Aku, Khanza

Aku, Khanza
Rezeki Terus Menghampiri?


...♡♡♡...


Pagi yang cerah di rumah keluarga bunda Amy.


Kebahagiaan meliputi keluarga pak Fahri sebab dengan kehadiran Khanza juga Zizi membuat rumah mereka terasa lebih ramai karena itulah pak Fahri lebih sering tertawa dengan tingkah Zizi jika sedang bermain bersama Puput anaknya sedangkan Khanza asyik membantu bunda Amy merapikan jahitan sementara Puput selalu bermain bersama Zizi di rumah sewaktu bunda Amy juga kakaknya sibuk bahkan pak Fahri juga sedikit banyaknya sekaligus mengajarkan Zizi huruf hijaiyah walau perlahan supaya kelak Zizi tak buta huruf arab itulah fikirnya.


Baik perlengkapan untuk Zizi juga Khanza di beli oleh bunda Amy makanya Zizi begitu senang ketika dirinya di berikan baju baru oleh bunda Amy padahal Rianti pernah membelikan baju serta sendal untuknya namun karena kejadian yang tak terduga itu semua tertinggal di gubuk tempat Dani sebelumnya begitu pula sebaliknya untuk Khanza bajunya di jahit langsung oleh bunda Amy sesuai ukuran tubuhnya serta lengkap pula dengan hijabnya.


"Bapak sedang apa?" tanya istri pak Fahri ketika ia melihat suaminya sedang berada di halaman rumah bersama Zizi sedangkan anaknya Puput duduk di kursi roda terlihat berjemur sengaja di kenakan ke arah sinar matahari.


"Rumput sudah terlihat tinggi buk makanya bapak akan membersihkannya biar lebih rapi saja," jawab suaminya dengan menoleh pula lalu ia melihat sekilas ke arah Khanza yang berdiri di sebelah istrinya memakai baju yang di buat oleh istrinya sendiri. "Subhanallah nak, cantik sekali kau memakai baju itu."


Pak Fahri sampai memuji Khanza yang sedang berdiri tepat di depannya padahal baju yang di kenakan Khanza sebenarnya dari kain berbahan katun biasa apalagi tidak terlalu mahal sebab sudah pasti sesuai dengan harganya pula namun karena Khanza yang memakainya menjadi terkesan bagus itulah penilaian pak Fahri saat ini.


"Iya kan pak? baju ini terlihat bagus di pakai Khanza, ibuk senang melihatnya!" sambung bunda Amy pula mengiyakan pendapat suaminya itu serta ia tersenyum hangat menyentuh sebelah bahu Khanza.


"Uma dan abah terlalu memuji Khanza karena bagi Khanza kak Puput lah yang paling cantik di sini," imbuh Khanza pula dengan merendah kemudian ia perlahan berjalan dan memeluk Puput dari belakang serta mengecup sebelah pipi Puput sehingga reaksi Puput teramat senang ketika Khanza mendekapnya dari belakang apalagi salah satu tangan Puput mengelus pipi Khanza pula seolah Puput langsung merespon dan begitu merasakan dirinya ada seorang adik yang baru dia kenal sudah sayang terhadapnya.


Khanza sudah merasa cocok dengan Puput bahkan ia menganggap Puput sebagai seorang kakak baginya walaupun tubuh Puput hampir setara dengannya itu tidak masalah bagi Khanza sebab ia tak pernah merendahkan orang lain, begitulah sifat Khanza sedari dulunya.


Tak berapa lama Zizi berdiri hingga berlari kecil karena ia tak mau kalah dari kakaknya sebab dirinya juga sudah menerima Puput pula yang pada awalnya dia takut kini menjadi sangat dekat bahkan tampak Zizi memeluk Puput dalam beberapa saat ia bertingkah seperti pinguin sedang berjalan dan itu ia lihat dari televisi di film kartun yang sering di putar oleh bunda Amy sehingga Puput menjadi tertawa dengan sangat riang melihat aksi Zizi di depannya.


Yeap, semuanya berakhir tertawa karena Zizi telah membuat Puput kegirangan.


Bunda Amy juga pak Fahri berharap kebahagiaan yang saat ini datang jangan sampai di renggut orang lain karena memang dengan kehadiran kedua bersaudara itu Puput menjadi lebih banyak tertawa serasa tak sendirian lagi.


Kali ini Khanza meminta untuk ikut dengan bunda Amy ke pasar karena ia ingin membantu, itulah pinta Khanza setelah ia tahu kalau bunda Amy ingin pergi berbelanja.


"Ayo nak, nanti kita kesiangan pergi ke pasarnya!" ajak bunda Amy pula memegang erat telapak tangan Khanza setelah mereka selesai bercanda gurau.


