Aku, Khanza

Aku, Khanza
Surat Dari Khanza?


...♡♡♡...


Dengan rasa senangnya Ratih berjalan ke arah kamar Khanza juga Zizi setelah dia berhasil membuat suaminya tertidur karena teh yang sudah dia campur dengan obat tidur dan betapa girangnya ia yang sebentar lagi akan menerima uang dalam bentuk yang terbilang sangat besar, itulah fikirnya.


Sepintas Ratih melirik teh di atas meja yang sudah dia sediakan namun masih dalam keadaan utuh, kini Ratih sedikit terheran kenapa kedua bersaudara itu belum juga keluar dari kamar.


Sebab itu Ratih mempercepat langkahnya supaya rasa penasarannya segera terjawab.


Ratih pun sampai di depan kamar mereka, ia mulai memegang gagang pintu dan perlahan menggerakkan gagang tersebut.


KLAKK


Terbukalah pintu kamar itu dengan lebar setelahnya Ratih melebarkan mata seketika karena Khanza dan Zizi tidak ada di dalam.


Tap Tap


Secepat mungkin Ratih masuk ke kamar dengan begitu paniknya sangat terlihat jelas di raut wajahnya itu.


"Pergi kemana mereka? apa anak gembel itu pergi tanpa pamit? dasar anak kurang ajar, berani sekali dia kabur dari ku!" cecar Ratih begitu terdengar kesal di tambah kegelisahannya memuncak saat itu.


Ratih terus mencari keberadaan mereka mulai dari luar jendela kamar, kamar mandi, dan seluruh ruangan sudah dia cari namun tetap tidak menemukan di mana Khanza juga Zizi, hatinya mulai gelisah karena mereka tak dapat dia temukan walau sudah berusaha sekeras mungkin ia mencari.


Saat Ratih mulai kebingungan sekilas dia mendapati secarik kertas putih terlipat dan terselip di atas meja kasirnya dengan sigap dia meraih kertas itu hingga membukanya selebar mungkin lalu ia mulai membaca isi tulisan di dalamnya.


Dari Khanza,


Assalamualaikum.


Untuk bapak dan ibuk, terima kasih karena sudah menampung kami di sini walau tak banyak yang bisa Khanza perbuat untuk kalian. Khanza bersyukur bisa mengenal bapak dan ibuk yang sudah begitu baik terhadap kami, tidak akan mampu Khanza membalas jasa bapak dan ibuk. Khanza hanya meminta pada Tuhan supaya warung bapak dan ibuk selalu di berikan keberkahan serta rezeki yang terus melimpah tiada hentinya, maaf karena Khanza tidak pamit terlebih dulu karena Khanza tahu kalau nyawa Khanza dalam bahaya, walaupun Khanza mengetahui niat ibuk terhadap Khanza tetap ibuk menjadi panutan bagi Khanza bahkan sama sekali Khanza tidak membenci ibuk, justru sebaliknya Khanza banyak berhutang budi pada kalian, sampai kapanpun kebaikan kalian tidak akan pernah Khanza lupakan selamanya ketika Khanza sukses nanti kalian orang yang akan Khanza cari dan berikan kalian kebahagiaan, sampai di sini dulu surat dari Khanza sampai jumpa lagi semoga bapak dan ibuk sehat selalu. wassalamu'alaikum


Entah mengapa hati Ratih seketika terenyuh membaca lembaran surat yang di buat oleh tangan Khanza sendiri, dirinya juga tidak menduga kalau Khanza mengetahui rencana yang dia buat dan tidak ada membuka suara sedikitpun bahkan Khanza tidak membenci dirinya setelah mengetahui niat jahatnya itu.


Terduduklah Ratih di atas lantai yang terasa dingin sambil meremas surat Khanza, air mata yang terus mengalir tiada hentinya itu seketika melupakan urusannya dengan orang yang mencari Khanza.


Belum pernah dia sesedih itu seolah ia merasa sangat bersalah terhadap Khanza yang sedari awal sudah berfikir kalau Khanza hanya memanfaatkan kebaikan suaminya padahal sepeser uang pun tidak ada di terima oleh Khanza, semakin berderai air mata Ratih ketika mengingatnya bahkan dia sampai mengulang membaca surat dari Khanza ingin memastikan dirinya yang sudah begitu kejam sikapnya terhadap Khanza.


Kemudian dalam beberapa saat Ratih bangkit dan beranjak dari tempatnya sambil berlari ke arah kamar untuk menyadarkan suaminya apapun caranya dia harus menemukan Khanza dan mendekapnya dengan hangat, itulah yang dia rasakan saat ini.


"Pa, bangun pa! ayo bangun, kita harus mencari mereka," ia seolah berbicara sendiri dengan menggoyangkan tubuh suaminya sebisa mungkin.


DRRRTTTT


Getaran ponsel milik Ratih pun terdengar jelas sehingga ia langsung meraih ponselnya langsung melihat siapa yang menghubunginya ternyata orang tersebut yang sedang mencari Khanza dengan imingan imbalan 50 juta.


Ratih tak ingin lagi punya urusan pada orang itu makanya dia nonaktifkan ponselnya serta melepas kartu sim ponselnya hingga mematahkannya menjadi dua.


"Aku tak butuh uang itu lagi, yang aku butuh sekarang kehadiran mereka! cukup bagiku, dasar Ratih bodoh! kenapa kau membiarkan anak sebaik itu pergi darimu?" gumam Ratih pula menepuk kedua pipinya secara keras seolah dia baru menyadari perbuatannya itu,


Kini ia mulai bergerak kembali menggoyangkan tubuh suaminya memakai kedua tangannya sambil terus memercik air di wajah sang suami.


.


.


.


Tut Tut


Nomor yang anda tuju tidak dapat di hubungi, mohon periksa kembali nomor tujuan anda.


"Ahh! sialan wanita ini, berani sekali dia bermain padaku!"


"Apa gagal? bukankah nilai uang yang ku berikan cukup besar? apa masih kurang banyak nominalnya?" tanya Kino pula dengan santainya mengangkat kedua kaki di atas meja.


"Maaf bos, bukan begitu! aku juga belum mengerti kenapa wanita ini tidak bisa di hubungi, aku pastikan akan mendapatkan kedua anak itu," turutnya pula tampak meyakinkan.


"Guntur! kau harus segera dapatkan anak itu jika kau ingin dapat bagian mu," cakap Shopia pula dengan santainya duduk menikmati teh miliknya.


"Baik nyonya! jangan khawatir, kupastikan mereka akan segera ada di tangan nyonya dan tuan! aku kerahkan semua anak buahku untuk mencari mereka," katanya terdengar begitu meyakinkan membuat Shopia menatap tajam Guntur dari lirikan matanya saat menyeruput teh.


Next....


...Kutipan :...


Begitulah manusia, terkadang apa yang telah hilang darinya barulah dia menyadari betapa berharganya sesuatu hal walau sekecil apapun, karena penyesalan selalu datang di saat sudah merasa putus asa akan dirinya sendiri ❤️