Aku, Khanza

Aku, Khanza
Perseteruan Di Mulai


🍁🍁🍁


Grasak Grusuk


Terdengar suara gelud dari keduanya alias Nathan dan Devan karena mereka adu kekuatan dari masing-masing secara bergantian secara yang satu tangannya menekan leher Nathan dan yang satu lagi mencekik leher Devan.


Blam


Saat Alsha keluar dari dalam mobil ia melihat kejadian itu di depan matanya sendiri, dia langsung berlari mendekati mereka untuk menjadi penengah keduanya supaya tidak melakukan hal nekat yang bisa merugikan keduanya.


"Hei, hei apa yang kalian lakukan? Devan, Nathan! cepat lepas, Ayo lepas!" ucap Alsha sedikit berteriak dan berusaha melerai keduanya dengan sekuat tenaga.


Bruk


Alsha di dorong sampai terhempas karena mereka sudah sama-sama emosi tidak tersadar telah mendorong Alsha seperti itu hingga terlempar.


DEBUG


Na'as Alsha terhantuk spion mobil Nathan sampai mengeluarkan darah segar hingga terduduk lemas.


"Alsha!" teriak keduanya setelah sadar Alsha sudah mengeluarkan darah.


Karena keributan itu tadi Hayati keluar dengan cepat dari dalam rumah tampak dari kejauhan dia melihat Alsha sudah terduduk dengan menekan kepalanya yang sudah keluar darah, betapa terkejutnya Hayati melihat kejadian itu pada saat keributan terjadi.


Yeap keduanya masih sibuk bertekak saja bahkan saling mendorong satu sama lain hingga berebutan untuk menolong Alsha, tetapi pada akhirnya tidak ada satupun dari mereka yang membawa Alsha justru Hayati sendirilah yang membopong Alsha masuk ke dalam rumah dengan keadaaan wajah yang panik.


Sampainya di dalam rumah keduanya tertunduk menatap Alsha yang masih memegang darahnya duduk di sebuah sofa ruang tengah karena Hayati masih mengambil kotak obat untuk membalut luka Alsha, sementara itu Shopia membelalakkan matanya melihat kehadiran Nathan entah mengapa seolah seperti ada yang ia sembunyikan begitu tampak gemetaran hebat hingga matanya tidak berpaling sedikitpun dari Nathan.


Hayati berlari dengan membawa kotak obat yang sudah dia dapati kini ia menghentikan darah Alsha dengan sebuah kapas yang dia laburi alkohol, setelah itu ia beri betadine dan lapisan perban sedikit barulah ia memplaster bagian yang terluka saja.


Saat semuanya sudah selesai Hayati menatap sinis keduanya yang masih terus tertunduk takut untuk menatap dirinya kembali.


Hayati terus melihat keduanya yang tidak berani menatap dirinya. "Apa yang terjadi pada Alsha? kenapa bisa sampai terluka begini?" tanya Hayati sedikit tegas pada mereka yang terlihat kikuk di depan Hayati.


Kini Alsha menghembus nafas pelan melihat ekspresi keduanya. "Bunda, Alsha baik-baik saja maafkan Alsha sudah buat bunda khawatir," kata Alsha memotong langsung ucapan Hayati supaya Hayati tidak terlalu keras pada mereka.


"Kamu sampai terluka begini? apanya yang tidak apa-apa? dan seharian ini kamu kemana saja? kenapa bisa bersama dengan Nathan?" celoteh Hayati dengan begitu banyak pertanyaan membuat Alsha memejam mata sejenak dan tersenyum kecil.


Dia membuka kembali matanya dan mengarah pada Nathan. "Bun, Nathan sudah banyak menolong Alsha hari ini karena dia yang sudah membawa Alsha dari kejahatan preman yang ingin mencelakai Alsha," turut Alsha pula dengan nada halus.


Dag Dig Dug


Suara debaran jantung Nathan terdengar jelas di telinga Devan kini telinganya juga kian memerah seperti terbakar api karena Alsha memuji dirinya.


