
...♡♡♡...
Pada malam kejadian Panji di siram air keras oleh salah satu pelayan restoran membuat berita terus berkeluaran di sosial media hingga pelayan itu di interogasi oleh pihak media sehingga di situlah kesempatan wartawan merekam kejelasan dari pelayan tersebut namun dia tak mau mengakui siapa yang menyuruhnya untuk mencelakai Panji karena dia hanya mengatakan kalau dirinya lah yang begitu sangat membenci Panji seperti itulah ucapannya di depan para media padahal Panji adalah sosok yang dermawan sehingga orang-orang yang mendengar pengakuan pelayan tersebut seolah tidak percaya sangat berbanding terbalik dengan apa yang mereka ketahui tentang Panji.
Bahkan saat di kantor polisi pun ia di paksa petugas kepolisian mengakui siapa yang menyuruhnya namun dirinya tetap bertahan tak mau mengatakan yang sebenarnya sehingga dia harus di sidang sampai masa penjatuhan hukuman dari hakim.
.
.
.
Kembali lagi di restoran karena Nathan tidak tahu kalau kakeknya sudah masuk rumah sakit.
"Tunggu!" sapa Nathan dari belakang punggung Shopia yang berniat pergi tanpa menoleh.
Karena Shopia tak ingin di curigai oleh Nathan akhirnya dia berbalik arah dengan menoleh pada Nathan dan menatap secara santai. "Ya, apa kau memanggilku? apakah kita saling mengenal?" tanya Shopia tersenyum berusaha tetap tenang.
"Saya Nathan Austin cucu dari Panji Faldo, pasti anda mengenal kakek saya," jawab Nathan dengan sopan pula.
"Ya, aku mengenalnya hanya sekilas memangnya ada apa sampai kau bertanya demikian?" ulang Shopia lagi tak mau kalah dari Nathan.
"Sekilas? bukankah anda karyawan dari kakek saya? atau anda sedang berpura saat ini?" timpal Nathan lagi karena dia belum puas mencari celah dari Shopia.
"Oh!" jawab singkat Shopia pula. "Itu sudah cerita lama, jadi aku tidak perduli dengan yang sudah berlalu untuk apa harus di ingat? kalau tidak ada hal penting aku tinggal dulu!" cetus Shopia yang tidak ambil pusing dengan tatapan tajam Nathan pada dirinya ia pun berbalik arah hendak melangkah pergi.
"Sedang apa anda di sini? saya lihat anda berbicara dengan seorang pelayan secara sembunyi serta memberi sebuah amplop padanya," sergah Nathan lagi hingga ia terus menyelidiki di balik kecurigaannya pada Shopia.
Baru satu langkah Shopia kembali berhenti karena mendengar suara Nathan yang membuatnya semakin jengkel lalu ia menoleh ke arah samping tanpa berbalik melihat Nathan. "Aku bertanya arah toilet dan itu bukan urusan mu! apakah aku harus melapor padamu terlebih dulu? hei nak, belajar lah lebih giat supaya otakmu tidak di dengkul!" dengus Shopia yang terdengar menghina Nathan secara santai.
"Hei kau!" teriak dari kedua bodyguard Nathan namun lngsung di cegah oleh Nathan karena ia tak ingin berurusan sampai ke polisi kalau Shopia di buat hancur oleh keduanya.
"Ck, dasar anj*ng penurut!" cecarnya pula tertuju pada Ded juga Hardi sangat terdengar jelas namun mereka masih di tahan oleh Nathan makanya mereka tak dapat bergerak apalagi mereka tampak geram pada Shopia sehingga mereka ingin menghancurkan mulut Shopia secepat mungkin.
DRRRTTT
Caling mama...
Seketika ia merasakan getaran serta dering dari ponselnya kemudian dia melihat ibunya sedang menghubunginya lalu Nathan dengan cepat mengangkat ponselnya dan melekatkan ke telinganya.
"Halo, ada apa ma?" tanya Nathan dari balik ponsel pintarnya.
..."Nat segera ke rumah sakit karena kakek masuk ruang UGD," kata ibunya pula dari sebrang....
