
...♡♡♡...
"Arka! nak jangan buat ibu takut nak, ya allah nak badanmu panas sekali, nak sadarlah nak jangan tutup mata mu! Arka buka matamu nak...!"
Terdengar dari kejauhan suara seorang wanita yang terus memanggil nama anaknya dari dalam gubuk bahkan orang-orang yang melihatnya merasa kasihan namun mereka juga tak bisa berbuat banyak sebab kalau di bawa berobat sudah pasti membutuhkan biaya apalagi anak bernama Arka itu sudah sering kejang-kejang sendiri dan suhu tubuhnya tidak beraturan terkadang panas bahkan juga sangat dingin.
"Ada apa ini? kenapa kau ribut sekali?" hardik Dani yang baru saja datang sudah tampak kesal.
"Bos Dani, tolong anakku... Dia sudah dari kemarin badannya panas dan sebentar-sebentar badannya dingin jadi aku bingung sekarang harus meminta tolong dengan siapa lagi," lirih dari wanita bernama Nina terlihat mengatupkan semua jemari tangannya dengan menahan tubuhnya di kedua tumit tepat di hadapan Dani.
Setelah mendengar ucapan dari Nina kemudian tak berapa lama Dani menoleh ke belakang sembari menatap seperti membunuh ke arah anak lelaki yang sudah mengajaknya pergi di saat dia bermain kartu.
Zraapp
Kerah baju anak lelaki itu di tarik kuat oleh Dani dengan rasa kemarahan membludak di wajahnya.
"Apa ini yang kau bilang darurat? hah! dasar sialan kau beraninya kau membawaku ke sini hanya untuk melihat hal konyol ini, dasar sampah!" sekuat tenaga ia berteriak serta mengangkat tubuh anak tadi.
Gedubrak
Brakk
Jelas Khanza kaget bahkan yang lainnya juga terpelongo melihat anak lelaki itu di lempar kuat oleh Dani dan kepala anak tadi hampir saja terbentur di sebuah batu yang mereka gunakan untuk memasak sebab penghuni gubuk masih menggunakan kayu sebagai bahan bakarnya namun karena terhalang oleh sebuah kardus yang berisi baju-baju makanya dia terselamatkan dari hal buruk.
Khanza dengan sigapnya berlari ke arah anak lelaki itu dan membantunya untuk berdiri. "Apa kau baik-baik saja? apa ada yang sakit?" tanya Khanza pula kini sudah terlihat cemas di balik wajahnya sehingga ia masih saja memegang kedua bahu anak tersebut.
"Terima kasih, iya aku tidak apa-apa." Jawabnya dengan memberi senyum simpul ketika Khanza membantunya saat ini.
Dani tampak menyeringai ketika terlihat olehnya kalau Khanza sudah membantu anak tersebut seolah Khanza menjadi pahlawan sedangkan ia penjahatnya maka dari itu ia teramat tidak suka sekarang dengan keberadaan Khanza yang selalu berusaha menentang dirinya.
"Bos, jangan salahkan anak itu karena aku lah yang menyuruhnya untuk memanggil bos Dani ke sini dari itu aku sudah kebingungan tidak tahu harus berbuat apalagi jadi salahkan saja aku," ucapnya pula dengan memegang kaki kiri Dani sambil meneteskan air mata di wajahnya.
Battss
Dani menghempas tubuh Nina dari kakinya dengan menendangnya keras.
Brugh
Tubuh Nina terhempas sehingga pegangan di kaki Dani pun terlepas.
"Cihh! apa kau fikir aku ini uang berjalan? se-enaknya kau meminta bantuan ku dari kemarin saja uang yang kau setor tak pernah membuat aku puas dan sekarang kau ingin meminta bantuan ku? jangan mimpi kau, sekarang kau urus anakmu itu jangan sesekali kau ganggu ketenangan ku! kau urus masalah mu sendiri," berang Dani serta menunjuk ke arah Nina dengan amukannya yang penuh cercaan itu.
Nina kembali mengatupkan semua jemari tangannya setelah ia mendengar amukan yang begitu kejam dari Dani namun ia msih saja terus memohon. "Beri aku pinjaman uang sedikit bos untuk membawa anakku berobat aku minta tolong bos Dani dan aku akan berusaha menggantinya secepat mungkin atau tidak bos bisa memotong uang setoran ku, aku mohon bantulah aku bos." Imbuhnya kembali dengan tertunduk dan air mata pun terus menetes dari wajahnya.
