Aku, Khanza

Aku, Khanza
Janji Yang Telah Terpenuhi?


...โ™กโ™กโ™ก...


Tapp


Tappp


Klek


"Assalamu'alaikum buk, kami pulang..." sapaan serta ucapan salam terdengar ketika pak Fahri masuk ke dalam rumah bersama Zizi sehabis sholat jum'at.


Ketika mereka memasuki rumah tampak keduanya sedang menangis hingga terlihat pula saling mendekap satu sama lain.


"Loh, kalian kenapa menangis? ada apa buk? nak, ada apa ini?" tanya pak Fahri yang setibanya ia datang melihat suasana haru begitu makanya ia langsung berjalan mendekat hingga duduk di dekat mereka berdua begitupula pada Zizi yang ikut menyusul di belakang pak Fahri.


"Pak, ibuk tidak menyangka kita mendapat rezeki yang begitu besar... Ya allah alhamdulilah maha suci allah pak," jawab istrinya yang masih berderai air mata menyebut asma tuhan sang pencipta.


"Alhamdulillah, iya tapi rezeki apa yang ibu maksud?" tanya suaminya lagi yang masih terlihat heran dengan pengakuan istrinya barusan namun istrinya tampak sedang menyeka air mata begitu pula dengan Khanza yang ikut terbawa keharuan itu.


"Begini abah, sebelumnya ada yang menghampiri kami seorang wanita saat di pasar sewaktu kami mau pulang ke rumah dan dia juga minta alamat rumah ini," perjelas Khanza pula sementara bunda Amy masih berlinang air mata tampak haru biru.


"Lalu?" lanjut pak Fahri terlihat menunggu lanjutan ucapan Khanza.


"Wanita itu datang ke rumah ini abah, tidak berapa lama abah sampai dia baru saja pulang," kata Khanza lagi. "Dia memberi job besar pada uma," ungkap Khanza sehingga bertautan lah kedua alis mata pak Fahri.


"Job apa yang di maksud?" tanya pak Fahri lagi.


"Uma di berikan kepercayaan oleh wanita yang bernama Farah ini abah, dia mengatakan supaya uma bisa membuatkan baju yang Khanza pakai sebelumnya hingga 100 pasang," perjelas Khanza secara perlahan pula.


"Subhanallah, banyak benar itu?" kagetnya pak Fahri sehingga ia menyebutkan rasa syukurnya.


"Bukan hanya itu abah, selain baju yang Khanza pakai kak Farah juga bilang apapun baju yang dia jual di butik uma lah yang menjahitnya jadi intinya uma di berikan kepercayaan membuatkan baju yang dia jual di butiknya itu," sambung Khanza lagi sehingga bunda Amy masih berderai air mata.


"Alhamdulillah buk, alhamdulillah impian ibuk sekarang telah di kabulkan allah buk..."


Pak Fahri memeluk bunda Amy begitu hangatnya sehingga Zizi ikut memeluk pula sementara Khanza hanya menyeka air matanya bahkan tampak sorotan mata Khanza melihat mereka dengan begitu bahagianya.


Dalam keharuan itu ada sebuah petikan yang dapat di ambil bahwa "Tuhan akan memenuhi janjinya jika mengayomi seorang anak yatim niscaya tuhan permudahkan segala urusannya baik dunia maupun akhirat jadi pada dasarnya setiap yang kita lakukan terhadap seorang anak yatim yakinlah tuhan akan menaikkan derajat mu setingginya"


Setelah keharuan itu mereka semua tampak benar-benar bahagia hingga tak ada kata menyerah sedikitpun dari keseharian mereka.


Baik bunda Amy juga menggunakan uang yang sudah di berikan oleh Farah membeli semua perlengkapan mulai dari menambahkan mesin jahit, karyawan, hingga bakal baju yang akan ia jahit.


Bunda Amy di berikan dalam satu potong baju berkisar bersih 100 ribu rupiah dan seluruh baju yang di jahit oleh bunda Amy mencapai 100 potong jadi dalam hitungan semuanya bunda Amy mendapat 10.000.000 juta rupiah sementara untuk gaji karyawan Farah mengatakan dia lah yang menggaji mereka dalam per/orangnya.


Pak Fahri serta Khanza ikut andil dalam pekerjaan tersebut walaupun mereka hanya sebatas membantu namun semuanya juga telah membuat bunda Amy bangga pada mereka yang berusaha membantu dirinya.


