Aku, Khanza

Aku, Khanza
Lembaran Kertas


...♡♡♡...


Warung nasi pak Yudi.


Semenjak adanya kehadiran Khanza dan Zizi membuat warung nasi itu menjadi ramai sekali sehingga pak Yudi sangat terheran dengan pengunjung yang terus berdatangan sedari pagi sampai tibanya menjelang siang tidak ada berhentinya melayani pesanan orang-orang.


Adapula yang dari daerah jauh berhenti hanya untuk makan padahal belum pernah sekalipun pak Yudi mendapatkan pengunjung yang datang dari daerah lain, biasanya pelanggan yang makan di warung nasinya itu hanya orang-orang sekitarnya saja.


Awalnya malam perdebatan antara pak Yudi dan istrinya hampir membuat Khanza pergi dari warung mereka sebab Khanza merasakan rasa yang sangat tidak enak setelah mendengar mereka ribut, apalagi sempat terdengar ucapan dari istri pak Yudi kalau Khanza makan sebelum bekerja terlebih dulu jelas sekali hati Khanza begitu tersayat mendengarnya padahal pak Yudi yang membiarkan mereka makan yang sebelumnya sudah di tolak Khanza namun tetap pak Yudi menyuguhkan makanan di atas meja sedangkan Khanza tidak tahu akan berakhir seperti itu.


Perdebatan malam itu berlangsung selama satu jam penuh dan Khanza hanya berdiri mendengarkan pembicaraan mereka dari jarak jauh dengan tertunduk merasa sangat bersalah.


Pada akhirnya pak Yudi mampu meyakinkan istrinya walau sedikit bersusah payah sampai sang istri pergi meninggalkannya di tempat mereka berdebat dan setelah pembicaraan mereka selesai pak Yudi menghampiri Khanza dengan membawa Zizi ke kamar kosong yang sebelumnya di tempati oleh anaknya.


Kemudian pak Yudi meminta maaf pada Khanza karena istrinya sudah menyinggung dirinya serta membiarkan Khanza dan Zizi untuk sementara waktu tinggal di warung miliknya, akan tetapi Khanza menolak dengan halus tawaran dari pak Yudi sebab dia tak ingin menjadi bumerang bagi orang lain begitulah percakapan antara pak Yudi dengan Khanza malam itu.


Setidaknya Khanza harus membayar terlebih dulu makanan yang sudah dia makan bersama adiknya jadi dia meminta hanya sehari saja bekerja membantu pak Yudi tanpa meminta imbalan apapun, setelahnya dia akan pergi secepat mungkin tanpa rasa bersalah lagi begitulah permintaan Khanza pada pak Yudi sehingga pak Yudi tidak bisa menahan Khanza karena sudah membuat keputusan seperti itu.


.


.


.


Pranggg


Suara pecahan kaca terdengar begitu jelas sekali.


"Apa yang kau perbuat? apa kau tidak bisa bekerja dengan baik? ha!" hardik Ratih membentak Zizi dengan tatapan sangarnya saat melihat piring berhamburan di lantai.


Zizi langsung berdiri dari tempatnya dan setelah itu Khanza berlari ke arah dapur melihat apa yang terjadi saat Ratih berteriak keras sekali.


"Zi, kau tidak apa-apa? kenapa kau tidak mendengar kakak? bukankah tadi kakak menyuruhmu di kamar saja jangan keluar?" tanya Khanza dengan riuhnya dia memeriksa keadaan adiknya itu tampak panik sekali.


"Tidak bisakah kau mengurus adik mu ini? kalau tidak bisa bekerja jangan menyentuh apapun!" bentaknya pula dengan suara yang tinggi sehingga Zizi hanya tertunduk takut karena kesalahannya lah sang kakak di marahi.


"Maafkan saya dan adik saya buk, adik saya tidak sengaja melakukannya sekali lagi saya minta maaf," turut Khanza terlihat bungkukan badan berulang kali di hadapan Ratih.


"Maaf,maaf! apa bisa dengan kata maaf barang ini kembali utuh seperti semula? dasar anak tidak tahu di untung!" hardiknya lagi tampak berdengus di balik wajahnya yang sangar itu.


