
...♡♡♡...
Malam itu Khanza berpamit pulang lebih dulu dari Nina sebab ia mengatakan kalau adiknya sedang menunggunya di gubuk apalagi adik-adiknya juga belum makan makanya ia ingin pulang sekaligus membelikan makanan untuk mereka.
Awalnya Nina menolak Khanza seorang diri pulang namun Khanza tak mungkin pulang terlalu malam sudah pasti adiknya akan kelaparan, begitulah perkataan Khanza ketika mereka berbincang masalah biaya perobatan Arka akan tetapi Khanza hendak memberi tahu semuanya pada Nina tentang besarnya biaya yang di keluarkan oleh Khanza maka dari itu Khanza hanya mengatakan kalau dirinya ada sedikit rezeki makanya bisa membantu meringankan beban Nina.
Nina sedari awal berniat ingin mengembalikan uang Khanza yang sudah terpakai untuk perobatan anaknya namun Khanza langsung menolaknya karena ia tidak mau kalau Nina bertambah memikul beban yang berat sebab uang yang di keluarkan Khanza juga tidak sedikit makanya Khanza hanya berpesan pada Nina gunakan uang yang di hasilkan dari berjualan koran untuk merawat Arka supaya kondisinya sehat seperti semula lagi.
Khanza juga mengatakan pada Nina kalau ia mendapatkan uang tersebut juga dari pemberian tuhan untuknya akan tetapi tuhan sudah memerintahkan pada umatnya untuk saling meringankan beban orang lain jika kita mampu untuk membantunya maka dari itulah Khanza menolak jika uangnya di kembalikan bukan karena Khanza sombong atau semacamnya namun ia percaya kalau rezeki akan datang dari arah mana saja tanpa di sadari tuhan akan mengembalikan uang tersebut melalui tangan orang lain pula jika tuhan sudah berkehendak apapun bisa terjadi selama umatnya mau menjalankan semua yang di perintahkannya, begitulah penyampaian Khanza pada Nina sehingga dirinya sempat tak percaya dengan bijaknya Khanza berkata demikian.
Mereka berdua hampir satu jam berbincang di depan ruangan Arka sebab Nina juga sedang menunggu Arka bangun barulah ia bisa membawanya balik ke gubuk dan seusai pembicaraan mereka selesai kini Khanza sedang bersiap untuk kembali lebih dulu kemudian ia berdiri dari duduknya. "Buk sekarang Khanza mau pulang dan maaf Khanza tidak bisa menemani ibuk di sini," katanya pula yang berpamit sebelum ia pergi dengan melontarkan senyuman hangat di wajahnya.
"Iya nak tidak apa, sekarang kau pulang lah berhati-hati di jalan dan sekali lagi ibuk ucapkan terima kasih banyak padamu nak kalau tidak ada kamu ibuk tak tahu harus berbuat apalagi," turutnya pula dengan merendah bahkan ia meraih lengan tangan Khanza serta membalas senyuman hangat yang terlihat di wajah Khanza itu.
"Sama-sama buk, sudah ya ibuk jangan cemas lagi karena Khanza yakin adik Arka akan sehat seperti sebelumnya jadi ibuk harus tetap berjuang untuk kesembuhan adik," sambutnya pula menyentuh tangan Nina yang sudah memegang tangannya. "Khanza pamit dulu," lanjutnya pula sehingga pegangan tangan dari Nina perlahan terlepas.
"Jaga diri mu nak," pesan Nina setelah langkah kaki Khanza sudah tampak ingin berlalu pergi darinya dan Khanza membalasnya dengan senyuman kecil serta anggukan kepala barulah ia berjalan menuju ke luar klinik sedangkan Nina masih melihat Khanza dari kejauhan.
Khanza sudah mulai keluar dari halaman klinik dan dari jarak kurang lebih 1m ia melihat ada yang menjual nasi lengkap dengan menu lauk pauknya lalu ia mempercepat langkahnya menyebrang sembari melihat kanan juga ke kiri setelah merasa aman barulah ia menyebrang mengarah pada warung nasi tersebut.
Sesampainya ia di tempat warung nasi ia pun memesan menu favorit Zizi dan membeli menu lainnya sebab ia membeli dua bungkus nasi untuk mereka bertiga.
Setelah beberapa saat Khanza menerima pesanannya kemudian ia membayarnya lalu ia melangkah pulang dengan berjalan dari arah pinggir.
TIIINN
TINN
Sebuah mobil daihatsu berwarna hitam sedang membunyikan klakson berulang kali sepanjang Khanza berjalan dan dikiranya ia menghalangi jalan tersebut namun ia merasa sudah berjalan di pinggir akan tetapi mobil tersebut terus membunyikan klaksonnya sehingga Khanza berhenti dari langkahnya dan menoleh ke belakang lalu kaca mobil pun terbuka lebar maka wajah yang tampak dari dalam mobil tak asing bagi Khanza.
