
...โกโกโก...
Pada malam hari di balik kamar Nathan.
Drrtt
Drttt
Suara getar hingga bunyi ponsel Nathan terdengar saat ia baru saja keluar dari kamar mandi lalu ia meraih ponsel pintarnya kemudian membuka layar yang sudah mati karena ia tak sempat mengangkatnya dan ternyata yang menghubunginya wali kelas di sekolahnya bahkan ia melupakan kalau hari ini harus datang ke sekolah untuk pengambilan raport kelulusannya namun ia hanya sibuk mencari info tentang Khanza sehingga ia melupakan semua hal yang berhubungan dengan dirinya.
Nathan terduduk di atas kasurnya sambil membaca pesan singkat dari wali kelasnya supaya ia dapat hadir besok karena sebagian murid sudah mengambilnya hanya tersisa Nathan, Amelia juga Devan yang belum hadir itulah pengakuan dari wali kelasnya sehingga Nathan membuang nafas kasar mengingat Khanza belum juga terdengar kabarnya bahkan Amel saja masih terus mencari namun belum membuahkan hasil.
Sejenak Nathan teringat kalau tadi siang ia baru saja menyimpan data rumah Shopia di laptopnya dan kemudian ia dengan sigapnya meraih laptop itu di atas meja belajarnya serta membukanya perlahan.
Tak
Tik
Begitu cepatnya ia mengetik laptop itu tadi untuk menyalin alamat rumah Shopia melalui ponselnya dan dalam beberapa saat ia menghubungi Amel karena ia mempunyai ide supaya bisa menyelidiki keberadaan Hayati, yeap yang sering di sebut bunda oleh Khanza begitulah setahu Nathan ketika Khanza menyebut nama Hayati.
Tutt
Tutt
Nathan melekatkan ponsel pintarnya mengarah ke telinga sambil menunggu dengan mondar mandir karena Amel belum mengangkatnya lalu ia pun mengulang lagi sampai beberapa kali.
Tuttt
Tutt
"Halo," jawab Amel dari sebrang.
"Akhirnya kau angkat juga, apa aku mengganggu mu?" tanya Nathan pula.
"Maaf karena aku baru saja masuk ke kamar, memangnya ada apa? apa kau sudah mendengar kabar Alsha?" cerocos Amel yang terus mengoceh seakan Nathan pusing jika sudah mendengar Amel berbicara.
"Belum, aku juga sedang berusaha mencarinya! ohya besok apa kau tidak ke sekolah mengambil raport kelulusan?" tanya Nathan lagi.
"Rencana aku dan Devan pergi bersama karena dari kemarin kami sibuk mencari Alsha, memangnya kenapa? apa kau juga belum mengambilnya? hayoo ketahuan kau sedang khawatir dengan Alsha, kan? ngaku kau! jangan beralasan karena kakek mu, karena sifat balok es tidak pernah begini pada orang lain, wkwkwk," kekehan Amel yang tiada hentinya nyerocos di balik ponsel membuat Nathan jengkel.
"Berisik! aku menghubungi mu bukan mau mendengar ocehan mu yang tak ada gunanya!" bentak Nathan pula yang tampak mengurut dahinya sesekali.
"Idih manusia es, brrrrrr!" ia masih saja terkekeh bukan malah takut karena sudah di bentak.
Nathan kini benar-benar kesal di buat Amel sehingga ia menahan emosinya hanya untuk menjalankan idenya itu. "Hei kau! sudah cukup, aku hanya ingin membicarakan hal yang penting dengan mu," sarkasnya pula membuat Amel menjauhkan sedikit ponsel miliknya dari telinga.
"Weh ini bocah! di kira aku tuli sampai berteriak," nada yang sedikit protes. "Memangnya ada apa? cepatlah bicara," senggak Amel yang tak mau kalah dari Nathan.
"Kalau kau dan Devan sudah lebih dulu sampai di sekolah jangan langsung pergi, tunggu aku di taman dekat sekolah! apa kau paham Amelia?" tangkas Nathan pula beri penekanan.
