanya kau yang selalu bersikap konyol."
"Itu benar, bahkan kekonyolan-mu pernah membuat Tuan tertawa hingga mengeluarkan air mata."
"Berjuanglah, adikku!"
Heilong menghela napas panjang, ia benar-benar tidak menyangka jika saudaranya akan menempatkan dirinya di posisi seperti itu. Memang benar, tujuan mereka adalah demi kebaikan Jia Zhen, tapi disisi lain, entah kenapa Heilong merasa dirinya sedang dibodohi.
"Baiklah, akan kulakukan!" ujarnya pasrah.
"Kau tenang saja, sebagai gantinya aku akan memberimu sebuah gelar maha agung" ucap Lang Diyu.
"Apa itu?"
"Mulai sekarang, aku memberimu gelar Dewa Kekonyolan!"
"Hahahaha!"
Tawa Jia Zhen kembali pecah ketika mendengar gelar yang diberikan oleh Lang Diyu pada Heilong, ia benar-benar tidak menyangka jika para pengikut ayahnya itu bisa melakukan hal semacam ini, padahal mereka semua adalah sosok yang luar biasa.
"Lihat itu, tidakkah kau bahagia melihat keceriaan Tuan Muda?" tanya Yin Ouyang.
"Tentu saja aku bahagia, dan demi mempertahankan keceriaan itu, aku sanggup melakukan apapun!"
Malam itu mereka lewati dengan canda tawa, bahkan Jia Zhen tidak bisa berhenti tertawa karena tingkah Heilong yang benar-benar sangat konyol, dan untuk sejenak, ia berhasil melupakan kesedihan yang telah ia pendam selama ini.
***
"Tuan Muda sudah tidur?"
Zhu Lien mengangguk, "Dia tidur dengan nyenyak di pangkuan Zhu Ling" ucapnya.
"Sikapnya semakin berubah sejak kita mengikuti Tuan Muda" sahut Yin Ouyang.
"Aku tidak mempermasalahkan hal itu, lagipula dia sangat menyayangi Tuan Muda. Selain itu, dia sudah menganggap Tuan Muda sebagai putranya sendiri" ucap Huise.
"Adikku itu memang sedikit berbeda, di medan perang, dia mungkin sangat kejam, tapi dalam hatinya masih ada kelembutan."
"Aku justru menyukai sikapnya yang seperti ini."
Du Fang Ren yang lebih banyak diam akhirnya angkat bicara, namun perkataannya justru membuat dirinya menjadi pusat perhatian yang lainnya, dan tatapan mereka seolah meminta sebuah penjelasan darinya.
"Apa?"
"Du Fang Ren, sebaiknya kau jujur saja" jawab Lang Diyu.
"Jujur? Maksudmu?"
"Hah" Lang Diyu menghela napas panjang, "Aku benar-benar bingung dengan kalian bangsa manusia, padahal semuanya sudah terlihat jelas, tapi malah bersikap seolah tidak terjadi apa-apa."
Du Fang Ren mengerutkan dahi, ia semakin tidak mengerti dengan perkataan Lang Diyu, "Apa maksudmu? Aku benar-benar tidak mengerti!"
"Du Fang Ren, kau menyukai adikku?" tanya Zhu Lien.
"Eh? I-itu..."
"Lihat, kan? Inilah yang membuatku sulit mengerti perasaan manusia!" ujar Lang Diyu.
Heilong tiba-tiba saja menghampiri Du Fang Ren, kemudian merangkul pundaknya, "Kakak keempat, kau tenang saja, aku akan membantumu!"