Aku, Khanza

Aku, Khanza
Sengatan Lebah?


Lanjutan episode sebelumnya...


...โ™กโ™กโ™ก...


Krakk


"Selamat siang tuan," hormat dari salah seorang lelaki dengan berbicara sopan pada Panji tepat di depan pintu apartemennya.


"Ya selamat siang," turut Panji menjawab dengan ramah pula.


"Kami dari pihak kepolisian yang sebelumnya anda memberi laporan atas kasus penganiyaan serta penyekapan dari korban bernama ibu Hayati, apakah benar ini alamat yang anda berikan pada kami?" tanya salah seorang lelaki yang sudah memiliki kedudukan tinggi dalam kepolisian bahkan ia di temani oleh kedua kandidatnya di belakang mengenakan baju dinas lengkap beserta atribut yang mereka kenakan.


"Ah iya, saya orang yang sebelumnya melaporkan kasus tersebut," ucap Panji anggukkan kepala sesekali sehingga ia sekaligus mengingat bahwa sebelumnya memang sempat singgah ke kantor polisi usai mengantar Nathan pulang ke rumah maka dari itu Nathan tidak mengetahui kalau kakeknya sudah bertindak lebih dulu darinya. "Silahkan masuk pak," lanjut Panji lagi dengan begitu ramah serta ia membuka jalan untuk mereka supaya masuk lebih dulu darinya kemudian ketiga polisi itu berjalan masuk ke dalam sedangkan Panji menutup kembali pintu apartemennya lalu ia pun menyusul di belakang mereka.


Tap


Tap


Langkah kaki semakin jelas terdengar sehingga Nathan juga Devan terheran kenapa ada polisi masuk ke dalam apartemen dan di temani oleh sang kakek makanya mereka berdua langsung berdiri menatap serius lalu Nathan melihat kakeknya memberi isyarat supaya mereka juga ikut menemani dirinya makanya Nathan secara sigap mendekati kakeknya.


"Ada apa kek?" tanya Nathan secara berbisik sebab ia sudah berada di sebelah kakeknya saat ini sembari ikut berjalan.


"Kau tunjukkan saja kamar buk Hayati nanti juga kau akan tahu," jawab kakeknya pula berbalas dengan berbisik sehingga Devan menjadi penguping di tengah mereka berdua.


Nathan menuruti perkataan kakeknya lalu ia mempercepat langkahnya sehingga ia lebih dulu sampai daripada mereka semua dan Nathan juga tepat berhenti di depan pintu kamar Hayati serta membuka pintu tersebut dengan lebar.


KREEKK


"Silahkan masuk saja pak," tutur Nathan dengan sopan pula dengan memberi jalan polisi tersebut.


Ketiga polisi itu hanya tersenyum simpul dan melangkah masuk ke dalam kamar lebih dulu lalu di susul yang lainnya pula.


Hayati membuka matanya setelah ia mendengar ada suara pintu kamar yang berbunyi dan ia melihat ada tiga orang yang tak ia kenal di depan matanya saat ini lalu ia berusaha bangkit namun ketika ia sedikit kesusahan untuk duduk dengan sigap Nathan bergerak lebih dulu daripada Devan yang kalah cepat makanya Devan mengulurkan niatnya karena Nathan sudah berada di samping Hayati.


"Aku bantu duduk tante," tawarnya dengan tersenyum tipis pula bahkan Hayati pun membalas senyuman itu dan mengikuti arahan Nathan makanya ia di sandarkan menggunakan bantal kembali sesudahnya salah seorang lelaki yang merupakan atasan tersebut sedikit mendekat ke arah Hayati dan meraih kursi yang terletak di dekat kasurnya kemudian sang lelaki menggeser kursi itu serta duduk sembari mengeluarkan secarik kertas juga pulpen dari dalam tas yang di bawa sebelumnya.


"Siang ibu, maaf saya sedikit mengganggu waktu istirahatnya sebentar. Perkenalkan nama saya Eby Nasution, sebelumnya kami dari kepolisian ingin meminta keterangan dari ibu atas kasus penganiyaan juga penyekapan jadi ibu bisa berikan keterangan lengkap pada kami supaya memudahkan kami mengusut kasus tersebut dan pelaporan itu kami terima dari tuan Panji," perjelasnya pula secara perlahan kemudian Hayati menoleh pada Panji sesaat.


"Pelaporan kasus?" tanya Hayati bernada serak namun matanya masih melihat ke arah Panji.


"Ya, saya yang melaporkannya karena saya sudah tak bisa lagi membiarkan se-ekor lebah terbang bebas dan menyengat orang-orang di sekitarnya jadi ibuk tenang saja jangan terlalu gugup bicara santai seperti biasa lalu berikan info apa saja yang sudah ibuk alami selama ini," jawabnya pula dengan berani sebab Panji sudah merasa muak dengan perbuatan Shopia yang tiada habisnya.


Karena Panji berkata demikian Hayati juga tak dapat menyalahkannya sebab yang dia alami bukan lagi di perlakukan sebagai manusia bahkan dirinya sudah di anggap sebagai binatang lagipula ia juga telah membulatkan tekadnya untuk bercerai dari suaminya itu sebab ia tak ingin lagi ada hubungan apapun dengan keluarga Shopia itulah yang ia fikirkan sedari masih berada di rumah sakit.


