
Di tempat lain.
Setelah melakukan penyelidikan selama beberapa hari, Lin Feng kini mengetahui jika sumber dari masalah yang menimpa Chu Hua dan neneknya sebenarnya hanyalah masalah yang sepele.
Kala itu, nenek Chu sedang sakit keras dan membutuhkan pengobatan, namun karena tidak memiliki uang, Chu Hua akhirnya memberanikan diri meminjam uang pada pemimpin desa.
Saat meminjam uang, Chu Hua tidak pernah menawarkan dirinya sebagai alat untuk melunasi hutang tersebut, namun pemimpin desa selalu mempersulit Chu Hua, yang membuat Chu Hua berada di posisi serba salah.
"Apa kalian sudah mencoba meminta keringanan?" tanya Lin Feng.
"Aku sudah berulang kali mencobanya, namun pemimpin desa selalu saja mempersulit ku, karena yang ia inginkan bukanlah uang, melainkan diriku" jawab Chu Hua.
Lin Feng menghela napas panjang sembari memijat pangkal hidungnya, ia merasa bingung harus bagaimana menyikapi masalah ini, karena masalah ini sebenarnya adalah pribadi dan sulit baginya untuk ikut campur.
Tapi disisi lain, ia tidak bisa mengabaikan Chu Hua dengan neneknya begitu saja, karena ia memiliki hutang nyawa pada mereka berdua, dan jika bukan karena mereka, mungkin Lin Feng sudah tidak bisa menikmati kehidupannya lagi.
"Baiklah, aku akan membantu kalian keluar dari masalah ini." Setelah berpikir cukup lama, Lin Feng akhirnya memutuskan untuk membantu mereka berdua.
"Apa Tuan Lin mau menikahi cucuku?"
Lin Feng tersentak mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh nenek Chu. Ia memang bersedia membantu mereka, tapi untuk menikahi Chu Hua, itu tidak akan mungkin terjadi, karena dalam hidupnya hanya ada satu wanita yang ia cintai.
Kalaupun ia bersedia menikahi Chu Hua, Lin Feng tidak yakin apakah istrinya bisa menerima hal itu atau tidak, dan bukan tidak mungkin jika dirinya akan dibenci oleh semua keluarganya, terutama ibunya yang pastinya akan sangat marah.
"Nenek, aku memang mau membantu, tapi bukan..."
"Nek, Lin Feng sudah menikah dan aku tidak mau menikahi suami orang" Chu Hua memotong penjelasan Lin Feng.
"Benarkah?" Nenek Chu menoleh pada Lin Feng seolah mencari kebenaran dari pemuda tersebut, namun saat melihat Lin Feng mengangguk, ia hanya bisa menghela napasnya.
"Sayang sekali" ucapnya pelan.
Lin Feng kembali menghela napasnya, ada rasa tidak enak hati saat melihat kekecewaan di raut wajah nenek Chu, namun mau bagaimana lagi, ia tidak mungkin mengkhianati Luo Ning, karena dirinya sudah bersumpah untuk tidak mengkhianati istrinya itu.
"Wanita tua, keluar kau!"
Teriakan seseorang yang berasal dari halaman rumah, berhasil mengejutkan Lin Feng yang tengah mengobrol bersama Chu Hua dan neneknya, dan saat melihat ketakutan di wajah mereka berdua, Lin Feng sudah dapat menebak siapa yang datang.
"Kalian tunggu di sini, aku akan mengatasi mereka" ucap Lin Feng, kemudian keluar dari rumah.
"Siapa kau? Dan dimana kedua wanita sialan itu!?"
"Mereka ada di dalam" jawab Lin Feng.
Kepala desa mengamati penampilan Lin Feng dari atas sampai bawah, senyuman remeh nampak terukir di bibirnya ketika melihat Lin Feng yang hanya memiliki satu tangan, apalagi ketika merasakan tidak adanya aura kultivasi di tubuhnya.
"Kalian yakin pemuda ini yang membunuh anggota kalian?"
"Benar Tuan, kami mendengar pengakuan pemuda itu secara langsung!"
Pemimpin desa terkekeh pelan, "Pemuda cacat ini bisa membunuh orang? Kalian ini bodoh atau bagaimana?"
"Sudahlah, aku tidak ingin mendengar alasan apapun lagi, habisi pemuda itu dan bawa kedua wanita sialan itu ke hadapanku!"
