
...♡♡♡...
Sraashh
Zrasshh
DUUAARRRR
BLLEEDAAARR
Tepat di siang hari pukul dua belas.
Gemuruh angin kencang bunyi gledek suara dari arah langit di sertai petir kerap terlihat seperti menyambar tampak jelas di rasakan oleh orang-orang yang sedang berlalu lalang termasuk pada Khanza juga adik-adiknya yang sedang berteduh di salah satu warung dagangan soto padang milik pak Alim.
Mereka bertiga terjebak hujan deras ketika sedang melarikan diri dari Kino makanya saat ini mereka bertiga tidak tahu kenapa bisa sampai di pasar tradisional Babakan Ciparay sebab mereka terus saja berlari tanpa melihat kemana arahnya dan seharusnya mereka berniat untuk pulang ke rumah namun Khanza terus membawa adiknya berlari untuk menghindari Kino.
Srak
Sraakk
"Rambut dan baju kalian basah semua, maafkan kakak karena tidak bisa menjaga kalian dengan benar," cakap Khanza pula sehingga ia terus menyibak air hujan yang mengenai rambut serta baju Zizi juga Taro.
Di saat Khanza sibuk membersihkan rambut serta baju mereka tampak keduanya melontarkan senyum yang manis menatap ke arah Khanza.
"Rambut mu pasti masih sakit ya Zi?" tanya sang kakak mengelus lembut bagian kepala adiknya. "Leher mu juga pasti sangat sakit sampai sekarang kan, Taro?" ia pun menoleh ke arah Taro serta melontarkan mata penuh kesedihan terlihat wajahnya tak sanggup menatap keduanya yang masih saja tersenyum melihat ke arah dirinya.
"Kami tidak apa-apa kak, ya kan kak Taro?" celoteh Zizi pula terdengar sangat antusias mengarah pada Taro.
Ketika Zizi bertanya demikian kini Taro pun menganggukkan kepala secara cepat lalu ia pun tersenyum lebar padahal leher Taro masih terlihat memerah akan tetapi dirinya menyembunyikan itu dari Khanza walaupun Taro tak mengatakannya namun Khanza sudah menyadarinya makanya ia terus membelai perlahan rambut Taro sembari menyimpulkan senyuman kecil di wajahnya.
Tak berapa lama Khanza menumpukan tubuhnya di antara kedua tumit kakinya lalu ia meraih tubuh Zizi juga Taro masuk ke dalam dekapan pelukan hangatnya. "Maafkan kakak sekali lagi sudah hampir membuat kalian berdua celaka," ucapnya terdengar lirih namun ia berusaha menahan air matanya untuk tak jatuh sebab ia tak ingin adiknya merasa sedih jika melihat dirinya menangis.
"Ini bukan salah kakak, justru kami berdua akan menjadi pelindung untuk kakak."
Ucapan Zizi yang sangat bijak itu membuat Khanza semakin yakin kalau Zizi nantinya akan menjadi anak yang selalu perduli terhadap orang lain sehingga Khanza tersenyum simpul ketika mendengarnya bahkan ia semakin mendekap erat tubuh keduanya apalagi Taro juga sedang memukul-mukul belakang punggung Khanza secara perlahan makanya Khanza saat ini merasa kebahagiaan dirinya sudah lengkap karena ia telah memiliki kedua adik yang selalu ada untuk dirinya sebab Khanza semakin yakin jika tuhan akan mendatangkan orang-orang yang baik dalam hidupnya karena itu ia selalu berprasangka baik terhadap penciptanya walau sesulit dan sesakit apapun ujian yang akan ia terima nantinya, begitulah prinsip Khanza yang tak kenal lelah serta putus asa.
Sejenak pelukan itu pun terlepas di saat Khanza mencium aroma yang sangat harum dari soto padang milik pak Alim sedangkan Zizi juga Taro sesaat menoleh ke arah belakang sembari serempak melihat ke arah warung tersebut.
"Harum sekali ya kak," polosnya Zizi berkata demikian sehingga Khanza tersenyum.
"Apa kalian lapar?" tanya Khanza pula tersenyum kecil menatap keduanya.
