
...♡♡♡...
Pemadam kebakaran 113...
"Pak! tolong kami di sini ada kebakaran tepat di jalan sejati depan pasar kota babakan, saat ini kami sudah membantu menyiram apinya tapi api semakin membesar tolong kami pak!" keriuhan seorang pria muda berbicara melalui ponsel genggam miliknya secara panik sembari memegang sebuah ember kecil di tangannya dalam keadaan baju sudah basah kuyup.
"Baik! kami akan segera ke sana," turut dari salah satu petugas pemadam yang mengangkat panggilan dari pria muda barusan secara tegas pula sehingga petugas itu langsung menutup panggilan telepon tersebut dan bersiap siaga untuk meluncur ke lokasi kejadian.
Panggilan terputus...
"Bagaimana nak? apa mereka sudah bergerak?" kata lelaki tua yang awalnya melihat kebakaran itu terjadi bahkan ia saat ini tampak panik dan dirinya juga terlihat sudah basah kuyup akibat membantu menyirami kobaran api yang semakin menjadi.
"Mereka akan segera datang, kita tunggu saja mereka karena percuma kita menyiram apinya juga tidak ada berkurang sedikit pun," katanya pula secara bertautan kedua alisnya menatap api sudah melahap empat rumah termasuk sebuah warung nasi.
"Nak, apa kau yakin semua penghuni rumah sudah keluar semua? dari tadi bapak tidak melihat penghuni warung nasi itu keluar dan bapak hanya melihat tangisan para penghuni rumah yang berderet itu saja," sambungnya lagi sembari celingukan mulai cemas pula.
"Aku tidak mengenal orang-orang pemilik rumah di sini karena aku bukan warga sini pak," balasnya dengan mengangkat kedua bahunya sebab dia juga berhenti ketika sedang mengendarai sepeda motornya pada saat asap tebal hitam pekat terlihat dari jauh dan melihat orang-orang sudah sangat panik makanya dia ikut membantu walaupun ia bukan dari warga sekitar tempat kebakaran berasal.
"Oh begitu, bapak fikir kau anak muda di sini..." Ucapnya pula demikian. "Jadi pemilik warung nasi itu siapa ya? coba sebentar aku ingat dulu, kira-kira siapa? mmhh, sepertinya aku pernah membeli nasi di sini," gumamnya secara perlahan ia mulai mengingat kembali sebab dirinya sudah memiliki penyakit pikun namun belum terlalu parah makanya ia bisa mengingat kembali walaupun ia harus membutuhkan waktu beberapa menit saja.
Setelah beberapa menit ia memejam matanya sesaat ia membuka matanya kembali dengan lebar dan celingukan melihat sekitarnya karena orang yang sudah mulai di ingatnya tidak ada keluar dari api yang sedang melahap rumah itu.
"Ya allah, pak Yudi tidak ada di sini... Ya allah, aku yakin pemilik warung nasi itu pak Yudi dan istrinya buk Ratih!" riuhnya pula sambil berlari secara panik ia berkata demikian.
"Pak, pak tenang pak!" teriak pria muda yang berbicara padanya mengejar lelaki tua itu secara cepat menangkap lengan lelaki tersebut. "Bapak harus tenang, kita tidak boleh gegabah bisa saja mereka tidak ada di rumah dan sekarang bapak tidak mungkin masuk begitu saja dengan kondisi panik begini yang ada bapak mencelakai diri bapak sendiri, kita harus menunggu pemadam kebakaran datang jadi bapak tenang dan jangan ambil tindakan yang berbahaya," cegah pria muda itu berkata tegas sehingga ia memegang kuat tangan lelaki tua tersebut.
"Nak kau lihatlah mobil mereka saja sudah terbakar! kau lihat nak, bapak yakin mereka ada di dalam... Bapak harus menolong mereka," riuhnya pula tampak memaksa sehingga ia berusaha melepas genggaman tangan dari pria muda itu.
Pria itu semakin kuat memegangnya sebab tak mungkin ia biarkan begitu saja sementara api semakin besar.
.
.
.
Beberapa menit lalu sebelum api membesar.
Betapa ia kagetnya melihat kamarnya sudah di penuhi oleh asap hitam pekat.
"Pa... Papa bangun pa!" ia mulai menggoyangkan tubuh suaminya serta tak hentinya ia melihat kepulan asap yang terus masuk melalui celah pintu kamarnya. "Pa, papa ayo bangun pa!" ia berulang kali memanggilnya secara panik bahkan dirinya sudah memiliki perasaan yang tidak enak.
"Uhuk uhuk, ya ma! ada apa?" tanya suaminya pula yang sedari sadar sudah terus menerus batuk tiada henti karena ia mulai merasakan apa yang telah di rasakan oleh istrinya.
"Papa tidak lagi sedang memasak di dapur? apa papa sedang menghidupkan kompor dan lupa mematikan apinya? ayo coba papa ingat," katanya secara panik sembari membungkam mulutnya karena ia sudah merasa tak sanggup menghirup kepulan asap yang memenuhi kamarnya tersebut.
"Tidak ma, bukannya kita sama-sama masuk kamar dan papa tak ada memasak apapun!" jawabnya secara bergeleng kepala berulang kali sebab ia merasa tak ada memasak apapun. "Ma kamar kita kenapa banyak asap begini? coba papa periksa dulu saja mama tunggu di sini," lanjutnya lagi sehingga ia mulai bangkit dari kasurnya.
Saat ini Ratih sedang sangat ketakutan sebab perasannya sedari tadi mulai tidak enak bahkan ia gemetaran ketika mendengar suara teriakan orang mengatakan "ada kebakaran" sehingga matanya terus melihat dari sudut ke sudut serta ke atas atap kamarnya.
Butiran pasir dari asbes atap kamarnya sangat terasa dan jatuh mengenai punggung tangannya seketika ia mendongak serta membuka matanya secara lebar sehingga ia melihat asbesnya sudah retak seperti akan roboh.
"Papa... Awas!"
Teriakan yang keras dari mulut Ratih begitu nyaring serta ia mengejar suaminya begitu saja tanpa berfikir apapun lagi.
GEDUBRAKKK
BRAKKK
BRUAAAKKK
Asbes atap kamar pun roboh seketika.
^^^To be continued^^^
^^^🍂 aiiWa 🍂^^^
...Kutipan :...
Ketika kau berbuat baik tuhan datangkan ujian ketika kau berbuat keburukan tuhan berikan jalan untukmu memudahkan mu berbuat hal yang buruk itu. Tapi di saat kau terpuruk tuhan akan menemani mu bahkan memberi mu kekuatan dari caranya sendiri, seperti itulah cara kerja tuhan untuk umatnya agar selalu mengingat dirinya yang tak pernah pergi meninggalkan ❤️