"Baik, Tuan!"
Setelah itu, para kultivator yang datang bersama pemimpin desa bergerak maju mendekati Lin Feng, namun langkah kaki mereka mendadak terhenti ketika sebuah portal dimensi terbuka tepat didepan mereka semua.
"Aku ingin lihat siapa yang berani menyentuh ayahku!" ujar Jia Zhen melangkah keluar dari dalam portal dimensi, kemudian diikuti oleh Huise dan yang lainnya.
"Orang yang akan membunuh kalian semua!" jawab Jia Zhen, kemudian memberikan isyarat pada Huise dan yang lainnya.
"Biar aku saja!" Lang Diyu menghentikan Huise yang ingin menghadapi para kultivator tersebut.
"Selesaikan dengan cepat!"
"Aku tidak akan menghabiskan banyak waktu untuk membinasakan para sampah ini!" sahut Lang Diyu, kemudian menyerang para kultivator tersebut dan hanya butuh waktu beberapa detik baginya untuk membinasakan mereka semua.
Disisi lain.
Jia Zhen langsung menghampiri Lin Feng dan memeluk tubuh ayahnya itu dengan erat, kesedihan yang begitu besar langsung memenuhi diri Jia Zhen, bahkan ia sampai tak kuasa menahan air matanya melihat keadaan ayahnya sekarang.
Sama halnya dengan Jia Zhen, Huise dan yang lainnya juga merasakan kesedihan yang begitu mendalam, meski begitu, mereka semua tetap merasa senang karena bisa bertemu Lin Feng dalam keadaan hidup.
"Sudah, kau itu laki-laki" ucap Lin Feng menenangkan putranya.
"A-ayah, aku minta maaf, andai saja aku memiliki kekuatan, semua ini pasti tidak akan pernah terjadi pada ayah."
"Tidak perlu minta maaf, ini semua sudah menjadi takdir ayah dan kau juga harus bisa menerimanya."
Jia Zhen mengangguk pelan, setelah berhasil mengontrol emosinya, ia kemudian melepaskan pelukannya lalu menghapus jejak air mata yang masih tersisa di pipinya.
"Ayah, mari kita pulang sekarang, ibu sangat membutuhkan ayah."
Lin Feng menghela napas panjang, "Ayah juga ingin segera pulang, tapi masalahnya adalah, ayah terjebak di dimensi ini."
"Maksud ayah?"
Lin Feng mengarahkan pandangannya pada Huise dan yang lainnya, "Apa kalian bisa merasakan energi Dewa dalam tubuh kalian?"
Huise tersentak mendengar perkataan Lin Feng, kemudian memeriksa tubuhnya dan benar saja, energi Dewa di dalam dirinya benar-benar lenyap tanpa jejak, begitupun dengan yang lainnya.
"Ini..."
"Inilah alasan yang membuatku tidak bisa kembali ke dimensi pertama" sahut Lin Feng.
Pada saat yang bersamaan, Chu Hua dan neneknya juga keluar dari dalam rumah, namun mereka nampak kaget ketika melihat Jia Zhen dan yang lainnya, padahal mereka sempat berpikir jika pemimpin desa-lah yang datang ke rumah mereka.
Melihat Chu Hua dan neneknya yang kebingungan, Lin Feng kemudian menjelaskan siapa Jia Zhen dan yang lainnya kepada mereka semua.
Selain itu, Lin Feng juga menjelaskan jika sebelumnya memang ada pemimpin desa dan kini, dia sedang pingsan di halaman rumah.
"Lalu, dimana orang-orang yang datang bersamanya?"
"Mereka sudah menjadi abu" jawab Lang Diyu.
"Menjadi abu?"
"Intinya mereka tidak akan pernah mengganggu kalian lagi, dan kalau kalian masih khawatir, aku akan melenyapkan mereka sampai ke akarnya!"
"Te-terima kasih, tuan, tapi tidakkah hal itu terlalu berlebihan?"
"Tidak ada kata berlebihan dalam hidupku" jawab Lang Diyu.
Chu Hua dan neneknya hanya bisa tersenyum kecut, mereka tidak menyangka jika teman-teman Lin Feng ternyata memiliki sifat yang mengerikan, dan bisa dilihat jika mereka tidak merasa bersalah walau telah membunuh orang.