"Iya uma, hihi Khanza sampai lupa kalau kita harus ke pasar," turut Khanza sehingga ia menjadi tertawa kecil pula.


"Pak kami pergi dulu," pamit istrinya sebelum melangkahkan kaki.


"Iya hati-hati di jalan," balas sang suami setelah ia baru selesai membabat sebagian rumput.


"Zizi jangan nakal sama abah di rumah," terlontar pesan Khanza untuk adiknya pula.


"Siap komandan!" patuhnya dengan memberi hormat sehingga pak Fahri jadi bergeleng kepala dan menunjukkan senyuman kecil di wajahnya sembari terus memotong rumput dengan pisau yang ada di tangannya.


Seusai perbincangan itu bunda Amy juga Khanza berlalu pergi hingga Puput melambaikan tangan dan lagi-lagi Puput tertawa riang ketika Zizi membawanya bermain sementara pak Fahri sibuk dengan membersihkan rumput halaman depan rumahnya.


.


.


.


Memang biasanya bunda Amy berbelanja setiap harinya karena ia tidak memiliki kulkas di rumah makanya ia tak bisa menyimpan bahan makanan sampai berhari-hari untuk itu dia selalu membeli bahan ke pasar supaya menghemat uang juga tidak mungkin terus berbelanja di warung sudah pasti harganya lebih mahal.


Bunda Amy sangat pandai mengatur uang apalagi Puput juga butuh biaya setiap cek up memeriksa selang yang terpasang di leher Puput maka dari itu pula bunda Amy tak pernah memikirkan perlengkapan di rumahnya asal biaya untuk Puput di usahakan tetap ada.


"Nak, kau ingin makan sayur lodeh?" tanya bunda Amy menoleh ke arah Khanza yang berada di sebelahnya.


"Apapun Khanza mau uma karena masakan uma selalu enak," turutnya dengan memberikan senyuman kecil pula.


Bunda Amy hanya membalas dengan senyuman pula dan kembali memilah sayuran tempat mereka berdiri saat ini.


Beberapa saat semuanya sudah terbeli oleh bunda Amy dan Khanza juga ikut membawa barang belanjaan di tangannya supaya meringankan yang di bawa oleh bunda Amy.


Depan jalan pasar.


Mereka berdua sedang berdiri menunggu angkutan umum dan sewaktu pergi pun mereka juga menggunakan angkutan umum serta memegang barang belanjaan masing-masing di tangan namun sebelah tangan bunda Amy tetap memegang tangan Khanza pula.


"Assalamu'alaikum," seorang wanita berhijab dan berparas cantik terlihat seperti orang turki sedang mengucap salam tepat di belakang punggung bunda Amy juga Khanza.


Keduanya pun menoleh dari sumber suara tersebut. "Wa'alaikumsalam," bunda Amy juga Khanza serentak membalas ucapan salam itu pula.


"Maaf ibu saya melihat sekilas sebelum naik ke mobil karena saya sedang mencari baju yang memang di pakai oleh anak gadis ini," katanya dengan mengarahkan matanya ke Khanza. "Kalau boleh saya tahu apakah baju ini bisa di beli perkodinya? sebab saya sedang membutuhkan baju seperti ini ibu apa boleh di tunjukkan tempatnya?" lanjutnya lagi hingga ia tersenyum ramah ke arah mereka.


"Maaf nona baju ini tidak di beli hanya bahannya saja yang saya beli," turut bunda Amy membalas secara ramah pula.


Khanza masih mendengarkan pembicaraan mereka makanya ia hanya terdiam namun wanita yang ada di depannya saat ini begitu cantik hingga ia merasa kagum serta tak lepas pandangan matanya ke arah wanita itu.


"Oh berarti ibu yang membuatnya, kalau begitu tunggu sebentar!" lontarnya terlihat tercengang kemudian ia berlari ke arah mobilnya tampak sedang mengambil sesuatu setelah itu ia kembali lagi ke tempat bunda Amy juga Khanza berdiri. "Ini kartu nama saya dan di sini juga tertera butik saya ibu jadi apakah boleh saya minta alamat rumah ibu?" tanya wanita itu lagi terlihat menunggu jawaban dari bunda Amy.


Bunda Amy menoleh ke arah Khanza lalu tak berapa lama Khanza anggukkan kepala sembari tersenyum tipis.


Alamat rumah yang di minta oleh wanita itupun di dapatnya pula serta ia mengelus kepala Khanza sembari memuji kecantikan yang di miliki oleh Khanza.


^^^To be continued^^^


^^^🍂 aiiWa 🍂^^^


...Kutipan :...


Tak akan ada rezeki yang tertukar tetapi selalu ada rezeki tersendat jika kau melalaikan perintahnya ❤️