"Ya ya! cuma ini doang? aku kira hal penting, dasar manusia es kau menjengkelkan!" celetuk Amel yang langsung mematikan ponsel miliknya.
.
.
.
Ke esokan harinya Nathan seperti biasanya berpakaian simpel namun kali ini dia memakai kemeja hitam polos serta mengikat celana jeansnya memakai tali pinggang yang di berikan ibunya ketika pulang dari inggris tepat hari ini ia juga lebih tampan dari biasanya.
Tap
Tap
Langkah kaki terdengar oleh Panji serta anak dan menantunya saat mereka duduk bersama di meja makan menikmati sajian yang sudah tersedia.
"Wah, cucuku tampan sekali hari ini," riuh sang kakek yang tampak melontarkan senyum cerianya itu lalu ia menepuk-nepuk pundak Nathan.
"Kakek terlalu memuji," balas Nathan dengan santai pula saat sudah berada di sebelah kakeknya.
"Kau mau kemana Nat?" tanya ibunya berbicara sambil menyajikan lauk dan nasi untuk suaminya.
"Aku ingin ke sekolah ma mau ngambil raport kelulusan ku yang kemarin ujian akhir," katanya pula usai ia meneguk susu miliknya.
"Ohiya mama hampir lupa, kau sudah harus mencari sekolah yang baru," imbuh ibunya terlihat sedikit senang melihat anaknya makin lama semakin dewasa.
"Kapan mama tahu urusan ku? bukankah mama selalu sibuk," celetuknya dengan santai sambil menikmati roti tanpa menoleh pada siapapun.
Panji melirik David yang sudah menautkan kedua alis mata menatap ke arah Nathan.
"Apa maksud mu berkata begitu?" tanya David pula lalu dengan cepat Chelsea menepuk punggung tangan suaminya supaya membiarkan Nathan berkata seperti itu namun David malah mengabaikannya dengan menggeser tangan Chelsea. "Jawab papa, apa maksud ucapan mu itu?" mengulang lagi kini ia menggeser tubuhnya sedikit mengarah pada Nathan yang ada di sampingnya.
"Bukankah aku sudah mengatakannya dengan jelas tadi? lagipula aku bukan orang yang suka mengulang perkataan kembali, aku sudah kenyang! kek, bisa kita bicara sebentar?" ketika ia berdiri dengan mengabaikan ayahnya yang sudah tampak mengepalkan kedua tangan namun itu tak membuat Nathan jadi takut malah dengan santainya ia berjalan setelah mengajak sang kakek ikut padanya.
Nathan lebih dulu berjalan barulah di susul oleh Panji di belakangnya bahkan sesekali Panji menoleh ke arah David yang tampak terus melihat dengan tatapan penuh amarah.
"Kenapa anak itu selalu mengabaikan ku? apa aku terlalu memanjakan dia?" kata David setelah Panji dan Nathan berlalu pergi.
"Apa yang kau manjakan? bahkan aku tak pernah melihat kalian duduk bersama jadi kau jangan terlalu keras padanya," ujar sang istri yang berkata memang kenyataanya seperti itu jadi David hanya terdiam tanpa membalasnya.
"Aku tak pernah keras padanya, kau lihat sendiri tadi anak itu mengabaikan ku!" terdengar nada yang marah.
"Menurut mu tidak keras, baginya kau selalu memberi tekanan padanya apa kau tak ingat saat berada di rumah sakit ketika papa di rawat? kau lihat perbedaan ketika papa yang menyuruhnya?" lontar istrinya lagi membuat sang suami terus mengerutkan wajahnya. "Malah kebalikannya kita yang selalu mengabaikan Nathan sampai aku tak tahu bahwa dia sudah selesai ujian akhir," lanjutnya pula lalu ia bersandar di kursinya dengan menoleh ke arah lain.
^^^To be continued^^^
^^^๐ aiiWa ๐^^^
NANTIKAN TERUS CERITANYA DI AKU KHANZA ๐