Tak di sangka dengan kegigihan bunda Amy belum sampai 3 minggu dia sudah menyelesaikan semua baju yang terjahit tak perlu kurun waktu lama semua baju siap di antar ke butik Farah namun Farah malah menjemputnya sendiri serta membawa sopir pribadinya pula.


Seusai baju di terima Farah ia memberikan upah yang sudah di tentukan olehnya tetapi belum cukup sampai di situ Farah juga ingin bunda Amy merancang baju untuk ia jualkan di butiknya dan karena ia melihat kondisi rumah bunda Amy tak memadai ia pun berniat ingin memberikan tempat lebih luas lagi supaya pekerjaan bunda Amy tidak terganggu oleh terbatasnya ruang gerak bunda Amy.


Pada awalnya bunda Amy enggan menerimanya namun Farah menjelaskan secara perlahan pada bunda Amy kalau dirinya memang sedang mencari seorang penjahit yang handal juga dapat di percaya makanya ia ingin sekali bunda Amy bekerjasama dengannya mengembangkan butik miliknya itu dan kebetulan sedari awal dia melihat baju yang di kenakan oleh Khanza sangatlah bagus terlihat seperti barang mahal saja.


Pak Fahri menyerahkan semua keputusan di tangan istrinya karena pak Fahri hanya bisa mensuport dari belakang untuk hal tersebut sebab ia tak ingin memaksakan segala sesuatunya atas kemauan dirinya pula.


Tanpa fikir panjang ia menerima tawaran itu pula setelah ia melihat senyuman kecil di balik bibir Khanza juga Zizi serta anaknya yang berada di sebelah suaminya itu.


Pada akhirnya bunda Amy pun mengambil keputusan untuk menempati rumah yang telah di usulkan oleh Farah sendiri makanya dalam beberapa hari mereka menyusun semua barang yang akan di bawa termasuk keperluan menjahitnya juga sementara rumah yang saat ini mereka tinggal akan di sewakan pula.



Beginilah kondisi rumah yang akan di tempati oleh bunda Amy dan yang lainnya.


Rumah yang bertingkat satu itu terasa luas bagi bunda Amy jauh berbeda dengan rumah yang ia tinggali sebelumnya apalagi rumah milik Farah telah di beli olehnya serta perlengkapan telah di penuhi oleh Farah supaya bunda Amy tak perlu repot lagi untuk membelinya jadi karyawan yang menjahit akan di tempatkan pada tingkat atas sementara bunda Amy akan rileks tinggal di bawahnya.



Seusai mereka sampai di depan pintu Farah pun membukanya secara lebar hingga barang-barang yang mereka bawa juga di bantu oleh supir pribadi Farah yang sebelumnya ia gunakan pick up untuk membawa barang bunda Amy yang memang tersedia di ruang penyimpanan semua mobilnya.


Bunda Amy tiada hentinya bersyukur dan memeluk Farah hingga mendekapnya secara hangat makanya Farah ikut bahagia ketika bunda Amy mau bekerjasama dengannya.


Kehidupan telah terjamin setelah kedatangan Farah di dalam keluarga pak Fahri apalagi pak Fahri juga sudah bisa berbaur dengan sekitaran penduduk rumah baru mereka sekarang bahkan ia tetap menjadi pembawa ceramah walaupun masih dalam lingkungan yang baru ia kunjungi.


Baik Khanza juga Zizi di tempatkan ke sekolah yang bagus serta Puput sudah mendapatkan seorang dokter tak perlu lagi harus ke rumah sakit sebab semua biaya dokter Farah yang menanggung namun untuk menggaji karyawan bunda Amy lah yang meminta sendiri akan mengupahkan mereka tanpa harus keluar biaya dari Farah lagi.


Hari berganti hari bulan juga berganti bulan begitulah seterusnya di dalam keluarga pak Fahri lengkap sudah baik kebutuhan serta rezeki yang terus mengalir tiada hentinya.


...TAMAT...


NANTIKAN SELANJUTNYA KHANZA SEASON II YA READER TERCINTA JANGAN LUPA TETAP BERIKAN SUPORT UNTUK OTHOR AIIWA ๐Ÿฅฐ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜— AKAN ADA DRAMA YANG LEBIH GREGET LAGI DI NEXT KHANZA ๐Ÿค—๐Ÿค—โค๏ธ


...Kutipan :...


Tak usah kau takut dalam melakukan hal kebaikan sedikit saja yang kau buat namun di balas lebih besar dari yang kau lakukan โค๏ธ



...Potret keseharian Zizi masuk sekolah...