
Suasana menegang saat Xie Long dan Tuan Yang saling mengarahkan tatapan tajam, para prajurit keluarga Xi yang menyaksikan hal itu hanya bisa diam, namun dalam hatinya, mereka merasa sangat senang.
Tuan Yang adalah orang yang paling disegani di kota Padang Pasir ini, dan kekuatannya sendiri masih belum diketahui dengan jelas. Dan saat ini, Xie Long begitu berani menantang Tuan Yang, jika pertarungan mereka terjadi, maka keluarga Xi-lah yang paling diuntungkan.
"Hahahaha!" Suasana yang sempat menegang itu terpecahkan oleh suara tawa Tuan Yang, "Aku suka semangatmu anak muda!" ujarnya.
Xie Long menyunggingkan senyuman dibalik penutup wajahnya, "Aku tidak keberatan jika Tuan Yang ingin memberikan sedikit bimbingan padaku."
"Tentu, bagaimana kalau setelah ini?"
"Sekarang juga tidak masalah!"
Tuan Yang mengangkat sebelah alisnya, "Lalu, bagaimana dengan mereka?"
"Kekasihku akan baik-baik saja."
"Maksudku, mereka."
"Untuk apa menghiraukan semut yang hanya suka mengganggu? Bukankah akan lebih baik jika dimusnahkan saja?"
Para prajurit keluarga Xi terlihat sangat kesal mendengar percakapan antara Xie Long dan Tuan Yang, apalagi saat mendengar Xie Long menyamakan diri mereka dengan semut-semut pengganggu.
Namun, untuk saat ini tidak ada yang bisa mereka lakukan selain menjadi pendengar yang baik, karena jika mereka berani melakukan sesuatu, Tuan Yang pasti akan langsung turun tangan untuk menghentikannya.
Jika hanya sekedar menghentikan mereka saja, mungkin tidak akan menjadi masalah. Tapi, jika Tuan Yang turun tangan dan malah menghajar mereka semua, tentunya hal ini akan menjadi masalah yang sangat besar.
"Yasudah, aku sudah mengerti dimana letak permasalahannya, dan aku harap, kedepannya nanti kalian tidak akan menimbulkan keributan lagi di kota ini" ucap Tuan Yang.
"Kalaupun kalian tidak menghormati ku, setidaknya hargailah perjuangan yang mulia Asura dan teman-temannya yang telah menciptakan kedamaian" lanjutnya.
Xie Long mengerutkan alisnya ketika mendengar perkataan Tuan Yang, ia benar-benar tidak menyangka jika Tuan Yang ternyata mengenal ayahnya, walaupun hanya mengenalnya sebagai Dewa Asura.
Selain itu, Xie Long juga kagum dengan Tuan Yang, karena alasan dibalik ketegasannya dalam menjaga keamanan kota Padang Pasir, ternyata adalah untuk menghormati perjuangan ayahnya yang telah menciptakan kedamaian.
"Baik, Tuan Yang!" jawab para prajurit keluarga Xi, kemudian mereka pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Baiklah anak muda, aku ingin tahu siapa kau sebenarnya?" tanya Tuan Yang setelah prajurit keluarga Xi meninggalkan tempat tersebut.
"Aku bukan siapa-siapa, hanya pengembara yang tengah singgah untuk beristirahat."
"Hahahaha!" Tuan Yang kembali tertawa lantang mendengar perkataan Xie Long, "Aku semakin menyukaimu, anak muda! Kata-kata mu mengingatkanku pada seseorang."
"Benarkah, siapa?"
"Dia sosok yang sangat aku kagumi, dan karena dialah aku mengabdikan diri untuk menjaga ketenangan yang telah susah payah ia ciptakan."
"Maksudmu, Dewa Asura?"
"Benar, aku sangat mengagumi yang mulia Asura. Andai saja aku bisa bertemu dengannya."
Xie Long tersenyum mendengar perkataan Tuan Yang, "Baiklah, kalau begitu, kami pamit pergi dan semoga saja Anda bisa bertemu dengan Dewa Asura" ucapnya.
"Semoga saja!" ujar Tuan Yang.
Sebenarnya, Xie Long bisa saja mengungkapkan identitas dirinya pada Tuan Yang dan tentunya, sangat mudah bagi Xie Long mengabulkan harapan Tuan Yang yang ingin bertemu dengan Dewa Asura, karena dia adalah ayahnya sendiri.