"Pak dokter?" katanya pula merasa kaget sebab ia melihat dokter Zikmal tepat di hadapannya saat ini.
"Ya nak, saya dokter yang menangani pasien yang kamu bawa."
Turutnya pula dengan berbahasa ramah mengeluarkan sedikit kepalanya dari pintu mobil sehingga Khanza melangkah setapak dari tempatnya menuju mobil pak Zikmal tersebut. "Ada apa pak? apakah terjadi sesuatu dengan adik Arka?" tanya Khanza dengan nada yang sedikit cemas.
"Oh bukan nak, tadi saya melihat mu dari jauh sedang berjalan sendirian dan ingin memastikan saja makanya saya bunyikan klakson supaya kamu melihat ke belakang ternyata benar kamu orang yang saya kenal," katanya pula menjelaskan. "Kamu kenapa berjalan sendirian? bukankah kalian datang ke klinik bersama-sama?" lanjutnya lagi.
"Oh ibuk Nina masih di klinik pak karena saya harus kembali lebih dulu," balasnya dengan tersenyum simpul.
"Yasudah kalau begitu naiklah biar sekalian saya antar pulang," ajaknya secara halus membalas senyuman dari Khanza.
"Ah tidak pak, saya tak ingin merepotkan lagian dekat kok pak tidak terlalu jauh dan jalannya juga lurus ke sana pak," tolaknya dengan sopan pula sembari menunjuk ke arah yang dia maksud.
"Saya tidak merasa di repotkan lagipula arah pulang saya dari sana juga," balasnya sambil menunjuk ke arah satu jalan dengan Khanza kemudian dengan sigap ia membuka pintu mobil depan supaya Khanza tak menolak tawaran darinya. "Ayo nak naik saja tidak apa," bujuknya lagi dengan melontarkan senyuman hangatnya.
Khanza merasa segan serta takut namun ia tak mungkin terus menolak jika sudah mendengar dokter itu berkata demikian sehingga ia berjalan menuju pintu mobil depan sembari membuang nafas kasar dari mulutnya lalu setelah ia masuk ke dalam mobil ia pun duduk dan menutup kembali pintu mobil tersebut secara pelan.
Mobil hitam itu melaju perlahan ketika Khanza sudah masuk ke dalamnya makanya dokter Zikmal terlihat senang karena Khanza menerima tawaran darinya untuk mengajaknya pulang bersama.
.
.
.
Sekitar pukul 23.00 tepat malam hari yang terasa sunyi mencekam.
KLATAKK
Sebuah mancis di hidupkan untuk membakar sebatang rokok milik seorang lelaki yang kini sedang tampak bersandar di pintu mobilnya.
Draap
Drap
"Gimana? sudah beres semua?" tanya lelaki yang menghisap rokok itu tak lain ialah Guntur sedang berbicara pada bawahannya yang datang berlarin ke arah dirinya.
"Sudah bos! semuanya aku bereskan sesuai perintah bos," jawab bawahannya pula seolah tak ada keraguan sebab ia merasa sudah menjalankan tugas dengan rapi.
Yeap, lelaki yang termasuk bawahannya itu merupakan orang yang pernah menyebarkan selembar kertas untuk mencari Khanza ternyata bawahan dari Guntur sendiri.
"Bagus! apa kau sudah periksa tidak ada orang yang melihat mu?" katanya lagi sembari terus menghisap rokoknya dan membuang kepulan asap ke atas.
"Aku pastikan tidak ada yang melihat satupun bos jadi kita akan aman!" lontarnya pula secara meyakinkan.
"Kerja bagus! sekarang kita cabut dari sini," ucapnya dengan rasa puas terlihat di wajahnya lalu ia menginjak puntung api rokoknya lalu ia pun masuk ke dalam mobil serta di ikuti oleh bawahannya itu.
.
.
.
"Kebakaraaan... Ada rumah yang kebakaran... Tolong kebakaran..."
Teriakan dari salah seorang lelaki tua saat ia mau pulang ke rumahnya menggunakan motornya kemudian ia terus menjerit memanggil warga bahkan motornya saja ia biarkan terjatuh sangking paniknya karena api tersebut sudah mulai tak terkendali dan terus melahap apa yang ada.
^^^To be continued^^^
^^^🍂 aiiWa 🍂^^^
...Kutipan :...
Semakin kau baik semakin banyak ujian mu, semakin kau jahat akan semakin mulus pula jalan yang kau lalui itulah adanya ❤️