Aku, Khanza

Aku, Khanza
Tantangan?


...♡♡♡...


Brakkk


Pukulan yang terdengar keras dari meja membuat pengunjung waroeng menoleh pada Nathan seketika akan tetapi Devan menatapnya dengan santai tanpa terkejut sedikitpun sehingga Nathan kembali mengepalkan kedua tangannya seusai melakukan hal tersebut bahkan kedua matanya masih saja menatap tajam ke arah Devan.


"Ma -maafkan saya karena pesanan anda terlalu lama datang makanya anda memukul meja, maafkan saya!" riuh dari seorang pelayan yang sebelumnya menghampiri mereka berdua lalu ia pun bungkukkan badannya sembari membawa pesanan Nathan di kedua tangannya.


"Bu -bukan salah mu," ucap Nathan terdengar kelabakan setelah ia melihat raut wajah si pelayan yang merasa bersalah padanya.


"Maaf, lalu kenapa anda memukul meja?" tanya si pelayan pula kemudian ia tertunduk tak berani menatap ke arah Nathan.


"Pffttt."


Lagi-lagi Devan ingin melepas tawanya namun masih ia tahan sebab Nathan sudah tampak mengeluarkan aura yang mengerihkan dari balik sorot kedua matanya, maka dari itu Devan mengalihkan wajahnya serta mengelus dadanya sendiri sesekali.


Tak berapa lama Nathan pun duduk kembali di kursinya serta menoleh pada pelayan yang masih berdiri di tengah mereka.


"Ah, sudahlah lupakan saja! letakkan makanannya di atas meja," kata Nathan pula dan sangat jelas dari suaranya bahwa ia sedang kesal.


"Baik," turutnya dengan cepat lalu ia meletakkan pesanan tersebut dengan menyusunnya satu persatu. "Silahkan nikmati hidangan anda dan kalau begitu saya mohon pamit jika ada yang anda butuhkan bisa panggil saya," lanjutnya lagi sembari tersenyum ramah.


"Ya, terima kasih."


Si pelayan pun anggukkan kepala serta ia beranjak dari tempatnya berlalu pergi.


Tampak Devan sedang menggeser piringnya mendekat ke arahnya tanpa menoleh ke siapapun bahkan sesekali Nathan melirik ke arah Devan yang terlihat santai padahal dirinya sudah sangat kesal melihat sikap Devan padanya.


"Khem, apa kau sudah tahu kenapa aku memanggilmu dengan sebutan balok es? aku rasa kau sudah paham maksudnya," cakap Devan membuka suara terlebih dulu setelah ia meneguk minumannya tanpa menoleh ke arah Nathan.


"Ya, aku sudah tahu!" jawab Nathan singkat serta ia mulai memasukkan sepotong daging ke dalam mulutnya sembari santai mengunyah.


"Oleh sebab itu aku merasa tak menduga saat ini kau begitu perduli tentang Alsha padahal kau orang yang sangat menyebalkan," serang Devan secara terangan pula.


"Tahu apa kau tentang diriku?" santainya Nathan berkata demikian sambil mengunyah tanpa melihat Devan sebab ia sedang tampak fokus memotong daging di atas piringnya menggunakan pisau yang sudah di sediakan.


"Aku sudah tahu semuanya tentangmu! aku tahu asal keluargamu dan aku juga tahu semua karakter dirimu," balas Devan lagi tak mau kalah bicara.


Apa maksud si balok es barusan? apa dia cenayang? bisa baca pikiran orang, waahh masih adakah yang seperti itu? tidak mungkin pasti dia ingin menipuku! batin Devan pula berkata demikian sehingga Nathan tersenyum simpul di balik bibirnya.


"Untuk apa aku menipumu? bukannya sudah aku katakan bisa melihat dan mendengar isi kepalamu itu, apa perlu aku mengulang ucapan yang berasal dari batin mu tadi?" lontar Nathan terdengar santai sembari ia kembali mengunyah serta menatap lurus ke arah Devan yang sudah menautkan kedua alis matanya. "Kenapa? kau perlu bukti aku bisa mendengar perkataan dari hatimu?" lanjut Nathan lagi mengulang ingin meyakinkan Devan.


"Ti -tidak perlu! mungkin hanya kebetulan saja kau menebaknya," kini Devan terdengar gugup sebab ia tak menyangka kalau Nathan menebak ucapannya dengan namun dia berkilah supaya tak merasa di kalahkan oleh Nathan.


"Terserah mu saja." Singkat Nathan berkata demikian.


"Ohya dan satu lagi, bukankah kau pernah mengatakan pada Amel kalau kau di perintahkan oleh kakek mu untuk mencari Alsha?" tanya Devan sembari terdengar mengunyah di mulutnya.


"Lalu? kenapa?" balik bertanya pula.


"Ya aku tak percaya saja dengan omongan mu pada Amel sebab aku tahu kakek mu orang yang terpandang dan sudah pasti dia banyak bawahan untuk bisa mencari Alsha," jawab Devan.


"Kakek lebih percaya padaku untuk mencari Alsha," tangkas Nathan menatap tegas ke arah Devan.


"Tapi aku tetap tak percaya karena aku yakin kau lah yang sangat ingin mencari Alsha sebab kau sangat mengkhawatirkan dia! iya, kan?" sambung Devan terdengar memaksa supaya Nathan menjawab pertanyaan darinya.


"Apa kau tak lelah berbicara terus? cepatlah makan, karena kita harus kembali ke rumah sakit!" tangkas Nathan pula.


Setelah mendengar ucapan Nathan barusan kini Devan menaikkan sebelah alis matanya. "Begini saja, jika di antara kita ada yang bisa menemukan Alsha lebih dulu maka yang kalah harus menjauhi Alsha! bagaimana?" tanya Devan seketika, sehingga Nathan terlihat sedang terdiam sembari memegang garpu yang ia tancapkan di atas daging serta melontarkan tatapan sinisnya ke arah Devan.


"Apa kau sedang menantangku?" tatapan tegas itu masih terlihat jelas di balik sorot mata Nathan.


"Ya." singkat Devan menjawab tanpa keraguan.


"Baiklah," balasnya dengan santai pula serta lontaran senyum tipis di bibirnya.


^^^To be continued^^^


^^^🍂 aiiWa 🍂^^^


...Kutipan :...


Berfikir sebelum bertindak jangan sudah bertindak baru di fikirkan jalan keluarnya ❤️