"Hah! apa kau bilang? menggantinya? pakai apa? uang mainan atau daun? sedangkan kau menyetor tak pernah lebih malah tak pernah kau menjual koran yang bisa menguntungkanku dan sekarang kau berbicara ingin mengganti uang yang kau pinjam, jangan harap!" ringisnya pula dengan mendengus ke arah Nina dan setelah Dani puas dengan ocehannya ia pun berbalik ingin melangkah pergi namun di saat Dani mau berjalan Nina tampak masih ingin menahan kaki Dani tetapi Khanza lagi-lagi dengan sigapnya berlari untuk menghentikan niat Nina itu.
Di saat Khanza sedang memegang tangan Nina kemudian tampak pula Dani melirik dari samping dan menyeringai bahkan bertambah tidak sukanya ia terhadap Khanza begitu terlihat jelas di wajahnya.
"Minggir kalian, ngapain kalian menumpuk di sini? pergi kerjakan urusan kalian!" sembur Dani pada orang-orang yang menyaksikan sebelumnya serta tampak Zizi juga Taro sedang berpegang tangan sebab mereka berdua juga menyaksikan di kerumunan dalam keributan sebelumnya maka dari itu ke duanya hanya melihat Dani yang dengan angkuhnya berjalan sambil membentak yang lainnya.
Orang-orang pun pada bubar setelah Dani menyuruh mereka pergi dan di dalam gubuk tersebut hanya tersisa Khanza dan yang lainnya seusai semuanya berlalu.
Khanza menoleh kearah anak Nina yang masih terbaring di atas perlak lusuh miliknya sebab anak Nina masih berumur dua tahun setengah begitulah perkiraan dari yang terlihat oleh Khanza setelah ia memegang tubuh Arka.
"Buk, ini tubuhnya sudah sangat panas tidak bisa di biarkan begini terus kita harus membawanya ke rumah sakit," riuh Khanza setelah ia menyentuh tubuh Arka makanya ia terlihat tak sabar lagi ingin membawanya.
"Tapi nak... Ibuk tidak punya uang membawanya ke rumah sakit," lirihnya pula tertunduk sedih sebab ia tak sanggup melihat anaknya yang masih menutup mata bahkan bibir Arka sudah terlihat merah akibat suhu tubuhnya yang begitu panas.
"Ibuk tak perlu cemas soal biaya kita fikirkan nanti yang terpenting kita bawa dulu adik ke rumah sakit! ayo buk biar saya temani," ajaknya pula secara memaksa sebab ia merasa tak ada waktu untuk berbicara lebih lama.
"Tapi nak..."
"Sudah buk, kita harus bergerak sekarang sebelum semuanya semakin parah!" pintanya sekali lagi sehingga ia berdiri dan berjalan ke arah Zizi juga Taro.
Sedangkan Nina bergerak secara sigap setelah ia menyeka air mata di wajahnya lalu ia meraih kain panjang dan menggendong anaknya mengunakan kain panjang tersebut serta menutupi bagian wajah Arka supaya tidak terkena angin malam.
"Zizi juga Taro kalian tidak boleh kemana pun ingat? tunggu kakak di gubuk jangan keluar sebelum kakak kembali dan kakak secepatnya kembali membawa makan untuk kalian, apa kalian mengerti ucapan kakak?" imbuh Khanza berpesan demikian sebelum ia pergi.
Seketika anak lelaki yang sebelumnya di bantu oleh Khanza kini berdiri tepat di antara mereka. "Tidak perlu cemas, aku akan menjaga adik mu," katanya pula tersenyum kecil ke arah Khanza.
Nina yang sudah tampak bersiap diri ia pun berjalan mendekat ke arah Khanza dengan membawa Arka dalam gendongannya.
"Terima kasih, aku titip adik-adikku jangan biarkan mereka keluar dari gubuk." Pintanya pula dengan membalas senyuman hangat ke arah anak lelaki itu.
"Iya, aku akan menjaganya kau jangan khawatir." Balasnya lagi.
"Baiklah," turutnya pula.
Sebelum Khanza bergerak tak lupa ia mengambil terlebih dulu amplop yang di berikan Ratih sebelumnya kemudian ia mengantonginya secara hati-hati lalu ia bergegas kembali ke arah Nina. "Ayo buk kita pergi sekarang!" ajaknya pula sembari memegang pergelangan tangan Nina dan mereka berdua pun tampak berlari kecil supaya tak membuang waktu.
"Hati-hati di jalan kak..." Teriak dari Zizi seusai Khanza berlalu pergi.
^^^To be continued^^^
^^^ 🍂 aiiwa 🍂^^^
...Kutipan :...
Meringankan beban orang lain juga sebagian perbuatan yang begitu mulia di sisi tuhan mu, tuhan akan memberi apapun setelah ia selesai memberi begitu banyak ujian untuk mu dalam setiap do'a yang kau panjatkan ❤️