Tak berapa lama Hayati membuang nafas panjang kemudian ia menoleh pada Eby yang sudah duduk di depannya tampak menunggu dirinya berbicara.


"Saya di sekap sudah berbulan lamanya oleh suami dan mertua saya sendiri," ungkap Hayati terdengar begitu lirih ia berkata demikian bahkan matanya mulai berkaca-kaca.


"Apa motif penyekapan itu? kenapa ibu sampai di sekap oleh mereka?" tanya Eby lagi dengan sangat santai bahkan ia dengan sabarnya menunggu jawaban langsung dari Hayati sebab ia tahu kalau Hayati sedang mengalami trauma yang begitu jelas dari sorot matanya.


"Saat itu saya mengetahui rahasia mereka," jawab Hayati pula kemudian Eby menaikkan sebelah alis matanya.


"Rahasia apa ibu?" tanya Eby kembali.


"Hikkss, Alsha..." seketika Hayati meneteskan air mata dan tertunduk sedih lalu secara cepat Devan mengambil kotak tisu serta memberikannya di depan Hayati namun Nathan saat ini merasa terenyuh hatinya ketika Hayati menyebut nama Alsha.


Beberapa saat Eby membiarkan Hayati lebih dulu menenangkan diri makanya ia terdiam saat berapa menit kemudian ia sudah melihat Hayati lebih tenang barulah ia berniat membuka suara kembali.


"Apa ibu sudah tenang? bisa kita lanjutkan kembali?" tanya Eby secara perlahan pula supaya Hayati tidak merasa di paksakan.


Hayati pun angguk kepala menjawab tanpa bersuara.


"Baik, kalau boleh tahu nama yang ibu sebut itu ada hubungan apa dengan motif penyekapan terhadap ibu?" tanya Eby setelah Hayati sudah merasa lebih baik usai menangis.


"Alsha anak angkat saya pak, sedari kecil saya membawanya ke rumah saya beserta adiknya yang baru saja di lahirkan oleh orang tua kandungnya yang telah meninggal tetapi mertua dan suami saya tidak menyukai keberadaan mereka makanya saya selalu berada di samping mereka sebab saya ingin mereka aman jika berada di samping saya," ungkapnya pula secara rinci serta suaranya yang lirih mengingatkan Panji dengan sosok Khanza di dalam pikirannya.


"Lalu rahasia apa yang anda ketahui?" tanya Eby lagi.


"Saya tidak tahu kejadiannya itu kapan tapi terakhir saya berikan Alsha jus malam itu ketika di waktu subuh saya melihat kamar mereka kosong bahkan saya melihat ada bekas buih di kamar Alsha namun saya tidak mengerti itu buih apa makanya saya syok melihat anak-anak saya tidak ada lagi di kamar setelah itu saya ingin mencari mereka walau tanpa bantuan suami juga mertua saya yang terlihat seperti tidak terjadi apapun," katanya lagi terdengar suaranya semakin lirih.


"Baik, kemudian apa yang terjadi setelahnya?" tanya Eby sembari ia menulis pengakuan Hayati di atas kerta miliknya.


"Pada pagi tepat kejadian anak saya hilang kemudian saya berniat untuk mencarinya dan mungkin tuhan ingin menunjukkan kebenaran pada saya sebab kunci mobil saya tertinggal di dalam rumah dan dari situlah saya mendengar pembicaraan suami juga mertua saya kalau mereka lah dalang di balik hilangnya anak-anak saya," ungkapnya lagi secara jelas.


"Maksud ibu..."


"Ya pak, anak saya di buang oleh mereka bahkan saya melarikan diri untuk melaporkannya akhirnya tertangkap karena saya di jegat saat di tengah jalan oleh suami saya sehingga saya terus di siksa dan di biarkan seperti orang mati serta di pasung oleh suami saya sendiri dan mereka juga mengatakan akan mencari anak-anak saya untuk merampas kembali harta saya atas nama anak saya Alsha, makanya mereka berusaha keras ingin membawa anak saya kembali dan berencana membunuh mereka," ucapnya pula serta tampak gemetaran di bibirnya berkata demikian bahkan ketika Hayati menceritakan hal tersebut membuat Panji juga Nathan menjadi geram atas perbuatan Shopia yang tak terampunkan lagi oleh mereka berdua.


"Pak! tolong anak saya pak, pak tolong mereka jangan sampai mereka tertangkap oleh orang-orang itu pak tolong saya."


Hayati memegang keras tangan Eby bahkan Eby merasa tangan Hayati gemetaran hebat apalagi Hayati juga sesekali tertawa dan menangis kembali sebab rasa traumanya muncul secara tiba-tiba.


"Pak tolong pak! hahah tolong pak."


"Apa tidak ada obat untuk menenangkannya?" riuh Eby sehingga yang lainnya sibuk mencari obat yang sudah di berikan langsung oleh dokter.


Di antara mereka tidak ada yang berani menggunakan suntik akhirnya Eby lah yang menyuntikkan obat cair tersebut ke tangan Hayati dan beberapa saat Hayati tenang kembali lalu di rebahkan oleh Nathan dan Devan menyelimuti tubuh Hayati pula.


^^^To be continued^^^


^^^๐Ÿ‚ aiiWa ๐Ÿ‚^^^


NANTIKAN SELANJUTNYA ...