Aku, Khanza

Aku, Khanza
Besar Pasak Daripada Tiang


🍁🍁🍁


Dedaunan kering yang berserakan di halaman rumah sudah mulai tersapu oleh angin sementara itu sepasang kakak beradik sedang berada di dalam kamar mereka ketika Alsha ingin menaburi bedak ke seluruh tubuh Zizi ia mendapati bekas cubitan yang membekas di balik punggung Zizi dan betapa terkejutnya Alsha saat melihat memar di tubuh adiknya itu.


"Zi kenapa punggung mu ini ada bekas seperti cubitan?" tanya Alsha terheran sambil memegangi luka memar itu mengamati lebih seksama.


"Ahh i- itu, Zizi juga tidak tau kenapa," ucapan Zizi terdengar aneh di telinga Alsha apalagi sang adik tak melihat kakaknya yang sedang bertanya padanya.


"Kalau kakak tekan begini sakit tidak?" keriuhan Alsha membuatnya jelas terlihat begitu cemas.


"Tidak kak sama sekali tidak sakit," jawab Zizi beserta riangnya berusaha meyakini kakaknya.


Alsha menarik nafas dan membuangnya kasar. "Kau jangan membohongi kakak! apa yang di lakukan nenek tua itu terhadapmu?" lontaran Alsha hingga berdiri dari duduknya memastikan kalau filingnya benar itu bekas cubitan.


"Benar kok ini bukan perbuatan dari nenek jahat itu," imbuh Zizi tertunduk sangat gelisah melihat kakaknya bersikap demikian.


"Alsha..."


Panggilan dari seorang wanita yang sedang memasuki ruang tamu sampai terdengar oleh Alsha di balik kamarnya.


"Hah! mulai lagi," keluhnya tampak jengkel dan terlihat sedikit lemas saat mendengar suara itu.


"Zizi kau di sini saja jangan keluar oke!" titah Alsha bergerak cepat hingga menutup pintu kamarnya.


Zizi yang masih terkurung di kamar itu melihat kakaknya sangat tergesa-gesa hendak berjalan keluar.


"Kenapa kau lama sekali datang saat aku panggil?" celetuk dari seorang wanita tadi.


Sebut saja dia Madam Shopia orangtua dari suami Hayati yang sangat di segani oleh orang-orang di sekitarnya, ia memiliki sebilah rumah besar di daerah Batununggal kota Bandung berjarak 20 menit dari arah rumah Hayati yang berada di Babakan Ciparay bahkan ia memiliki ruas tanah berhektar dan bertebaran rumah kontrakan yang dia sewa hampir setiap tahunnya ia menerima uang sewa itu dan dia masukkan kedalam bank untuk anak cucunya kini umur Shopia berkisar 55 tahun tetapi masih terlihat awet muda karena sering merawat dirinya.


"Ada apa Madam?" tanya Alsha saat berdiri di depan Shopia.


"Kenapa saya Madam? kenapa tidak madam saja yang membelinya?" ucap Alsha dengan beraninya membuat Shopia naik spaning.


"Apa kau bilang? berani sekali kau balik menyuruhku! apa kau tidak ingat sekarang kau berada di rumah siapa?" cocotnya pula sambil melipat kedua tangan di dada merasa berlagak tuan rumah saja.


Bayangkan anak umur 15 tahun yang di katakan masih beranjak remaja sudah di suruh belanja untuk perlengkapan orang dewasa mana Alsha mengerti soal itu yang benar saja? itulah benak Alsha di hatinya merasa jengkel.


"Saya masih kecil dan tidak begitu mengerti kalau di suruh belanja yang begini," protes Alsha memungut kertas tepat berada di bawah kakinya.


"Apa kau sudah buta? tidak bisa kau melihat tulisan itu! percuma kau di sekolahkan oleh anakku," kata kasarnya itu membuat Alsha terkejut seketika.


Alsha mengambil nafas dalam karna celotehan dari Shopia. "Baiklah! akan saya beli," turut Alsha terpaksa mengalah untuk masa depannya karena cuma Hayati yang bisa menamatkan sekolah Alsha sekarang ini.


Pak Adam yang sudah tidak sehat lagi sering berlibur hingga hampir seminggu tidak bekerja makanya pak Adam menyarankan Alsha untuk tetap tinggal dengan Hayati namun pak Adam sama sekali tidak mengetahui kalau Alsha sedang berada dalam masalah yang tak ingin ia ceritakan pada ayahnya mungkin Alsha tidak ingin menambah beban ayahnya apalagi sudah sering sakit.


Alsha juga sering di bawa pulang oleh Hayati terkadang Alsha menginap sampai 3 hari di rumahnya sendiri untuk menghilangkan rasa rindu pada orangtuanya.


"Hei anak kampungan! kenapa kau melamun? apa aku menggajimu untuk melihat kau berdiri seperti orang bodoh begini?" judesnya Shopia menyenggak Alsha yang sedang merindukan ayahnya sesaat.


"Maaf saya hanya rindu saja pada orangtua saya dan mungkin madam salah paham, saya di sini tidaklah di gaji oleh bunda Hayati," cakap Alsha mematahkan ucapan Shopia.


Prok Prok


"Wah wah... Anak sekecil dirimu sudah sangat pandai berbicara rupanya! apa kau kira uang itu jatuh dari langit untuk menyekolahkan mu?" celetuknya lagi bernada sangat mengejek serta menjatuhkan harga diri Alsha.


"Maaf saya tidak bermaksud menentang madam karna saya di sini juga sangat tahu diri, permisi!" bungkuk Alsha masih terlihat sopan di hadapan Shopia yang sudah berkata kasar padanya.


^^^To be continued^^^


^^^🍂 aiiwa 🍂^^^