"Maaf buk, kalau ada uang saya janji akan mengganti barang yang sudah di pecahkan adik saya," kata Khanza pula yang masih terlihat sopan padahal dirinya ingin sekali menjerit membuang sesak di dadanya.


"Apa kau bilang? mengganti? pakai apa? daun? kau saja makan di sini tidak bayar, bagaimana kau mampu membayar barang ini? ngaca kau! jangan sok berbicara ingin mengganti, sementara kau saja numpang di sini!" semburnya lagi sehingga terdengarlah suaranya sampai ke telinga pak Yudi.


"Sudahlah ma! kau selalu saja marah, apa kau tidak lelah berteriak terus?" kata suaminya pula sambil memegangi sebelah tangan istrinya. "Kalau barang sudah pecah begini mau bilang apalagi? mereka juga tidak sengaja menjatuhkannya, kenapa kau harus meneriaki dengan suara keras sampai terdengar orang di luar sana?" sergahnya pula sedikit nada menyenggak.


"Kenapa aku tidak boleh berteriak? apa kau sedang membela anak ini? berani sekali kau memarahi aku di depan gembel begini!" berang istrinya dengan menampik tangan sang suami yang sempat memegangi dirinya.


Karena malas berdebat pak Yudi hanya terdiam mendengar ocehan istrinya itu, akhirnya sang istri lelah sendiri sehingga ia berlalu pergi dari tempatnya kembali ke meja kasirnya kemudian sepanjang ia berjalan terus mengoceh seolah tidak terima dengan sikap sang suami terhadapnya.


"Bawalah adikmu ke kamar, biarkan bapak yang membereskan ini," cakap pak Yudi pula saat istrinya berlalu pergi.


"Saya akan bantu pak, maaf adik saya membuat kekacauan," kata Khanza terdengar begitu lirih.


"Tidak mengapa, ini bukan kesalahan yang di sengaja jadi kalian tidak salah apapun! sekarang pergi antar dahulu adikmu ke kamar setelah itu kembali lah ke depan bantu bapak melayani pengunjung," turut pak Yudi pula sambil memegang sapu di tangannya.


"Baik pak, saya akan segera kembali," ujarnya bungkuk dengan sopan kemudian dia langsung membawa adiknya ke kamar.


Pak Yudi hanya menatap sedari jauh saja dua bersaudara itu sedang berjalan entah mengapa kehadiran mereka membuat rasa rindunya terobati karena ia sudah lama sekali tidak bertemu dengan anaknya.


.


.


.


Beberapa saat kemudian Khanza mulai melayani para tamu yang datang, ia mencatat menu makanan melalui kertas dan pena yang dia pegang supaya tidak terjadi kesalahan lagi.


Tiba-tiba saja seseorang memakai kemeja kotak, celana hitam, serta memakai sepatu begitu terlihat rapi sekali mendekati meja kasir Ratih serta memberikan selembar kertas di atas meja Ratih begitu saja lalu lelaki itu pergi tanpa berbicara apapun


Ratih fikir lelaki itu mau memesan makanan lewat dirinya ternyata tidak, bahkan dia sampai terheran ketika menatap orang yang sudah pergi begitu saja dari hadapannya.


Ketika dia duduk kembali dengan seksama dia membaca tulisan yang ada di selembar kertas itu dan ternyata isinya membuat dia tekejut sekali, sangking terkejutnya dia langsung berdiri lagi sambil mengangakan mulutnya dengan lebar dan mata yang melotot seolah tak menduga.


"A -apa ini benar? 50 juta? oh Tuhan, bisa kaya aku kalau begini," gumamnya pula dengan melebarkan mata sambil melihat Khanza yang sedang sibuk mengilap meja.


Terlintas senyuman jahat terukir di balik pinggir bibir Ratih ketika menatap Khanza.


next...


...Kutipan :...


Seorang yang suka menghardik, membentak, menghina, memaki, bahkan merendahkan orang lain itu sudah membuktikan kalau orang itu memiliki sifat yang buruk tanpa di sadari itu sebenarnya sudah menjatuhkan harga dirinya sendiri❤️