Namun, jika Xie Long melakukan hal itu, tentu perjalanannya akan lebih mudah, apalagi setelah Tuan Yang mengetahui identitasnya, dan bukan tidak mungkin jika Tuan Yang akan mengikuti dirinya, dengan alasan menghormati ayahnya.
Sedangkan, yang diinginkan Xie Long bukanlah hal yang seperti itu. Semua orang memang menginginkan jalan yang mudah, begitupun dengan Xie Long, hanya saja, Xie Long ingin mempermudah jalannya dengan usahanya sendiri dan bukan karena ayahnya.
***
Kediaman keluarga Xi.
"Cihh! Sejujurnya aku sudah muak dengan orang itu dan sekarang, dia malah berani ikut campur urusan keluargaku!"
"Patriark, perbuatan Tuan Yang ini tidak bisa dibiarkan begitu saja!"
Xi Hong Qin mengangguk, "Kalian tenang saja, aku pasti akan membalas perbuatannya itu!" ujarnya.
"Lalu, kemana perginya bocah sialan itu?"
"Kami yakin dia masih berada di kota ini, patriark!"
"Baiklah, kerahkan seluruh pasukan dan temukan dia! Jika Tuan Yang ikut campur lagi, maka aku sendiri yang akan turun tangan!"
"Baik, patriark!" ujar para prajurit, kemudian pergi meninggalkan aula tersebut.
Disisi lain.
Tanpa ada yang menyadari, di sudut aula yang tidak terkena pancaran sinar matahari, terdapat sesosok bayangan hitam yang tengah menguping pembicaraan mereka.
"Long'er, sepertinya kau akan menghadapi masalah yang benar" gumam sosok hitam itu, kemudian menghilang dari tempatnya.
Tidak lama kemudian, sosok hitam yang tidak lain adalah Lin Feng kembali muncul di balik awan, pandangannya langsung tertuju pada Xie Long dan Huanran yang tengah menyusuri jalanan kota Padang Pasir.
"Tuan, apa perintah Anda?" tanya Xiao Xue yang juga ada di sana.
"Tugasmu hanya satu, yaitu menjaga putraku dan kekasihnya, tapi ingatlah, jangan pernah ikut campur jika Long'er tidak memintanya secara langsung."
"Baik, Tuan!"
Lin Feng mengangguk pelan, "Baiklah, kalau begitu aku serahkan semuanya padamu."
"Tuan!" ujar Xiao Xie menghentikan Lin Feng yang hendak pergi.
"Ada apa?"
"Apa Tuan tidak mau memperingati Tuan Muda?"
"Biarlah dia mengatasi masalahnya sendiri, jika aku terus-terusan membantunya, malah tidak akan baik untuk perkembangannya."
***
Sementara itu, Xie Long dan Huanran kini tengah menyusuri jalanan kota Padang Pasir, mereka berdua masih terlihat tenang dan santai seperti sebelumnya, padahal, ancaman yang sangat besar tengah mengintai keduanya.
"Zilong"
"Hmm?"
"Dua orang dipuncak menara, tiga dibelakang, lima di samping kiri dan kanan, dan ada puluhan lainnya yang menyebar di seluruh tempat ini" ucap Huanran yang telah menyadari keberadaan musuh.
"Aku tahu."
Xie Long sendiri juga sudah mengetahui jika mereka tengah di awasi dan diikuti oleh banyak prajurit keluarga Xi, namun ia lebih memilih untuk mengabaikan mereka, tapi tentunya, ia tetap waspada dan terus mengawasi pergerakan musuh.
Sebelum mendapatkan kekuatan mata ungu, mungkin akan sulit bagi Xie Long untuk menyadari keberadaan mereka, tapi sekarang, jangankan menyadari keberadaan mereka, bahkan ia bisa melihat dengan jelas dimana saja posisi musuh yang mengintainya.
"Lalu, kenapa kau sangat tenang?"
"Ayah selalu mengajarkan ketenangan padaku, karena hanya saat diri ini tenang, barulah bisa mencari jalan keluar yang terbaik untuk semua masalah" jawab Xie Long.
"Tapi mereka semakin mendekat."
"Xiao Hua, tenanglah, semuanya akan baik-baik saja" sahut Xie Long, namun hanya ditanggapi dengan anggukan oleh kekasihnya itu.