"Apa?! kakek masuk rumah sakit, baik ma aku segera ke sana mama kirim nama rumah sakitnya aku akan langsung bergerak," riuh Nathan tampak begitu panik sehingga membuat Shopia tersenyum puas karena rencananya berjalan mulus.
Kemudian ia mematikan panggilan ibunya dan memasukkan kembali ponsel ke dalam saku celananya.
Karena sudah mendapat panggilan darurat itu Nathan langsung beranjak sigap dari tempatnya tanpa perduli lagi pada Shopia dan di ikuti kedua bodyguardnya pula akan tetapi Hardi menoleh ke belakang terlihat seperti tatapan membunuh ke arah Shopia.
Betapa puasnya Shopia mendengar kabar Panji yang sudah di ambang kematian itulah fikirnya.
Perasaan Nathan sangat tidak enak dia merasa ada hal buruk yang menimpa kakeknya saat ini namun dia coba tetap tenang supaya tidak terlalu panik sehingga Hardi di suruh melajukan mobil dengan cepat supaya bisa segera mengetahui keadaan kakeknya.
Sesampainya di rumah sakit ia melangkah lebih cepat hingga berlari walaupun saat di jalan ia selalu tertabrak oleh orang-orang yang sedang berlalu di depannya.
Keduanya pun juga ikut berlari secara cepat tepat di belakang Nathan.
Akhirnya terlihat ruang UGD yang sudah tak jauh lagi dari jarak pandang matanya.
"Ma, bagaimana keadaan kakek?" tegur Nathan yang terdengar mengatur nafas saat bertanya demikian.
Chelsea dan David berdiri dari tempat duduk mereka saat mendengar suara anaknya itu dan melihat wajah Nathan sudah di penuhi oleh keringat sehingga tampak Nathan menyekanya sesekali.
"Mama tidak tahu keadaan kakek sekarang karena dokter belum keluar juga," jawab ibunya yang tampak sedih apalagi saat dirinya menatap sang suami yang tampak lesu sedari tadi.
"Kenapa kakek bisa sampai masuk rumah sakit? apa yang sebenarnya terjadi ma?" tanya Nathan lagi.
"Ada seorang pelayan menyiramkan air keras ke wajah kakek, mama juga tidak tahu dia bisa mempunyai dendam terhadap kakek," ungkap ibunya membuat Nathan menautkan kedua alis matanya.
"Barusan mama bilang apa? seorang pelayan? sekarang di mana dia?" antusias Nathan saat mendengar pengakuan dari ibunya itu.
Karena ucapan Chelsea barusan membuat David tersadar kalau dia harus segera ke kantor polisi serta menjadi saksi saat kejadian itu.
"Aku harus segera pergi ke kantor polisi kalian di sini saja tunggu sampai dokter keluar," titah David pada istri dan anaknya.
"Apa kau tak menunggu dulu saja?" tanya sang istri seketika.
"Aku ikut," pinta Nathan sejenak.
"Siapa yang menemani mama mu di sini kalau kau juga ikut?" tanya ayahnya pula.
"Ada Hardi juga Ded di sini yang akan menemani mama apalagi aku ingin memastikan sesuatu jadi aku harus ikut," timpal Nathan yang berkeras dengan ucapannya.
"Pergilah kalian biar aku di sini yang akan menunggu papa," turut sang istri berkata pada suaminya karena sudah melirik Nathan yang tampak serius ketika berkata ingin ikut.
David pun manggut ketika istrinya berkata demikian akhirnya David dan Nathan melangkah pergi secara bersama.
Yeap kalau bukan masalah darurat Nathan tidak pernah mau satu mobil dengan ayahnya itu karena dia sangat membenci ayahnya sedari dulu.
Sedari perjalanan keduanya hanya diam tak ada yang berbicara satupun bahkan Nathan tampak berfikir keras mengingat wajah pelayan yang sempat ia lihat ketika bersama Shopia.
^^^To be continued ^^^
^^^🍂 aiiwa 🍂^^^
...Kutipan :...
Senang melihat orang susah dan susah ketika melihat orang senang, itulah ciri-ciri orang yang tak pernah mensyukuri segala nikmat yang sudah dia dapatkan masih kurang dan kurang karena seperti itulah cara kerja setan memperdayai manusia❤️