"Sepertinya kak karena sedari tadi kita terus berlari jadi tenaga Zizi terkuras, hehe!" jawab Zizi dengan terkekeh menggaruk-garuk belakang lehernya sesekali serta tampak pula gigi depannya ketika ia tertawa barusan.
"Hmmh... Tapi kita tak punya uang Zi," balas sang kakak pula hingga ia tertunduk lesu sebab dirinya belum bisa memenuhi keinginan adiknya. " Lagipula koran yang sudah jatuh dari tangan Taro juga harus di ganti, sudah pasti bang Dani marah kalau kita tak menggantinya," lanjut Khanza lagi sembari melihat koran-korannya ada sebagian yang terkena air hujan.
Keriuhan Zizi membuat Taro juga ikut bersemangat kembali sehingga mereka berdua bersamaan mencubiti pipi Khanza.
"Aww, kalian nakal ya..."
Kini Khanza juga mencubit pipi mereka berdua sembari terdengar kekehan kecil dari mulut mereka ketika hujan masih mengguyur semakin deras.
Usai candaan yang mereka lakukan sejenak Khanza melihat seorang anak gadis seusianya yang sedang membawa payung serta seorang wanita separuh baya membawa belanjaan di tangannya bahkan kedua sorot mata Khanza tak terlepas dari gadis tersebut karena ia melihat kalau gadis itu menerima upah dari sebuah payung.
Dalam sekejap Khanza berdiri dan melihat gadis itu kembali mencari pelanggan lain untuk ia bawa menggunakan payungnya.
"Zizi, Taro! kalian tunggu kakak di sini ya? jangan kemana pun, kalian dengar?" pesan tegas dari Khanza dengan tampang yang serius.
"Kakak mau ke mana?" teriak Zizi di saat ia melihat kakaknya hendak ingin berlalu pergi.
"Sebentar saja, jangan kemana-mana!" balas berteriak pula sembari ia berlari ke arah suatu tempat yang tak jauh dari warung pak Alim.
Zizi juga Taro merasa bingung kenapa Khanza meninggalkan mereka serta berlari sampai sudah tampak sedikit jauh entah kemana apalagi baju Khanza sudah pasti basah jika tak ada pelindung yang menutupi bajunya tersebut, itulah fikir Zizi yang terlihat sedikit cemas pada kakaknya.
Kini Khanza melihat tumpukan payung dan ia juga melihat sebuah tulisan tepat di dekat payung tersebut "Payung Sewa" begitulah kira-kira tulisannya.
Tak fikir panjang lagi Khanza meraih salah satu payung tersebut dan membukanya secara lebar lalu ia berjalan ke arah depan masuk pasar tradisional kemudian melihat seorang pria sedang bersama seorang gadis memakai baju seragam sekolah sehingga Khanza pun menghampirinya.
"Pak, payungnya biar tidak kehujanan," sapa Khanza dengan ramah pula namun pria tersebut enggan menerimanya sebab ia menggunakan mobil yang tak jauh dari tempatnya saat ini dan dengan angkuhnya gadis tersebut menyibak rambutnya ketika Khanza menatap ke arahnya namun Khanza membalasnya dengan senyuman kecil saja tanpa rasa tinggi hati.
Tak hanya sampai di situ Khanza terus menawarkan pada yang lain bahkan ia selalu melontarkan senyuman ramah walau belum satupun pelanggan ia dapatkan.
Seketika tampak dari kejauhan seorang wanita dengan seorang lelaki sedang membawa belanjaan dan dengan sigapnya Khanza berlari ingin mendekati mereka.
"Payungnya buk..."
"Loh, Khanza?"
"Ehm... Buk Ratih, pak Yudi?"
^^^To be continued^^^
^^^🍂 aiiWa 🍂^^^
...Kutipan :...
Semakin kita di berikan ujian maka tuhan ingin kita semakin dekat padanya sebab tuhan tak ingin kita melupakannya jika di berikan sedikit kesenangan di dunia karena sudah pasti manusia jika sedikit saja naik ke atas lalu ia akan melupakan siapa yang telah memberinya ❤️