Dasar payah! baru juga di puji sedikit sudah terpesona hah! lelaki norak! batin Devan merutuki Nathan di balik pikirannya dengan melirik sinis hingga terbakar api kecemburuan.


"Apa benar begitu Nathan? lantas kenapa Alsha sampai terluka begini? apa kalian tidak ada yang bisa menjawab?" mengulang pertanyaan awal tadi belum ada dari mereka yang berani menjawabnya.


"Sa- ."


"Bunda sudahlah! Alsha sudah lebih baik dan ini hanya luka ringan saja oh ya, Zizi mana bunda?" kini Alsha celingukan mengalihkan pembicaraan mengenai mereka berdua.


Dari kejauhan Alsha melihat Shopia masih berdiri di belakang tembok dengan ekspresi yang ketakutan sekali sampai ia melotot menatap Nathan dan ketika itu Shopia tersadar bahwa dirinya sedang di perhatikan oleh Alsha jadi ia pun langsung bergegas pergi masuk ke arah dalam sambil mempercepat langkahnya.


Alsha semakin bingung di buat Shopia karena Alsha belum pernah melihat Shopia terlihat takut seperti itu.


Hayati meraih tubuh Alsha dan memeluknya hangat. "Zizi sedang di kamar, dia sampai kelelahan karena khawatir padamu dan syukurlah kamu tidak ada yang terluka parah nak, bunda sampai cemas sekali sebenarnya kamu pergi kemana? apa yang sedang kamu cari di luar sana?" Hayati tampak terlihat amat cemas dari balik wajahnya ia berkata demikian sambil menghembus nafas berulang kali.


"Alsha hanya berjalan saja di luar malah kesasar tidak tahu arah jalan pulang," jawab Alsha mencari alasan yang tidak di curigai oleh Hayati.


"Khem tante kalau sudah tidak ada hal lain, saya ingin pamit pulang." Nathan gugup saat berbicara demikian dan melirik Alsha sesekali.


"Apa kalian sudah makan? makan malam di sini saja bersama," ajak Hayati dengan nada halus dan tersenyum kecil.


"Tidak tante, saya sudah makan di rumah." Kata Nathan menolak dengan pelan.


"Apa kamu sudah makan Alsha?" tanya Hayati menoleh pada Alsha yang sempat mencuri pandang ke arah Nathan.


"Su -sudah Bun, Alsha makan di rumah Nathan tadi," jawab Alsha yang tidak di sadari sudah di perhatikan oleh Hayati.


Khem, akan ada cinta segitiga ini... Waahh pasti seru kalau aku jadi sutradaranya Hihih, batin Hayati tertawa di dalam hatinya tapi tidak ia lepaskan begitu saja.


.


.


Namun di ruangan lain terlihat madam Shopia mondar-mandir sangat gelisah sambil memegang ponsel miliknya.


"Aku harus menghubungi Kino, ini tidak bisa di biarkan!" gumam Shopia sambil membuka layar ponsel dan mencari kontak yang ingin dia hubungi.


Tut Tut


Tetapi belum ada jawaban dari Kino anaknya.


"Kemana anak ini? susah sekali di hubungi, kalau begini terus bisa hancur semuanya!" gerutu Shopia masih mondar-mandir tidak tentu arah sambil memijat dahinya sendiri.


Dia pun mencoba berulang kali menelepon Kino sampai anaknya menjawab teleponnya itu, alhasil panggilannya belum juga di jawab.


"Ayolah ahh, sial! punya ponsel tidak berguna agh, kacau semuanya!" geram Shopia pula sehingga ia melemparkan ponselnya mengarah pada dinding sehingga hancur leburlah ponsel tersebut.


Dalam keadaan gelisah itu, Shopia keluar dari kamarnya dan melihat apakah masih ada orang yang membuatnya segelisah itu atau sudah kian pergi bahkan dia terus mencari celah supaya bisa mengintip tanpa mengundang perhatian yang lain.


...........


^^^To be continued^^^


^^^🍂 aiiWa 🍂^^^